Dies Natalis 53: Rektor Baru

Browse By

John Titaley, rektor yang akan memimpin UKSW hingga tahun 2013. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

John Titaley, rektor yang akan memimpin UKSW hingga tahun 2013. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Pergantian pucuk pimpinan (rektor) di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) telah berlangsung. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Dekan Fakultas Teologi Prof. Dr. John A. Titaley kembali memimpin UKSW. Dimana sebelumnya, John A. Titaley pernah menjabat sebagai rektor ke V (lima) pada tahun 1999 di UKSW.

Awalnya, John A. Titaley merupakan salah satu kandidat calon rektor yang sempat tidak masuk dalam daftar hasil penjaringan Panitia Khusus (Pansus). Dimana daftar hasil penjaringan tersebut akan diserahkan oleh pansus kepada pembina Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana (YPTKSW) sebagai usulan calon rektor.

Menurut keterangan John A. Titaley saat ditemui di kantor Fakultas Teologi, beliau mengatakan bahwa menurut hematnya cara kerja yang dilakukan oleh pansus tidak sesuai dengan aturan Surat Keputusan Nomor 034/B/YSW/2004 tentang pemilihan rektor.

Dengan demikian beliau minta supaya ada banding kepada pembina, untuk membuktikan apakah cara yang diterapkan pansus dalam penjaringan calon rektor yang nantinya akan diusulkan kepada pembina benar atau tidak.

“Saya minta ditunda wawancara dengan saya karena saya minta banding kepada pembina,” ujar John A. Titaley. Wawancara yang dimaksud adalah salah satu proses seleksi penjaringan calon rektor yang dilakukan oleh Pansus.

“Ada masalah dengan cara kerja pansus. Sehingga ketika ada hasil yang mengatakan bahwa saya tidak masuk daftar calon, pansus bisa menjelaskan mengapa saya tidak masuk dalam daftar calon rektor dengan membuka secara terbuka (scoring). Oleh sebab itu bukan pembina mau meloloskan saya tapi ada masalah dari kerja pansus dalam melaksanakan SK Nomor 034/B/YSW/2004,” tambahnya.

Saat ditanya tentang sistem yang digunakan untuk pemilihan rektor, John A. Titaley mengatakan sistem yang digunakan sudah baik, dan tidak ada masalah dengan sistem yang digunakan untuk pemilihan rektor. Karena sistem pemilihan rektor tersebut dibuat untuk menghilangkan permasalahan yang muncul pada pemilihan rektor tahun 1993 dan sudah berjalan tiga kali pemilihan rektor.

“Sistem tersebut telah digunakan untuk pemilihan rektor sebanyak tiga kali, dan bukan memilih rektor yang sama tapi memilih rektor yang berbeda dan tidak ada masalah,” pungkasnya.

“Pada masa kepemimpinan saya, saya akan mempelajari UKSW secara mendalam dan itu butuh waktu, saya akan meneruskan yang sudah baik yang sudah dilakukan oleh Prof. Dr Kris Herawan Timotius karena sudah banyak hal baik yang sudah dilakukan oleh beliau,” ujar John A. Titaley, ketika ditanya apa yang pertama kali dilakukan pada masa kepemimpinannya mendatang.

“Keinginan saya sejak dulu adalah mengembangkan penelitian, karena di UKSW untuk pengajaran sudah cukup baik namun, untuk penelitian masih kurang. Dan dalam proses memimpinan saya akan tetap melibatkan calon-calon yang lain dan menanyakan kepada mereka tentang apa yang sudah mereka lakukan untuk dikembangkan lebih lanjut,” tambahnya.

Saat ditanya apakah beliau akan menerapkan kembali sistem Trimester beliau mengatakan “Saya akan menaati aturan dan hukum yang berlaku di Indonesia dan lingkup UKSW karena memang asas-asas (empat asas) menuntut UKSW taat pada aturan,” tandasnya.

Prof. Dr. Kris Herawan Timotius yang juga salah satu kandidat calon rektor saat ditemui di kantor Fakultas Sains dan Matematika (FSM) usai mengajar, dengan senyum ramahnya beliau enggan mangatakan apapun ketika ditanyai tentang pemilihan rektor.

Sedangkan Prof. Dr. Kristantius, salah satu kandidat calon yang juga sempat tidak masuk dalam daftar penjaringan pansus, saat ditemui di kantornya di gedung Pasca Sarjana saat ditanya proses pemilihan rektor mengatakan, idealnya pemilihan rektor harus dari bawah, dari fakultas, dari unit-unit dan terakhir di senat sehingga semua suara sivitas didengar.

“Sehingga betul-betul memilih orang yang pantas untuk memimpin 4-5 tahun kedepan dan UKSW sudah pernah punya itu sekian tahun yang lalu,” ujarnya.

“Untuk sekarang ini ya kita harus menghormati apa yang sudah menjadi keputusan dan kesepakatan di kampus ini, dimana pembina memiliki otoritas menentukan rektor terpilih dengan aturan yang sudah ada yaitu SK No. 034/B/YSW/2004, dan semua orang yang ada di kampus ini harus menghormati keputusan itu,” tambahnya.

Sebagai salah satu calon beliau tidak bisa melakukan apa-apa kecuali menerima keputusan. Dan beliau berharap kedepan para pembina harus lebih tahu mendalam tentang UKSW tentang track record calon-calon rektor. Selain itu juga beliau menginginkan proses persentasi waktunya jangan terlalu singkat dan bagi saya mekanisme-mekanisme presentasi perlu diperbaiki.

“Apapun keputusan pembina ya harus kita ikuti dan saya sepakat dengan siapapun yang terpilih dan mendukung. Yang penting rektor terpilih mau menjalankan amanat dari pembina,” pungkasnya.

Sedangkan satu kandidat calon berikutnya adalah Prof. Dr. Daniel Kameo. Saat ditemui di kantornya, gedung rektorat, dan ditanya tentang proses pemilihan rektor beliau mengatakan, “Prosesnya baik-baik saja, kecuali yang terakhir ada masalah atau perbedaan persepsi antara yayasan dengan Pansus, dimana Pansus mengusulkan dua nama kemudian berubah menjadi empat. Mungkin disini kelemahan sistem kita, kalau sistemnya bagus pasti tidak ada masalah,”

“Yang saya tahu Pansus telah melakukan tugasnya dengan baik, bahwa yayasan kemudian merubah dan mengusulkan dua kandidat lain, apakah itu kebijakan pembina saya tidak tahu karena tidak pernah dijelaskan secara publik,” tambahnya.

Ketika ditanya tentang apa yang akan dilakukan setelah tidak lolos menjadi rektor beliau mengatakan, sebagai anggota sivitas akademika kita harus terbuka untuk menyumbangkan pikiran untuk UKSW, minimal menjalankan tugas-tugas di fakultas sesuai dengan yang dibebankan kepada kita seperti tugas mengajar, penelitian, atau penulisan ilmiah karena itu yang tersendat saat menjadi WR I dan ini yang harus di bayar.

“Saya akan tetap mendukung rektor terpilih dalam arti pengajaran, penelitian dan penulisan ilmiah sewajarnya yang berkaitan dengan Tridarma perguruan tinggi,” tandasnya.

Daniel Kameo mengatakan bahwa Satya Wacana ini masih memiliki banyak tantangan yang dihadapi, seperti peningkatan mutu akademik, peningkatan kegiatan penelitian, penulisan ilmiah, peningkatan kualitas belajar mengajar dan peningkatan sumber daya dosen karena saat ini masih sekitar 26% dosen UKSW masih S1 dan segera mereka harus S2 untuk memenuhi peraturan undang-undang guru dan dosen.

Sebenarnya di indonesia ini sudah ada ukuran-ukuran untuk mengukur kualitas di perguruan tinggi dan ukuran yang dipakai oleh UKSW adalah BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi). Salah satu dari 50 perguruan tinggi di indonesia, UKSW terakreditasi B. Maka tantangannya adalah pada 2013 harus bisa terakreditasi menjadi A.

“Menurut tesis saya, jika universitas ini bermutu maka Satya Wacana harus bisa memenuhi visi dan menjalankan misi. Karena hanya universitas yang bermutu saja yang bisa memberikan yang terbaik, salah satu ukuran bermutu adalah akreditasi, karena dalam akreditasi ada 15 standar ukuran kemudian diterjemahkan ke 50 indikator. Jadi ukurannya jelas dan semuanya tidak ada yang diluar visi-misi UKSW,” ujarnya.

Santosa ketua pengurus YPTKSW saat ditanya mengenai proses pemilihan mengatakan bahwa, “Pembina secara tertutup membagikan kartu kepada anggota pembina seluruhnya sebanyak 19 orang, kemudian dilakukan pemilihan. Setelah proses pemilihan, pembina mengumumkan kepada calon rektor bahwa pemilihan dilakukan satu kali putaran, karena ada calon yang mendapatkan suara lebih dari 50% yaitu John A. Titaley, maka dinyatakan sebagai rektor terpilih periode 2019/2013.”

“Selanjutnya ketua pembina meminta kepada saya selaku ketua pengurus untuk memberitahukan kewajiban rektor terpilih untuk memilih kandidat pembantu rektornya,” imbuhnya.

Saat ditanya mengenai aturan pemilihan rektor Santosa mengungkapkan bahwa akan ada revisi atau amandemen terhadap SK No. 034/B/YSW/2004 karena pembina sudah memutuskan untuk merevisi dimana disebabkan ada beberapa hal yang sudah tidak relevan.

JT usulkan lima pembantu rektor

Setelah diputuskannya dalam sidang pembina pada tanggal 19-20 Agustus, dimana dari keempat calon rektor, John A. Titaley dinyatakan sebagai rektor terpilih periode 2009/2013. Dalam sidang pembina tersebut John A. Titaley menang mutlak dengan mendapatkan 14 suara dari 19 suara.

Sesuai dengan SK No. 034/B/YSW/2004, rektor terpilih diminta untuk mengajukan pembantu rektor untuk ditetapkan oleh pembina. Dalam hal tersebut, rektor terpilih telah mengajukan lima pembantu rektornya melalui surat yang dikirim kepada pembina yayasan melalui pengurus yayasan.

Kelima usulan pembantu rektor tersebut adalah, Prof. Ir. Daniel Herman Fredy Manongga (PR 1), Marwata (PR II), Arief Sadjiarto (PR III), Martha Nandari (PR IV) dan Fredy Rondonuwu (PR V).

“Surat memang sudah masuk, tapi pembina belum mengesahkan para pembantu raktor yang diusulkan oleh rektor terpilih. Masih akan diputuskan oleh pembina pada rapat pembina pada 27-28 mendatang, lalu rektor dan pembantunya akan dilantik pada 30 November bertepatan dengan dies natalis,” ujar Tri Budi Santosa (sekretaris pengurus YPTKSW).

“Semua keputusan ada sama pembina, karena kami hanya sebagai pelaksana,” imbuh Santosa (ketua pengurus YPTKSW).

Dari ke lima pembantu rektor tersebut, pembina memunculkan ide agar Arief Sadjiarto sebaiknya menyelesaikan studinya dulu, dengan alasan bahwa melihat peraturan tentang guru dan dosen harus S2, karena saat ini Arief sedang menyelesaikan studi S2.

Selain itu, Daniel Herman Fredy Manongga yang saat ini masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Informasi (FTI), pembina mengusulkan ide supaya memberi kesempatan kepada yang lain. Meskipun memang belum ada aturan yang mengatur bahwa tidak boleh merangkap jabatan.

Ide-ide tersebut akan di bawa dalam rapat pada 27-28 mendatang karena ada perbedaan pendapat antara pembina yayasan dengan rektor terpilih.

Dalam surat yang ditujukan kepada pembina yayasan mengenai pertimbangan senat tentang calon pembantu rektor UKSW dikatakan bahwa rapat Senat Universitas tanggal 3 September 2009 telah memberikan pertimbangan tentang jumlah calon para pembantu rektor UKSW periode 2009/2013 yang terdiri dari PR I, PR II, PR III, PR IV dan PR V, dengan nama-nama calon pembantu rektor seperti di atas.

Harapan mereka terhadap rektor baru

Rektor lama 2005/2009, Kris Herawan Timotius, dan rektor baru 2009/2013, John Andreas Titaley. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Rektor lama 2005/2009, Kris Herawan Timotius, dan rektor baru 2009/2013, John Andreas Titaley. {Foto oleh James Anthony L. Filemon}

Parman Pasanje selaku Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) dalam hal ini berharap agar nantinya kebijakan-kebijakan yang dibuat dapat mengkoordinir sivitas UKSW, dan rektor terpilih mendukung kegitan-kegiatan mahasiswa seperti penalaran, penelitian dan mampu menyatukan semua elemen yang ada di UKSW sehingga visi dan misi UKSW dapat selalui dipegang.

Tak berbeda dengan Parman, Andre Sutantyo selaku Ketua Senat Mahasiswa Universitas (SMU) juga menyampaikan beberapa harapan terhadap rektor baru, “Sebagai rektor yang pernah menjabat, beliau harus dapat tegas dalam mengambil keputusan , akan tetapi dalam pengambilan keputusan rektor baru harus tetap melibatkan stikholder-stikholder yang lain”.

Andre juga berharap agar rektor terpilih benar-benar berkonsentrasi dalam membangun UKSW secara menyeluruh dan bukan pada satu golongan tertentu. Selain itu, kebijakan-kebijakan yang diambil harus berpihak kepada mahasiswa dan mengutamakan mahasiswa.

“Rektor baru harus mengikuti aturan kurikulum yang sudah ditetapkan oleh yayasan dan tidak merubahnya. Dan bisa membawa UKSW go international,” tandasnya.

RALAT

Ada kesalahan dalam artikel ini, seperti telah disampaikan sdr. Yulius dan sdr. Winarto dalam komentar kritiknya.

Dimana semula tertulis, “… John A. Titaley pernah menjabat sebagai rektor ke V (lima) pada tahun 1999 di UKSW.”

Setelah diklarifikasi, yang benar adalah “… John A. Titaley pernah menjabat sebagai rektor ke V (lima) pada tahun 2001 di UKSW.”

Dan adapula kesalahan penulisan, “…stikholder-stikholder…”, yang benar adalah “stakeholder”.

Kami meminta maaf atas kesalahan penyampaian informasi di atas dan berterima kasih kepada sdr. Yulius dan sdr. Winarto yang telah mengingatkan serta mengkoreksi sehingga dapat menjadi pembelajaran bagi kami untuk lebih teliti lagi dalam menyampaikan informasi.

Atas kesalahan ini, kami mohon maaf. Jika masih ada kritik yang perlu disampaikan, kami tetap terbuka. Terima kasih.

Subiharto
Redaktur

11 thoughts on “Dies Natalis 53: Rektor Baru”

  1. Winarto says:

    Selamat utk pejabat yang baru..selamat ulang tahun Satya Wacana.
    OOT:

    melibatkan stikholder-stikholder yang lain

    Stikholder atau stakeholder?????

  2. Yulius says:

    Rektor UKSW yang sekarang, pernah menjabat jabatan yang sama pada tahun 2001, bukan tahun 1999.
    U/ Ketua SMU, apa maksudnya golongan tertentu? “Rektor harus mengikuti aturan kurikulum yang sudah ditetapkan yayasan”..sejak kapan yayasan nurusin kurikulum?

  3. Neil says:

    Apakah memang ada record bahwa sewaktu Prof. Titaley menjadi rektor (2001 – 2005) cuma segolongan orang yang dikembangkan? Saya kok merasa ini wacana “salah jurusan” dan karenanya berharap wacana-wacana “salah jurusan” seperti ini tidak pantas dikembangkan lagi di UKSW, apalagi oleh pejabat LK. Mari fokus pada upaya menjadikan UKSW sebagai salah satu yang (benar-benar) terbaik.

    Rasanya LK perlu menstudikan lebih mendalam apa arti menjadi universitas yang go internasional. Yang jelas bukan cuma bikin program berbahasa Inggris kan? Nah, arena kompetitif internasional sedang dan akan terus berubah (menurut amatan saya), paling tidak kalau melihat pola tingkah atau respon pemain-pemain utamanya, walau pattern dasar universitas (the idea of university) cenderung konsisten. UKSW lalu maunya yang bagaimana? Yang mengutamakan mahasiswa dalam perspektif itu juga lalu yang bagaimana?

  4. Ketua SMU says:

    Kak Neil, makasih buat masukannya. seingat saya(maafkan jika saya lupa) ketika SA mewawancarai saya, saya tidak mengatakan “satu” melainkan hanya pada golongan tertentu. Ucapan itu bukan sebagai penilaian terhadap JT ketika menjabat pada periode sebelumnya, namun lebih kepada harapan yang “jangan sampai ada” begitu maksud ucapan saya.

    terkait mengutamakan mahasiswa. Ketika sebuah Universitas akan beranjak Go internasional tentu akan mengandung banyak sekali konsekuensi, yang paling dekat adalah keuangan. Dilematis memang ketika berbicara keuangan, beberapa Univ, mereka bisa sedemikian pesat dari segi internasionalisasinya tentu dengan dukungan pendanaan yang sedemikian besar pula(tentu tak hanya keuangan melainkan juga link). Nah, terkait hal tersebut dari perspektif saya, bahwa kopnsekuensi itu sebisa mungkin tidak terlalu memberatkan mahasiswa, misal kenaikan uang pembangunan dan SKS. Dan semua yang saya utarakan sifatnya adalah “harapan” bukan sebagai penilaian terhadap kepemimp[inan JT pada periode sebelumnya. Demikian dari saya. Terima Kasih Kak Neil buat masukannya. GBU

  5. Neil says:

    @Ketua SMU,

    Terima kasih tanggapannya. Catatan itu saya buat karena di Satya Wacana isu murahan soal “kelompokisme” gampang dibuat dan menyebar. Saya kira bung Ketum bisa merasakan sendiri. Alih-alih berguna, wacana seperti itu cuma bersifat merusak.

    Nah, kalau mau, jadikanlah LK sebagai motor utama (kembali) bagi merasuknya pemikiran-pemikiran yang sudah dikembangkan pak Noto di dalam komunitas kampus. Bagi saya, pak Noto menghendaki kita, UKSW, justru menjadi satu masyarakat baru, yang tidak terjebak pola pikir dikotomik antar kelompok, tetapi menjadi masyarakat demokratis yang adil, terbuka, supaya ketika bergerak ke luar, berlakulah prinsip “… pelita… di atas kaki dian”.

    Kedua, imbauan saya agar LK menstudikan lebih jauh gagasan “go international” dan konsekuensi pilihan-pilihan “yang mengutamakan mahasiswa” tetap saya ajukan. Aspirasi bung Ketum perlu dielaborasi lebih jauh sehingga LK benar menjadi mitra yang kritis, partner yang mumpuni bagi para pemimpin lembaga di UKSW. Tentu sejauh yang bisa LK lakukanlah, tidak harus dipaksakan.

    Terima kasih kembali dan salam.

  6. Heironymus Tumimomor says:

    Semoga UKSW bisa memenuhi amanat seperti di dalam syair lagu MARS Satya Wacana. KIRANYA UKSW makin BERSINAR dan makin PERDULI.
    Selamat Pak John, Tuhan memberkati dan semoga sehat dan bahagia selalu.

  7. rovino says:

    selamat pak john…..

    mari bersama-sama kita bahu-membahu membangun Satya Wacana menjadi lebih baik lgi…

    singkat kata, mengutip kata Pak Noto:

    marilah kita memanusiakan manusia…

    bravo Satya Wacana…

    go go go go goooooooooooooooo…..

  8. BoQ says:

    Ati ati Trimester model baru yang ‘disempurnakan’

  9. John says:

    hmmmm, selamat pak john, sebagai orang yang terpilih dah diberkati,
    but, jangan lupa dong sama keluarga besar fakultas teology.
    😀

  10. Cinta UKSW says:

    Say hany ingin mengomentri sedkit ttg pernytaan Pak Jhon:

    “Saya minta ditunda wawancara dengan saya karena saya minta banding kepada pembina,” ujar John A. Titaley. Wawancara yang dimaksud adalah salah satu proses seleksi penjaringan calon rektor yang dilakukan oleh Pansus.

    “Ada masalah dengan cara kerja pansus. Sehingga ketika ada hasil yang mengatakan bahwa saya tidak masuk daftar calon, pansus bisa menjelaskan mengapa saya tidak masuk dalam daftar calon rektor dengan membuka secara terbuka (scoring). Oleh sebab itu bukan pembina mau meloloskan saya tapi ada masalah dari kerja pansus dalam melaksanakan SK Nomor 034/B/YSW/2004,” tambahnya.

    Setahu sy Ad surat dari Ya2sn yag disampaikan ke LK dan semua Senator termasuk ke Pak Jhon bahwa: Masuknya Pak Jhon jd calon Rektor didasarkan pada Hasil kerja pansus. Klo hasil kerja pansus bermsalah berarti masuknya Pak Jhon jadi calon rektor sampai terpilih jadi rektor dan sampi sekrg mash bermaslah…Hanya meluruskan yg dibengkokkan….
    Salam..

  11. Feliks V. Leunufna says:

    Redaktur Scientiarium yth,
    Saya Feliks Vinsen Leunufna, kini berada di Sorong, Papua Barat. Kendati sudah jauh kelewat waktunya saya ucapkan Selamat kepada Prof. Dr. John A. Tittaley atas terpilihnya beliau menjadi Rektor UKSW hingga 2013.

    Saya adalah murid pak JT, bukan hanya karena beliau pernah memperkaya wawasan saya dengan kuliah-kuliah biblikanya yang kini saya sadari sebagai yang lebih relevan, tetapi juga kepribadian beliau yang patut diteladani. Disamping itu, berkat beliaulah visi post-modern proses (bukan postmodernisme Prancis) yang berbasis Filsafat Proses Alfred North Whihead dapat saya alami kegunaannya hingga kini.

    Salam kepada pak JT dan sukses selalu bagi Scientiarium.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *