Anak Kreatif Tidak Perlu Dibelenggu

Browse By

Bahruddin, penggagas sekaligus pendiri lembaga pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, sedang berbicara dalam seminar nasional “Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif” di Balairung Universitas, Kamis, 4 Maret 2010. {Foto oleh Daniel Pekuwali}

Bahruddin, penggagas sekaligus pendiri lembaga pendidikan alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, sedang berbicara dalam seminar nasional “Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif” di Balairung Universitas, Kamis, 4 Maret 2010. {Foto oleh Daniel Pekuwali}

Masa depan bangsa membutuhkan generasi yang mampu dan berani menghadapi tantangan maupun perubahan. Sistem pendidikan menjadi pondasi untuk menyediakan individu yang siap mental, mampu menyesuaikan diri, dan memecahkan masalah secara kritis dan kreatif.

Sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mempersiapkan peserta didik untuk berpikir kreatif serta kurang memberikan peluang menjadi lifelong learner.

Raymond Wlodkowski menuliskan bahwa untuk menjadi negara dengan generasi muda yang sukses membutuhkan “children who posses a strong motivation to learn have a future blessed with discovery, opportunity, and contribution. They have a natural best to do those things that will lead to occupational success in the 21st century and benefit the positive evaluation of society. People who posses motivation to learn may find external barriers of circumstance and prejudice-but they are not their own enemies, and they are the most fit to learn ways to overcome such obstacles. They are the most likely to be capable of creativity and excellence because the best in science, scholarship, or art cannot be coerced from unwilling heart.

“Oleh karena itu, diperlukan perubahan sistem pendidikan dari parsial menjadi keseluruhan multidisciplinary and holistic aproarch to reality dan peserta didik dapat menjadi seorang pembelajar sejati,” kata Diana Kartika Kusumawati, salah satu pembicara seminar nasional bertema Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif, Rabu, 4 Maret 2010.

Seminar yang diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ini, meghadirkan tiga pembicara. Selain Diana Kartika Kusumawati, ada pula Hengky Kusworo, Ketua Yayasan Terang Bangsa Semarang, dan Bahruddin, pendiri lembaga pendidikan Qaryah Thayyibah Salatiga.

Acara ini diselenggarakan di Balairung Universitas. Sebagai pembicara pertama, Diana menyampaikan problem-problem yang dihadapi anak usia dini dalam belajar, salah satunya adalah kompetensi guru atau orangtua dalam mengembangkan dan mendukung potensi kreatif anak. Diana menawarkan adanya perubahan sistem pendidikan, karena sistem pendidikan saat ini, sama sekali tidak mendukung anak untuk kreatif.

Lain halnya dengan Hengky. Dia menceritakan awal berdirinya Yayasan Terang Bangsa, bagaimana membantu anak-anak dari kelurga yang tidak mampu. Tak dapat dipungkiri lagi, pendidikan di Indonesia relatif mahal, tetapi jaminan mutunya masih dipertanyakan.

Hengky memotivasi para dosen maupun mahasiswa agar tidak membedakan latar belakang perekonomian murid. Karena sikap membedakan dapat mengekang anak dan berakibat si anak menjadi tidak kreatif.

Pembicara ketiga adalah Bahruddin. Ia hanya menggunakan waktu 15 menit untuk berbicara, sisanya digunakan untuk berdiskusi. “Kalau siswa mengantuk saat pelajaran, beri saja mereka bantal, jangan disuruh cuci muka,” kata Bahruddin. Sontak para peserta seminar kaget. Aneh memang. Namun, itulah metode belajar yang diterapkan pada sekolah alternatif yang dirintis oleh Bahrudin dan teman-temannya.

Pendidikan alternatif yang digagas oleh Bahruddin merupakan konsep yang dikembangkannya berdasar pengalaman dan buku-buku yang dibacanya. Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan pada siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai. Guru merupakan pendamping, tugasnya hanya memberikan ide atau masukan, apakah nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.

“Anak-anak itu ‘liar’, nah seharusnya kita dukung jiwa ‘keliaran’-nya ke arah yang positif. Anak-anak yang ada sekarang merupakan korban dari sistem pendidikan di Indonesia. Biarkan anak itu belajar, kita hanya bisa sebagai pendamping, bukan guru. Makanya guru di tempat saya (Qaryah Thayyibah) tidak perlu harus lulus SMP, yang penting punya kemauan belajar bersama, itu saja,” terang Bahruddin.

Ardi Bangkit Purwoko selaku ketua panitia mengatakan bahwa antusiasme peserta dalam acara ini cukup baik. Ini terlihat dari komentar dari pertanyaan yang mereka ajukan pada setiap sesi.

“Kami mengangkat tema ‘Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif’, karena terinspirasi dari Muhammad Yunus pemenang Nobel Perdamaian tahun 2006. Muhammad menang Nobel karena memperjuangkan kaum papa dan miskin,” kata Ardi.

4 thoughts on “Anak Kreatif Tidak Perlu Dibelenggu”

  1. Pingback: Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif | Scientiarum
  2. Trackback: Sistem Pendidikan Belenggu Anak Kreatif | Scientiarum
  3. saam fredy says:

    apakah ada evaluasi dalam sistem pembelajaran di Qaryah Thayyibah?

  4. Jessica says:

    “Anak-anak itu ‘liar’, nah seharusnya kita dukung jiwa ‘keliaran’-nya ke arah yang positif.

    Apakah contoh cara mendukung “keliaran” ke arah positif?

  5. STR says:

    @ Saam & Jessica: Kapan-kapan kita atur waktu yuk untuk terjun langsung ke lokasi sekolah Bahruddin itu. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *