Perusakan Bangunan Cagar Budaya

Browse By

Kondisi bangunan eks Markas Kodim 0714 di Jalan Diponegoro, Salatiga, pada 15 Januari 2010. Rencananya di lokasi ini akan dibangun pusat perbelanjaan. Menurut Eddy Supangkat, penulis buku Salatiga: Sketsa Kota Lama, bangunan ini adalah sebuah hotel bernama Blommestein pada tahun 1910.

9 thoughts on “Perusakan Bangunan Cagar Budaya”

  1. yoga says:

    weluweh bangunan bersejarah kok di rusak cuma mau di buat tempat pusat perbelanjaan, kenapa pasar raya yang besar dan bertingkat itu aja yang dimanfaatkan sebagai pusat perbelanjaan.

  2. dominggus says:

    kalo memang bangunan eks Markas Kodim trsb dihancurkan dalam rangka pembangunan pusat perbelanjaan, sy kira sah-sah saja….
    mungkin kita bisa ikut dagang……
    bangunan sejarah atau cagar budaya memang penting, tapi bukan berarti di KULTUS kan. kita bisa lihat sejarah lebih dalam dari pada hanya sebuah bangunan….
    yang harus kita berhatikan ialah para Pelaku sejarah, pejuang-pejuang yang tinggal dalam gubuk, mereka yg berjasa kepada bangsa ini,…..Bukan TEMBOK TEMBOK tak BERGUNA…….

  3. iwan says:

    saya rasa perusakan bangunan bersejarah bukan lagi hal yang buruk, yang penting bagi walikotanya khan ada duit masuk ke kantong.
    bagi orang yang menghargai sejarah bangunan semacam ini merupakan bukti perjalanan kota Salatiga.
    lagipula seharusnya yang dipikirkan adalah UKM atau UMKM di mana malah akan meningkatkan perekonomian masyarakat kota Salatiga.
    tp saya rasa percuma saja..toh bangunan itu sudah dibongkar. bangsa kita khan tidak menghargai sejarah..wong budaya sendiri aja ga diurusin apalagi bukti perjalanan bangsa ini selama ratusan bahkan ribuan tahun.pokoknya bagaimana bangunan tua yang masih ada jangan sampai mengalami nasib yang sama.

  4. Opha says:

    Jangankan gedung bersejarah dirusak, muka mereka sendiri aja kadang mereka rusak sendiri kok……

  5. dominggus says:

    hhhhhhhhaaaaaaaahhhhh……
    NEGATIF Thinking TRUUUUUUUUUSSSSSSSSSSS…
    DIRUSAK n DIPUGAR beda BOSSS….
    Dirusak tu FANDALISME…….
    dah diancurin trus dibiarkan selama 1000 tahun ga diapa-apain, itu betul merusakkkk….
    kalo diancurkan karena ada PRORAM, itu beda……
    KRITIS dengan NEGATIF THinkiNG BEDA…..
    .

  6. STR says:

    @ dominggus: Betul. Dirusak dan dipugar itu beda. Apakah dipugar itu = diancurkan karena ada PROGRAM?

  7. jalf says:

    Saya setuju dengan Iwan jika pemerintah lebih memikirkan nasib UKM dan UMKM. Tapi, apakah itu cukup mendongkrak perekonomian kota Salatiga. Dengan bunga kredit yang rendah UMKM dapat memperluas usahanya. tapi butuh waktu berapa lama? Hingga bulan November 2009 ada 30.000 penganggur dari jumlah angkatan kerja sebanyak 179.000 orang. (http://www.krjogja.com/news/detail/7701/Pengangguran.Salatiga.30.Ribu.Orang.html). Jika terealisasi semoga proyek ini dapat menyerap TK dalam jumlah banyak, sekaligus. Jika anda memandang perekonomian kota Salatiga adalah prioritas utama, saya pikir kita sepakat dalam hal ini.

    Tapi kenapa harus gedung bersejarah ini. Menurut saya seharusnya gedung itu tetap dipertahankan. Biarkanlah satu gedung berdiri di dalam pusat perbelanjaan itu. Jadi proyek tetap berjalan tanpa merusak satu gedung. Di sisi lain org yang datang bisa melihat dan tau bahwa di salatiga ada gedung semacam itu. Saya baru tau kalo gedung itu begitu berharga setelah mendengar isu pembongkaran.

  8. tata says:

    keteranganny singkat banget!
    bikin ambigu & jadi salah kaprah

  9. Cah_elek says:

    G ap2 dipugar khan saya nanti bisa belanja kesitu kalo udah jadi…….
    wkwkwkwkwkwk,,,,,,, weleh2……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *