Pintu Jiwa Dalam Souldrama

Browse By

Teater Jiwa Souldrama®

“Apakah jiwa dan roh itu berbeda? Bila berbeda, apa perbedaannya?” tanya saya pada Connie.

“I don’t know,” jawab Connie, tersenyum.

“Can you see wind?” tanya Connie.

“No,” jawab saya.

“And how you can feel it?” tanya Connie kembali.

“It is felt,” jawab saya. Dan Connie hanya tersenyum.

Itulah sepenggal dialog saya dengan Connie ketika sesi tanya-jawab. Bahwa dalam mengetahui adanya roh dan jiwa, kita tidak perlu berpikir rumit dan memberikan batasan-batasan dalam kata kepada roh dan jiwa. Yang perlu dilakukan hanyalah merasakan.

Selama tiga hari Fakultas Psikologi mengadakan lokakarya Souldrama dan temu ilmiah nasional, presentasi makalah dan poster yang bertajuk “Towards the Health of Mind, Body, and Soul” yang diikuti oleh dosen-dosen dari beberapa universitas di luar UKSW, seperti Universitas Surabaya, Universitas Ciputra, Universitas Padjajaran, Universitas Tarumanagara pada 16-18 November, di Balairung Universitas. Connie Miller, pendiri International Institute of Souldrama dan pemilik Spring Lake Heights Counseling Center and Center for Codependency, hadir sebagai pembicara.

Connie Miller adalah seorang terapis pengembang Souldrama sebagai teknik terapi sebagai bagian psikodrama dan didisain untuk menolong individu keluar dari “ketergantungan” menjadi “kreativitas”. Souldrama adalah model terapi untuk mencapai kecerdasaan spiritual yang dipadukan dengan psikodrama, kelompok psikoterapi, kesenian, dan sosiometri.

Lokakarya ini sebenarnya bisa dikatakan pelatihan, karena lebih banyak pada praktik pengenalan dasar-dasar dalam Souldrama. Dimulai dengan teater jiwa yang menceritakan pencarian arti jiwa yang sesungguhnya, melalui sebuah puisi panjang dan peragaan teater gerak saja. Pencarian jiwa selalu jatuh bila hanya menggunakan ego manusia (akal pikiran), namun suatu saat ego hanya membuat putus asa. Karena itu peranan penting perasaan yang dibantu oleh pikiran.

Setelah teater jiwa selesai, Connie Miller datang dengan Aloysius Soesilo sebagai penerjemah memperkenalkan Connie kepada semua peserta. Setelah itu, Connie meminta semua peserta berikut panitia yang ada di dalam ruangan membentuk sebuah barisan dengan mengurutkan dari titik terdekat sampai titik terjauh, dengan cara melihat jarak tempuh dari kampung halaman sampai ruang BU. Connie juga meminta untuk membuat barisan lagi namun berdasarkan urutan umur, lalu ia meminta yang paling tua untuk pindah ke barisan yang paling muda.

“What do you feel?” tanya Connie kepada orang itu.

“Lebih enak jadi mahasiswa,” jawabnya sambil tertawa kecil.

Mungkin maksud Connie adalah peserta bisa merasakan sebuah perbedaan peran masa kini dengan masa lalu, perasaan masa kini dengan masa lalu. Bila tahu perbedaannya, maka otomatis peserta bisa mengingat bagaimana kondisinya di masa lalu.

Setelah itu Connie meminta semua yang terlibat tadi untuk berkelompok sesuai dengan daerah asalnya dan membuat sebuah drama singkat mengenai ciri khas daerah tersebut. Kemudian masing-masing kelompok menampilkan sebuah drama sesuai ciri khas daerah setiap kelompok.

Namun, satu hal yang menarik untuk diamati adalah meskipun mereka menampilkan sebuah drama sesuai ciri khas daerah setiap kelompok, setiap penampilan selalu diakhiri lagu daerah. Dan itulah mengapa Connie mengatakan bahwa masing-masing individu itu seperti not pada musik dan perbedaan adalah jeda antar not. Connie ingin menekankan bahwa perbedaan itu indah seperti musik dan UKSW yang memasuki usia ke-53 memiliki kekayaan akan perbedaan yang bisa membuatnya indah. Itulah kekayaan yang tidak dimiliki oleh universitas-universitas lainnya.

Selesai “pemanasan”, Connie menyebar kartu-kartu remi ke lantai dan setiap peserta mengambil satu kartu yang tersebar acak, hingga setiap peserta menjadi kelompok-kelompok berdasarkan angka dan warna kartu yang sama.

Connie meminta setiap kelompok untuk mencari tiga kesamaan masing-masing anggota kelompok serta memilih dua anggota kelompok untuk menjadi ayah dan ibu. Dari sinilah Connie ingin melihat rasa saling percaya, meskipun baru saja bertemu dan berkenalan, karena setelah itu Connie juga meminta setiap anggota kelompok untuk menunjuk salah satu anggota lainnya sebagai sosok yang dianggap paling bisa menjadi sosok orang tersebut sendiri. Sesi ini adalah “Doorway One: Trust” (Pintu Pertama: Percaya).

Pada saat itu, saya tidak ingin memilih siapapun, karena saya merasa bahwa memang tidak ada satu orang pun yang bisa menjadi saya. Saya merasa dan berpikir, bahwa aneh saja ketika saya belum mengenal orang-orang tersebut, saya sudah diminta untuk memilih salah satu orang tersebut. “Aku itu ada dua; aku yang sekarang dan AKU yang sejati,” itulah yang saya rasa dan pikirkan sejak mempelajari Kawruh Jiwa. Yang paling bisa menunjukkan siapa “AKU yang sejati” adalah aku yang sekarang.

Saya jadi teringat dengan perkataan seorang dosen FE bahwa Tuhan ada di dalam kamu, tapi jangan pernah sekali-sekali kamu menyebut dirimu Tuhan. Sebenarnya inilah alasan kenapa saya menunjuk diri saya sendiri, karena dalam ajaran Yesus yang tertulis “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”, saya membayangkan bahwa ketika Yesus berkata itu, ia pun menunjuk dirinya sendiri dan itu menunjukkan bahwa Tuhan ada dalam dirinya dan ia ada dalam Tuhan. Seperti halnya universitas-universitas di Indonesia, terutama UKSW. Apakah UKSW yang sekarang telah menjadi “UKSW yang sesungguhnya”? Apakah dalam realitanya sudah berjalan sesuai dengan visi dan misi awal didirikan? Mengingat sekali lagi, hampir 53 tahun UKSW berdiri, apakah yang dilakukan UKSW selama itu semakin dekat atau malah sebaliknya, semakin menjauh dari visi dan misi UKSW?

Namun saya dipaksa untuk tetap menunjuk salah satu anggota kelompok. Pada saat itu saya terpaksa melakukannya, tetapi sekali lagi muncul “kebenaran-kebenaran” lain ketika saya menggunakan “kebenaran” tunggal saya. Bila Yesus mengajarkan bahwa setiap manusia terdapat Tuhan sebagai “AKU yang sejati”, maka tidak ada salahnya saya menunjuk orang lain sebagai diri saya yang sekarang, karena “AKU yang sejati” ada pada setiap manusia.

Pada hari kedua dan ketiga, Connie semakin membawa peserta lebih masuk dan memahami Souldrama. Connie mengajak peserta untuk bermain dan melihat secara langsung Souldrama tersebut, dengan pemeran dari peserta sendiri. Souldrama ini membutuhkan lebih dari satu pemeran, tergantung kompleksitas masalah dan berapa peran yang terkait dengan masalah yang terjadi. Ada beberapa ciri khas dalam Souldrama ini, yaitu penggunaan selendang-selendang berwarna dan peranan yang lebih tinggi dari manusia (biasanya peran Tuhan) di balik tirai atau berada di tempat yang lebih tinggi posisinya.

Ketika saya bertanya kepada Connie mengenai maksud “Tuhan di balik tirai” tersebut, Connie mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa didatangi, namun Tuhan sendiri yang mendatangi kita. Hampir sama dengan penafsiran saya tentang “Tuhan di balik tirai” tersebut, bahwa tirai itu sebenarnya sebuah cermin dan ketika kita menghadap Tuhan, sebenarnya Tuhan itu sudah ada dimana saja, termasuk dalam diri manusia. Sehingga tidak bisa didatangi, karena Tuhan sudah mendatangi kita (logikanya: bila saling mendatangi, maka kapan bertemunya?). Kedua sesi hari kedua adalah “Doorway Two: Truth” (Pintu Kedua: Kebenaran).

Dalam Souldrama, terdapat tujuh “pintu” menuju perubahan spiritual. “Pintu” pertama dan kedua adalah iman dan kebenaran, dua “pintu” tersebut termasuk kecerdasan intelektual (apa yang aku pikirkan?). “Pintu” ketiga dan keempat adalah kasih dan cinta. Dua “pintu” tersebut termasuk kecerdasan emosional (apa yang aku rasakan?). “Pintu” kelima dan keenam adalah rendah hati dan bersyukur. Dua “pintu” tersebut adalah kecerdasan spiritual (apa aku?). Dan “pintu” yang terakhir adalah inspirasi. “Pintu” ini adalah keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ menjadi UQ (universal intelligence) yang nantinya akan membuat perubahan. Namun dalam mencapai perubahan tersebut, kita tidak bisa melewati “pintu-pintu” tersebut tanpa urut dari “pintu” pertama hingga “pintu” ketujuh.

Sebagai penutup acara, seluruh peserta dan panitia saling berpegangan tangan sambil menyanyi bersama. Bagi yang tertarik melakukan terapi Souldrama, harus menempuh waktu 250 jam. Bila ingin menjadi seorang terapis Souldrama, harus melakukan terapi Souldrama 250 jam dan sekitar 200 jam lebih untuk belajar psikodrama.

Evan Adiananta, mahasiswa Fakultas Psikologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *