Satu Arah di Jalan Jenderal Sudirman

Browse By

Pengguna jalan menggunakan lajur jalan yang dibuka untuk jalur satu arah di Jalan Jenderal Sudirman, Rabu, 15 Februari 2010. Dalam 30 hari, dinas terkait akan mengevaluasi peraturan yang baru diterapkan ini. {Foto oleh Andreas Kristian Budiarto}

Pengguna jalan menggunakan lajur jalan yang dibuka untuk jalur satu arah di Jalan Jenderal Sudirman, Rabu, 15 Februari 2010. Dalam 30 hari, dinas terkait akan mengevaluasi peraturan yang baru diterapkan ini. {Foto oleh Andreas Kristian Budiarto}

Tahun 2001, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Salatiga membentuk tim yang mengaji tentang lalu lintas kota, terutama di jantung perekonomian kota, Jalan Jenderal Sudirman. Kajian ini membuahkan hasil yang tertuang dalam dokumen analisis Studi Manajemen Transportasi Kota Salatiga.

Berdasarkan peta jalan (road map) tersebut, pada tahun 2002, Pemerintah Kota Salatiga membuat kerangka teknik terperinci (detail engineering design) Jalan Jenderal Sudirman yang berisi rekomendasi pemberlakuan jalur satu arah (one way traffic system). Rekomendasi ini mempertimbangkan adanya kegiatan-kegiatan yang mengganggu lalu lintas, seperti pedagang kaki lima (PKL) dan penyeberang jalan.

Senin, 15 Februari 2010, sosialisasi lapangan jalur satu arah dilaksanakan. Wali Kota, Muspida, dan Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dishubkombudpar) sempat meninjau langsung ke lokasi, di sela-sela rapat kerjanya.

Kepala Dishubkombudpar Cholil As’ad melalui Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dishubkombudpar Sidqon Effendi menjelaskan bahwa sosialisasi sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, hanya pelaksanaan sosialisasi di lapangan baru dilakukan pada minggu ketiga bulan ini. “Perubahan skema manajemen lalu lintas tersebut memerlukan adaptasi masyarakat,” kata Sidqon.

Saat ditanya Scientiarum mengenai pemberlakuan jalur satu arah hanya dilakukan dari simpang Jalan Langensuko hingga simpang Jalan Letjen Sukowati, Sidqon menerangkan bahwa pemberlakuan aturan lalu lintas perlu dilakukan bertahap. “Ada aturan tentang lalu lintas yang diatur di dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” jelas lulusan Magister Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada ini.

Membingungkan pengguna jalan

Pemberlakuan jalur satu arah sejak pukul 00.00 ini dinilai kurang penyosialisasian. Salah seorang pengguna jalan, Alex Merebean mengaku bingung pascapemberlakuan jalur satu arah. Alex merasa terganggu dengan tata perparkiran kendaraan bermotor. “Banyak yang memarkir mobil terlalu ke tengah. Putar baliknya juga terlalu jauh,” kata Alex.

Berbeda dengan Alex, Titus Yurial Kurnianto menilai pemberlakuan jalur satu arah adalah sebuah kemajuan. “(Jalan Jenderal Sudirman) lebih tertata rapi, apalagi itu adalah jalur antarkota,” kata Titus. Namun, menurutnya, para PKL juga harus dipindahkan dan diberikan tempat yang lebih teratur.

Jalur satu arah dan PKL

Pemberlakuan jalur satu arah diharapkan dapat melancarkan arus lalu lintas di pusat kota. Namun, di sisi lain berdampak pada para PKL di sekitarnya. Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi UKSW Dr Pamerdi Giri Wiloso MSi menjelaskan bahwa ada pertentangan kepentingan antara PKL dan arus lalu lintas. “Pengguna jalan raya akan merasa arus lalu lintas semakin lancar. Namun, akan ada dampak yang dirasakan oleh PKL, entah pendapatannya berkurang atau lainnya,” kata Pamerdi yang ditemui di ruang kerjanya.

Pamerdi juga mengapresiasi penerapan aturan ini. Dia berharap, Kota Salatiga dapat menata diri seperti halnya kota-kota besar. “Bagus ada penataan seperti ini. Kita bisa mencontoh kota-kota besar seperti Solo dan Yogyakarta. Namun, pemerintah daerah harus menyediakan sarana lainnya, seperti tempat parkir khusus,” kata pengajar matakuliah Antropologi Budaya ini.

12 thoughts on “Satu Arah di Jalan Jenderal Sudirman”

  1. Pingback: Satu Arah di Jenderal Sudirman | Scientiarum
  2. Trackback: Satu Arah di Jenderal Sudirman | Scientiarum
  3. thommy says:

    wah jadi tambah lebar donk nih jalan, semoga kemacetan yang dulu bisa teratasi..

  4. Hosiana Stri N says:

    diadakannya jalur 1 arah menurut saya cukup efisien tetapi tidak cocok untuk kota kecil spt Salatiga….
    menurut pandangan saya diadakannya jalur satu arah malah menjadi lebih ribet…
    karena yang harusnya jaraknya dekat jadi semakin jauh karena harus berputar-putar……
    tapi ada segi positifnya kok karena adanya jalan satu arah maka jalan semakin teratur.
    jadi kesimpulanya saya 50:50 bisa iya bisa tidak tergantung kebijakan pemerintah dalam mengatasi dan memanfaatkan jalur itu secara baik dan benar…….

  5. Astrid Bella Monika Cyntia says:

    mantap sekali…!!! jalan di jensud tambah gede.. tapi kasian pengguna jalan harus muter jauh… ckckckckckck…

  6. bu.sudianto says:

    satu arah itu salah satu langkah manajemen lalulintas yang baik, tetapi kapan ditambah penghijauan? bundaran tamansari juga harus dibenahi: parkir apotik fitra & mangkalnya angkot!!!

  7. Winarto says:

    Alex Merebean mengaku bingung pascapemberlakuan jalur satu arah. Alex merasa terganggu dengan tata perparkiran kendaraan bermotor. “Banyak yang memarkir mobil terlalu ke tengah. Putar baliknya juga terlalu jauh,” kata Alex.

    Sepertinya kenal siapa yang diwawancarai itu?hihihihi..

  8. vita says:

    Satu arah di jensud malah membuat jalan semakin ‘ruwet’. kasihan pengguna jalan dari arah Selatan harus muter-muter dulu, gag efektif dam pemborosan BBM.

  9. yessi says:

    malah jadi ruwet jalannya ……
    digang-gang sempit malah jadi macet sekarang ….
    beda sekali dengan kota-kota besar lainnya ……

  10. eni says:

    Lebih Bersih,,Lebih Nyaman..Gak Semrawut..Aku dukung 100% dech..

  11. Andre says:

    selalu ada sisi + dan – dari sebuah kebijakan. saya sempat bertanya kepada beberapa pedagang bahwasanya omzet mereka turun drastis. namun disisi lain pedagang dijalan2 sempit justru merasa untung dengan pem,berlakuan ini. Berharap bahwa turunnya omzet hanyalah dampak sesaat, setelah semua mulai normal, harapannya omzet bisa naik lagi.

    “Salatiga itu ya jensud aja mas”, demikian ucap seseorang pada saya, dengan pemberlakuan jalan searah kawasan lain di Salatiga juga mulai bisa dihidupkan ekonominya, sehingga persebaran perekonomian tak hanya di kawasan Jensud.

  12. Coemi says:

    menurut saya, sisi negatif dari pemberlakuan jalur searah tersebut lebih terasa dibanding sisi positifnya.

    pertama, jalur untuk putar baliknya terlalu jauh sehingga menurut saya pribadi, boros bensin (maklum mahasiswa, hehe).

    kedua, bekas pembatas tengah jalan yang dulu, terasa cukup bergelombang sehingga dapat membahayakan kendaraan yang melintasi jalan tersebut atau minimal ada rasa ketidaknyamanan ketika melintas.

    ketiga, masih mengenai bekas pembatas tengah jalan yang dulu. saya melihatnya seperti sebuah tambalan panjang yang menempel di jalan (saya bingung dimana letak keindahan dari jalur searah ini).

    keempat, entah mengapa ketika saya melewati jalan tersebut pada siang hari di bawah teriknya matahari yang (kata orang) panas ‘nrantang’, seperti melewati gurun saja alias tidak ada pepohonan. gersang . . .

    sedangkan sisi positif yang bisa saya tangkap hanya satu yaitu lalu lintas lancaaaarr… he he

    *sekedar pertanyaan (iseng), undang-undang yang mengatur lalu lintas dan angkutan jalan itu bukannya Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 ya pak Sidqon? hi hi

    ~ nice report ~ =)

  13. Pingback: Kadishubkombudpar: Satu Arah di Jensud untuk Ubah Wajah Kota | Scientiarum
  14. Trackback: Kadishubkombudpar: Satu Arah di Jensud untuk Ubah Wajah Kota | Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *