Drumblek Kampoeng Pancuran Pra HUT Klenteng

Browse By

Selasa, 27 Oktober 2009. Cuaca mendung memayungi sekretariat Sanggar Djamboe di kampung Pancuran Kutawinangun, Salatiga. Terlihat para pemuda berkalungkan peralatan musik di tubuh mereka seperti gentong plastik, kaleng cat, trio tom, dan bellyra, berkumpul di depan sekretariat, menunggu dimulainya latihan.

Suwarno memimpin latihan para pemain drumblek. {Foto oleh Subiharto}

Suwarno memimpin latihan para pemain drumblek. {Foto oleh Subiharto}

Para pemuda itu adalah personil Drumblek Kampoeng Pancuran, sebuah komunitas pemusik yang diampu Sanggar Djamboe. Sekitar 300 orang dari berbagai kalangan masyarakat tergabung dalam drumblek. Mulai dari kalangan mahasiswa, murid Sekolah Menengah Atas, pedagang kaki lima, sopir angkot, tukang sol sepatu, dan lain sebagainya.

Latihan biasa dimulai kurang lebih pukul 16.00 WIB. Mereka memilih tempat di belakang pasar raya II tepatnya depan masjid Al-Muttqien—Jl Jendral Sudirman, Salatiga. namun kalau hujan mereka pindah di “Shoping Center”—salah satu area pasar raya Salatiga yang tempatnya masih berdekatan.

Sore itu, suara permainan musik personil drumblek memecah keramaian situasi sekitar pra pentas dalam HUT Klenteng Salatiga ke 137 tahun, 15 November 2009 mendatang. Latihan itu sudah berlangsung setengah bulan lamanya, biasanya dilakukan setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Suwarno (kanan) melambaikan tangannya saat mengarahkan pemain drumblek. {Foto oleh Subiharto}

Suwarno (kanan) melambaikan tangannya saat mengarahkan pemain drumblek. {Foto oleh Subiharto}

Arahan dari pelatih Suwarno yang berbekal bakat dan ketrampilan serta pengalaman bergabung di salah satu orkes musik Salatiga, sangat membantu mereka dalam mengolah serta mengaransemen musik ke dalam musik drumblek.

Dalam persiapan pentas di acara HUT Klenteng Salatiga, mereka tak hanya berlatih memainkan alat musik yang akan dibawakan, namun juga mempersiapkan kostum yang akan mereka kenakan di acara HUT Klenteng tersebut.

Sepulang kerja, biasanya mereka nongkrong sambil merancang sekaligus membuat kostum. Kostum yang mereka desain tergolong unik karena menggunakan bahan-bahan bekas seperti kardus, rotan, map plastik, botol plastik, dan sebagainya. Bahan-bahan bekas tersebut dibeli dari pengepul—penadah barang bekas.

Mengenai desain dari kostum, Nur Wijayanto ketua Sanggar Djamboe mengatakan, “Semua ini mereka buat tanpa arahan dari siapapun, murni kreasi mereka sendiri,”

“Saya hanya menyiapkan Lem dan mencari bahan-bahan yang mereka butuhkan,” jelas Nur.

Pembuatan kostum biasanya mereka lakukan sebelum dan sepulang latihan. Sambil menanti kawan-kawan yang belum datang untuk latihan, mereka menyicil membuat kostum dengan menuangkan ide masing-masing. Dan jika malam hari, tidak jarang mereka membuat kostum ini hingga pagi.

Rencananya dalam pentas HUT Klenteng Salatiga, Drumblek Kampoeng Pancuran akan menghadirkan 100 personil dari 300 personil yang ada. Dan gladi bersih dijadwalkan pada 13 November 2009.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *