Tak Satupun Setan yang Tahu

Browse By

Judul: Soe Hok-gie …sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor: Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti, dan Nessy Luntungan
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Seorang sarjana sejarah Universitas Indonesia berusia 27 tahun mati di puncak Gunung Semeru 40 tahun lalu. Kematiannya tidak dikenang hanya oleh keluarganya. Tapi juga banyak orang. Karena sosoknya diangkat lewat artikel, pidato, filem dan buku.

Dia senantiasa gelisah. Dia mengambil jarak dengan kekuasaan, termasuk harta. Karena dia idealis, jujur, berintegritas, dia disengiti tidak sedikit pihak pada zamannya. Dia tidak hanya suntuk membaca buku dan media massa, tapi juga mengadakan nonton filem bareng, mencoba mendirikan klub buku (meski gagal) dan menumbuhkan kelompok diskusi.

Ya, dia Soe Hok-gie. Dia yang kini dihadirkan sebagai ikon mahasiswa ”ideal”. Sosoknya populer melalui buku hariannya yang dipublikasikan luas berjudul Catatan Seorang Demonstran. Seorang Australia John Maxwell menulis disertasi doktoral berjudul Soe Hok-gie: A Biography of a Young Indonesian Intellectual. Pada 2005, filem ciamik GIE garapan Riri Riza ditayangkan.

Termutakhir, buku kumpulan karangan yang mengenang, Soe Hok-gie… sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya (KPG, 2009, 512 halaman + xxxix). Buku ini membuka kemungkinan bagi para pemuda dan mahasiswa hari ini untuk merefleksikan diri mengenai perjuangan dan tugas sebagai angkatan muda!

Buku suntingan sahabat Hok-gie yang juga wartawan senior harian Kompas Rudy Badil ini memuat karangan yang ditulis Hok-gie, orang-orang dekat Hok-gie seperti Luki Sutrisno Bekti, Kartini Sjahrir, A Dahana dan orang-orang dari generasi ”setelah” Hok-gie seperti Nicholas Saputra, Hilmar Farid, Stanley Adi Prasetyo, Ikrar Nusa Bhakti.

Buat apa sih Hok-gie dikenang lagi lewat buku ini? Menurut Pemimpin Umum Kompas Jacob Oetama yang juga kawan Hok-gie, untuk “mengangkat ke permukaan sosok teladan. Dia menginspirasi keteladanan dan sosok inspiratif” (hal.xiv). Hok-gie memang sosok romantis mahasiswa yang mungkin amat sulit ditemukan hari ini: pembaca, penulis, pejuang, demonstran, pencinta alam dan …. mati muda?

Dalam buku hariannya, ia mengutip kata-kata seorang filsuf Yunani, ”nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah mati tua. Rasa-rasanya memang begitu. Berbahagialah mereka yang mati muda”. Hok-gie bahagia?

Badil dalam tulisan ”Antar Hok-gie dan Idhan ke Atas” menceritakan kisah yang tidak sempat dikisahkan Hok-gie lewat buku harian: perjalanan ke Gunung Semeru yang dramatis karena dua pendaki muda tewas yakni Idhan Lubis (19 tahun, mahasiswa Universitas Tarumanegara) dan Hok-gie sendiri (hal. 1-79).

Penulisan sejarah yang dikerjakan Badil memberitahu pembaca bagaimana saat-saat terakhir hidup Hok-gie pada Desember 1969. Cuaca saat pendakian memang buruk: penuh hujan, gerimis campur kabut (hal.25) dan bau belerang menyengat pendaki (hal.26). Tanggal 16 bulan akhir Masehi itu —sehari sebelum ulangtahun ke-27— Hok-gie menghembuskan nafas terakhir. Menurut Herman O Lantang, seperti ditulis Badil, Hok-gie dan Idhan kejang-kejang sebelum mati (hal.38).

Badil juga menulis ”keluhan” bahwa ada yang bertanya akan dugaan kematian Hok-gie akibat konspirasi politik (hal.74 dan 76). Maklum, Hok-gie aktivis garis keras yang sebelum ke Semeru bikin geger Dewan Perwakilan Rakyat yakni mengirimkan sejumlah paket berisi kutang, pupur dan gincu kepada kawan-kawan seperjuangannya yang memilih jadi anggota parlemen (hal.340). Kematiannya yang tragis selain menjadi duka juga memicu lahirnya pertanyaan-pertanyaan politis.

Siapa menyangka, sebagai penulis Jakarta yang mau memikirkan nasib rakyat kecil Hok-gie dikenal oleh tukang peti mati di Malang yang lalu menyumbangkan peti mati (hal.69). Sepeti yang dicatat Maxwell, jenasah Hok-gie dilayat Menteri Perdagangan Sumitro Djojohadikusumo hingga Dekan Fakultas Sastra UI Harsja Bachtiar. Kematian Hok-gie diulas harian Indonesia Raya, Kompas, Mahasiswa Indonesia, Sinar Harapan dan dipidatokan Duta Besar Indonesia Soedjatmoko di New York (hal. 92-93).

Asyiknya, buku ini memuat karangan tentang gunung yang menjadi saksi bisu kematian Hok-gie. Seperti tulisan ”Serba Serbi Semeru Serba Seru” oleh Cut Dwi Septiasari (hal. 117-130) yang menginformasikan pembaca seputar Semeru mulai dari flora dan faunanya hingga rute 17 kilometer. Membacanya, pembaca seperti ditantang mendaki Semeru.

Dari artikel Septiasari tersebut, kita juga jadi tahu bahwa Hok-gie dan Idhan Lubis adalah pendaki pertama dan kedua yang tewas di Semeru. Idhan, yang juga keponakan budayawan Mochtar Lubis memang tidak dikenang semeriah Hok-gie. Meski begitu, ia tidak luput untuk diingat. Apalagi pada 8 Desember 1969 (delapan hari sebelum Idhan tewas) ia menulis puisi ”Djika Berpisah” buat Herman Lantang yang barangkali tanpa disadari merupakan sebentuk pamitan yang liris:

Bila kita berpisah
Kemana kau aku tak tahu sahabat
atau turuti kelok2 djalan
atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan
hanja bila kau lupa
ingat…

Hok-gie bukan manusia sempurna
Hok-gie memang telah diidolakan oleh banyak mahasiswa. Tapi ia bukan manusia sempurna yang sukses di segala bidang. Termasuk urusan keluarga.

Luki Sutrisno Bekti, kawan Hok-gie, mewawancarai Arief Budiman sang kakak (hal. 209-219). Arief yang dikenal sebagai dosen-cum-pembangkang era Orde Baru ternyata sempat “musuhan” selama 15 tahun dengan Hok-gie. Interpretasi atas sejarah ini divisualkan filem GIE dimana Hok-gie dan Soe Hok-djin (nama Cina Arief) beberapa kali saling menatap dingin dan menempuh jalan berbeda.

Kok bisa ya? Arief lupa penyebabnya. Seperti ditulis Bekti, barangkali soal monyet yang dibeli Hok-gie dari tukang becak yang biasa mangkal di dekat rumah (hal.212). Hok-gie adalah penyayang binatang. Tapi bukan perawat binatang yang baik. Akhirnya monyet itu dirawat Arief yang kesal.

Baru semasa mahasiswa mereka berdua “akur” lagi. Mereka berdua kerap berdiskusi seputar politik. Arief yang mengaku lebih tertarik sastra dan menyebut Hok-gie suka politik (hal.209), akhirnya berminat pada politik. Mengapa? Karena terinspirasi oleh meninggalnya Hok-gie (hal. 219).

Para “penerus” Hok-gie
Dalam buku ini, pemikiran Hok-gie banyak dibahas pada bagian 4. Penulisnya mereka yang tidak semuanya pernah bertemu Hok-gie secara langsung.

Hilmar Farid, misalnya. Sejarawan-peneliti ini meneropong Hok-gie melalui GIE. Menurut Farid, GIE adalah sebuah statement mengenai sejarah, bukan cuma film dengan latar belakang sejarah (hal. 302). Farid menyinggung film Pengkhianatan G30S/PKI yang disutradarai Arifin C Noer. Filem Pengkhianatan adalah filem wajib tonton semasa Orde Baru.

Filem yang Orde Baru banget itu, seperti disinggung Farid, dianggap oleh banyak orang sebagai rekaman kejadian nyata, bukan rekaan. Citra Gerwani sebagai organisasi sadis yang menyilet para jenderal seperti digambarkan filem Pengkhianatan terpatri di benak pemirsa. GIE hadir sebagai filem yang membuka berbagai kemungkinan melihat sejarah (hal.303).

Salah satu “kemungkinan” tersebut adalah hangatnya hubungan (individu) pro-komunis dan bukan-komunis yang dalam masa Orde Baru dibuat seolah-olah mustahil terjadi. Adalah Han, sahabat Gie sejak remaja, yang tumbuh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia. Sedangkan Gie bukan seorang komunis. Meski beda ideologi, mereka akur dan tidak saling membenci.

Meski bukan komunis, Hok-gie membaca buku Marx dan Lenin lho. Bukankah ini bisa jadi semacam peringatan keras bagi mahasiswa sok kiri era SBY: pernahkah membaca buku Marx atau Lenin?

Gie adalah humanis! Ia orang pertama yang mengutuk perlakuan rezim Orba terhadap tahanan PKI. Divisualkan dalam filem GIE, gara-gara menulis artikel tentang pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan PKI ia hampir ditabrak mobil dan mendapat ancaman via selarik kertas: Tjina + PKI = Mati.

Seputar pembunuhan massal ini pula yang dikupas oleh Komisioner Komisi Hak Asasi Manusia, Yosep Adi Prasetyo alias Stanley. Sekedar catatan, sosok Stanley sendiri, disebut oleh Aris Santoso (aktivis UI 1980an) seolah-olah sebagai ”reinkarnasi” Hok-gie (hal. 322). Sama-sama suka naik gunung, peranakan Cina dan aktivis mahasiswa. Bedanya, Stanley tidak mati muda.

Stanley, menyumbangkan tulisan yang amat panjang (pakai catatan kaki segala dan mengutip beralinea-alinea karangan Hok-gie) buat buku ini. Stanley menulis bahwa pilihan Hok-gie ”betul-betul berlawanan dengan pandangan arus utama kala itu” (hal.348) dalam membela hukum, keadilan dan kemanusiaan.

Di saat ”histeria anti-komunis” menjadi-jadi kala itu, Hok-gie melalui tulisan ”Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali” mengecam tindakan penguasa yang tidak berperikemanusiaan.terhadap anggota dan simpatisan PKI. Padahal, ingat, Hok-gie bukan komunis.

Stanley juga menyentil pemikiran Hok-gie seputar sikap terhadap pelarangan buku. Setelah rezim Soekarno runtuh dan rezim Soeharto berdiri, terjadi pelarangan buku. Hok-gie, lagi-lagi, tampil sebagai pengkritik ”penguasa” universitas khususnya, ketika buku HB Jassin, Mochtar Lubis dan Pramoedya dilarang. Hok-gie menulisnya sebagai: takut akan kebebasan mimbar di universitas (hal.368).

Melalui artikel Hok-gie ”Mimpi-mimpi Terakhir Seorang Mahasiswa Tua” yang dikutip Stanley, kita jadi tahu bahwa seorang pemuda Tionghoa pada tahun segitu telah memimpikan ”bahwa di masa depan universitas –universitas akan mendapatkan kebebasan mimbarnya kembali. Dan mahasiswa-mahasiswanya merasa bahwa kebebasan mimbar adalah sesuatu yang fundamental bagi hidup mereka di dalam kampus” (hal. 368).

Mimpi Hok-gie agaknya telah terwujud sekarang. Meski masih ada pelarangan buku oleh Kejasaan Agung. Kebebasan mimbar tersedia di kampus. Di rak perpustakaan yang kesepian kita dapat menemukan buku karya HB Jassin, Pramoedya, Mochtar Lubis bahkan Marx. Namun, agaknya, mahasiswa tahun 2010 tidak begitu merasa (karena tidak peduli?) akan kebebasan mimbar adalah fundamental. Buku belum sukses sebagai bahan pembicaraan di kampus. Kenapa ya?

Hok-gie dan karya ilmiah
Adalah Mona Lohanda, bekas mahasiswi Hok-gie, yang kini bekerja di Arsip Nasional RI yang bercerita tentang Hok-gie dan karya ilmiahnya yakni skripsi Simpang Kiri dari Sebuah Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun September 1948 yang telah dibukukan (diterbitkan oleh Penerbit Bentang).

Menurut Prof Harsja Bachtiar, seperti dikutip Mona, Hok-gie tidak dapat dianggap sebagai ahli sejarah yang baik. Mona menjabarkan beberapa catatan. Pertama, dalam membuat karya akademik Hok-gie kurang teliti dan tidak mau berpayah-payah menjelaskan latar belakang (hal. 396).

Kedua, Hok-gie tidak mau berpayah-payah mencantumkan tanggal-tahun secara lengkap. Padahal, menurut Mona, hal tersebut merupakan hukum wajib bagi tulisan sejarah (hal. 397). Mona juga menganggap bahwa kalimat dalam karya akademik Hok-gie singkat dan pendek, melompat-lompat dan seringkali tidak cukup untuk menjelaskan suatu konsep (hal 397).

Tidak hanya itu, Mona juga sedikit banyak mengkritik penyuntingan atas skripsi Hok-gie yang dijadikan buku dan diterbitkan hingga dua cetakan. Ia mencatat bahwa penyuntingan hanya penggantian ejaan atau dan menghilangkan atau mengganti kata ”daripada” yang sering dipakai Hok-gie.

Pada akhirnya
Buku ini ditutup dengan bagian yang berisi karangan-karangan Hok-gie baik yang telah diterbitkan Kompas, Sinar Harapan, Bara Eka, Mahasiswa Indonesia atau dokumentasi sang abang, Arief. Seperti Rudy Badil bilang, Hok-gie mengarang di kamarnya yang bernyamuk dan bersinar lampu suram.

Hok-gie bukan mahasiswa yang menulis politik melulu. Dalam buku ini, dapat kita lihat Hok-gie juga gemar menulis agama, sejarah, kehidupan perguruan tinggi, catatan perjalanan ke gunung atau ke luar negeri. Misalnya, ”Sebuah Generasi yang Kecewa” (hal.498-501).

Hok-gie menceritakan pengalamannya di Amerika Serikat dan berkenalan dengan seorang mahasiswa dekil dan berdaki asal Georgia. Mahasiswa tersebut berasal dari keluarga berada. Namun, ia ”memberontak” terhadap nilai-nilai lama. Hok-gie mengawali karangannya dengan contoh kedekilan mahasiswa kaya untuk menjelaskan proses dehumanisasi yang berlangsung di negeri Om Sam kala itu.

Atau karangan Hok-gie yang tidak diterbitkan media massa semisal ”Hippies, Peace and Love” (hal. 498-501). Hok-gie merekam suatu fenomena, yang dalam istilah ironis hari ini: komersialisasi atas orang-orang yang menolak komersialisasi.

Ketika ke San Fransisco, Hok-gie mengamati kaum hippies Amerika. Tempat tinggal hippies menjadi tujuan tur piknik dan menjadikan hippies sebagai tontonan. Tulis Hok-gie, ”mereka akhirnya menjadi objek cari uang oleh kapitalis-kapitalis”.

Ya, pada akhirnya setelah membaca karangan Hok-gie dan tentang Hok-gie dalam buku ini dapat dikatakan dia adalah mahasiswa yang mempesona. Sosoknya hadir sebagai manusia merdeka yang senantiasa berpikir, berjuang dan menulis terus. Mungkin ia membuat iri mahasiswa yang ingin terus berjuang tapi mudah capek, sakit atau didera persoalan pribadi yang tak ada habis-habisnya.

Ia pernah bertanya kepada dirinya sendiri, ”Siapakah saya?” (lihat hal. 461) dan Hok-gie jawab:

”Saya adalah seorang mahasiswa. Sebagai mahasiswa saya tak boleh mengingkari ujud saya. Sebagai pemuda yang masih belajar dan mempunyai banyak cita-cita, saya harus bertindak sesuai dengan wujud tadi.”

Saat dan setelah membaca buku ini, suatu pertanyaan muncul pelan-pelan: apa sih tujuan hidup Hok-gie sehingga ia bertingkah sedemikian rupa? Entahlah, apakah puisi yang ia tulis pada 11 November 1969 (hal. 170) menyimpan secuil jawaban:

Tapi aku ingin mati di sisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.

5 thoughts on “Tak Satupun Setan yang Tahu”

  1. Pingback: Tak Satupun Setan yang Tahu « yodie hardiyan
  2. Trackback: Tak Satupun Setan yang Tahu « yodie hardiyan
  3. Pingback: Buku, Pesta, Cinta | Scientiarum
  4. Trackback: Buku, Pesta, Cinta | Scientiarum
  5. melly frizha says:

    buku biografi nya da yang bisa didownload gratis ga…
    soalnya dimedan produknya da sulit dicari

  6. Satria Anandita says:

    Melly, rasanya tidak ada buku elektronik gratis yang Anda cari. Kalau Anda mau, Anda bisa memesan buku ini lewat toko buku online seperti bukabuku.com, bukukita.com, dan sebagainya.

  7. Khansa Maria says:

    di buku Sekali Lagi… ada tulisan Gie yang judulnya “Di sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali” ga yah?
    lagi cari tulisan itu..:)
    thx..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *