Gadis Gila di Pasar Pagi

Browse By

Saat ini musim penghujan merajai hari, namun entah mengapa aku merindukan musim panas. Padahal di saat musim panas yang lalu aku merindukan datangnya musim hujan—Apakah aku memang sudah gila? Seperti saat ini aku sangat mencintai gadis muda gila yang sering menari-nari, tertawa-tawa di pasar dengan pakaian rombengnya. Padahal di sekelilingku banyak gadis waras, bersih, harum, dan cantik—tapi entah kenapa aku sangat tergila-gila pada gadis gila apak itu.

Pertemuan pertama dengannya adalah ketika ibuku menyuruhku membeli bumbu-bumbu pelengkap masakannya di Pasar Pagi, dekat rumahku. Saat hendak membeli cabai merah, kulihat seorang gadis muda berpakaian rombeng dengan tatapan aneh, menatapku dengan tertawa-tawa lalu menari-nari tanpa tahu malu di tengah-tengah keriuhan hiruk pikuk tawar menawar pedagang dan pembeli.

Tatapan matanya sungguh menembus kedalaman hatiku. Bagiku ada sesuatu yang supranatural di dalam bola matanya, menghipnotisku—sepertinya hendak mengajakku menari bersamanya. Aku tak tahu mengapa tubuhku begitu bergetar, sehingga cabai merah yang hendak kubeli menjadi sangat mahal, karena aku lupa menawarnya. Tatapan mata gadis gila itu telah membuatku lupa akan segalanya, lupa akan kewarasanku, hingga tubuhku ingin sekali menari bersamanya.

Saat itu aku tak sepenuhnya bisa mengendalikan diriku sendiri, seolah-olah aku telah mengenal dirinya sebelumnya. Sisi ketidakwarasannya, ketajaman tatapannya dan gerakan tariannya—semuanya sungguh memikat hatiku. Aku sangat sadar bahwa gadis ini adalah sumber kekaguman dan ilham yang tak terinprestasikan bahkan dalam kehidupanku sebelumnya. Hakikat dirinya yang gila sungguh menggugah rasa ibaku sekaligus cintaku.

”Ah hanya gadis gila,” ujar penjual cabai merah itu kepadaku ketika menyerahkan uang kembalian di tanganku, menyontakkan lamunanku.

”Hmm… Kasihan… apa keluarganya tidak mengurusinya?” tanyaku pada pedagang cabai itu sambil terus menikmati lenggok-lenggok tubuh gadis itu menari bagaikan ular. Tawa gadis itu yang cekikikan laksana kuntilanak sungguh mencengangkan hatiku.

”Entah dari mana dia? Aku juga tidak tahu, tapi akhir-akhir ini tiap pagi ia sering mampir di pasar ini. Terkadang beberapa pedagang yang kasihan memberinya makan. Tapi ada juga yang jahat kepadanya, melemparinya dengan batu.”

Lalu kulihat gadis itu berlari menghilang di rimbunan ramai pasar, sempat sebelumnya ia berpaling menatapku—seolah menyuruhku untuk mengejar dirinya.

***

Padahal dulunya aku sangat malas untuk ke pasar, aku sangat benci jika hidungku harus bertarung dengan bau pasar yang amburadul tidak karuan. Tapi kini tiap kali jika ibuku hendak ke pasar, aku selalu maju mengajukan diriku supaya aku saja yang pergi ke pasar. Semua ini demi menatap mata liar gadis gila itu dan melihatnya menari. Sungguh hebat gadis gila itu telah membuatku melakukan apa yang kubenci—pergi ke pasar.

Tiap hari mata kami selalu bebenturan seperti dua buah mobil yang saling bertabrakan. Tapi benturan tatapan ini adalah sebuah unsur kesengajaan yang aku ciptakan sendiri. Entah, gadis gila itu merasa atau tidak. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Namun dari cara tertawanya saat ia memergokiku yang selalu menatapnya, ia sepertinya tahu kalau aku diam-diam menggilai dirinya yang gila.

***

Saat malam menjelang, kabut yang tipis menggantung di kota Salatiga sesaat setelah hujan reda. Aku hanya dapat melihat jalanan samar-samar. Kulirik arloji di tangan kananku, pukul sepuluh malam lebih lima menit seolah arlojiku mengatakannya kepadaku. Aku berjalan di tengah kesepianku. Keluargaku sedang pergi keluar kota dan aku di tugaskan menjaga rumah. Aku sungguh bosan. Jadi aku pergi berjalan-jalan menyusuri rahasia malam, tanpa tahu arah tujuanku.

Sepanjang perjalananku, aku selalu memikirkan gadis gila itu. Sebentar-sebentar aku tertawa sendiri. Ah, sepertinya aku memang sudah gila. Malam ini ingin sekali aku menemukan gadis gila itu, di tempat biasanya aku temui. Kususuri sepanjang keheningan pasar yang sepi, tapi tak kudengar riuhnya seperti waktu pagi. Tiada satu pun manusia di sana kecuali sampah-sampah sayuran yang berserakan, serta seekor kucing yang mengendus-endus sepertinya hendak mencari sisa-sisa jeroan ikan yang dibuang oleh para pedagang ikan tadi pagi.

Satu jam lebih lamanya aku jongkok menghisap rokokku sambil berharap gadis gila itu akan datang menari untukku, hanya untukku. Tapi dari tadi hanya suara kucing yang mengeong-ngeong. Sungguh kecewa hatiku, padahal aku ingin mengusir kesepianku malam ini. Dengan berat hati akhirnya aku berjalan pelan meninggalkan pasar yang sepi ini.

Kutapaki emperan-emperan toko yang sudah tutup, aku berharap dapat menemukannya di emperan toko. Mungkin saja gadis gila itu tidur berbaur diantara para gelandangan di sini, pikirku. Kulihat satu-persatu gelandangan yang tidur, tapi semuanya tak ada yang cocok dengan gambaran wajah serta postur tubuh gadis gila yang ada di benak pikiranku.

Aku pun lantas segera mengemasi harapanku untuk bertemu gadis gila itu, membungkusnya dengan rasa kecewa. Kususuri sepiku, aku hendak pulang ke rumah. Saat kulewati sebuah bangunan tua yang kosong, telingaku tergelitik oleh suara erangan yang khas, suara yang sepertinya kukenal.

Aku berjalan mengendap memasuki bangunan tua itu, lewat sebuah celah-celah tembok aku dapat melihat beberapa pemabuk jalanan yang mempermainkan tubuh gadis gila itu, menggilirnya, melampiaskan nafsu alkohol warung kaki lima.

Kulihat gadis gila itu menitikkan air mata. Sesaat aku hening, kusembunyikan tubuhku di balik tembok yang bergeming, aku tidak mau terlihat oleh pemabuk-pemabuk jalanan brengsek itu. Dalam hatiku kusumpahi mereka ”Aku ingin mereka mampus,” aku mendengus ketus.

Setelah kulihat para pemabuk jalanan itu meninggalkan gadis gila itu, perlahan dengan langkah berjingkat kuhampiri gadis gila itu. Ia masih sempat menari-nari, lama kutatap tariannya, sepertinya ia tidak sadar akan kehadiranku.

Tiba-tiba ia menghentikan tariannya, menatapku, tersadar aku ada di dekatnya. Mata baranya menjelang padam. Ia menyapaku dengan cinta. Lantas menghampiriku, memelukku menangis menumpahkan air matanya. Sepertinya ia hendak menangisi hidupnya, berkeluh kesah di pelukanku. Sesaat aku dapat merasakan dingin tubuhnya yang setengah beku, serta dapat membelai jalinan rambutnya yang hitam pekat namun kusut.

Dalam temaram malam, kugandeng gadis gila itu menuju kediamanku, entah mengapa ia hanya diam menurut saja seperti seekor kerbau yang dituntun pemiliknya. Kuputar kunci rumahku, membuka pintu rumahku yang sedang kosong. Kuajak gadis gila itu untuk masuk. Ia masuk dengan begitu senangnya, sempat ia tertawa cekikikan seperti kuntilanak, namun aku langsung memberi kode dengan menempelkan jari telunjuk kananku di depan mulutku dan mendesis ”sssttt”. Aku takut ketahuan tetangga sebelahku. Ia pun mengerti, mengangguk-angguk, lalu diam.

Kubuka pintu kamarku, ia langsung masuk mendahuluiku. Segera kunyalakan lampu, menerangi kamarku yang gelap. Kutawari ia mandi, pakaian bersih-rapi, dan sebotol minyak wangi.

Setelah bersih dan wangi, wajahnya seolah-seolah begitu tenang dan damai. Ia mengisap telunjuk tangan kanannya seolah seperti anak kecil. Matanya yang sangat lebar terbuka, seperti sebuah bintang, seakan berkelip menatap wajahku. Senyumnya dengan mulut tertutup menghiasi wajahnya. Jari telunjuknya yang bersih menempel pada bibirku, meraba-rabanya, lantas ditelusurinya seluruh wajahku dengan telunjuknya, mungkin ia ingin merasakan wajahku dengan indera perabanya.

Sesaat mata kami saling memandang. Seolah sorot mata tajam gadis gila itu hendak menghipnotisku, tatapannya seolah berkata kalau ia ingin bersetubuh denganku. Lantas dia menari di atas ranjangku yang berderit, meliukkan tubuhnya sambil melucuti pakaian bersih yang kuberi. Aku dapat menatap tubuhnya, tubuhnya polos telanjang yang begitu menggairahkan hasratku. Diraihnya tanganku, kami menari bersama, kulucuti pakaianku, kutelanjangi segala kewarasanku malam ini. Ia laksana kuda yang liar, menyuruhku menungganginya. Kurasakan darah mendidih di urat-urat nadiku, dan kehangatan menembus kedalaman hatiku.

Malam ini kami tidur bersama dalam bungkus kain selimut yang sama. Aku tenggelam dalam buaian kegilaan mimpi-mimpi malam diantara kewarasan dunia nyata.

Dalam mimpiku aku bertemu dengan gadis gila itu, ia bercerita tentang masa lalunya. Masa lalu dimana kewarasannya dulu berada, masa di mana ia harus menjalani kengerian hidup, menjadi budak nafsu ayah kandungnya sendiri. Dulu, Ayah kandungnya selalu menyuruhnya untuk menari telanjang lantas menggarapnya setelah bara nafsu berkobar. Ayahnya bahkan lebih buas daripada seekor harimau. Suatu hari gadis gila itu melarikan diri dari jerat nafsu ayah kandungnya. Dalam pelarian, kebuasan nafsu gila Ayah kandungnya masih selalu saja membayangi ingatannya, hingga akhirnya ia menjadi gila tanpa disadarinya.

***

Pagi datang. Begitu aku terbangun ia sudah tak ada—hilang, seolah-olah ia adalah semacam awan atau kepulan asap. Ketukan pintu depan rumah yang membahana membuatku bersemangat untuk meninggalkan pembaringanku membuka pintu yang memohon untuk segera dibuka. Aku berharap itu dia.

Saat kubuka pintu ternyata itu adalah ayah, ibu beserta adikku yang telah pulang dari luar kota. Dengan memakai pakaian tidur aku segera berlari menuju ke pasar, tempat setiap pagi aku melihatnya menari. Namun aku tidak menemukan dia. Kutanya pedagang cabai, pedagang bawang, pedagang ayam dan seluruh pedagang pasar ini—semuanya menggeleng tidak tahu.

Tiap pagi aku berjalan mengelilingi pasar, bukan hanya sehari, tapi sudah dua bulan tiga hari. Aku berjalan mengelilingi pasar begitu seringnya, sampai-sampai aku dapat mengenali semua pedagang dan pelanggan pasar yang ada di sana. Namun aku tidak pernah melihat gadis gila itu.

***

Kini aku telah memiliki kekasih, seorang gadis waras dan cantik, namun kekasihku selalu mempersolek dirinya sedemikian rupa demi pujian mata manusia. Tidak seperti gadis gila itu yang menari penuh ekspresi, tanpa peduli omongan di sekelilingnya. Matanya yang tajam serta tawanya begitu yang jujur dan polos membuatku berpikir dia itu lebih waras dari orang waras.

Ah, sesungguhnya yang gila adalah manusia-manusia bejat yang mengaku dirinya paling waras—seperti ayah kandung si gadis gila itu yang tega menodai putrinya sendiri.

Sampai sekarang pun aku selalu saja merindunya. Oh di manakah gadis gila itu sekarang? Ia telah meninggalkan kegilaan dalam hatiku.

Teddy Delano, mahasiswa Fakultas Ekonomi

24 thoughts on “Gadis Gila di Pasar Pagi”

  1. yue says:

    membaca cerita ini, lidahku kelu.. teringat gadis gila yang aku kenal didesaku. namanya wanti. dia gila. ,pertama karena ditinggal ibunya tercinta semenjak kecil, lalu waktu kelas 6 SD. kedua dia juga diperkosa bapaknya sendiri, biarpun dia gila tapi dia bersih dan cantik. suatu hari pernah datang padaku sambil nangis dengan kening berdarah.. kutanya kenapa.. dia bilang habis terjatuh waktu sembunyi dari kejaran lelaki yang ingin menciumnya.
    suatu hari kudengar dia hamil. itu juga karena diperkosa beberpa lelaki dengan bergantian disebuah makam. hingga akhirnya dia melahirkan anak lelaki. setelah melahirkan dia tak hanya sakit jiwanya tapi juga fisiknya. terkhir kali aku melihatnya sebelum meninggal, dia berjalan dengan tertatih karena kakinya pincang. ceritaku ini bukan fiksi…
    teddy, ceritamu membuatku mengingat wanti, dan menitikan airmataku.

    1. saeful says:

      Ceritamu begitu menarik perhatianku Wasan

  2. adi says:

    Its good story……………

  3. bonzoni says:

    Cerita beneran ya?

    kok kasihan bgt:(

    setor fotonya disini donk,kali aja gw bisa bantu cariin:-?

  4. BERNARD-PSI says:

    wow sangar

  5. rennypebrica says:

    ceritanya menyentuh banget….
    bisa dijadiin cerbung nie. ada niat mau di lanjutin ga critanya?atau ada cerita yang laen ga?

  6. Massau says:

    Good, very good!!!!!

  7. Mar_Tha says:

    Hmmmm….. ^__^
    Two thumbs dech b^_^d
    Emang itu kisah nyata ya ??
    Pemaparan yang cukup baik ^.^v

  8. saprol says:

    d kampus jg ada cewe gila pake krudung,,srg nongkrong dpn gdng F..poor her

  9. kiky amelia says:

    haha…. iya prol…

    tapi semoga dia nggak mengalami cerita yang sama dengan gadis gila di pasar pagi itu.. korban kebejatan ayah KANDUNGNYA… dunia ni ya……

  10. daniel says:

    Gaya bahasanya oke, I like it
    ceritanya menyentuh, tapi ini termasuk fiksi atau nonfiksi ya (numpang tanya)

    Thanks

  11. thamrin says:

    wah…bagusss bgt.ceritanya serasa nyata.

  12. i'm delicious says:

    membaca cerita ini,membuat air mataku jatuh tiba-tiba…
    bagus banget ceritanya.
    tp ni fiksi or non fiksi ya?
    tlg d ksh tau..
    thx 🙂

  13. kirei says:

    good one..
    like this!! 🙂

  14. danes says:

    that’s a good story i think…like it;-)
    good job!!

  15. ndutt says:

    cool….
    paling suka part terakhir yg bandingin gadis gila yg tulus dan polos sama pacarnya yg cantik tp gila sanjungan…

  16. ono.aku says:

    kadang kegilaan lebih tulus daripada kewarasan…

    like this story very much :))

  17. Teddy Delano says:

    ini cerita fiksi

  18. luthfi says:

    cerita yang hebat…

  19. iqbal says:

    Jujur aku pun pernah jatuh hati kepada wanita gila
    Di sa’at aku gak laku” cari pacar gak dapat”
    Akhir nya aku mencintai tetanggaku yg anak nya
    Gila karna narkoba
    Akhir nya aku pun menikah dengan nya
    Krna ke tahuan menyetubuhi nya
    Keluarga nya menyuruh ku
    Tanggung jawab atau masuk penjara

    Akhir nya aku pun memilih tanggung jawab

  20. VPS says:

    Keren ceritanya, gaya bahasanya bagus.
    Good job (y)

  21. zulfa ,,, says:

    iyyakku
    bagus,,,,,hmmmm^_^

  22. budir chomel jejanga says:

    wah gue juga pernah ngalamin tpi ini lain
    dulu waktu aku lgi ngamen ketemu nenek nenek gila di berkata mau di antar pulang lalu aku suruh dia naik motor di perjalanan dia malah ngajak aku ngentot untung saat itu aku masih bisa nahan walau burung ku di remas” nya nah itu cerita pengalaman ku nganter pulang orang gila

  23. hari kurniawan says:

    ngabisin tisu nih..

Tinggalkan Balasan ke yue Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *