Membaca Kerumunan

Browse By

Kebijakan kartu poin (point card) di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana bukan hanya seputar keaktifan mahasiswa, tudingan satiris (misal: ”mahasiswa ikut kegiatan kok karena poin!”) atau sepinya lembaga kemahasiswaan. Perdebatan atau pro-kontra tentangnya pernah ada di forum terbuka organisasi legislatif mahasiswa, ruang diskusi atau majalah mahasiswa.

Tulisan ini belum bermaksud masuk ke perdebatan pro-kontra tentangnya. Namun menyentuh ranah media massa. Hasil penelusuran saya, yang boleh diejek, dibantah dan terbuka untuk koreksi, memunculkan dugaan bahwa kartu poin memiliki keterkaitan dengan sebagian teks-teks berita mengenai FE UKSW.

Saya temukan dua berita seputar FE UKSW. Pertama, ”Asuransi, Meminimalisasi Kerugian” (Suara Merdeka, 27 September 2007) yang merupakan berita kuliah umum ”Peran Asuransi Dalam Perekonomian Indonesia”. Kedua, ”Krisis, Selalu Ada Pasar Baru” (Kompas, 19 Maret 2009) berita kuliah umum ”The Blue Print of New Indonesia”.

Kedua berita tersebut dipilih karena memiliki kesamaan yaitu tercantumnya fakta kuantitas peserta. Kutipan berita pertama: ”Seminar yang dibuka Rektor UKSW Prof Dr Kris Herawan Timotius itu, tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Sebab diikuti 1.012 mahasiswa sebagai pesertanya”.

Kutipan berita kedua: ”Sembilan mahasiswa mengacungkan tangan tanda setuju, enam lainnya menjawab tak setuju. Sisanya lebih dari 100 mahasiswa tak menjawab”.

Saya tidak bermaksud mempertanyakan kebenaran angka-angka yang dihurufmiring di atas. Saya cenderung menyetujui angka-angka dalam kedua berita tersebut sebagai ”kebenaran fungsional” meminjam istilah Bill Kovach dan Tom Rosentiel di dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme. Yang menjadi titik perhatian tulisan ini adalah memahami ”hasil kerja” kartu poin dan KKM berupa kerumunan ”1.012 mahasiswa” dan ”lebih dari 100 mahasiswa” yang ”berhasil” tercetak sebagai teks berita tersebut.

Alat pembentuk kerumunan
Kerumunan bukan hanya di stadion sepakbola, tapi ada di mana-mana. Tempat ibadah, pasar tradisional, lokalisasi pelacuran, gelaran kampanye partai politik, konser musik atau acara jalan santai. Contoh terakhir menarik untuk dijadikan pembanding.

Misalnya, pengurus rukun tetangga di suatu perumahan menyelenggarakan acara “jalan santai”. Pesertanya penghuni perumahan. Ramai dan membentuk kerumunan. Anggota kerumunan adalah peserta acara jalan santai. Kerumunan terbentuk disebabkan alat pembentuk kerumunan yang tidak tunggal. Si Kuncung ikut jalan santai karena undian berhadiah (semacam doorprize) telepon genggam “BlackBerry”. Si Fulan, datang ke acara yang sama karena ada “pentas musik” di akhir acara.

”Undian berhadiah” serta ”pentas musik” adalah sedikit contoh dari alat pembentuk kerumunan suatu acara jalan santai. “Objek” dari motivasi merupakan alat pembentuk kerumunan. Manusia adalah makhluk yang bisa dimobilisasi membentuk kerumunan.

Nah, mengapa kerumunan ”lebih dari 100 mahasiswa” dan ”1.012 mahasiswa” dapat terbentuk? jawabannya sederhana. Karena FE UKSW memiliki alat pembentuk kerumunan. Tidak tunggal, tapi menurut saya cukup dominan, karena sifatnya yang wajib ditaati seluruh mahasiswa terkait. Apa itu? Kartu poin atau Kredit Keaktifan Mahasiswa (KKM)!

Bedanya dengan contoh acara jalan santai di atas, alat pembentuk kerumunan di FE UKSW (juga seluruh fakultas di UKSW sejak tahun ajaran 2007/2008) adalah instrumen resmi atas nama “soft kill”. Bahkan surat keputusan rektor menandai kehadiran KKM. Kuasa alat tersebut semakin dahsyat ketika mengetahui “kegunaan”nya sebagai syarat ujian.

Kartu poin atau KKM menyulap mahasiswa menjadi anggota kerumunan yang patuh. Nah, ternyata hasil kerjanya berhasil terkukuhkan dalam teks berita media massa, yang bahkan belum tentu disadari oleh penggagas atau pengesah kebijakan ini, wartawan yang meliputnya atau sivitas akademika UKSW pada umumnya.

Contohnya adalah dua kegiatan FE UKSW yang saya sebutkan di awal tulisan. Fakta yang kemudian dicetak sebagai teks berita “lebih dari 100 mahasiswa” dan “1.012 mahasiswa” terbentuk oleh bantuan alat pembentuk kerumunan. Publik lantas membaca “realitas” tersebut yang dicerminkan berita. Mengapa bisa? Cara kerjanya begini.

Mahasiswa diwajibkan mengumpulkan sekian poin (seperti dalam KKM minimal 1000 buat mahasiswa S1). Kewajiban harus dipenuhi. Pemenuhan kewajiban bisa dicapai kuliah umum atau seminar yang menyediakan poin karena mahasiswa butuh poin. Tercipta kerumunan di dalamnya. Wartawan yang sedang meliput seminar atau kuliah umum tersebut bisa jadi terjebak dalam konstruksi realitas “kerumunan” tersebut.

Siapa tahu kartu poin?
Fakta yang kemudian dicetak menjadi teks berita “lebih dari 100 mahasiswa” dan “1.012 mahasiswa” memiliki kemungkinan untuk menggiring pembaca ke dalam ruang tafsir akan realitas. Karena berita adalah cermin realitas (mirror of reality). Bagi pembaca berita yang merupakan sivitas akademika UKSW, wajar adanya bila telah sadar dan melek bahwa angka-angka tersebut terbentuk karena ada alat yang membentuknya yaitu kartu poin dan KKM.

Namun, bagaimana dengan pembaca berita yang belum atau tidak tahu seluk beluk kebijakan kampus seperti kartu poin atau KKM ini? “lebih dari 100 mahasiswa” dan “1.012 mahasiswa” adalah penanda bahwa ”mahasiswa FE UKSW giat memburu ilmu pengetahuan”, ”kampus UKSW adalah kampus yang dinamis dan aktif”, ”kegiatan kemahasiswaan di FE UKSW sangat hidup” atau lainnya.

Apakah tertanda ini merupakan “realitas”?

Yodie Hardiyan, mahasiswa Fakultas Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *