The Outsider

Browse By

Judul: The Outsider
Penulis: Albert Camus
Penerbit: Liris

the-outsider

Kubeli novel itu seminggu yang lalu, dan sejak itu aku tak pernah tahu apa yang dilakukannya padaku. Aku melihatnya sekilas ketika hendak meninggalkan toko buku. Agak kecewa karena buku yang kucari sedang di luar stok, dan mereka tak bisa membuatnya masuk. Buku-buku lain gagal menarik minatku. Pada saat itulah kulihat nama Albert Camus pada novel itu. Segera kusambar dan kubayar. Lalu kubaca, mula-mula dalam keramaian.

Penerbitnya menyebut novel ini sebagai karya roman Camus yang mencengangkan. Maka semula kupikir ini novel tentang cinta. Apalagi yang bisa lebih romantis ketimbang cinta?

Tapi bukan karena itu aku membelinya. Itu semata-mata karena nama Camus di sampulnya. Aku tak pernah benar-benar tahu soal Camus selain beberapa potong kalimatnya yang pernah dikutip seorang teman. Selebihnya, aku hanya tahu ia wartawan, dan ia juga seorang ateis. Mungkin itu yang kusuka darinya, entahlah. Aku selalu merasa diriku bukan orang yang tahu apa-apa. Mungkin itu sebabnya aku seorang agnostik. Dari penerbit buku ini kubaca bahwa Camus ternyata juga pemenang Nobel sastra tahun 1957. Namun itu tak berarti apapun.

Camus lahir di Aljazair. Set tempat novel ini mengambil dua kota di sana, Marengo dan Aljiers. Satu-satunya hal yang kuingat dari paparan Camus soal dua kota itu adalah bahwa di sana sangat panas, dan aku agak membenci panas. Namun itu masuk akal karena Aljazair memang ada di Afrika.

Novel ini berputar di sekitar pikiran Meursault. Itu nama belakangnya. Camus tak pernah menyebut nama depan tokoh utamanya. Meursault adalah seorang biasa, dan aku pikir memang tak ada orang luar biasa. Tapi aku agak menyukainya karena ia mengaku tak pernah bisa benar-benar menyesali apapun. Paragraf pertama pikirannya agak mengesankanku: “Ibu meninggal hari ini. Atau mungkin kemarin, entahlah. Aku mendapat telegram dari panti wreda. Bunyinya: Ibu meninggal. Dimakamkan besok. Salam. Berita ini tak berarti apapun. Mungkin kejadiannya kemarin.” Sejak itulah aku sadar bahwa romantika tak mesti bersentuhan dengan cinta.

Meursault dingin, sedingin realitas. Fakta memang selalu dingin, interpretasimu saja yang membuatnya panas oleh emosi. Terhadap fakta kematian seseorang, kau mungkin akan senang, atau sedih; tergantung kau tafsirkan fakta itu sebagai baik atau buruk. Atau kau bisa memilih sikap seperti Meursault dengan tak menganggapnya berarti. Hidup ini mungkin hanya kita habiskan di tengah-tengah fakta dan interpretasi. Bagaimanapun, Meursault tetap menunjukkan emosi menjelang dihukum mati.

Ia dengan agak tak sengaja telah membunuh seorang Arab di pantai pada suatu siang. Kurumuskan agak tak sengaja karena itu lebih mirip sebuah kecelakaan. Meursault sedang buta oleh tetesan keringat dan silau matahari, sedangkan orang Arab itu telah menghunus belati mengilat ke arahnya. Mungkin Meursault panik, dan kebetulan ia membawa pistol. Maka ia menembaknya sekali. Setelah itu residu kepanikan mungkin telah membuatnya menembak mayat itu empat kali lagi untuk alasan yang tak pernah pasti. “Seperti melakukan empat ketukan keras di pintu ketakbahagiaan,” katanya.

Bagiku itu lebih terlihat seperti pembelaan diri. Dan aku pikir setiap orang berhak membela diri. Jika Meursault tak menembak, kemungkinan besar ia akan tertikam belati. Ia tak kenal orang Arab itu dan tak punya urusan dengannya. Orang Arab itu cuma bermasalah dengan temannya yang bernama Raymond. Namun situasi di pantai itu sepertinya rumit juga. Meursault segera dipenjara dan beberapa bulan kemudian diadili. Itu hanya kasus pembunuhan biasa. Tapi jaksa dengan piawai menghubungkan sikap cuek Meursault terhadap kematian ibunya dengan penembakan si Arab. Meursault dianggap monster yang tak layak hidup.

Meursault dianggap monster karena mengirim ibunya ke panti wreda, tak tahu persis berapa usianya, dan tak menangis saat pemakamannya. Meursault merokok dan minum kopi putih di depan peti mati ibunya semalam sebelum pemakaman. Peti telah ditutup saat Meursault datang ke panti, tapi ia menolak para petugas yang hendak melepas mur dan baut agar ia bisa melihat ibunya untuk terakhir kali. Usai pemakaman di Marengo, ia kembali ke Aljiers dan berkencan dengan Marie. Mereka bercinta. Rekam jejak seperti itu membuat reputasi Meursault buruk di hadapan para hakim. “Aku tak bisa mengerti bagaimana sifat-sifat seorang pria biasa bisa digunakan sebagai bukti bersalah yang memberatkan,” pikirnya seusai pidato jaksa.

Menjelang eksekusinya Meursault menolak ditemui pendeta. Tak ada yang perlu kukatakan padanya, pikirnya. Meursault bukan seorang yang percaya Tuhan. Ia sempat berminat memikirkan cara melarikan diri, namun akhirnya ia putuskan menunggu fajar saat ia akan dieksekusi. Ia membatin, “Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat panjang, aku memikirkan ibu. Aku merasa bahwa aku mengerti kenapa di akhir hidupnya ia ‘bertunangan’ dan kenapa ia pura-pura memulainya lagi. Di panti wreda tempat orang-orang berangsur meninggal, juga ada malam-malam semacam gencatan senjata melankolis. Jadi mendekati kematian, ibu pasti merasa bebas dan siap menjalani hidupnya lagi.”

Jadi apa yang bisa diambil dari novel ini? Tidak ada kukira, atau mungkin sedikit sekali. Dalam pengantarnya, si penerbit menjanjikan filsafat absurditas kental mewarnai novel ini. Aku hanya tahu bahwa membaca novel ini mampu meningkatkan derajat kesendirian. Dengan demam dan tenggorokan meradang kubaca kisah Meursault kala dipenjara. Untuk beberapa saat Camus berhasil membuatku amat muak pada hidup.

2 thoughts on “The Outsider”

  1. Maria Tirtaningrum says:

    So much irony in reality, sometimes it’s better for us to be cold or bitter toward life. Good book great reader!

  2. rennypebrica says:

    jadi kepengen baca juga..kynya dalem banget ya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *