Sepeda Sehat Fiskom dan Korem

Browse By

Minggu, 23 Mei 2010, halaman Korem 073/Makutarama dipadati oleh kerumunan orang bersepeda. Mereka ikut serta dalam kegiatan sepeda sehat yang diselenggarakan Gulali Entertainment dari Fiskom UKSW, bekerjasama dengan Korem 073/Makutarama.

Mulai pukul 05.00, peserta sudah mulai berdatangan. Rute diawali dari Korem, kemudian melewati Sembir, Watuagung, Tlogo, Patimura, dan berakhir di Korem lagi. Kegiatan ini diikuti sekitar 300 peserta yang berasal dari klub-klub sepeda di Salatiga maupun umum.

Setelah finish, acara disambung dengan hiburan dan pembagian hadiah. Hadiah bagi peserta tertua didapatkan oleh Pak Hadi yang berusia 82 tahun. Di usia tuanya, ia masih aktif dalam klub sepeda Siki Salatiga.

Menurut Happy Subagyo dari klub Sthel (Sepeda Onthel) Salatiga, kegiatan ini terbilang sukses. Atensi masyarakat cukup besar. Namun, kegiatan ini dirasa kurang publikasi, karena Happy terlambat mengetahui. Hal ini dibenarkan oleh Ariyadi dan Tri Joko yang berasal dari klub Siki (Sikil Kiyeng) Salatiga. “Sangat disayangkan panitia tidak ‘njawil’ klub-klub sepeda di Salatiga, sehingga informasi yang kami dapatkan cukup terlambat. Padahal, jika mereka langsung memberikan tembusan kepada setiap klub sepeda, peserta akan lebih banyak, karena kami dapat mengoordinir tiap-tiap anggota kami untuk ikut serta. Tidak seperti saat ini, mau ikut silahkan, tidak ikut ya monggo,” kata mereka.

Bagian dari matakuliah

Kegiatan ini merupakan bagian dari matakuliah Manajemen Pertunjukan di Program Studi Komunikasi Fiskom UKSW. Menurut Rudy Boas, dosen pengampu matakuliah tersebut, penyelenggaraan kegiatan ini merupakan tugas akhir semester. Beliau beranggapan bahwa mahasiswa tidak hanya belajar teori, namun harus menerapkan ilmu yang diperolehnya keluar di tengah-tengah masyarakat dengan mengadakan program kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat sesuai Tri Fungsi Kota, yaitu pendidikan, pariwisata, dan olahraga.

Kegiatan yang diadakan tidak hanya sepeda sehat, namun juga kuliner, let’s dance, dan lokakarya fotografi. Dengan terjun langsung di lapangan, mahasiswa dapat melihat langsung situasi di lapangan dan mengemas komunikasi dalam acara dengan menarik.

Penilaian tidak hanya dilihat dari banyaknya peserta, kehebohan acara, namun juga menyangkut manajemen keuangan dan promosi. Dari awal, panitia tidak dibekali dana, namun mereka mengumpulkan dari tiap anggota kelompok, usaha dana, maupun mencari sponsor. “Tugas ini sebagai bekal bagi mahasiswa dengan kemampuan me-manage acara, dan kemampuan public relation. Dan menurut saya, acara ini terbilang cukup sukses,” ungkap Rudy Boas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *