Surat Rektor Berujung Gugatan

Browse By

Pak Aloy, sapaan akrab Aloysius L. Soesilo, 53 tahun. Berkacamata dan ramah. Ia mengajar mata kuliah Psikologi Konseling, Konseling & Psikoterapi dan Terapi Kelompok. Pada semester pengayaan tahun akademik 2008/2009 dan semester ganjil 2009/2010 nama Aloy sekaligus nama matakuliah, jumlah SKS, jumlah kelas dan jumlah mahasiswa yang jadi tanggung jawabnya tidak tercantum di surat keputusan rektor (SK) tentang tugas mengampu mata kuliah.

“Nama saya didelete semuanya,” kata Aloy. “Rektor mengeluarkan SK yang tidak mengakui mata kuliah-mata kuliah yang saya ajar.” Dosen kelahiran 29 Oktober 1956 di Kediri ini memaksud Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga yang saat itu dijabat Prof Kris Herawan Timotius.

Dekan Fakultas Psikologi (FPsi) Bertha Esti AP lantas menyurat Wakil Rektor (WR) I Prof Daniel Kameo. Memohon untuk diterbitkan SK susulan untuk mengampu mata kuliah bagi Aloy. Padahal semester sebelumnya, genap 2008/2009 ada nama Aloy sebagai dosen tetap di SK sejenis.

Sepulang dari Amerika Serikat untuk kembali mengajar di Satya Wacana, Aloy ditemui sebongkah rintangan. Hingga akhirnya Aloy menggugat Rektor UKSW di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang. Lantaran status kepegawaian. Dosen tetap kok diubah jadi dosen kontrak.

***

Desember 2008. Aloy masih di Amerika Serikat. Di negeri Om Sam ia studi di California Institute of Integral Studies, San Fransisco. Ia memberitahu Kepala Program Studi Magister Sains Psikologi UKSW Dr Sutarto Wijono kalau akan kembali ke kampus. Sutarto beritahu rektor Kris.

“Rektor memberi tahu kepada Pak Tarto supaya saya membuat surat permohonan penempatan kembali di Fakultas Psikologi,” kata Aloy.

Aloy tiba di Salatiga awal Januari 2009. Cepat, surat permintaan Kris dibikin 12 Januari. Diserahkan ke Kris sekaligus Dekan FPsi. Empat hari kemudian, Aloy bersama Sutarto bertemu Kris lagi. Ditanyakan, apakah surat pengusulan penempatan kembali Aloy di FPsi sudah ditulis? “Itu suratnya ada pada mbak Mia,” kata Kris ketika dihadap. Mia sekretaris rektor.

Surat yang katanya “ada pada mbak Mia” tak kunjung lahirkan kabar. Aloy dan Sutarto bersua Kris lagi 18 Januari. Sekalian tanya-tanya surat. Diperoleh jawaban beda: surat ada di WR I. Hari itu Aloy cari. Yang bersangkutan tidak di tempat.

Empat bulan berselang. 26 Mei Aloy menerima sepucuk surat rektor beracuan 158/Rek./5/2009. Ibarat menyiram jerami terbakar dengan bensin. Karena isinya: menerima Aloy sebagai dosen kontrak per 1 Februari 2009. Dosen kontrak?

”Padahal saya bukan pelamar baru,” kata Aloy.

Berdasarkan SK 280/UP/T.Ed./II/1988 yang ditandatangani rektor Willi Toisuta Ph.D, Aloy sudah diangkat menjadi pegawai edukatif tetap sejak 1988. Pun, Maret 2009 rektor menerbitkan SK tentang Tugas Mengampu Mata Kuliah Fakultas Psikologi nomor 015/Pengam.MK/Rek./1/III/2009. Di situ nama Aloy tercantum sebagai dosen tetap pada semester genap 2008/2009.

Surat 158/Rek./5/2009 bertindasan seluruh WR, Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana dan dekan Fakultas Psikologi dikirim ke rumah, bukan ke kantor fakultas. Gedung rektorat dan Fakultas Psikologi berjarak kira-kira dua kali lemparan batu. Lho?

”Menurut saya itu teknis,” kata kuasa hukum Rektor UKSW dari Unit Pelayanan Bantuan Hukum (UPBH) Fakultas Hukum UKSW Tyas Tri Arsoyo SH, ”tapi saya justru bisa memahami ini. Karena kan statusnya dia nggak jelas. Dia bukan dosen tetap di sini. Betul alamat rumah, dia kan ada di luar UKSW.”

Kris mengaku tidak pernah mengirim atau memerintah pengiriman surat itu ke rumah Aloy. ”Menurut saya kok ndak perlu dipermasalahkan,” ujar Kris.

Api terlanjur besar. Masalah ini lantas Aloy bawa ke PTUN Agustus 2009. Aloy menggugat Rektor UKSW dengan obyek gugatan surat rektor 158/Rek.5/2009. Jarang warga kampus tahu kasus ini, katakanlah, ketimbang isu makro ”Cicak versus Buaya”. Aloy memang tidak woro-woro karena ingin menjaga nama baik UKSW. Seiring waktu melangkah, ia didorong dan dapat dukungan rekan-rekannya untuk bersedia beberkan pelik ini ke media.

Tyas mengatasnamakan tim kuasa hukum rektor (yaitu Kustadi, M. Haryanto, Arie Siswanto semua dari UPBH) mengatakan obyek gugatan Aloy tidak memenuhi syarat obyek gugatan. ”Surat 158 itu merupakan surat biasa. Baik secara format, bentuk formatnya, maupun secara substansi,” ucapnya.

Format surat rektor tersebut memang berbeda dengan format SK. Substansinya, tambah Tyas, sebenarnya merupakan tanggapan dari surat Aloy 12 Januari. ”Surat seperti ini tidak bisa memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam pasal 53 ayat 1 Undang-undang nomor 09 tahun 2004 juncto. pasal 1 angka 3 Undang-Undang nomor 5 tahun 1986.”

Itu terserah anggapan kuasa hukum, kata Aloy.

Menurut Tyas, surat (yang berbunyi ”… memutuskan menerima Saudara sebagai Dosen Kontrak…”) meminta agar Aloy menanggapi: setuju atau tidak jadi dosen kontrak. Kalau setuju, akan diteruskan ke Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana. ”Karena yang punya kewenangan untuk mengangkat pegawai itu YPTKSW,” kata Tyas. ”Sehingga rektor ndak punya kewenangan. Itu dasarnya kenapa kemudian itu surat biasa.”

Dalam sidang PTUN, kata Aloy, ia mempertanyakan apakah yayasan bisa membuat keputusan tanpa surat rektor? Tidak bisa, timpal Aloy, surat rektor itu satu mata rantai dari keputusan yang akhirnya dibuat.

”Surat biasa pun bisa menjadi problem hukum,” kata Aloy.

Aloy melalui kuasa hukum Yafet Y.W. Rissy sudah menanggapi surat tersebut. Tapi bukan setuju tidak dosen kontrak. Isi surat tanggapan bernomor 03/TGP/A/VI/2009 mempertanyakan atas dasar apa keputusan (pengangkatan dosen kontrak) ini dibuat? Mengacu ketentuan atau peraturan apa? Atas dasar ketentuan apa diterima per 1 Februari 2009 sedangkan Aloy mengajar mulai 19 Januari 2009? Rektorat tidak menanggapi balik.

Lalu, kenapa surat rektor tersebut baru dikirim 26 Mei? ”Kalau saya tidak melihat itu persoalan, karena apapun surat tanggapan, ini kapanpun bisa diterbitkan. Tetapi sebenarnya lebih cepat lebih baik,” kata Tyas.

Tyas mengakui bahwa tanggapan buat surat permohonan penempatan kembali 12 Januari yang dibikin Aloy baru ”dibalas” 26 Mei memang waktu cukup lama. Kalau bisa ditetapkan dalam rentang waktu Januari menurut Tyas lebih baik. ”Tetapi mungkin juga bagi pihak Satya Wacana belum cukup waktu (Januari) itu. Karena perlu mengadakan rapat-rapat.”

Keterangan Kris setali tiga uang. Ujarnya, selang waktu yang lama tersebut karena sulitnya membuat keputusan. ”Tidak mudah bagi lembaga untuk memutuskan. Karena mau diterima dasar hukumnya tidak kuat, ditolak juga dasar hukumnya tidak kuat,” kata Kris. Apalagi, kata Kris, kasus macam ini baru pertama kali terjadi di Satya Wacana. Seorang dosen tetap yang bertahun-tahun di luar negeri tiba-tiba kembali ke kampus.

Bagi Aloy, lamanya keluar surat ini merupakan masalah. Ia mengajar namun tidak digaji.

Rentang 12 Januari-26 Mei, berlangsung diskusi alot. Rektorat menawarkan Aloy dosen kontrak. Kata Kris, dua hal perlu diperhatikan. ”Yang pertama, bagaimana kami bisa mendapatkan bukti-bukti itu. Yang bisa dipakai sebagai landasan,” terang Kris, bukti tertulis maupun tidak tertulis (mengenai studi Aloy di luar negeri). ”Yang kedua memang kami mencoba negoisasi, kalau bisa kontrak dulu.”

***

Harian Suara Merdeka memberitakan kasus ini 2 Desember 2009. Judulnya ”Dosen Psikologi Gugat Mantan Rektor UKSW”. Menurut Tyas ada kekeliruan dari pemberitaan tersebut, meski debateable.

”Karena masih ada dua versi. Versinya Pak Aloy, dia menganggap dosen psikologi, tapi versi kami itu dia mantan dosen. Lalu yang kedua, mantan rektor. Karena sebenarnya yang digugat itu jabatan dan pejabat, sehingga tidak ada kata mantan. (Tapi) Rektor UKSW. Mengenai apakah kemudian Pak Kris Timotius diganti Pak John Titaley itu individunya, personnya. Tapi yang tetap digugat Rektor UKSW.”

Aloy mantan dosen?

”Yang harus menjadi catatan, pada tahun 1995 itu masa studi habis. Selebihnya, tidak ada tugas belajar apapun. Di sini terjadi distorsi komunikasi, menurut saya,” tambah Tyas yang mengganggap Aloy, berdasarkan ketentuan studi lanjut, mengundurkan diri dari UKSW.

Silam, tahun 1991. Aloy studi lanjut untuk meraih gelar Doctor of Philosophy di Fuller Theological Seminary dengan beasiswa dari UKSW. Aloy mengaku, masa studi di Fuller adalah enam tahun. Bukan tiga tahun seperti yang tertulis dalam SK No.098/Kep./Rek/1991. ”Bisa diperpanjang,” kata Willi rektor saat itu, ditirukan Aloy.

Setahun sebelum masa studi habis, Aloy bersurat kepada rektor baru John Ihalauw dan Pembantu Rektor I Suwandi untuk mengingatkan masa studi. “Saya mengirim dokumen resmi dari Fuller, dari Amerika, bahwa kurikulumnya itu enam tahun,” kata Aloy, mengenang 1994.

Tahun 1995 badai besar melanda Satya Wacana. Gara-gara pemilihan rektor yang dinilai tidak demokratis. Dosen kenamaan Arief Budiman dipecat. Kampus geger. Dampaknya, keuangan kampus jelek. Beasiswa Aloy diputus. Gaji distop.

Dalam buku Kemelut UKSW karangan Budi Kurniawan yang belum sempat terbit cetak, karena konflik ini tercatat ada pihak luar negeri yang prihatin dengan keadaan UKSW dan pemberi bantuan menghentikan bantuannya (lihat Bab 18, hal.15).

Menilik hal itu, berdasarkan keterangan Aloy, terjadi tawar menawar dengan rektorat: bagaimana kelanjutan pembiayaan studi? Ternyata, rektorat tak mampu membiayai. Keputusan final, Aloy membiayai sendiri studi sambil bekerja.

Tahun 1996 Aloy merencanakan pindah tempat studi. Kata Tyas, Aloy bersurat ke Pembantu Rektor I saat itu Suwandi dan dibalas. ”Yang pada prinsipnya isi surat itu memberikan kesempatan pilihan kepada Pak Aloysius. Mau tetap di Fuller atau di San Fransisco. Tapi tetap mempertimbangkan kepentingan fakultas dan universitas. Kemudian juga memberi kewajiban bagi Pak Aloysius untuk memberi tahu ke pihak rektorat pindah atau tidak.”

Lanjut Tyas, setelah itu tidak ada laporan secara tertulis dari Aloy ke rektorat, tapi malah ke fakultas. Aloy dianggap mengundurkan diri. Aloy sendiri mengaku melapor secara lisan ke pimpinan universitas maupun pimpinan unit (fakultas). ”Jadi substansi melapor selalu dipenuhi,” tulis Aloy, di suatu keterangan. Akunya, ia tetap melapor meski studi dengan dana pribadi dan UKSW sedang tidak menggajinya.

Aloy pindah studi ke San Fransisco tahun 1998 karena kesulitan dana. Dan baru tahun 2009 mengajar di Satya Wacana lagi.

Kok lama banget?

Kata Aloy, ia sebenarnya mematok waktu rampung tahun 2004. Namun, tahun 2002 ia ganti topik disertasi. Sebabnya terbentur persoalan pengumpulan data di daerah yang pernah “panas” seperti Ambon, Sambas, Probolinggo, Poso. ”Saya sempat frustasi,” ujarnya. Disertasi hendak diselesaikan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Selama studi lanjut dan berada di luar negeri hubungannya dengan UKSW tidak terputus. Nama Aloy tercantum sebagai tenaga pengajar saat pendirian FPsi UKSW tahun 1999. ”Dia memenuhi syarat sebagai tenaga tetap,” kata Sutarto ketika ditanya mengapa mencantumkan. Sutarto satuan tugas pendirian FPsi tahun 1999 dan tidak pernah tahu apa ada surat pemutusan hubungan kerja atau pencabutan SK buat Aloy. Yang memang belum pernah ada!

Situs web asuhan rektorat (www.uksw.edu) 7 Mei 2007 sempat memberitakan Aloy saat menjadi pembicara seminar nasional garapan Program Pascasarjana Magister Sains Psikologi bertajuk ”Posttraumatic Stress Discorder” di Ruang Probowinoto UKSW 4 Mei 2007.

Pada 12 Juni 2009, keluar surat rektor dengan acuan 188/Rek./6/2009 yang berisi persetujuan membayar Aloy bukan sebagai dosen tetap, bukan pula dosen kontrak. Tapi dosen tamu! Aloy yang sudah mengajar sejak Januari, baru ”ditawari” gaji pada Juni.

”Saya tidak mau mengambil. Oleh karena kalau saya mengambil itu nanti mereka pakai sebagai alasan persetujuan saya atas status dosen tamu,” tandasnya.

Sebelum ke PTUN, Aloy bawa masalah ini ke Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kota Salatiga. ”Karena ini persoalan perburuhan,” kata Aloy. Setelah berproses, terbitlah tiga poin anjuran Disnakertrans 9 September 2009 yang ditujukan buat Ketua YPTKSW dan Aloy.

Poin pertama dan kedua anjuran buat pimpinan UKSW: menerima kembali Aloy sebagai tenaga tetap di UKSW dengan jabatan dosen tetap dan segera membayar hak-hak Aloy yang belum dibayarkan. Poin ketiga, kedua belah pihak memberikan jawaban atas anjuran ini selambat-lambatnya 10 hari setelah menerima anjuran.
”Menerima,” jawabnya, tersenyum.

”Prinsipnya menawarkan ke Aloy sebagai dosen kontrak karena tidak memenuhi syarat lagi,” pesan singkat Tyas, mengenai jawaban pihak pengusaha (YPTKSW).

Bagi Aloy, gaji bukan persoalan utama. Tapi kejelasan status yang tidak rektor selesaikan. Kenapa status dosen tetap disulap jadi dosen kontrak?

***

Kamis, 11 Desember 2009. Semarang memang kota panas. Suasana PTUN Semarang Jalan Abdul Rahman Saleh dipenuhi suara bervolume besar dari ruang sidang. Sedikit orang duduk di kursi kayu panjang di luar ruang. Aloy keluar ruang sidang. Senyum sejuk mengembang. Aloy menang.

“Keseluruhan gugatan diterima,” kata Aloy sumringah. ”Eksepsi ditolak.”

Ujarnya, tergugat (Rektor UKSW) harus merehabilitasi status Aloy kembali ke dosen tetap. Surat rektor 158 harus dicabut. Gaji bulan Januari-Desember 2009 harus dibayarkan.

”Kami belum bisa menentukan menerima atau tidak, kami pikir-pikir,” kata Tyas yang sedang duduk di kursi panjang luar ruang sidang. ”Kami masih punya tenggang waktu empat belas hari untuk itu, mau menyatakan banding atau tidak.”

Tim kuasa hukum Rektor UKSW akan berdiskusi dulu dengan rektor yang sekarang dijabat Prof John Titaley.

Ya, Rektor UKSW memang ganti November 2009. Yang digugat memang jabatan, bukan orangnya. Tapi rektor dijabat orang. Dan perkara ini lahir dari surat bikinan Kris. ”Ndak usah lah diperpanjang. Kalau bisa diselesaikan secara baik-baik, kita selesaikan baik-baik,” kata Kris menanggapi hasil sidang PTUN.

Apa pun itu, Aloy kini mungkin tenang. Ia bisa mengabdi secara nyaman kepada Satya Wacana setelah rintangan ini terlewati. Bahkan ketika lampu-lampu lantai dua gedung Psikologi sudah mati, lampu ruangannya masih hidup untuk melayani konseling….

”Saya belajar apa sesungguhnya manusia rohani dan manusia intelektual,” pesan Aloy, buat Kris.

9 thoughts on “Surat Rektor Berujung Gugatan”

  1. setyo Herisusanto says:

    Salam kasih,

    Saya salut untuk pak Aloy dan juga Kuasa Hukum Rektor UKSW. Mungkin lebih dicermati, bahwa kepersonaliaan di UKSW perlu pilar yang kuat, dan itu bukan hal yang main-main, perlu berkaca diri apakah lebih dari 50 th sudah tertata dengan benar dan terstruktur. Jadi jangan gegabah untuk mengubah status kepegawaiaan seseorang yang sudah punya landasan hukum.
    Bukan kalah menang nya, tapi konsistensi dalam menanggapi permasalahan dan sistem kepegawaian di Indonesia (secara umum) yang masih kacau.

    Sukses untuk semua, dan siap membangun UKSW yang lebih baik dan lebih “Takut akan Tuhan….adalah pangkal segala ilmu pengetahuan”

    Salam,

    Setyo Herisusanto
    Alumni FH “86

  2. Wawan says:

    saya rasa kasus ini menunjukkan bagaimana UKSW hanya mengalami kemajuan di besarnya biaya kuliah yang harus dibayar. Urusan sama staff sendiri saja ga beres bagaimana bisa mengurus mahasiswa yang jumlahnya puluhan ribu?

    semoga saja bukan masalah kepegawaian saja yang dibenahi namun juga pelayanan mahasiswa. kita bayar tiap semesternya hingga jutaan rupiah, tp kalo hak-hak mahasiswa tidak diberikan ya sama saja bohong.

    kepada pimpinan, khususnya wakil rektor I yang mengurusi kepegawaian, hendaknya lebih selektif dalam pemilihan tenaga, baik tenaga pengahar maupun tenaga administrasi agar tercipta suasana yang nyaman dan aman bagi mahasiswa untuk menimba ilmu di UKSW.

  3. saam fredy says:

    mas setyo,
    monggo ikut bergabung dalam milis alumni fh uksw di justitia_uksw, yahoo groups.

    salam,
    saamfredy

  4. Merly Aclin says:

    Thx Yodie untuk pemaparannya yang cukup jelas dari kedua sudut pandang.
    sehingga tidak menimbulkan kekaburan dan kesalahpahaman selama ini tentang masalah ini..

    Congrats to Pak Aloy, dan mari terus membenah diri berbenah diri bersama.
    Viva Psychology
    Viva UKSW

  5. Naniek says:

    Selamat dan sukses ya Pak Aloy. Saya pribadi memberi apresiasi yang tinggi terhadap bapak, atas perjuangan bapak dalam menangani kasus yang dialami bapak. Betapa besarnya kasus itu, kalau langkah kita jujur dan tulus, maka akan selalu dimenangkan oleh Allah. Allah sendiri yang bekerja untukpak Aloy beserta kerabat.

    Syalom

  6. Godfrey says:

    Wow…. sy prihatin pd polemik yg terjadi di atas….
    Ketika surat yg dianggap “biasa” berujung ke arah yg “tidak biasa”….
    Kalau hal ini t’jadi pd tingkat atas, mau tdk mau hal ini jg berdampak bagi kami mahasiswa….

    sy setuju dgn poin pak setyo bhw klo tdk dibenahi sistem kepegawaianx, bgmn dgn nasib mahasiswax…. ketika kami msk kls, ada sj dosen yg mengajar seolah tanpa visi ke dpn mengenai posisi “dosen”-nya.
    Memang ada sisi + dimana kami pun hrs bljr mandiri…

    Harapan sy smoga UKSW bkn hanya terus meningkatkan kuantitas inputx, tp jg meningkatkan kualitas outputx, dan dgn demikian akan terbentukx masa dpn Indonesia yg cerah serta benar2 takut akan Tuhan..

    God Bless UKSW… ^_^

  7. Yulius says:

    Apa sesungguhnya manusia rohani dan manusia intelektual itu?

  8. STR says:

    Semua manusia itu rohani. Semua manusia itu intelektual.

  9. Haris says:

    muantabs

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *