Kadishubkombudpar: Satu Arah di Jensud untuk Ubah Wajah Kota

Browse By

Senin, 15 Februari 2010 lalu, Pemerintah Kota Salatiga mulai menyosialisasikan penerapan jalur satu arah di Jalan Jenderal Sudirman. Penerapan aturan ini dilakukan atas dasar studi yang dikaji Pemkot sebelumnya. Senin, 15 Maret 2010, tepat 30 hari pascapemberlakuan aturan ini, Pemkot sudah mengantongi dasar hukum untuk menindak pengguna jalan yang melanggar.

Ditemui di kantornya, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dishubkombudpar) Kota Salatiga Cholil As’ad menjelaskan bahwa setiap ada aturan baru maka perlu adaptasi dan sosialisasi bagi masyarakat.

Mengenai masalah pedagang kaki lima (PKL), Cholil menjelaskan bahwa kawasan Jalan Jenderal Sudirman sebenarnya bukan tempat bejualan. PKL memunyai tempat tersendiri untuk berjualan. Namun kenyataannya, PKL yang telah digusur akan kembali lagi. “PKL seharusnya mengerti. PKL memang tidak boleh berjualan di situ,” kata Cholil.

Angkutan umum

Tentang angkutan umum yang berhenti sembarangan di Jalan Jenderal Sudirman, Cholil telah menerjunkan jajarannya untuk melakukan sosialisi. Berkiblat pada Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, maka jika ada yang melanggar akan ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. “Kelak terminal Salatiga akan diperbesar sehingga dapat menampung semua angkutan umum,” imbuhnya.

Saat ditanya mengenai kemacetan yang terjadi di jalan-jalan sempit, Cholil menilai bahwa kejadian tersebut merupakan hal yang wajar. “Di sana telah diterjunkan petugas-petugas yang akan mengatur lalu lintas,” katanya.

Lahan parkir khusus

Masalah perparkiran, kelak akan dibangun sebuah tempat parkir khusus bagi kendaraan bermotor. Membangun sebuah lahan parkir bukan perkara yang mudah. Perlu tempat dan dana yang tidak sedikit. Sambil menunggu realisasi itu terwujud, penataan parkir saat ini merupakan pilihan yang terbaik.

Pesan kepada masyarakat

Di balik sebuah kebijakan, di dalamnya mengandung kepentingan dari berbagai pihak. Setiap pihak beragumentasi dengan kepentingan masing-masing. Misalnya, para sopir angkutan umum berdalih mereka mencari penumpang. Di pihak lain, Dishubkombudpar juga menjalankan tugasnya sesuai aturan berlaku.

Kepala Dishubkombudpar meminta agar seluruh elemen masyarakat dapat menerima kebijakan ini dan mematuhi aturan yang telah berlaku agar tercipta wajah Kota Salatiga yang tertib dan teratur. “Sadar(lah) terhadap rambu lalu lintas dan peraturan yang berlaku!” pungkasnya.

Bukan sekadar mengikuti jejak kota besar lainnya. Pemberlakuan jalur satu arah, yang menelan dana Rp 1 miliar ini bertujuan untuk memperbaiki wajah lalu lintas Kota Salatiga. “Ketertiban, kenyamanan, keindahan akan memengaruhi sektor kepariwisataan,” kata Cholil.

3 thoughts on “Kadishubkombudpar: Satu Arah di Jensud untuk Ubah Wajah Kota”

  1. Theo says:

    Sepertinya tidak ada perubahan apapun dengan hal itu, Angkutan asih kurang ajar di sebelah ramayana. Alasannya cari penumpang.. Jalan Patimura juga banyak angkot liar yang gak jelas dan buat macet ditambah adanya pasar yang sampai di jalan. Apa tuch dibilang tidakan petugas yang disana. sepertinya petugas juga ada untuk nongkrong saja. Kalimat terakhir bicara tentang pariwisata. untuk buat pariwisata yang seperti apa? Karnaval berkelas dunia aja gak bisa dilakukan dengan menutup jalan penuh. Tuch Solo aja mampu, Salatiga mana aksinya? Sepertinya susah buat Salatiga jadi kota Wisata. Karena masih pada berpikir individual. Wow Salatiga sadarlah dunia dah gak akan maju dengan pabriknya tapi dengan industri pariwisatanya. Antara dua hal yang harus dilakukan. tutup Kota Salatiga atau mau maju dengan otak yang bergerak bersama.terima kasih..

  2. Andi Oentoro says:

    Salam saudara Theo..saya sangat setuju dengan pendapat saudara..anda benar bahwa dibutuhkan kekompakan untuk sebuah perubahan, apalagi perubahan yang melibatkan banyak orang. Pendapat anda tentang Industri pariwisata itu juga sangat benar sekali. Solo sekarang sedang giat2nya menata pariwisatanya (kebetulan saya bekerja di tour & travel Solo) dan hal ini didukung juga oleh para insan2 yang bergerak di dalamnya. Apalagi bapak Jokowi selaku Walikota juga sangat menaruh perhatian untuk perkembangan industri pariwisata kotanya. Sebagai alumni UKSW dan orang asli Salatiga, saya sangat iri melihat hal ini. Kota kita yang notabene lebih kecil sangatlah susah menatanya. Terlebih, Salatiga berpotensi menjadi kota wisata didukung letak geografis dan hawa yg cenderung sejuk. Tengoklah Temanggung. Kota kecil ini sangatlah bersih dan teratur dan saya kira 2 hal ini sangat penting untuk menarik turis datang ke kota kita selain kekhasan suatu daerah. Akhir kata, kembali ke pendapat saudara Theo, ” Tutup Kota Salatiga atau mau maju dengan otak yang bergerak bersama. Terima kasih..”

  3. rennypebrica says:

    smoga peraturan ini dapat diterima dan dipatuhi oleh semua masyarakat kota Salatiga. dan dapat dijadikan panutan oleh kota-kota lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *