The Planet is Fine, the People are Fucked

Browse By

Talkshow Komunitas TUK di Break Coffee House, 13 Maret 2010. {Foto oleh Danang Satrio}

Talkshow Komunitas TUK di Break Coffee House, 13 Maret 2010. {Foto oleh Danang Satrio}

Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK) menggelar acara bincang-bincang dan pemutaran film pada Sabtu, 13 Maret 2010 di Break Coffee House, Salatiga. Direktur Pelaksana Komunitas TUK Titi Permata, tampil sebagai pembicara dengan tema “The Planet is Fine, the People are Fucked”. Ada sekitar 50 orang hadir di acara ini.

Titi menjelaskan bahwa pada hakikatnya tujuan konservasi lingkungan adalah demi kepentingan manusia sendiri. Bumi mungkin tidak akan protes jika alamnya dirusak oleh manusia, karena sebetulnya bumi memunyai mekanisme pertahanan diri. Pertanyaannya, apakah manusia sanggup bertahan dari mekanisme pertahanan diri bumi?

Titi mengutip data Earth Policy Institute tahun 2009 tentang pencairan es dunia akibat pemanasan global. Di Alaska, 98 persen gletser (lapisan besar es) menipis. Di Himalaya, 90 persen gletser mencair. Di Greenland, area pencairan es meluas, menyebabkan aliran gletser mengencang, hingga terjadi gempa glasial. Dan masih banyak lagi. Permukaan air laut mengalami kenaikan signifikan. Luas daratan berkurang.

Pemanasan global berkaitan erat dengan industrialisasi era modern. Asap-asap pabrik dan kendaraan bermotor banyak berkontribusi dalam pembentukan efek gas rumah kaca, sementara di belahan dunia ketiga terjadi penggundulan hutan besar-besaran demi kepentingan ekonomis. Penggunaan kloroflorokarbon (CFC) yang umum pada alat-alat pendingin juga mempercepat pemanasan karena mampu merusak lapisan ozon (O3) yang berfungsi menangkal radiasi sinar matahari. Berbagai macam penyakit kulit dan pernafasan muncul.

Aristi Paramita, salah satu hadirin, melancarkan kritik pada gereja-gereja yang banyak menggunakan pendingin ruangan pada gedungnya. Kimpul, hadirin yang lain, menimpali dengan seruan bahwa spiritualitas yang sehat haruslah ramah dan peduli lingkungan.

Titi mengajak para hadirin untuk menggencarkan gerakan reduce-reuse-recycle, baik secara komunal maupun individual, untuk meminimalisir pencemaran lingkungan dan pemborosan sumber daya alam. Gerakan reduce-reuse-recycle ini perlu diterjemahkan dalam wujud-wujud kreatif. Di sinilah generasi muda dituntut partisipasinya dalam program-program seperti Australian Network for Art and Technology maupun Climate-Smart Leaders.

Acara bincang-bincang ini berakhir dengan pemutaran film The Story of Stuff yang dinarasi oleh Annie Leonard, seorang aktivis lingkungan hidup Amerika Serikat yang gencar mengkritik konsumerisme berlebihan. Film berdurasi sekitar 20 menit ini secara runtut menggambarkan alur konsumerisme dunia dan dampaknya bagi lingkungan global.

One thought on “The Planet is Fine, the People are Fucked”

  1. rennypebrica says:

    sudah saatnya kita bergerak untuk menggalakkan konservasi lingkungan dan mengurangi pemanasan global. dimulai dari diri kita sendiri.
    bagaimana cara mendapatkan film the story of stuff-nya?saya ingin melihat isi film ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *