Agama dan Persoalan Ekologis

Browse By

Akhir-akhir ini kita merasakan cuaca panas yang tidak hanya melanda kota-kota besar dan daerah pesisir pantai, tetapi juga di kota-kota kecil dan daerah pegunungan. Persoalan ekologis, khususnya pemanasan global semakin nyata, tidak sekadar pada tataran wacana. Isu moral dan religiusitas menjadi bagian dari persoalan ini ketika fakta bahwa sebagian besar persoalan ekologis adalah disebabkan oleh manusia. Agama terlibat dalam hal ini, dan dialog antarumat beragama mungkin untuk dilakukan dengan dasar bersama (common ground), yakni persoalan ekologis itu sendiri.

Berbicara mengenai agama dalam relasinya dengan persoalan ekologis mempromosikan sebuah perspektif etis untuk persoalan tersebut. Perspektif ini dapat efektif dalam mempengaruhi masyarakat, khususnya orang beragama, untuk berjuang memecahkan persoalan ekologi yang dirasakan saat ini. Prinsipnya, para praktisi agama atau umat beragama sudah seharusnya meningkatkan dan membagikan kesadaran bahwa persoalan ekologi secara nyata sedang mengancam setiap orang di planet ini. Persoalan-persoalan itu perlu untuk dilibatkan dalam wacana keseharian mereka.

Kenyataan bahwa kita hidup di planet yang sama dan menciptakan pengetahuan dan kreasi lainnya adalah dasar dari perspektif etis yang dapat meyakinkan agama-agama untuk menentukan persoalan atau dasar bersamanya. Persoalan bersama ini mengingatkan kita bahwa Bumi memiliki banyak agama, sekaligus Bumi adalah pijakan dari agama-agama tersebut. Kita hidup di rumah yang sama bernama Bumi. Seharusnya agama-agama tidak hanya menciptakan cerita-cerita tentang penciptaan Bumi, tetapi juga cerita-cerita etis berdasarkan fenomena Bumi ini.

Sementara itu, Gary Gardner mengatakan bahwa persoalan-persoalan ekologis juga merupakan persoalan moral. Ia menambahkan bahwa Bumi ini merupakan dasar yang sakral, karena umat beragama banyak menggunakan sumber-sumber Bumi untuk mendukung kehidupan ritus dan religiusitasnya. Contohnya, Katolik dan Kristen yang menggunakan air dalam baptisan, serta menggunakan sumber Bumi lainnya untuk diminum dan dimakan dalam perjamuan kudus; Islam yang mengorbankan hewan dalam hari raya besarnya; sebagian agama lokal yang menggunakan pohon dan batu untuk ritual-ritualnya, dan sebagainya.

Kenyataan, bahwa banyak spesies yang terbunuh dan kerusakan atmosfer oleh karena perbuatan manusia, memunculkan tanya, “Siapakah kita? Apakah kita punya hak untuk membunuh spesies dan merusak atmosfer tersebut?” Inilah letak sisi moral dari persoalan ini.

Otoritas agama
Agama dalam hal ini mempunyai otoritas untuk merespon persoalan moral ini, karena agama mampu untuk menyajikan pemaknaan-pemaknaan yang mengakar pada diri manusia melalui ajaran atau doktrin-doktrinnya. Sebelum menggunakan otoritas tersebut, agama atau umat beragama harus disadarkan terlebih dahulu untuk dapat berimajinasi tentang masa depan yang lebih baik dari Bumi ini.

Isu moral dari persoalan ini sekaligus menjadi koreksi terhadap religiusitas umat beragama selama ini dalam kaitannya dengan ekologi. Fakta bahwa persoalan ekologis sebagian besarnya disebabkan oleh manusia dapat dikaitkan pula dengan populasi umat beragama di Bumi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh David Barret dan Todd Johnson, populasi umat beragama mencapai lebih dari 80 persen populasi manusia di Bumi ini. Pengaruh dari perilaku mereka terhadap Bumi ini tentunya sangat signifikan, sekaligus mencerminkan religiusitasnya.

Isu moral dan religius ini tidak berhenti pada sisi negatif dari perilaku manusia (khususnya umat beragama) terhadap ekologi, melainkan pula sebagai sisi positif dari otoritas agama untuk mereproduksi moral dan religiusitas yang ramah ekologi. Jumlah populasi yang lebih dari 80 persen penduduk Bumi menunjukkan pula akan terjadinya pemecahan signifikan dari persoalan ekologis saat ini. Hal ini dapat terjadi apabila umat beragama telah memiliki kesadaran untuk beraksi bersama dalam menghadapi persoalan tersebut.

Dasar bersama dan dialog
Kesadaran akan persoalan ini tidak hanya dilihat sebagai bentuk penyelamatan terhadap Bumi ini, melainkan juga bentuk penyelamatan eksistensi agama dan umat beragama itu sendiri. Kenyataan bahwa ada banyak agama dan umat beragama hidup di Bumi adalah tidak dapat dihindari. Menyelamatkan Bumi adalah penyelamatan eksistensi agama dan seluruh penghuninya, hal ini sekaligus memperkuat dasar bersama.

Gambaran persoalan bersama sebagai dasar dan kesadaran bersama di atas menunjukkan bahwa kita perlu bertindak secara individual maupun komunal. Hal ini tidak memaksa kita untuk harus mengatasinya secara homogen oleh karena masing-masing wilayah di Bumi ini memiliki karakteristik alam yang berbeda. Selain itu, perbedaan nilai dan atau pengetahuan dari setiap komunitas menunjukkan pula akan adanya usaha variatif terhadap persoalan ini.

Masing-masing kita mempunyai sumberdaya yang khas dalam mengatasi persoalan bersama sejauh untuk masa depan yang lebih baik dari Bumi bersama ini. Sebagai contoh, Kristen Evangelis di Amerika telah membentuk Evangelical Environmental Network untuk memromosikan konservasi lingkungan. Mereka berjuang untuk kehidupan yang lebih baik di Bumi ini, karena mereka percaya bahwa mereka mempunyai tanggungjawab untuk melindungi ciptaan Tuhan. Konfusianisme dan Taoisme percaya bahwa terdapat hubungan ilahi antara manusia dan alam ini, sehingga penganutnya memanifestasikan kepercayaan tersebut dalam pekerjaan mereka di lapangan pertanian, serta kebiasaan-kebiasaan tertentu pada setiap musim yang mereka miliki.

Melalui usaha dari masing-masing komunitas, kita tidak lantas menilai siapa yang lebih baik di antara yang lainnya. Kita tidak dapat dinilai atau diukur dengan sebuah standar yang sama (incommensurable), karena kita memiliki kekhasan masing-masing. Tentunya kekhasan yang dimaksud tidak menjadi sarana ekskluvitas dari masing-masing komunitas. Bumi atau persoalan ekologis sebagai dasar bersama kita mensyaratkan kerjasama antarkomunitas meski dengan kekhasannya masing-masing. Usaha untuk lebih meningkatkan kapasitas komunitas dengan cara belajar dari komunitas lainnya akan semakin mengembangkan usaha penyelamatan ini. Hal ini dapat terjadi melalui dialog di antara mereka. Melalui persoalan nyata inilah agama atau umat beragama dimungkinkan untuk berdialog satu dengan yang lainnya. Dialog ini merupakan bentuk usaha penyelamatan Bumi oleh umat beragama demi masa depannya sendiri, yang berguna pula untuk penghuni lainnya.

Perjuangan untuk masa depan Bumi seperti dijelaskan di atas bukanlah hal yang baru. Sebagian orang di berbagai belahan Bumi telah memulainya sejak sepuluh tahun belakangan ini. Usaha-usaha dari mereka patut didukung dengan kekhasan kita, karena dibutuhkan aksi bersama untuk persoalan atau dasar bersama ini dengan berbagai cara yang memungkinkan perubahan yang positif.

Sudah saatnya persoalan ekologis ini tidak lagi menjadi isu yang aneh dan tak terjangkau dari kehidupan keseharian umat beragama. Dengan jumlah populasi umat beragama yang besar di Bumi, menunjukkan betapa pentingnya agama untuk mengambil bagian dalam persoalan ini. Para praktisi atau tokoh-tokoh agama sudah seharusnya meningkatkan dan berbagi kesadaran kepada umat beragamanya lewat peribadahan atau ritual-ritual yang mereka selenggarakan. Aksi bersama untuk memperoleh dampak yang baik bagi kehidupan Bumi dan penghuninya sangatlah dinantikan.

Jimmy Siregar, mahasiswa Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM

6 thoughts on “Agama dan Persoalan Ekologis”

  1. Winarto says:

    Nantikan tanggal 16 Maret, akan ada “aksi bersama” yang disebut Hari Raya Nyepi, dan tanggal 21 maret, akan ada aksi lanjutan yang disebut World Silent Day (http://www.worldsilentday.org/)

  2. saam fredy says:

    bicara tentang agama dan ekologi, maka tidak dapat dihindarkan pembicaraan tentang bioetika.

    salam,
    saam fredy

  3. rennypebrica says:

    bioetika itu apa ya??

  4. rennypebrica says:

    bioetika itu apa ya??bisa dijelaskan ga?

  5. theodorus benyamin sibarani says:

    Tulisan ini sebenarnya hanya mau mengatakan bahwa setiap agama itu memiliki tugas untuk merawat alam. Berbicara mengenai peran agama, sebenarnya hanya pada tingkat variabel saja, sedangkan yang menjadi indikatornya adalah nilai etis dari agama tersebut. Inilah yang sebenarnya tidak dikaji lebih jauh dalam tulisan ini. JIka ada orang yang mengatakan bioetika, sebenarnya hal itu merupakan pelebaran dari etika agama. Etika senantiasa berkenaan dengan tindakan. Hal ini berarti, seorang manusia (apapun agamanya), memiliki tanggung jawab etis terhadap lingkungan dimana pun dia berada. Tanggung jawab ini baik meliputi persoalan moral, ahklak, sampai pada persoalan alam. Ide dasarnya sederhana saja, yaitu : tidak mungkin seseorang melakukan tindakan yang bertanggungjawab apabila dia tidak memiliki kesadaran. Jadi sebagai tambahannya dalam tulisan ini, menurut saya yang harus ditekankan adalah pesan moral dari agama itu senantiasa berorientasi pada tanggungjawab moral seorang manusia. Itulah faktor-X yang hilang dari kehidupan seorang manusia yang beragama.. Pertanyaannya sekarang adalah apakah perlu dialog antar umat beragama untuk membahas persoalan ekologis? Menurut saya tidak perlu, karena tanpa berdialog pun, seharusnya setiap agama sudah tahu apa yang harus dilakukannya untuk lingkungannya. Aksi bersama yang digalang lewat dialog antar umat beragama tidak akan bertahan lama karena didasarkan atas “senyuman di bibir saja”. Hal ini jelas berbeda dengan aksi bersama yang dilakukan berdasarkan kesadaran akan nilai etis agama masing-masing.

  6. Jimmy M. I. Siregar says:

    Wah, maaf baru baca, rupanya ada beberapa komentar menarik. Terimakasih.

    – Bung Fredy: Ada betul jg, tapi bioetika akan berlaku dalam kasus ini jika dibawa ke dalam pengertian yg lebih luas, seperti yang ditawarkan Van R. Potter. Selebihnya, bioetik lebih mewacana pada perkembangan ilmu biologi dan kesehatan/kedokteran dan dampaknya terhadap masyarakat yang dikaji secara interdisipliner namun dalam perspektif etika (filsafati), contohnya rekayasa genetik, stem cell, eutanasia, fenomena bayi tabung, dan beberapa fenomena lainnya yang terkait dengan perkembangan dimaksud.
    – Bung Sibarani: Betul juga, terimakasih atas masukannya. Tulisan ini, kalau dicermati lagi, mengajak orang yang mengaku beragama untuk memahami keberagamaannya dalam konteks ekologis, sebagai tugasnya pula. Agama di sini memang terkesan sebagai instrumen, tapi yang mau ditekankan juga bahwa dengan atau tanpa agama pun itu sudah menjadi tanggung jawab warga negara bumi ini. Tetap tokoh utamanya adalah manusia sebagai entitas yang berperan penting, agama tanpa manusia- dipertanyakan eksistensinya, tapi manusia tanpa agama sudah barang tentu ada. Pun agama adalah sistem pengetahuan yang tentunya adalah mengalir dari tubuh manusia untuk kemudian disepakati, dan oleh banyak orang- bahwa agama itu didukung, bahkan sebuah karya, oleh kuasa ilahi, yakni entitas tertinggi dalam sistem pengetahuannya. Sehingga agama itu membudaya.
    Agama itu kemudian menjadi teks, yang bagi sebagian orang diinterpretasikan menjadi sumber nilai-nilai kebaikan, contohnya dalam membangun perdamaian dan membangun kesadaran ekologis seperti yang sedang kita bicarakan. Namun bagi sebagian orang yang lain, agama diinterpretasikan sebagai hukum atau alasan fundamental untuk membunuh orang lain, menciptakan konflik, legitimasi kekuasaan, dan sebagainya. Tentunya dalam perangkat-perangkat agama (eksoterik), contohnya kitab suci, di sana pun terkandung pesan-pesan kebaikan dan ketidakbaikan, sekaligus ambiguitas- antara keduanya. Pesan-pesan moral yang ada dalam agama itu menjadi tafsiran (si manusia) pula, seperti pada interpretasi pertama.
    Untuk pemahaman bahwa bioetika adalah pengembangan dari etika agama, saya sulit untuk menerimanya, karena ketika agama terjun dalam analisisnya bioetik, itu dikarenakan ke-interdisiplin-an kajian bioetika itu sendiri. Sedangkan berdasarkan sejarah ilmu itu sendiri bioetika ini menjadi filsafat atas perkembangan ilmu, terutama biologi dan kedokteran, dengan melibatkan berbagai perspektif, termasuk agama didalamnya. Ia mengkaji dampaknya terhadap masyarakat luas beserta sistem nilainya pada saat ini (present) dan akan datang (future).
    Nah, untuk isu dialog antar umat beragama di atas itu perlu dilihat bukan sekedar sebagai ajakan untuk berdialog terhadap persoalan ekologi kita saat ini, justru dengan adanya persoalan ekologi ini dialog antar umat beragama itu “dimungkinkan” oleh karena persoalan bersama (common problem or base, atau dalam bahasanya Paul Knitter, sebagai common ground and front) yang dihadapi. Ini cukup jelas pada paragraf ketiga dari yang terakhir.
    Terimakasih, ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *