UKSW 53 Tahun: Mau Dibawa Kemana?

Browse By

Organisasi yang baik bukan sekedar sebuah kumpulan orang-orang. Jika sejenak kita menyimak apa yang terjadi di dunia olahraga, kompetisi sepak bola khususnya, pada perebutan piala seperti FA Cup di Inggris atau Copa Del Rey di Spanyol, tidak jarang tim “anak bawang” dari divisi 2 sanggup mengalahkan tim papan atas divisi 1 yang bertaburan bintang. Ilustrasi sebuah tim lemah, jika dilihat dari kualitas individu-individu pemainnya, mengalahkan sebuah tim raksasa adalah contoh representatif untuk menggambarkan bahwa organisasi adalah lebih dari sekedar kumpulan orang-orang terbaik, namun adalah sebuah “mesin” koordinasi yang memungkinkan orang-orang terbaiknya memberi yang terbaik dalam keselarasan satu terhadap yang lain, sebuah kolektivititas. Dalam kasus sepak bola ini lalu tidak berarti pada tim raksasa yang kalah itu tidak ada mekanisme-mekanisme koordinasi, namun kekurangmampuan untuk menyatukan ragam individu ke dalam satu tekad besar, mungkin persoalannya. Karenanya, bekerjanya mekanisme-mekanisme yang membangun kesatuan pikir dan tindakan adalah karakteristik yang membedakan organisasi dari sekedar perkumpulan orang-orang.

Dalam tulisan ini, saya mencoba keluar dari pemaknaan organisasi sebagai sebuah tatanan teknis, bergerak ke arah pemaknaan sebagai sebuah entitas yang hidup dan kompleks. Maksud saya dengan berupaya memahami UKSW sebagai organisasi yang hidup (cf. de Geus, 1997, The Living Company) adalah bahwa sudah ada sejarah 53 tahun yang dijalani. Dan, dalam sejarah lebih dari setengah abad itu, ada banyak perubahan dan perkembangan yang telah terjadi di dalam UKSW dan juga yang diakibatkan oleh UKSW. Dengan pemahaman yang sama, notion kedua, organisasi sebagai sesuatu yang kompleks, saya gunakan untuk menandai bergerak makin kompleksnya organisasi UKSW. Dengan menempatkan keduanya secara bersama-sama, saya mencoba untuk mengajak kita memosikan paradigma kita tentang organisasi bukan sebagai entitas yang terisolasi, tetapi yang terkoneksi dengan lingkungan sekitarnya yang tentu saja akan membawa konsekuensi keterbukaan untuk berinteraksi dengan pengaruh-pengaruh lingkungannya dalam konteks pertumbuhan diri sebagai sebuah organisasi.

Dalam pemahaman yang demikian, perkenankan saya pun menggunakan “kacamata” institusionalisme dalam tafsiran saya, akan fenomena UKSW sebagai sebuah organisasi. Bagi saya, UKSW hanyalah satu aktor organisasi yang hidup dalam suatu tatanan pendidikan tinggi yang lebih luas, baik itu pada level dunia, regional Asia, ataupun sekedar konteks nasional Indonesia. Pendidikan tinggi adalah sebuah institusi raksasa, yang memiliki mekanisme-mekanisme hidup yang turut mendeterminasi dinamika hidup organisasi seperti UKSW.

Di samping itu, sebuah organisasi pada dirinya memiliki potensi untuk menjadi sebuah institusi tersendiri ketika mampu membangun pilar-pilar institusi baik aspek kognitif, normatif, dan regulatif untuk membimbing segala pilihan dan tindakan keorganisasian maupun aktor individualnya. Namun, sebagai (sub-)institusi di dalam institusi, organisasi seperti UKSW harus dimengerti hanyalah satu noktah (titik kecil) di antaranya banyak noktah lain di dalam jejaring institusional pendidikan tinggi. Ia tidak bisa lepas dari apa yang sedang dipikirkan dan tindakan yang sedang dilakukan dalam wilayah institusionalnya itu.

Dengan menggunakan koteks pendidikan tinggi sebagai sebuah institusi raksasa yang melingkupi kita, maka saya mencoba menerabas pemahaman bahwa batas-batas institusional kita hanyalah pendidikan tinggi di Indonesia. Implikasi dari pilihan ini cukup serius, untuk melihat siapa partner, kompetitor, supplier idea, norma, dan aturan dalam kehidupan UKSW. UKSW pun harus didudukan dalam kacamata yang sama sebagaimana halnya Universitas Paris, Universitas Tokyo, Universitas Stanford, dan sebagainya, walaupun kehati-hatian pemahaman konteks lintas batas-batas formal administrasi negara atau kultural tetap perlu dijaga.

Sebagai sebuah tulisan yang dibuat dalam rangka peringatan dies natalis, tulisan ini tentu tidak lepas dari sifat reflektif dan sekaligus proyektif. Judul yang saya pakai di atas langsung merefleksikan sifat tulisan ini. Ada perjalanan 53 tahun hingga hari ini dan akan ada waktu perjalanan ke masa depan. Dua orientasi waktu ini dipertemukan pada waktu kini, dalam tindakan bertanya, “Mau ke mana kita?”

Untuk menjawab pertanyaan itu dalam konteks sebuah organisasi yang telah dan masih terus hidup serta didudukkan dalam perspektif institusionalisme, maka refleksi historis sulit dilepaskan. Lalu, ketika refleksi seperti itu dilakukan oleh seorang aktor individu seperti saya yang waktu hidupnya bersama UKSW tidak terentang sama dengan sejarah hidup UKSW itu sendiri, bahkan sekalipun sama, maka harap dimengerti jika yang bakal muncul adalah interpretasi seorang subjek. Karena itu perkenankan saya menggunakan segala subjektivitas saya dalam berolah pikir di berbagai fenomena dan ide yang saya jumpai, termasuk membuat ilustrasi tertentu sebagai contoh.

Gerak organisasi dan masalah (krisis?) identitas
Baiklah saya mulai analisis saya begini. Hampir 15 tahun sudah saya bekerja di UKSW (harus ditambah lagi dengan tahun-tahun bermahasiswa). Dalam rentang waktu itu, saya menjumpai ragam cara pandang dipakai oleh warga UKSW ketika mencoba memaknai eksistensi dan juga ketika membuat pilihan-pilihan tindakan UKSW sebagai organisasi. Fenomena keragaman adalah lumrah, apalagi di UKSW yang menerima dan mengakui keragaman. Namun, konteks saya tentang keragaman di sini, jika ditempatkan dalam analisis keorganisasian, adalah semisal para ahli budaya organisasi menyoal ketidakmenyatuan pemahaman kultural antar anggota dalam organisasi yang sama. Karena itu, keragaman yang macam begini bisa menjadi tidak lumrah, bahkan berbahaya, dalam kacamata gerak hidup sebuah organisasi.

Kadangkala ada anggota komunitas Satya Wacana yang memandang UKSW sebagai UKSW yang tidak mau UKSW diperbandingkan begitu saja dengan universitas atau perguruan tinggi lain. Wajar saja, karena ada identitas dan sejarah hidup UKSW yang membedakan UKSW dari universitas yang lain. Resource-based theorists dalam analisis strategi manajemen berargumen akan kepelbagaian dan kekhasan jalur sejarah sebuah organisasi.

Namun, bisa jadi pada konteks persoalan yang berbeda, kumpulan orang ini justru berupaya mencari legitimasi kemiripan UKSW dengan universitas yang lain, misalnya untuk mengimbangi gerakan diferensiasi yang muncul dari kelompok yang lain dalam UKSW. Ini bisa disebut gerakan “mencari kawan”, mencari legitimasi sosial, di saat terdesak.

Selaras dengan sikap “mencari kawan” itu, dan supaya lebih kuat dasar argumentasi, konformitas atau pemenuhan terhadap syarat-syarat regulasi lokal/nasional digunakan. Regulasi harus dimengerti sebagai salah satu mekanisme institusional untuk menyamakan standar praktik antar aktor dalam sebuah wilayah institusi, terlebih lagi karena memiliki kekuatan paksa. Jadi, identitas yang sama dipakai sebagai alasan untuk menantang argumen yang mewarnai langkah yang membedakan diri dari yang lain.

Apa yang mau ditunjukkan di sini adalah inkonsistensi dalam cara pikir dan berujung pada tindakan sebuah organisasi atau komunitas dan hal macam begini tidak jarang terjadi di UKSW. Namun sayangnya inkonsistensi seperti ini sering tidak disadari. Seringkali muncul alasan bahwa “sudah seharusnya demikian”, taken-for-granted, sesuatu yang menjadi ciri bekerjanya sebuah institusi yang mapan atau kuat. Namun, logika yang inkonsisten menunjukkan kerancuan pikir dan bisa berakibat pada konsekuensi-konsekuensi yang tidak terbayangkan, tidak terantisipasi saat mencari jawaban-jawaban sesaat di saat-saat kritis. Sebetulnya fenomena mencari jawaban mudah dalam rangka membangun legitimasi sosial pun lumrah, namun ketidakasadaran berlogika demikian lah yang bisa berbahaya. Sederhananya, berpikir asal kena, bertindak serampangan, kira-kira begitu.

Di sisi lain, ada juga kumpulan orang, warga UKSW yang sebaliknya berpikir bahwa UKSW bukan bagian tidak terpisah dari kumpulan lembaga pendidikan tinggi, baik di tingkat lokal/nasional, regional, maupun secara universal, yang entah berjumlah berapa banyak. Semesta pembicaraan yang dipakai luas, bukan UKSW ya UKSW, atau kan kita di Indonesia, mengapa melihat yang bukan Indonesia. Pihak ini cenderung membuka referensi atau model bertindaknya ke wilayah institusional yang lebih luas dan karenanya tindakan “mencari kawan” atau melakukan pembedaan diri dari yang lain, pun dilakukan di atas basis gagasan yang lebih terbuka, skala yang lebih luas. Bagi sub-komunitas ini, bukanlah hal tabu untuk belajar dan mengadopsi sesuatu dari luar konteks UKSW atau Indonesia, karena identitas kelembagaan pendidikan tinggi yang dimilikinya pada hakekatnya sama dengan universitas atau perguruan tinggi lainnya di manapun, sekalipun persoalan berpikir dan bertindak lintas konteks memiliki tantangan tersendiri.

Saya pribadi berpandangan bahwa tidak ada individu/komunitas yang mutlak individualitas atau eksklusivitas-nya (terisolasi) ataupun mutlak kosmopolitan atau kewarga-dunia-annya. Selalu saja ada tensi (desakan) antara diri (self) dan konteks sosialnya. Saya bahkan memahami bahwa konsep diri sang aktor adalah hasil bentukan sosial untuk waktu yang tidak pendek, sekalipun yang sosial pun bisa dibayangkan bermula dari pikiran dan tindakan aktor-aktor. Akibatnya si aktor adalah si pembawa (carrier) sifat sosial pada dirinya sendiri dan juga bilamana dimungkinkan maka ia pun adalah pembawa perubahan sosial.

Karena itu, sikap-sikap paling tidak dua kelompok warga UKSW yang saya gambarkan di atas harus dipahami dalam konteks bagaimana individu atau kelompok individu membangun konsep diri dan konsep sosialnya. Problema terjadi jika si aktor menjadi tidak sadar kapan ego dan sosiabilitasnya bekerja atau harus bekerja. Seperti di atas, karena itu, di saat tertentu orang bisa mengakui diri/komunitasnya sebagai yang berbeda dari yang lain, namun di saat lain ia mencari pembenaran sosial.

Ketidaksadaran itu pula yang gampang membuat orang menuding sesama warganya sebagai “asing”, tapi lupa bahwa pada dirinya sendiri ada banyak sekali atribut yang sama “asing”nya melekat.

Problema berlanjut ketika ketidaksadaran asosiasi diri itu berujung pada pembentukan identitas yang menguat, kita dan mereka, dan mereka = bukan kita. Keretakan identitas bersama dalam satu komunitas mulai muncul, disadari atau tidak.

Bagi organisasi, kontradiksi seperti ini tidak jarang membawa akibat pada maju mundurnya kehidupan komunitas atau organisasi. Jika sejarah organisasi digambarkan sebagai sebuah garis lurus, maka barangkali akan didapati ada gerak maju dan ada pula gerak mundur, karena “sang kami” bertindak menegasi langkah “sang mereka”.

Jika gerak maju mundur terjadi secara relatif konstan atau terjadi inkongruensi gerakan-gerakan hidup organisasi terus-menerus atau ada inkontinuitas paradigma dan praksis hidup, entah karena alasan apapun, maka puluhan bahkan ratusan tahun lewatpun komunitas itu bisa jadi akan tetap berdiri di tempat yang sama, alias tidak berubah. Kalaupun berubah, mengikuti pandangan bahwa ada pertumbuhan organisasi secara linier (e.g. Larry Greiner), maka dampak dari perubahan-perubahan itu bisa jadi tidak signifikan dalam kacamata pencapaian tujuan organisasi, termasuk jika dibandingkan dengan fenomena perubahan yang terjadi di lingkungannya, bahkan bilamana dibandingkan dengan seluruh investasi, kulturan, sosial-psikologis ataupun finansial/ekonomisnya. Perubahan-perubahan itu hampir menjadi sebuah kesia-siaan belaka atau tidak/kurang bermakna.

Terlepas dari kemajuan-kemajuan tertentu di UKSW, gambaran maju-mundurlah barangkali yang tampak dalam pandangan saya ketika melihat hidup UKSW 15 tahun terakhir, pada core activities (kegiatan inti) UKSW. Benar, ada pertambahan departemen atau fakultas atau mahasiswa atau gedung, tetapi bagaimana kalau menilai kualitas pendidikan di UKSW? Benar bahwa ada perubahan pemanfaatan teknologi yang dulu jelas tidak ada, tetapi bagaimana menjelaskan efeknya pada kualitas pendidikan di UKSW? Benar bahwa ada tambahan buku, majalah, jurnal di UKSW, tetapi bagaimana kualitas kontribusi UKSW secara keilmuan melalui penemuan-penemuan baru? Sekali lagi, bukan tidak ada, tetap tidak signifikan, bila dibandingkan investasi bertahun-tahun selama UKSW hidup dan dibandingkan tuntutan normatif bagi sebuah lembaga pendidikan tinggi di era yang sedemikian maju ini.

Ada yang barangkali akan mengatakan, toh universitas lain di Indonesia pun sama dengan kita, bahkan tidak sedikit yang lebih buruk. Betul. Namun, itu yang saya argue (bantah) di atas, ini cuma tindakan “mencari kawan” yang sama buruknya, tetapi tidak memenuhi tuntutan normatif sebuah universitas.

Jika kinerja UKSW dibandingkan saja dengan tuntutan normatif yang dikonsepkan sendiri sejak 1956, apakah ia sudah memenuhi panggilan eksistensial dan visinya? Bisa ya, bisa juga tidak dan saya khawatir apa yang ada sekarang tidak lebih maju dari apa yang ada misalnya 20 tahun lalu, dalam ukuran-ukuran kualitatif.

Fenomena maju–mundur ini jelas menarik bagi seorang pengamat organisasi atau institusi seperti saya. Jika sebuah organisasi hidup dan maju karena digerakkan oleh di antaranya shared-goals and values (tujuan bersama dan nilai-nilai), maka bagaimana menjelaskan sikap-sikap berbeda dan gerakan maju mundurnya organisasi UKSW dalam perspektif ada shared-goals and values di dalamnya? Jika sebuah institusi eksis dan terus bergerak karena ada logika dominan yang menggerakkannya, lalu bagaimana memahami logika-logika dominan apa yang membuat UKSW bergerak maju-mundur? Bukankah logika dominan UKSW sebagai sebuah organisasi, paling tidak pada guiding principles-nya telah ada? Kalau benar dan harusnya sama, mengapa maju–mundur atau tidak berubah signifikan?

Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu tanpa sebuah studi yang intensif, walau di depan sudah saya katakan, perkenankan subjektivitas saya sebagai seorang participant-observer (pengamat) bekerja dalam menilai perjalanan organisasi UKSW.

Maaf saja, jika saat ini saya menilai ada kegagalan bekerjanya mekanisme organisasi dan khususnya perangkat lunak seperti shared-goals and values di UKSW. Dengan mengatakan itu, saya pun mau menglaim bahwa ada persoalan mendasar pada bangunan identitas organisasi atau komunitas ini. Siapa dirinya, menurut dirinya? Kira-kira demikian. Gambaran tentang ragam hasil penilaian diri oleh warga UKSW, seperti: “jangan disamakan kami dengan yang lain”, tetapi juga “jangan perlakukan kita berbeda” dari sahabat-sahabat kita, tetapi ada juga “kita toh tidak berbeda dari mereka yang lain” menunjuk salah satu persoalan dalam bangunan identitas atau cara UKSW yang satu ini memandang dirinya sendiri, maupun bagaimana ia melihat diri di hadapan lingkungannya, dalam lingkungan institusi pendidikan tingginya.

Bagi saya, persoalan tentang identitas organisasi ini persoalan serius. Identitas organisasi tidak berhenti pada sesuatu yang dinyatakan, diinginkan, tetapi terkhususnya akan diuji pada apa yang diimplementasikan. Jika ada gap antara keduanya (belum lagi memasukkan tuntutan-tuntutan baru yang muncul akibat perubahan lingkungan), maka bermasalahlah organisasi itu. Inkongruensi ini bisa menjadi pangkal banyak masalah dalam organisasi, termasuk “polarisasi” pandangan dan tindakan antar warga, sebagaimana yang saya klaim terjadi di UKSW. Gagal mengatasi persoalan ini atau jika tidak didapatkan kesepahaman baru tentang identitas organisasional yang satu dan karenanya identitas bisa berubah dari masa kepemimpinan yang satu ke masa kepemimpinan yang lain, jangan heran melihat kita maju–mundur dan akhirnya berjalan di tempat atau berubah tidak signifikan.

Bagi saya, ini masa merenung, untuk bertanya dan memutuskan kembali, siapa kita, bukan kami versus mereka. Pertanyaan judul, mau ke mana kita harus didudukkan pada refleksi atas identitas diri yang utuh, jujur, dan berani, termasuk berani juga untuk melupakan masa lalu yang barangkali keliru. Ahli-ahli organisasi pembelajar (seperti Chris Argyris dan Donald Schon) memandang bahwa di samping harus belajar (dan tidak melupakan) sesuatu yang baik dari sejarah, belajar melupakan (learning to forget) pun penting. Belajar untuk melupakan ini terutama menyangkut hal-hal yang bersifat membebani kita untuk cepat beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang bersifat akseleratif.

Belajar dari masa lalu
Sebelum beranjak ke pertanyaan mau ke mana, baiklah juga saya mengajak kita untuk menilik kembali sejarah UKSW dalam konteks pembangunan jati dirinya. Berikut interpretasi saya.

Mari kita tanyakan apa konsepsi atau model organisasi apa yang diwariskan oleh para pendiri dan pemimpin pendahulu kepada kita sekarang. Untuk menjawab itu tentu kita harus membuka banyak dokumen sejarah yang memuat konsepsi jati diri UKSW untuk menyimpulkan model organisasi UKSW. Saya tidak mengatakan saya sudah buka semua buku sejarah UKSW, tetapi perkenankan saya menafsir berdasarkan pemahaman dan pengalaman saya selama ini.

Agak surprised saya ketika sampai pada kesimpulan bahwa sejak semula pemimpin seperti pak Notohamidjojo (salah satu pendiri dan juga rektor pertama UKSW—red) telah memodelkan UKSW sebagai sebuah universitas yang sangat terbuka dalam olah gagasan diri. Harusnya jawaban itu bukan sebuah kejutan bagi saya, saya pikir. Saya telah mengenal UKSW dan bergulat dengan pemikiran pak Noto tentang UKSW sejak saya bermahasiswa di awal 90-an. Namun, kejutan kesimpulan baru saya rasakan saat-saat ini, ketika menyoal jawab tentang konsep identitas diri dan konsep relasi sosial UKSW. Saya terkagum membayangkan luasnya wawasan pikir seorang pemimpin seperti pak Noto pada ukuran zamannya. Ia menunjukkan konektivitas gagasan yang sangat kuat antara ide-ide yang dikembangkannya di UKSW sejak semula dengan ide-ide universal tentang universitas atau pendidikan tinggi dunia. Jika itu kita lihat dari kacamata kita sekarang yang dimanjakan teknologi untuk terkoneksi tanpa mengenal batas-batas geografis atau bahkan mungkin batas-batas kultural, maka itu tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan konteks sosial kultural dan geografis fisik di era 1950-an ketika orang seperti pak Noto mengonsepsikan jatidiri UKSW.

Ide pak Noto menjadikan UKSW sebagai sebuah universitas scientiarum, universitas magistrorum et scholarium, atau cita-cita UKSW untuk membentuk generasi pemimpin yang disebut creative minority, jelas bukan ide-ide lokal, tetapi ide-ide yang telah diterima luas dalam wacana pendidikan tinggi universal. Konsep-konsep tentang universitas dan elit pemimpin masyarakat itu lahir dari konteks Eropa pada era yang berbeda sekalipun masih relevan dalam mengolah gagasan tentang universitas hingga kini, walau banyak konsep baru bermunculan seiring bergeraknya waktu.

Kita bisa saja menuding pak Noto sebagai tukang jiplak, kebetulan tahu tentang itu lalu meniru-niru. Namun, kalau kita membaca secara seksama olah pikir pak Noto dalam karya-karya tulisnya yang dibukukan, orang seperti saya akan menilai itu bukan tindakan asal meniru.

Pertama, harus diterima dulu bahwa meniru adalah hakekat manusia. Jika gen adalah alat replikasi secara fisik, walaupun juga berimplikasi non-fisik (bandingkan sebuah hasil riset yang menuding gen sebagai faktor penjelas kemampuan mengemudi yang buruk atau membahayakan), maka oleh penulis seperti Richard Dawkins dan Susan Blackmore meme dikatakan sebagai replikator kultural yang bekerja melalui perilaku saling meniru antar manusia, termasuk melalui perataraan buku, aturan, dan sebagainya. Mimesis atau imitasi adalah kendaraan manusia untuk melakukan transfer, adopsi, atau reproduksi pengetahuan, sikap, dan perilaku secara kultural. Dan, dalam konteks tiru-meniru semacam ini, tindakan kontekstualisasi atau translasi pokok pesan ke dalam konteks setempat kemungkinan besar telah dilakukan (bandingkan pemahaman tentang pola penerjemahan di dunia lingustik). Dan, membaca tulisan-tulisan pak Noto yang tampak hati-hati tetapi penuh kesungguhan dalam mengenalkan gagasan-gagasan yang diadopsinya dari luar itu membuat saya berkesimpulan ini bukan sekedar menjiplak. Tindakan dan karya pak Noto lebih menjelaskan kepada kita tentang betapa terkoneksinya pak Noto pada gagasan-gagasan baik yang berlaku universitas dan karena kekuatan penilaian atau keyakinannya tentang sisi baiknya gagasan-gagasan itu, ia atau dirinya lalu menjadi kendaraan bagi (aktor sebagai carrier gagasan) masuknya gagasan-gagasan itu ke UKSW, juga ke konteks-konteks lain di mana ia turut memerkenalkan gagasan-gagasan itu.

Di situlah respek dan tadi saya katakan ada sikap surprised saya muncul, untuk ukuran zaman di mana kontektivitas pada gagasan-gagasan yang terdifusi secara global tidak berada pada level yang sama seperti sekarang ini. Mengapa harus surprised? Mengingat di zaman yang melimpah informasi akibat tingkat konektivitas yang tinggi dan cenderung tanpa batas ini justru ada tidak sedikit dari antara kita yang justru bertindak membiarkan banyak gagasan baik terbuang percuma, maka apa yang telah dilakukan pak Noto punya nilai tersendiri di mata saya. Mungkin kita sekarang sudah merasa memiliki superioritas ego sehingga menilai dirinya lebih baik dari gagasan-gagasan baik yang terdifusi luas, namun sikap demikian nyata-nyata tidak didukung oleh bukti-bukti empiris bahwa dirinya atau UKSW adalah lebih baik dari yang lain yang menjadi sumber atau tempat berpraktiknya gagasan-gagasan yang dibiarkannya itu. Atau, ada yang barangkali yakin bahwa ia sendiri bisa menjadi sumber gagasan atau gagasan-gagasan lokalnya lebih baik dari ide-ide global. Well, ini sikap yang patut didukung, namun sayangnya tidak ada tindakan berolah gagasan secara kontinu dan bermutu yang kita tunjukkan dan akhirnya cuma menjelaskan ketertinggalan kita. Namun, sikap saya pribadi, dunia ini kaya dan dunia di luar kita telah melahirkan ide-ide super kaya yang kalau mau ditelaah secara baik dan hati-hati juga banyak gunanya untuk kita. Karena itu, tilik kembali konsepsi diri kita, konsepsi relasi kita dan dunia sekitar kita.

Dan, telaah historis saya menunjukkan bahwa UKSW telah membangun identitas diri sebagai sebuah universitas yang adalah warga dunia. Referensi gagasan yang pernah hidup dan berkembang di UKSW memiliki konektivitas wilayah institusional yang luas, bahkan sejak awal berdirinya. Ini bisa juga ditemukan lebih jauh dalam sejarah perjalanan UKSW kemudian. Misalnya, ketika UKSW pertama kali memelopori penggunaan sistem kredit semester di dekade 70-an. Perguruan tinggi dunia di kala ini, sejak sekitar 1960-an, sedang hangat memerdebatkan sistem pengorganisasian tahun akademik. Dan sistem kredit semester sedang “in” menggantikan model satu tahun penuh. Sekali lagi, adopsi ini harus ditempatkan di luar kacamata asal tiru. Dan, posisi sebagai prime mover (penggerak/pendorong utama) di Indonesia menempatkan UKSW sebagai inovator tatanan pendidikan tinggi nasional.

Hal yang sama juga misalnya bisa dilihat dalam konteks adopsi sistem pengelolaan perpustakaan di UKSW di waktu lampau. Perpustakaan UKSW adalah perpustakaan terbaik dan sering menjadi tempat studi banding, karena hasil belajar dan adopsi model pengelolaan perpustakaan di Amerika oleh aktor seperti Towa P. Hamakonda. Bahkan, di tengah munculnya fenomena teknologi informasi dan jaringan komunikasi modern di era 80-an sampai 90-an, UKSW pernah meresponnya dengan rancangan perpustakaan digital.

Hal-hal itu menunjukkan konektivitas sebuah universitas kecil di kota kecil pada dunia ide yang global. Ini hanya dapat terjadi ketika identitas diri yang diyakini oleh UKSW adalah bagian dari para “pemain dunia”, bukan sekedar kehadiran secara lokalnya di Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia. Ada dialog eksistensial antara kenyataan atau fenomena lokalnya dengan fenomena dan gagasan global di dalam diri UKSW sebagai aktor organisasi dan juga pada aktor-aktor individualnya.

Ada dialog antara jati diri yang mewakili eksistensi kekinian dan lampau versus wacana kemajuan ke masa depan yang sebagian diadopsi dari luar dan bersifat asing baginya, berisikan kemungkinan-kemungkinan atau mengandung ketidakpastian. Namun, ketika aktor-aktor individu di dalam UKSW maupun akhirnya UKSW sendiri sebagai aktor organisasi berani mengadopsi sesuatu yang bersifat asing dan belum pasti (dibanding konteks lokal kekiniannya) itu, maka yang bisa dijelaskan di sana adalah ada keyakinan yang kuat pada apa yang diterimanya itu dan ada keberanian untuk bertindak karena kuatnya keyakinan itu. Dalam sebuah kesempatan lain, saya pernah membandingkan sikap ini dengan keberanian komunitas Kristen mula-mula ketika bersaksi tentang keyakinannya pada Kristus. Dalam wacana kontemporer organisasi, William Capodagli dan Lynn Jackson (1998, The Disney Way) mengargumentasikan seni dan pola hidup perusahaan Disney yang dibimbing oleh ideologi: Dream, Believe, Dare, dan Do.

Jadi, UKSW dan orang-orang di dalamnya di dalam sejarahnya telah menunjukkan diri sebagai carriers dan adopters gagasan-gagasan mendasar tentang pendidikan tinggi yang telah menjadi atribut ragam lembaga pendidikan tinggi di dunia. UKSW yang seperti itu tidak hidup dalam sindroma minority complex, yang diwarnai ketakutan diri yang berlebihan dalam memutuskan dan berindak apa yang baik bagi dirinya dan lingkungannya hanya karena dinilai aktor kecil dari kota kecil, misalnya. Dari universitas kecil di kota yang kecil ini toh telah ada sejumlah bahan belajar bagi institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Itulah jati diri UKSW, itulah identitas UKSW, minoritas yang kreatif, seorang aktor “dunia” dari tempat yang “terpelosok” di bawah kaki gunung.

Mau kemana kita sekarang?
Pertanyaan bagi kita sekarang, mau apa kita setelah mencapai usia 53 tahun. Mau kita kemanakan lembaga ini bergerak ke depan? Masih akankah kita bergerak maju mundur lagi, seperti kesan saya terhadap perjalanan 15 tahun terakhir? Mudah-mudahan tidak.

Pertanyaan ini hendak saya tujukan bagi seluruh anggota komunitas UKSW, bukan hanya segelintir elit pemimpin di kampus. Saya tidak menampik argumen creative minority, karena saya adalah juga pengagum gagasan ini. Namun, bergeraknya organisasi UKSW ini hanya akan terjadi secara solid ketika massa yang besar yang seringkali diam atau pasif itu telah turut menjadi pendukung yang aktif.

Karena itu, kesatuan pikir dan tindakan UKSW sebagai sebuah organisasi, sebuah komunitas adalah syarat mutlak. Tanpa itu, gampang kita bergerak maju dan mundur lagi, ke kiri lantas ke kanan, dan hasilnya adalah cenderung atau relatif diam di tempat. Syarat ini adalah sebuah kondisi yang perlu diciptakan, bukan terjadi dengan sendirinya. Namun, saya menyerahkan ini kepada para pemimpin (dan kita semua) di UKSW untuk memungkinkan syarat koherensi organisasi ini terjadi, walau saya ingin menitipkan pentingnya komunikasi dalam diri sebuah komunitas yang mau (terus) belajar. Dengan begitu, sinergi organisasi lah yang muncul, bukan benturan pemikiran yang cenderung menciptakan eksklusivisme atau keretakan antar kelompok yang kemudian hanya berkontribusi pada terciptanya kekuatan-kekuatan penahan perubahan organisasi dari waktu ke waktu.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya mencoba me-refer (mengacu) pada sejarah institusi pendidikan tinggi yang telah berevolusi lebih dari 3500 tahun (Patterson 1997). Bergerak dari komunitas belajar yang eksklusif yang cenderung bercirikan keagamaan, pendidikan tinggi kemudian berubah menjadi sebuah institusi publik yang terbuka. Ia adalah engine kemajuan masyarakat karena memasok kaum terdidik yang terus menggerakkan peradaban serta melengkapi mereka dengan memasok temuan-temuan pengetahuan dan kapabilitas, termasuk dalam wujud teknis-teknologi.

Dalam sejarah universitas sebagai sebuah model institusi pendidikan tinggi pun ragam wujud universitas sudah tampil dalam sejarah. Model-model universitas telah berubah mulai dari model yang terfokus pada delivery pengetahuan dalam proses pendidikan/pengajaran dari guru kepada murid yang dominan hingga abad 19/20, hingga bergeser pada model yang terpusat pada riset bagi penemuan-penemuan yang bermula dari Berlin pada 1810 dan terus dominan hingga sekitar 1950-an atau 1960-an, dan kemudian berubah kembali fokusnya ke arah aplikasi dan integrasi berbagai kemajuan ilmu pengetahuan bagi kemaslahatan bangsa/masyarakat.

Wissema (2009, Towards the Third Generation University) memberikan label terhadap 3 fase di atas sebagai 3 generasi universitas yang berbeda: Generasi Satu (1GUs) sebagai universitas berorientasi pengajaran, Generasi Kedua (2GUs) atau model universitas riset, dan Generasi Ketiga (3GUs) yang melakukan komersialisasi aset-aset pengetahuannya. Ada yang menyebutkan istilah entrepreneurial university atau innovative research university untuk model 3GUs. Universitas macam begini di antaranya telah melahirkan perusahaan/bisnis dari aktivitas akademiknya, dari antara banyak kontribusi penting lainnya. Dengan begitu, mereka men-diversifikasi (menganekaragamkan) sumber pemasukan finansialnya sedemikian rupa, sehingga tidak lagi sekedar bergantung pada dan akhirnya memberatkan sumber mahasiswa/orang tua mahasiswa.

Jadi, evolusi yang panjang itu telah memunculkan tidak sedikit gagasan dan model yang darinya kita bisa belajar dan bertransformasi. Namun, semoga kita tidak sekedar terjebak pada istilah-istilah lalu melupakan substansinya, yakni aktivitas-aktivitas beruniversitas dan akhirnya kontribusi atau peran yang membedakan satu fase atau model ke yang lain. Karena, gampang saja mengklaim misalnya bahwa UKSW adalah universitas riset, tetapi aktivitas, hasil, dan dampak bisa jadi tidak menunjukkan klaim itu.

Indonesia di pertengahan dekade 2000-an ini baru berpikir menggeser orientasi pengajaran ke riset atau berupaya melahirkan universitas-universitas riset. Itu artinya ada ketertinggalan model beruniversitas kita dengan rekan-rekan kita di negara-negara maju untuk jangka waktu yang tidak pendek. Itu artinya kerja keras diperlukan.

Dalam konteks kerja keras diperlukan, maka bagi saya keberanian berolah gagasan dan bertindak menjadi sangat diperlukan. Namun, untuk sebuah tindakan yang berani membutuhkan dukungan keyakinan bersama sehingga semua gerakan ke arah UKSW baru yang muncul adalah sebuah gerakan kolektif, bukan sekedar permainan-permainan individual, yang harmonis.

Olah gagasan ke arah masa depan ini tentu saja harus ditempatkan dalam konteks kemajuan institusi pendidikan tinggi secara global dan menyadari ketertinggalan kita yang jauh di banding rekan-rekan kita di luar. Ini penting manakala kita mau kembali berpikir sebagai warga dunia, bukan pelaku terisolasi, sebagaimana model pikir yang telah diwariskan para pendahulu di dalam sejarah UKSW.

Selamat merayakan dies natalis. Terima kasih kepada pak Kris Herawan Timotius dan rekan untuk kepemimpinan 4 tahun kemarin dan selamat datang dan bertugas kepada pak John Titaley dan rekan untuk kepemimpinan ke depan. Tuhan memberkati.

Neil Semuel Rupidara, dosen Fakultas Ekonomi

4 thoughts on “UKSW 53 Tahun: Mau Dibawa Kemana?”

  1. theodorus benyamin sibarani says:

    Membaca tulisan Bapak, mendorong saya untuk memberikan respon atas tulisan ini. Berbicara UKSW sebagai sebuah organisasi memang sangat menarik sekali, karena dapat diidentifikasi mulai dari karakteristik, tujuan, sampai pada lingkungan organisasi. Akan tetapi dalam forum pandangan ini, saya tidak akan membahas UKSW sebagai organisasi secara teoritis, tetapi lebih pada penekanan mau ke mana organisasi ini setelah berdiri selama 53 tahun? Di dalam dunia sosiologi, dikenal istilah “Social Capital”. Ada yang menerjemahkannya sebagai Kapital Sosial dan ada juga yang menerjemahkannya sebagai Modal Sosial. Saya lebih cenderung menggunakan istilah Modal Sosial saja dalam pembahasan ini. Modal Sosial ini dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, dengan syarat ada sekelompok orang dengan tujuan bersama. Organisasi (UKSW) melengkapi persyaratan tersebut. Pertanyaannya sekarang adalah mau apa UKSW dengan Modal Sosial tersebut? Fukuyama, melihat bahwa Modal Sosial itu berkaitan erat dengan Trust (Kepercayan, =/= believe). Begitu juga dengan Putnam, Turner dan World Bank. Suatu organisasi dengan sumber daya manusia yang sangat hebat dalam pemikiran dan pekerjaan, ditambah dengan dana yang bergelimpang, tetapi tanpa Trust tidak akan berjalan efektif dan efesien. Inilah faktor X yang sering hilang atau tidak ditemukan oleh para anggota organisasi. Anggapan bahwa diri sendiri lebih inti,dan penting, membuat kita menjadi kurang percaya kepada pekerjaan orang lain. Contoh yang nyata untuk UKSW adalah persoalan sistem perkuliahan, bahwa tidak ada kepercayaan yang diberikan oleh penganut paham Trisemester maupun Dwisemester. Hal ini terus menjadi dinamika dalam tubuh organisasi UKSW. Peralihan rektor baru-baru dianggap sebagai kemenangan kaum penganut Trisemester. Sebenarnya persoalannya bukanlah Trisemester atau Dwisemesternya, Tetapi apa pun sistemnya, kalau dasarnya kualitas kita baik, maka hasil yang keluar juga akan baik. Persoalan inilah yang harus segera disadari, bahwa dalam usia ke 53 tahun ini, segenap civitas academia harus mencoba saling percaya antara satu dengan yang lainnya dalam rangka membangun kualitas UKSW yang lebih baik lagi ke depan. Dengan demikian, terjawablah sudah pertanyaan Quo Vadis UKSW?

    Theodorus Benyamin Sibarani
    (alumni fakultas teologi UKSW – saat ini sedang melanjutkan studi di FISIP-UI)

  2. Imam says:

    Saya sangat setuju dengan judul artikel dari Sdr. Neil. Namun yang lebih penting adalah implementasinya.. Bagaimana bisa menjadi lembaga yang kuat, bila komponen di dalamnya tidak bisa sehati, sepikir dan sejalan.
    Perbedaan boleh ada, namum perbedaan harus menjadi modal untuk persatuan dan kesehatian. Budaya atau kebiasaan yang bisa menghambat kesatuan langkah dan tindakan adalah budaya “Teman dekat Vs teman jauh”, “etnis saya vs Etnis mu”, dan budaya-budaya itu sangat terlihat di UKSW.
    Maju terus UKSW…

  3. Izak Lattu says:

    Saya sedang belajar di University of Pennsylvania, Philadelphia dan saya melihat banyak hal yang bisa dipakai untuk mengembangkan UKSW. Disini semua pembangunan kampus dan fasilitas di dalamnya di biayai oleh alumni atau keluarga almuni. Misalnya satu ruangan untuk Graduate Student disumbangkan oleh keluarga Smith untuk menghormati Ibunya yang angkatan 55. Lalu aga gedung Fisher-Bennet yang dibangun dengan dana dari kelaurga Fisher. Bahkan kursi di dalam ruangan Fisher-Bennet disumbangkan oleh keluarga2. Kalo UKSW mau mengembangkan program fisik dan Non fisik mungkin bisa pakai cara ini.
    Satu lagi yang menarik, mereka tetap pakai kapur untuk kelas2 (tentu kapur yang tidak banyak debunya). Alasannya adalah konsern pada persoalan lingkungan. Bagi UPenn tidak ada hubungan antara penggunaan kapur dengan kualitas. UPenn adalah Ivy League Universities salah satu yang terbaik di dunia. Mereka juga pakai gedung-gedung tua yang berdiri seperti kastil di dalam kampus. Ada banyak universitas baru dengan gedung yang lebih modern tetapi UPenn bisa menjaga kualitas dan tidak ada hubungan antara bangunan fisik dan kualitas. Dalam hal2 tertentu UKSW mirip dengan UPenn. UKSW sudah berada dalam track yang benar tinggal bagaimana kita bekerja untuk emngembangkannya menjadi lebih baik.
    Waktu saya cek buku2 bacaan di UKSW, mereka menggunakan bacaan yang kita gunakan di UKSW misalnya untuk mahasiswa di Teologi kami pakai Thomas Kuhn dan Karl Popper. Mereka juga pakai itu. Teman-teman dari negara lain seperti Syiria, Tunisia, Chile, Columbia, Laos, Myanmar, Palestina, Afganistan, Turki, dan lain-lain mereka baru pernah dengar Kuhn dan Popper tetapi kita di UKSW sudah pakai itu. Kita tidak kalah, hanya kita kurang percaya diri dan kurang bangga dengan UKSW. Saya sangat bangga dengan UKSW saya. kebanggaan ini harus menjadi modal untuk dosen dan pegawai bekerja dengan sukacita. Karena pilihan utamanya adalah UKSW. Seberapapun bayaran di luar UKSW tetap menjadi pilihan utama karena kita bangga dengan UKSW. UKSW bukan jadi tempat kerja tetapi tempat melayani dan hidup. Bukan hanya untuk uang tetapi untuk melayani Tuhan dan menggandakan talenta.
    Kebanggaan pada UKSW mesti menjadi kebanggan mahasiswa dan alumni ini menjadi “mesin” bagi pengembangan diri dan UKSW secara keseluruhan.
    Thanks

    Salam

    Izak Lattu

  4. neil says:

    Terima kasih Theodorus, Imam, dan Izak untuk sharingnya. Senang berbagi concerns dan terutama menindaklanjutinya pada tingkat praksis, just do it.

    Theo, tentang semester vs. trimester, posisi sikap saya sudah saya jelaskan dalam salah satu wawancara Scientiarum (via mas Satria) terhadap saya. Pada dasarnya mengapa trimester adalah untuk mendorong naik kualitas kita lebih jauh lagi. Ada persoalan carrying capacity yang terbatas di sistem semester, bukan sistem semester itu tidak baik. Lebih jauh, isu mendasar yang harus dijawab UKSW adalah soal reformasi pedagogis, ke arah yang lebih berorientasi riset (research-based/oriented/led pedagogy) yang lebih berpola konstruktivis daripada menjadikan mahasiswa “korban pengajaran dosen” (mohon maknai jargon ini ya…).

    Pak/Mas Imam tidak saya tanggapi secara khusus, kecuali terima kasih endorsement dan penekanan pesannya.

    Bung Chaken, tradisi donasi belum ada di Indonesia, bung. Tidak mudah mendapati model yang berpraktik di UPenn atau banyak universitas di Amerika itu terjadi di Indonesia, kalau kita tidak mulai dan konsisten mengupayakannya. Saya tidak tahu bung baca tulisan saya ke milis Ikasatya atau tidak (jadi anggota?), tapi saya melihat sulit sekali itu terjadi di UKSW. Sudah pernah dicoba, tetapi mati di jalan. Lihat kasus pendekatan pak John Titaley pada alumni beberapa tahun silam untuk memperoleh donasi bagi pembangunan gedung-gedung di kampus. Bandingkan pula dalam kasus belakangan untuk pembangunan kampus 2 UKSW. Jadi, bukannya tidak mungkin, tetapi masih sulit, dan terlebih lagi kalau itu mau model donasi itu dijadikan bagian dari budaya universitas, ya harus dikerjakan tanpa kenal lelah.

    Soal kualitas, saya setuju. Namun, jangan bertepuk dada cepat-cepat karena ujung-ujungnya karya-karya akademik dari UKSW tidak kelihatan, sesuatu yang jelas tidak bisa diperbandingkan dengan UPenn. Dan, kawan-kawan yang belum kenal Kuhn, Popper di waktu lampau jangan-jangan besok-besok mereka lah yang jadi Kuhnian atau Popperian dibanding kita, dilihat dari karya-karyanya. So, keep on doing good things kawan!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *