Apresiasi Seni dan Konservasi Alam Lewat Merti Desa

Browse By

Suara gamelan memecah keheningan Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dusun yang terletak di lereng Gunung Merbabu ini tengah mengadakan upacara selamatan merti desa (bersih desa atau sedekah bumi) dan ritual Kirab Sesaji Sendhang. Acara tersebut merupakan peringatan hari besar 15 Sapar (kalender Jawa) yang bertepatan pada hari Senin dan Selasa, 1-2 Februari 2010.

Pada Senin, 1 Februari 2010, prosesi diawali pukul 10.00 dengan kenduri sesaji gunungan sego golong yang diikuti oleh seluruh penduduk setempat.

Siang hari berikutnya, dengan berpakaian adat Jawa lengkap, para tokoh, tetua dan masyarakat dusun mengiring kirab berkeliling desa dengan iringan gamelan.

Acara dilanjutkan dengan upacara ritual di Tuk (mata air atau Sendhang) Salam dan Tuk Tulangan dan penanaman pohon keramat di Tuk tersebut. Pohon yang dikeramatkan tersebut ialah pohon trembesi.

Mahasiswa ikut berperan
Beragam kesenian dipentaskan usai upacara selamatan bersih desa dan ritual Kirab Sesaji Sendhang. Paguyuban Seni Sawung Gunung yang terbentuk tahun 2007, turut memeriahkan acara ini. Empat jenis kesenian yang mereka ciptakan bersama mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menjadikan Dusun Grintingan memiliki kesenian khas tersendiri. Empat kesenian tersebut itu ialah Tanen, Buto Grasak, Jaran Gunung (Janung) dan Pring Gunung Kawedhar.

Pring Gunung Kawedhar adalah seni tari yang tergolong baru. Tarian ini dibuat Paguyuban Seni Sawung Gunung pada 31 Januari 2010 dan dipentaskan perdana pada acara ini.

Tarian Pring Gunung Kawedhar berkostum terbuat dari pring (bambu). {Foto oleh Subiharto}.

Tarian Pring Gunung Kawedhar berkostum terbuat dari pring (bambu).
{Foto oleh Subiharto}.

Mahasiswa ISI Surakarta, Purnawan Andra menjelaskan, tari ini merupakan cermin dari pengawasan, kewaspadaan, penjagaan dan pemeliharaan terhadap alam.

”Pring Gunung Kawedhar diilhami dari kearifan lokal pring (bambu) sebagai tumbuhan dan merevitalisasi kentongan sebagai alat komunikasi komunitas sekaligus nilai-nilai komunalisme. Bambu telah menjadi khas bagi dusun ini dan pernah juga digunakan untuk membantu pascagempa di Bantul (DI Yogyakarta),” ujar Purnawan, mahasiswa yang ikut berperan atas terbentuknya wadah kesenian dan terciptanya karya seni di dusun ini.

Acara ini juga dimeriahkan oleh mahasiswa dari ISI Surakarta, ISI Yogyakarta serta beberapa komunitas kesenian. Menurut Andra, pertunjukan ini adalah atas inisiatif warga. ”Kami hanya menginformasikan—pada rekan-rekan mahasiswa dan komunitas kesenian—bahwa ada pentas di sini (Dusun Grintingan),” imbuhnya.

Apresiasi seni
Kiprah Ratu Sewu merupakan tarian bercorak Jawa dibawakan oleh Sekti Wibowo, Oleg (Bali) oleh Rani Iswinindar, Srenggot (Banyumas) oleh Widya Ayu dan Ardana, Marungan (Banyumas) oleh Widiyanti. Seluruhnya adalah mahasiswa ISI Surakarta.

Rampak Kendang Pakanjarak ialah salah satu seni menabuh kendang yang dimainkan oleh Totok (Salatiga) dan Josh (Makassar), mahasiswa ISI Yogyakarta berkolaborasi dengan Seruling Bali yang dimainkan oleh Galuh, salah satu pengurus Sanggar Djamboe Kampoeng Pancuran, Kota Salatiga, Jateng.

Kerumunan penonton menyaksikan pentas kolaborasi Rampak Kendang Pakanjarak dengan seruling Bali. {Foto oleh Subiharto}.

Kerumunan penonton menyaksikan pentas kolaborasi Rampak Kendang Pakanjarak dengan seruling Bali. {Foto oleh Subiharto}.

Sebuah karya wayang kontemporer dengan nama Wayang Bhineka yang dibawakan oleh dalang Syeh Jumjum (Jumari) dari Kabupaten Sragen, Jateng menjadi puncak acara. Lakon Hantu Hutan dibawakan dengan bahasa campuran antara Bahasa Jawa dengan bahasa nasional, mencairkan suasana. Lakon tersebut mengkritik para pencuri kayu di hutan. Pesan dalam pentas wayang ini adalah menyampaikan pentingnya memelihara hutan, sehingga tidak menimbulkan bencana.

Peduli terhadap alam
Dalam kegiatan ini, juga dilaksakan penanaman pohon sebagai wujud konservasi alam. Subagiyo Hari Utomo, salah satu tokoh masyarakat mengatakan, ”Setiap orang diwajibkan membawa minimal lima pohon. Penanaman tersebut dilakukan di Tuk Salam dan Tuk Tulangan, Merbabu. Ini juga merupakan rangkaian acara Merti Desa, tetapi waktunya berselang agak lama.”

”Prosesi upacara selamatan Merti Desa, ritual Kirab Sesaji Sendhang dan ekspresi seni yang ditampilkan menyimpan nilai-nilai kearifan lokal dan sebagai wujud kepedulian masyarakat terhadap usaha konservasi alam,” ujar Subagiyo, yang juga pimpinan Paguyuban Seni Sawung Gunung.

6 thoughts on “Apresiasi Seni dan Konservasi Alam Lewat Merti Desa”

  1. Restu says:

    keren,, mengingat alam kita yang makin rusak dan makin sedikit orang yang peduli untuk merawat dan memelihara kelestariannya.

  2. Aribicara says:

    Kalau tradisi2 terdahulu justru memang semacam mewajibkan warga dan sekitarnya utk peduli dengan alam dan l;ingkungan sekitarnya, dan bentuknya bermacam2 seperti ritual2 tersebut diatas…

    tapi kl dikampungku udah ga ada Bro 🙂

    Makanya ak coba bikin gerakan penanaman pohon Produktif gityu di kampungku 🙂

  3. Luth says:

    bagus bget,,,,
    keren…keren….
    ^^

  4. Subiharto says:

    @ Restu & Luth : Terimakasih, semoga mahasiswa UKSW bisa mengaplikasikan ilmu yang didapatnya (minimal) seperti mereka.

    @ Bung Ari : Sekses, Bung. Semoga apa yang bung Ari lakukan bisa menjadi pancingan atas kepedulian terhadap alam. 🙂

  5. rani says:

    pak…nama lengkapq Rani Iswinedar pak….hehehe

  6. rachma says:

    terimah kasih kepada semua warga yang telah melaksanakan seni tari iniiiii…………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *