Belajar Membatik dan Sebagainya di Expo Industri Kreatif 2009

Browse By

Expo Industri Kreatif

Menjelang Dies Natalis ke-53 UKSW, Senat Mahasiswa Universitas (SMU) bekerjasama dengan kaum muda BKGS (Badan Kerjasama Gereja Salatiga) dan Komunitas Kreatif Salatiga menggelar expo industri kreatif sebagai salah satu rangkaian kegiatan Seminar Expo Apresiasi-Entrepreneurship 2009.

Peserta expo merupakan kelompok-kelompok industri kreatif seperti Batik Plumpungan, Batik Selotigo, kerajinan eceng gondok, fotografi, kerajinan kayu, dan karikatur.

Salah satu peserta expo kerajinan kayu, Koko, mengemukakan, “Kami ikut dalam stan expo ini karena kami ingin memperkenalkan hasil karya kami, yang notabene toko kami baru setahun berdiri.”

Expo ini digelar selama dua hari pada hari Senin hingga Selasa tanggal 9-10 November 2009 di taman samping Balairung Universitas.

“Kami memang mengadakan ini (SEA-Entrepreneurship 2009–red) beda dari seminar-seminar yang pernah ada. Jadi tidak hanya seminar, kami juga mengadakan expo, yang tujuannya untuk menarik perhatian mahasiswa dan masyarakat serta bisa dijadikan gambaran bagaimana sih expo industri kreatif itu,” ujar Inri Anggreani Wonok, koordinator expo.

Saat ditemui, Victor Rahmat selaku ketua panitia SEA-Entrepreneurship 2009 menjelaskan, “Tujuan kami mengadakan acara ini adalah untuk mendukung usaha pemerintah yang belakangan ini sedang menggalakkan 14 sektor kewirausahaan, mendukung visi-misi SMU untuk menjadikan mahasiswa sebagai mahasiswa yang kreatif, dan agar dapat dijadikan inspirasi bagi mahasiswa untuk lebih kreatif, sehingga tidak melulu jadi job seeker setelah lulus, serta untuk lebih menghidupkan kota Salatiga, ya dengan cara memperkenalkan industri-industri kreatif yang ada.”

Selain stan kelompok industri kreatif, terdapat pula bazar yang berlokasi di halaman parkir mobil depan GAP.

Victor menjelaskan, “Karena keterbatasan tempat, maka kami buat bazar ini karena permintaan dari pengisi stan lebih dari target.” Ia menambahkan, “Selain itu, ini juga permintaan dari para pengisi stan expo. Mereka minta dipisah, agar mahasiswa dan masyarakat mengetahui seperti apa jenis industri kreatif yang ada.”

Di antara stan-stan yang ada, stan karikatur dari Gallery Kayoe dan stan belajar membatik dari Batik Selotigo adalah stan yang paling ramai dikunjungi pengunjung. Mereka menggelar lokakarya di hari Selasa, tanggal 10 November 2009. Batik Selotigo menggelar lokakarya mulai pukul 10.00-12.00 WIB dengan cara mengajarkan pengunjung bagaimana cara membuat batik tulis dengan berbagai macam motif yang sudah dicetak di selembar kain putih.

Maklum, harga batik itu mahal
Menurut Dian Prajoko, pemilik Batik Selotigo, “Hal ini (belajar membatik–red) sangat efektif untuk promosi, selain itu untuk lebih mengenalkan dan melestarikan batik. Dengan cara belajar langsung, mereka lebih memaklumi kalau harga batik itu mahal. Karena membatik ya membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi.”

Batik Selotigo juga membuka kelas khusus bagi siapa saja yang ingin belajar membatik. “Pekalongan dan Solo kan terkenal dengan batiknya. Jadi pembatik di toko saya, saya datangkan dari Pekalongan. Kami juga membuka kelas khusus bila ada yang mau belajar membatik tulis dan cetak. Tapi kami tidak mengajarkan pewarnaan ya, soalnya itu rahasia perusahaan,” terang Dian.

Mereka juga menerima pesanan khusus disain batik dengan ketentuan yang berlaku. “Kami menerima disain apa aja, tapi harus ada identitas Batik Selotigo, yaitu tumpukan enam batu. Harga juga beda sama harga grosiran,” sambung Dian.

Selain stan belajar membatik, stan karikatur juga menggelar lokakarya dengan cara menggambar karikatur dan komik bersama pengunjung. Lokakarya berlangsung selama dua jam, dari pukul 12.00-14.00 WIB.

Bikin wajah orang jelek
“Tujuan workshop ini adalah mengenalkan pada publik terutama karikatur. Kalau karikatur juga bagian dari seni yang menarik, dan memiliki cita rasa humor yang tinggi,” kata Angga Ari, seorang karikaturis dari Gallery Kayoe, toko yang menghasilkan kerajinan dari kayu dan karikatur, saat ditemui seusai lokakarya.

“Selain itu buat promosi juga,” tambahnya.

Menurut Angga, siapapun bisa menggambar karikatur atau komik, asal mau belajar dan ada kemauan serta tekun tentunya.

Angga juga mengakui kalau ia senang menggambar karikatur. “Soalnya bikin wajah orang jelek, selain itu juga bisa bikin orang ketawa. Jadi, bagi pengunjung yang minat, dengan senang hati saya buat karikaturnya, gratis,” ujar Angga.

Septi Kurnia Sari, salah satu mahasiswa pengunjung expo industri kreatif mengatakan, “Saya merasa excited dengan diadakannya expo ini, namun sayang, ada beberapa yang kurang, kayak di foto-foto itu, gak ada penjelasannya terus tempatnya dipisah gini, satu di sini, satu di depan. Jadi males pindah-pindah, repot, dan juga waktunya sebentar banget, cuma dua hari.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *