Siapa Mau Fakultas Filsafat?

Browse By

Begini-begini, Universitas Kristen Satya Wacana punya Fakultas Filsafat tahun 1970an. Media Jawa Timur bilang UKSW tempat mendalami induk ilmu.

Rektor Kedua UKSW Dr Sutarno sudah sepuh. Ia masih giat di usia 76 tahun. “Ya nulis-nulis, ceramah-ceramah,” kata Sutarno tentang kegiatan sehari-hari. Agaknya jarang yang tahu, selain pernah memimpin redaksi Harian Suara Pembaruan, Sutarno pernah jadi Wakil Dekan Fakultas Filsafat UKSW.

Ditemui di kediamannya yang asri di daerah Kemiri, Salatiga, pada pertengahan Februari 2010, Sutarno sulit mengingat banyak hal tentang Fakultas Filsafat di UKSW. Maklum, tiga puluh tahun lebih berlalu. Sedikit yang ia ingat adalah seputar tujuan pendirian fakultas filsafat.

”Berdasarkan keyakinan bahwa filsafat penting bagi perkembangan segala ilmu,” kata Sutarno, yang pada 1980an bersama Dr Arief Budiman menjadikan UKSW perguruan tinggi swasta pertama Indonesia yang punya Program Pasca Sarjana, ”Setiap bidang (ilmu) punya dasar dan pergumulan.”

Rektor Pertama UKSW Dr O. Notohamidjojo, kenang Sutarno, punya hobi filsafat khususnya filsafat hukum. ”Ilmu filsafat itu kebanggaannya Pak Noto,” kata Sutarno. Notohamidjojo pula sang Dekan Fakultas Filsafat UKSW saat itu. Tentang jabatan ini tercatat di buku kumpulan karangan dan pidato O. Notohamidjojo Kreativitas yang Bertanggungjawab (1973).

Kapan fakultas ini berdiri? Sutarno sulit mengingat. Ia menduga kelahirannya sebelum Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, mulai aktif pada 1969. Seingat Sutarno, beberapa pengajar berasal dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, salah satunya Prof Notonegoro.

Dari buku Kreativitas yang Bertanggungjawab (buku ini dicetak ulang tahun 1993, tapi beberapa bagian buku dihilangkan, termasuk informasi mengenai nama dan jumlah lulusan UKSW awal tahun 1970an) diketahui tidak ada seorangpun mahasiswi di Fakultas Filsafat UKSW. Jumlah mahasiswanya kalah dari fakultas lain.

Berapa lulusannya? Dalam buku Peringatan 20 Tahun Universitas dan Ikip Kristen Satya Wacana (1976) tercatat hanya ada tiga sarjana filsafat yakni Usadi Wirjotenojo, Sunarso Hardjosuwarno yang lulus 26 Mei 1972 dan Pieter B Mboeik (lulus 23 Maret 1973). Usadi seorang penulis, pengajar dan pengaransir ”Mars Satya Wacana”.

Penulis Sumbada mengisahkan sejarah mars yang biasa dinyanyikan saat upacara resmi penyambutan mahasiswa baru itu dalam memoar Nyuwito Pak Noto (1993). ”Bersama dengan Pak Noto, disusunlah liriknya, baris demi baris, sedang aransemen musik, ditangani seorang mahasiswa berjiwa seni yang tengah menyelesaikan studi sarjana Fakultas Filsafat UKSW, Usadi Wirjotenojo,” tulis Sumbada.

Menurut putra pertama Usadi, Agastya Rama Listya, ayahnya adalah ”anak kesayangan” Dr S. Roojen, salah seorang pengajar filsafat di Satya Wacana saat itu. ”Saya nggak tanya banyak tentang fakultas filsafat ke bapak, sayangnya,” kata Kelik, panggilan akrab Agastya, yang merupakan manajer promosi di Biro Promosi dan Hubungan Luar UKSW. Usadi, ujar Kelik, sebelum di Fakultas Filsafat UKSW telah studi di UGM.

Sutarno tidak ingat mengapa fakultas langka ini ditutup. Ia menerka dua penyebab. Sepi peminat dan larangan pemerintah. Seingat Sutarno, Fakultas Filsafat UKSW yang menghasilkan ”sarjana lengkap” kala itu setara dengan magister. Lalu pemerintah melarang karena UKSW dianggap belum mampu menyelenggarakan program magister.

***

Satu per satu penjurusan, program studi dan fakultas dihadirkan di UKSW sepuluh tahun belakangan. Misalnya, penjurusan Kewirausahaan (di Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis), program studi Komunikasi (di Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi), Fakultas Teknologi Informasi, Fakultas….

Eh, apa dalam masa kepempimpinan Rektor Prof John Titaley sekarang ada kemungkinan berdirinya (lagi) Fakultas Filsafat di UKSW? Titaley balik bertanya. Siapa yang mau mendirikan? ”You,” kata Titaley, ”butuh enam magister filsafat paling sedikit.”

Pada SK Dirjen Dikti No 108/DIKTI/Kep/2001 tentang Pedoman Pembukaan Program Studi atau Jurusan memang disebutkan adanya syarat minimal enam dosen tetap ”dengan latar belakang pendidikan sama/sesuai dengan program studi yang diselenggarakan dan dengan kualifikasi yang memenuhi syarat.”

Syarat mengajar di program sarjana, dosen nggak boleh Strata 1 tapi Strata 2 atau magister. Syarat ini ditegaskan Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Menteri N0 42 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Dosen.

Titaley lalu bertanya siapa yang mau masuk fakultas filsafat? Kerja apa nanti kalau lulus? ”Hanya orang-orang istimewa yang mau,” kata Titaley yang ditemui di kantornya pada suatu sore Februari yang basah.

Pertimbangan pendirian fakultas (di UKSW) apa sih?

Menurut Titaley apabila pendirian tersebut ikut berkontribusi terhadap visi misi UKSW. ”Dan dia bisa menjawab kebutuhan masyarakat,” lanjutnya. Berarti secara tidak langsung fakultas filsafat itu belum bisa menjawab kebutuhan masyarakat atau … ”Tidak dibutuhkan lagi,” sambung Titaley.

Dalam esai ”Filsafat: Musuh Tak Terdamaikan Fundamentalisme” (Basis, September-Oktober 2009) Franz Magnis-Suseno mengungkapkan keheranannya bahwa hanya ada dua universitas negeri dan tak satu pun universitas swasta, kecuali universitas Katolik dan Universitas/Institut Islam Negeri di bawah Departemen Agama yang punya program studi filsafat.

Misalnya, Fakultas Filsafat di UGM (berdiri 1967); Departemen Filsafat di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Jakarta; Universitas Katolik Parahyangan, Bandung dan Fakultas Filsafat yang baru saja didirikan Oktober 2009 di Universitas Katolik Widya Mandala (UWM), Surabaya.

Portal berita Jawa Timur Surya 12 Januari 2010 memberitakan tentang UWM yang menyasar kalangan profesional buat belajar filsafat. Tertulis di media itu: ”Dengan adanya fakultas filsafat di Surabaya ini, warga Surabaya yang ingin mendalami induk ilmu ini tak perlu ke Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana (Malang), UGM, Universitas Kristen Satya Wacana, Sekolah Tinggi Filsafat Dryarkara, Universitas Indonesia, Universitas Parahyangan.”

Boro-boro program studi atau fakultas filsafat. Matakuliah ”Filsafat” di FEB UKSW saja, misalnya, sudah ditiadakan. Menurut Dekan FEB Hari Sunarto, terdapat perubahan jumlah satuan kredit semester (SKS) Matakuliah Dasar Universitas dari 10 menjadi 15 SKS. Sehingga ada matakuliah yang harus dikorbankan untuk penyesuaian. Dan di FEB korbannya matakuliah ”Filsafat”!

”Kita kan adjustment kurikulum kan sering,” kata Hari. Pengajar Filsafat UKSW Yesaya Sandang menyayangkan hal tersebut.

”Salah satu alasan matakuliah dasar umum diadakan untuk menghindari jebakan spesialisasi. Spesialisasi ilmu yang mengkrangkeng peserta didik dalam satu kerangka berpikir yang sempit. Saya kira filsafat seharusnya diletakkan dalam frame itu, memfasilitasi perluasan paradigma keilmuan,” kata Yesaya.

Menurut Franz Magnis di esainya, tanpa filsafat intelectual excellence sulit tercapai dalam lingkungan perguruan tinggi. ”Tanpa filsafat,” tulis Franz, ”kemajuan bangsa secara akademis akan stagnan (yang mudah dapat dilihat di Indonesia). Program studi filsafat adalah garam di antara ilmu-ilmu karena mendukung pemikiran kritis dan mendalam, yang tidak puas dengan sepintas kelihatan bermanfaat, dan tidak tercaplok oleh pragmatisme.”

Bagaimana dengan UKSW? Yesaya mengira, apabila fakultas filsafat adalah kemuskilan hari-hari ini, perlu dipikirkan suatu ”unit” di Pusat Matakuliah Dasar Universitas (PMDU). ”Semacam departemen humaniora atau departemen filsafat, namanya apapun itu lah. Tapi yang saya kira filsafat diberi porsi lebih di sana,” ujar Yesaya yang merupakan lulusan Filsafat UI.

Buat apa?

”Bisa jadi jembatan penghubung,” kata Yesaya, misalnya, antara fakultas ekonomi dengan fakultas hukum. Menurutnya, semacam think-tank yang mengartikulasi perkembangan-perkembangan yang ada lalu direfleksikan, diolah, untuk menghasilkan terobosan baru….

Nah, siapa tahu Fakultas Filsafat di UKSW cuma mati suri. Sambil nunggu bangkit dari kematisurian, barangkali ”Unit Filsafat” bukan ide buruk. Halo, siapa tertarik bikin dan dukung?

21 thoughts on “Siapa Mau Fakultas Filsafat?”

  1. Voltaire Talo says:

    mantap…… 🙂

  2. Pingback: Siapa Mau Fakultas Filsafat « yodie hardiyan
  3. Trackback: Siapa Mau Fakultas Filsafat « yodie hardiyan
  4. saam fredy says:

    hhhmmmmmmm……

    ……….Syarat mengajar di program sarjana, dosen nggak boleh Strata 1 tapi Strata 2 atau magister. Syarat ini ditegaskan Undang-undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Menteri N0 42 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Dosen………

  5. Yulius says:

    Seringkali filsafat disalah (disalah-salahkan) artikan sebagai ilmu yang berbicara “di awang-awang”. Saking “tinggi”nya, hingga tidak mampu menyentuh persoalan praktis dan pergumulan manusia. Saya sangat menyayangkan pengertian (praktek) ini masih terus berlangsung, termasuk di UKSW. Ada baiknya ditinjau ulang “pengorbanan” MK filsafat dalam kurikulum di UKSW. Satu lagi, ada fakultas yang jelas-jelas memiliki pergumulan tentang manusia, tapi tidak mempunyai MK filsafat manusia..ck.ck….

  6. STR says:

    Saya agak nggak percaya kalo John Titaley bilang filsafat gak dibutuhkan lagi. Secara dia pendeta gitu lho. Bukannya teologi itu dekat banget sama filsafat, ya? Mungkin John sendiri, karena udah jago, udah gak butuh lagi (pelajaran) filsafat. Tapi kalo sampai dia bilang bahwa filsafat gak bisa menjawab kebutuhan masyarakat, saya mau ketawa aja. Hahahahahahahahahahahaha.

  7. surya says:

    Ya setujuu….
    Kalau Filsafat dibuka lagi…jujur selama berkuliah di FEB saya belum mendapatkan ilmu filsafat secara mendalam, padahal pada implementasi kehidupan sehari-hari saya rasa filsafat cukup berperan bagi hidup saya pribadi. Saya dukung ilmu filsafat di FEB kembali dibuka. hehe… ^_^

  8. Adinandra says:

    lekat dengan bayangan dari kehidupan nyata.. ada filsafat maka ada juga kenyataanya.. tapi kadang sebatas paradox yang serasa ujung atau finalnya masih bisa rancu.. lebih baik fakultas filsafat kembali diadakan.. dan lulusannya dipasok untuk enginnering faculty seperti Elektro dan Informatika.. sepertinya kemampuan berpikir filsafat untuk bijaksana dalam mencari solusi dan pengembangan fantasi menjadi sebuah realita yang abstrak dan logis menjadi masih belum banyak dimiliki di fakultas teknik.. tapi semoga filsafatnya tidak membuat kami menjadi kafir, serasa ilmu tanpa batas maka kemampuan pun tanpa batas.. hhe becanda, manusia hanya imago dei.. \

  9. Kumas Setyo Hadi Putri says:

    Bapak bapak sekalian, sebelum berfilsafat ria, mari jawab pertanyaan anak kecil ini… Saya sering mendengar kata Filsfat atau berfilsafat. Saya tau maksud dari kata filsafat. TApi saya nggak bisa juga mengartikan dan memahami filsafat. YAng diajarkan di Fiskom, yang saya lihat adalah Filsafat jawa. Bikin orang semakin pusing dengan istilah2nya. apa sebenernya filsafat itu memang dipenuhi dengan istilah2 yang asing dikuping anak kecil seperti saya? kasian ya orang luar jawa yang ambil mata kuliah filsafat di fiskom… Filsafat tu SEBENARNYA apa tho????

  10. Yulius says:

    Bung Yes, ada komentar?

  11. ftje99 says:

    Kalau nda salah, sekitar thn 2004, ada mata kuliah filsafat di elektro. Nggak tau kalau sekarang

  12. bagus says:

    Di Fiskom mata kuliah Filsafat menjadi matakuliah wajib..
    apabila di UKSW akan ada Fakultas filsafat saya sangat mendukungnnya

  13. Neil says:

    Trims mas Yodie atas gelitikannya. Saya kira menarik untuk dipikirkan lebih jauh tentang keberadaan kajian filsafat di UKSW. Kalau lihat2 pergumulan konsep jatidiri UKSW, rasanya kita butuh diterangi oleh kajian ini. Satya Wacana rasanya tidak cukup hanya melihat realitas sekeliling dan dirinya terjadi begitu saja, mungkin tidak cukup juga mengkajinya secara teknis keilmuan di masing-masing disiplin, tetapi perlu untuk merenungkan berbagai hal itu dengan selalu bertanya mengapa, atau untuk apa. Tentu pertanyaan mengapa dan pencarian akan apa yang “seharusnya” atau lebih baik dari yang ada bisa saja dijawab dalam setiap ranah keilmuan, tetapi setiap upaya kita untuk masuk bertanya mengapa pada titik2 tertentu kita memasuki domain filsafat, walau itupun bisa dijawab dari dalam kajian filsafat di masing2 domain keilmuan, walau ini pun saya kira kita masih sangat kurang di UKSW. Namun, terlebih dari itu, ruang pergumulan Satya Wacana adalah juga bagaimana “mengatasi” perangkap keilmuan yang sempit. Satya Wacana selalu ingin bertanya tentang relasi-relasi ilmu pengetahuan ( – realitas/fenomena sosial/alam) – iman kristen. Dan, implikasinya di sana adalah, setuju bung Yulius, ya bertanya2 di ruang filsafat, misalnya siapa kita manusia, untuk apa kita ada, sedang bikin apa kita ini, mengapa ini yang kita lakukan, dan berbagai pertanyaan yang bersifat perenungan kembali atas realitas2 yang ada dan membangun ulang konsepsi diri dan akan realitas. Jadi, rumpun2 ilmu yang kait-mengait mengkaji tentang manusia membutuhkan penerangan filsafat seputar manusia, sosial, atau apalah yang lain.

    Namun, concern pak John saya kira soal menyediakan satu program studi atau fakultas perlu kita pertimbangkan, karena implikasinya tidak kecil, sekedar dibutuhkannya kajian keilmuan itu pada dimensi tertentu. Saya lalu pikir ya mari saja mulai dari yang paling kecil. Untuk itu, saya tidak tahu bagaimana keberadaan tim pengajar mata kuliah filsafat. Atau, seperti dikatakan Yesaya, soal pusat mata kuliah dasar umum atau dulu disebut departemen matakuliah umum (DMU). Saya pernah terlibat dalam tim yang membahas eksistensi unit ini, walau jarang ikut rapatnya karena pergi ke sana ke mari he he he.., tetapi saya kira usulannya ya membentuk unit seperti yang diusulkan Yes. Mohon maaf kalau saya keliru atau barangkali terjadi pergeseran pemahaman dan keputusan akhirnya. Saya sendiri preferred itu dinamai DMU, berposisi selayaknya sebuah progdi dan keberadaannya bukan sekedar provide mata kuliah DU, tetapi memfasilitasi kajian2 interdisipliner melalui berbagai bentuk aktivitas akademik. Kalau melihatnya seperti itu, mungkin usulan Yes menjadikannya sebuah pusat ya oke saja.

    Anyway, ini cuma pandangan pribadi. Selamat menggumuli gelitikan pemikiran Yodie ini. Salam dari Birmingham.

  14. Febri says:

    @STR: Setuju denganmu

  15. santoso susanto says:

    Sayang bener ya klo hal-hal filsafati menjadi terabaikan shg di UKSWpun menjadi tersingkirkan. Padahal perlu disadari, rambu-rambu spt seorang filsuf seharusnya menjadi dasar kepemimpinan.

    Hal ini pula yg ditunjukkan oleh fenomena kepemimpinan di UKSW. Banyak pejabat berperilaku seperti juragan, fakultas dianggap tempat setor muka saja..contohnya FSM. Dekannya mengabaikan pentingnya rapat fakultas, sepertinya kegiatan di luar (pengurus Bethany?) adalah segala-galanya. Sebegitu mahalnyakah waktu dekan FSM untuk bertatap muka dgn anak buah di rapat fakultas? Jangan-jangan posisi dekan yg dikejarnya dgn mengerahkan semua pegawai tmsk cleaning service hanya untuk menutupi kekecewaannya krn diturunkan dr kepengurusan yayasan gereja asalnya?

    Cepat sadarlah bu, sebelum semuanya terlambat. Apa perlu didemo mhs untuk meruntuhkan kepemilikan atas FSM? Apa perlu likuidasi fakultas yg tdk pernah ibu hargai tingkatannya?

    Smoga ibu cepat sadar menjadi ibu atas semua jurusan di FSM, bukan hanya menganak emaskan jurusan kimia. Sekarang bukalah mata ibu.

    Terimakasih.

  16. Ricko says:

    @ftje99: sampai saya kuliah tahun 2008 dengan kurikulum elektro 2005 masih ada koq mku filsafat…
    tapi di kurikulum baru 2008 sudah di konversi jadi ilmu alamiah dasar…
    tapi toh pas saya ambil mku filsafat kayak bukan filsafat aja (temen2 elektro juga setuju) yang ada cuma teori2 membosankan tentang ilmu filsafat n guyon2 gak jelas…(padahal dosennya kalo gak salah bergelar doctor…)

    @adinandra: hahaha aduh kalo mau masuk elektro harus lewat seleksi filsafat (apalagi fak filsafat) susah mas…
    toh kita di elektro belajarnya ilmu pasti yang langsung praktisial…
    bukan lagi mengawang-awang mengapa ada listrik, mengapa ada resistor, bla-bla-bla… bakalan gak selesai2 kuliahnya…
    saya rasa filsafat itu penting tapi tidak perlu ditekankan sampai harus didirikan sebuah fakultas filsafat…
    kalau memang dirasa gak penting ya gak usah aja,,,
    saya setuju ma pak JT,,
    secara mungkin memang belum dibutuhkan…
    setuju juga dengan pertanyaan mbak Kumas: memang apa itu filsafat???
    wong kata filsafat aja bisa diterjemahin beda-beda…
    saya saja selama hidup tidak terlalu mempermaslahkan harus berfilsafat ato gak… lha gak ada ukuran ini masuk filsafat apa gak…
    hahahahahahaha…

  17. Neil says:

    Satria, Febri, friends

    Apa yang disetujui Febri?

    Saya kok merasa ada penangkapan yang nggak pas. Coba diperhatikan baik-baik pernyataannya, apakah pak JT mengatakan ilmu/kajian filsafat tidak dibutuhkan? Saya kira tidak. Yang ditanya penulis adalah tentang fakultasnya, bukan filsafat itu sendiri. Namun, boleh saja kita berbeda inti penilaian/kalkulasi dengan pak JT soal apakah juga fakultas filsafat dibutuhkan atau tidak, namun dalam hal penilaian Satria bahwa pak JT mengatakan ilmu/kajian filsafat tidak dibutuhkan masyarakat, saya rasa ada “salah baca”.

    Coba kawan-kawan lakukan pencarian informasi bagaimana kondisi kekinian minat masuk fakultas filsafat, untuk lebih jauh kita soal jawab eksistensi sebuah fakultas filsafat. Kondisi kekinian pun (supply dan demand baik di sektor input maupun output yang terbatas), tentu tidak bisa dibaca stagnan terus, siapa tahu ada swing kebutuhan dalam masyarakat di waktu yang akan datang. Namun, ini artinya para pegiat ilmu filsafat perlu melakukan sesuatu untuk menggiring trend pragmatisnya (pragmatisme pun sebuah aliran filsafat) ke arah masyarakat yang lebih reflektif, atau ya menjadi sumber pemahaman mengapa dan apa implikasi dari fenomena masyarakat pragmatis yang kebablasan. Ini cuma berandai2 saja.

    Bagi saya, filsafat pada hakekatnya adalah rasa atau sikap cinta akan ilmu pengetahuan yang didasari kuat oleh semangat bertanya dan mencari tahu. Memang sebagai ilmu, filsafat sudah punya “platforms” yang kokoh dan harus menjadi makanan mereka yang menggelutinya. Namun, kembali ke pemahaman filsafat sebagai kecintaan akan ilmu pengetuan, kebijaksanaan, supaya orang meminati tradisi dan ilmu filsafat ya dari sononya pendidikan sudah harus membiarkan anak-anak melakukan eksplorasi ilmu pengetahuan, bertanya dan bertanya, bereksperimen, mencari jawab atas banyak hal yang mengganjal di kepalanya. Lha kalau setiap hari anak-anak hanya disuapi informasi ilmu pengetahuan dengan menggunakan sendok emas perak ya kapan jadinya orang akhirnya mencintai ilmu dan kebijaksanaan? Coba kalau ada data, berapa banyak halaman/buku/majalah/koran/etc yang dibaca per orang penduduk di Indonesia? Saya rasa kita ketinggalan jauh dari negara lain. Data Dikti yang ada kan misalnya jumlah publikasi dosen Indonesia yang dibanding sama negara-negara sekelasnya pun kalah, padahal jumlah penduduknya aujubilah.

    Rasanya kita perlu melakukan sesuatu di situ juga, soal membiasakan masyarakat (apalagi mahasiswa) mencari dan mengolah informasi untuk proses konstruksi pengetahuan yang kontinu. Kalau membiarkan masyarakat kita bergerak menjadi, “emangnya gue pikirin” atau generasi “pokoknya”, ya mungkin kebutuhan akan fakultas, bahkan ilmu dan olah filsafat menjadi tetap rendah.

    Untuk di dalam UKSW, mulailah dari yang kecil dulu lah.. Kita tidak bisa bermain sim salabim..

  18. Anglink says:

    Saya Kuliah Filsafat dapat nilai D…
    padahal kata dosen saya yang doktor itu, filsafat adalah dasar dari segala ilmu di dunia.
    n Filsafat adalah dasar berfikir untuk menentukan tujuan kehidupan.
    intinya saya nggak bisa berfikir, nggak punya tujuan hidup dan nggak punya ilmu donk????
    apa filsafat cuma dipelajari dari perkuliahan aja??
    nyatanya saya nggak mudeng apa2 tentang teorinya…
    tapi saya malah mudeng filsafat dari dinamika kehidupan….
    hahahahahahha

  19. heru says:

    filsafat mau diajarkan di kurikulum
    klo hanya seperti yang diomong ricko cuma tatap muka selama di kelas dan mendengar tok,jelas filsafat hanya untuk dapaat aksara saja.Tinggal penyajian mata kuliah yang diramu ciamik sehingga tidak hanya kosong aja dan bisa timbul keingin diskusi dan bertukar pandang saja

  20. Anglink says:

    NB
    sekedar membuat pandangan…
    waktu kami sedang ngobrol, dia cerita…
    Papa saya dulu dosen di UKSW.
    Sembari ngajar, beliau ambil Kuliah di jurusan FILSAFAT UKSW.
    tapi akhirnya jurusan tersebut ditutup karena sepi peminat…
    kasihan dia sudah ambil beberapa semester ehhhhhhhhhh malah ditutup.

  21. steven says:

    mantaaaaaaaaaaaaaaaaap, fakutas filsafat tuh penting…..

  22. Melkianus E. N. Benu says:

    berfilsafat tentunya hrs dimaknai dari terminologinya,,,namun ketika dipahami sebagai kegiatan keilmuan maka sangat membingungkan setiap org yg hrs menjalaninya, secara ilmiah manusia pada hakekatnya memahami sesuatu menggunakan indranya (pikiran secara alami), ilmu lebih mempresentasi manusia untuk berpikir secara motorik untuk memahami sesuatu secara indrawi, namun kalau hanya membawa manusia untuk mengambil tindakan secara transendental maka ilmu itu menyesatkan,,misalnya ayo kita harus ke surga,,,tapi sampai hari ini semua ilmuan belum ada satu pun yang pergi ke surga dan kembali untuk melukiskan secara indrawi kepada manusia,,,sehingga apabila ada rumpun ilmuan yg ingin membawa kehidupan manusia ke dunia transendental itu adalah suatu kesesatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *