Seminar Kewirausahaan 2009

Browse By

Peserta Seminar Industri Kreatif

Dalam rangka memperingati Dies Natalis UKSW ke-53, Senat Mahasiswa Universitas (SMU) bekerjasama dengan kaum muda Badan Kerjasama Gereja Salatiga (BKGS) dan komunitas kreatif Salatiga mengadakan seminar kewirausahaan pada Selasa, 10 November 2009, di Balairung Universitas yang dihadiri sekitar 1.500 orang.

Seminar yang diawali sambutan oleh Victor selaku ketua panitia SEA (Seminar, Expo dan Apresiasi Seni) tersebut menghadirkan Harjanto Halim (direktur PT Marimas), Eko Nugroho (manajer Dreamlight Studio) dan Bobby “One Way” (vokalis grup band One Way).

Dalam seminar tersebut, Harjanto Halim menjelaskan industri kreatif di bidang industri pangan. “Seorang pengusaha harus merubah paradigma, mindset, menghilangkan mitos yang berkembang di masyarakat seperti seorang pengusaha ialah orang-orang yang memiliki keturunan Tionghoa. Selain itu juga hendaknya harus memiliki mental wirausaha, menanamkan kepercayaan dan yang terpenting adalah bekerja keras,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Siapapun yang ingin menjadi pengusaha harus melakukan apa yang menjadi kreativitas yang disukai.”

“Industri musik nggak ada matinya,” ujar Bobby “One Way” yang merupakan vokalis, penulis lagu, sekaligus produser yang hadir sebagai pembicara. Ia menceritakan tentang awal mula hadirnya industri musik, kemudian menyebut para pelaku musik mulai dari produser, produser eksekutif, sampai kepada artisnya.

Dalam pembicaraannya Bobby juga menyampaikan tiga hal terkait industri musik, yaitu mengenai talent (bakat), passion (gairah dari hati yang mendongkrak bakat), juga originality (keaslian) agar industri musik di Indonesia menjadi lebih baik.

Pembicara terakhir Eko Nugroho mewakili industri media mengatakan, “Dengan sebuah gambar kita bisa merubah dunia, karena media itu power, dan kita bisa memulainya dari kreativitas kita, dimulai dari buka mata dan buka hati,” ujarnya.

Menurut Eko, hal yang paling dibutuhkan dalam industri media ialah program, materi, dan konten. Eko juga mengatakan bahwa banyak orang yang membuat acara TV, secara tidak sadar mereka merusak generasi muda. Seperti yang dicontohkannya yaitu acara “Take Me Out”.

“Kalau membuat media, ingat jutaan pemirsa yang akan melihat karyamu, apakah bisa bertanggungjawab pada diri kita, keluarga, dan kepada Tuhan,” tegasnya.

Selain menikmati penjelasan tentang industri kreatif dari para pembicara, para peserta seminar juga disuguhi aksi sulap dari The Magician.

Di akhir seminar, Timotius Adi Darmo, sang moderator seminar, memberikan solusi yaitu head untuk mengasah pikiran, hand agar trampil harus selalu diuji, heart karena untuk melakukan segala sesuatu harus dimulai dari hati, dan yang terakhir hikmat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *