Pengganti Kerja Keras

Browse By

Ada seorang penulis yang memulai novelnya dengan sebuah akhir. All endings are also beginnings. We just don’t know it at the time.

Saya ada pada posisi semacam itu kemarin lusa, ketika Willi mengakhiri ceramahnya, dan pergi dari kampus yang senja. Saya bingung. Tidak tahu apa yang mau ditulis dari ceramah seorang Willi Toisuta.

Saya bukan tidak mengerti isi ceramah Willi. Dia bicara soal perkembangan perguruan tinggi di Indonesia. Dia paparkan tinjauan sejarahnya sampai identifikasi peluang dan tantangan di masa depan. Untuk hadapi itu semua, katanya, hanya ada satu cara: mengutamakan kualitas.

Kualitas akademik bisa dicapai dengan dorongan otonomi akademik. Tapi sebagai jaminan agar otonomi itu tidak menyimpang, harus ada akuntabilitas. Itu sebabnya kenapa perguruan tinggi diminta terbuka terhadap lembaga akreditasi. Itu juga latar belakang kenapa sampai ada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Terus ada lagi konsep segitiga akademik (yang sekarang kita kenal sebagai Tridarma Perguruan Tinggi) serta bagaimana menyinergikannya. Pengajaran mendorong riset; riset memperkaya pengajaran; pengetahuan yang didapat dari pengajaran dan riset itu diterapkan sekaligus diuji relevansinya lewat program pengabdian masyarakat.

“Ini bukan hal yang susah,” kata Willi.

Ya, memang. Bicara konsep memang gampang. Tinggal baca buku atau tanya Google, selesai. Kalau masih kurang jelas, bisa dipikir sendiri, atau kalau perlu, bikin konsep sendiri. Yang susah, kan, prakteknya. Dan saya tahu Willi seorang praktisi. Dia pencetus sekaligus mantan sekretaris BAN-PT, juga rektor UKSW dulu sekali. Jadi, ketimbang ceramah konsep berjam-jam, kenapa nggak bagi-bagi pengalaman saja?

Maka saat tiba kesempatan bertanya, saya tanyakanlah semua pengalaman dia yang menurut saya menarik. Cuma sayang, ada terlalu banyak pertanyaan dan terlalu sedikit waktu, dan lebih banyak lagi pertanyaan yang bukan pertanyaan! Akhirnya tak satupun pertanyaan saya terjawab. Jadi memang tidak ada hal menarik yang bisa saya catat.

Apa-apa yang diceramahkan Willi hari itu betul-betul biasa saja. Teman saya juga bilang begitu. Tidak ada istimewanya. Semuanya logis dan sederhana. Masak orang sekaliber Willi ceramahnya begitu? Kalau Anda sempat baca buku 70 Tahun Sang Visioner yang terbit dua tahun lalu, di situ disebut bahwa saking visionernya Willi, kadang orang jadi sulit mengikuti pemikirannya. Selain menggagas BAN-PT, Willi juga aktor intelektual sistem SKS yang kini dipakai se-Indonesia, dan masih banyak lagi.

Kemarin malam, sambil mikir, saya ketemu Anthony di depan kampus. Obrolan saya cuma satu kalau sama orang ini: fotografi. Anthony kasih tunjuk saya beberapa foto aliran “Speakfotoisme” dia yang paling baru dan belum dipajang di Facebook. Ada satu foto belalang lagi hinggap. Anthony ambil fotonya dari belakang punggung si belalang persis. Saya tanya apa artinya.

“Kita nggak bisa jalan bener kalo cuma punya satu kaki,” jawabnya.

Setelah saya perhatikan, ternyata tubuh belalang itu asimetris. Kaki kanannya yang paling belakang nggak ada. Ada lagi foto rambu lalu lintas: tanda dilarang putar balik terus di bawahnya persis ada plang iklan obat kuat. Saya kontan ketawa.

Foto Anthony yang paling saya suka malam itu adalah foto sangkar besi (iron cage) karatan yang diambil menyamping. Karena menyamping, tidak semua area cage terlihat jelas. Area yang letaknya sebelum dan sesudah titik fokus kamera jadi tampak blur. Awalnya saya nggak ngeh apa makna foto itu. Terus Anthony bilang bahwa kadang kita terlalu fokus sama masa lalu dan masa depan yang nggak jelas, lupa sama masa kini yang sebetulnya sudah jelas.

Pemikiran Anthony simpel, tapi bermakna. Beda sama saya yang lebih sering ruwet, tapi ketika ditanya apa artinya malah tidak tahu. Makanya, menginterpretasi foto saja saya susah. Pikiran cenderung lari ke mana-mana. Jadinya malah nggak jelas.

Tidak semua fotografer bisa seperti Anthony. Buktinya, dia termasuk jenis fotografer langka di kampus. Kalau kebanyakan sukanya memfoto model yang cantik-cantik, yang jadi model foto Anthony justru orang-orang di jalan, pasar, panti jompo, SLB, dimanapun. Orang sampai belalang buntung dijadikan model!

Kalau modelnya cewek cantik sih enak karena posenya bisa disuruh-suruh. Momen juga bisa diatur. Kalau belalang buntung? Jelas butuh ekstra sabar, karena Anthony tidak merekayasa pembuntungan itu demi pemotretan. Lagipula, kalau modelnya cewek cakep, wajar kalau fotonya jadi menarik. Apalagi kalau cewek cakepnya telanjang. Itu banyak. Pasaran. Jelas lebih susah bikin iron cage karatan yang sering dicuekin orang jadi sebuah foto menarik yang punya makna, bukan?

Malam itu saya serasa menemukan jawaban. Pemikiran yang simpel, kalau dibarengi dengan konsistensi dan kerja keras, pasti bakal menghasilkan sesuatu yang besar. Seperti Willi, mungkin idenya memang biasa, tapi lebih mungkin lagi jika kerjanya luar biasa. Kalau tidak salah, saya pernah baca tulisan salah satu bekas mahasiswanya tentang dia. Di situ disebutkan kalau Willi punya energi besar untuk memotivasi siapapun. Dan kelihatannya memang, itulah pekerjaan Willi yang sebenarnya: memimpin orang, mengarahkan mereka untuk mengerjakan ide-idenya dengan hati riang. Kalau Anda pernah baca bukunya Dale Carnegie (atau yang sejenis dengan itu), pasti paham maksud saya.

Jadi, kayaknya betul juga kata orang. Tak ada yang menggantikan kerja keras. Kalau si penemu lampu bilang, jenius itu 1 persen inspirasi dan 99 persen kerja keras. Akan jadi tidak jenius ketika komposisinya dibalik. Kebanyakan inspirasi tapi hampir nggak pernah kerja. Jadinya mandul. Tidak produktif. Dan banyak orang seperti itu. Malas kerja keras.

Supaya tidak malas, Anda butuh semangat. Semangat itu baru muncul kalau Anda berurusan dengan sesuatu yang memang Anda sukai, cintai. Makanya, biar nggak malas bekerja (atau belajar), pilih bidang yang betul-betul Anda suka. Steve Jobs juga pernah bilang begitu sama para mahasiswa Stanford yang baru lulus. You’ve got to find what you love!

Sudah nonton filem India yang judulnya 3 Idiots, belum? Saya baru nonton tadi. Di situ dibilang bahwa setiap orang harus dibiarkan memilih kuliah dan pekerjaan yang betul-betul disenanginya. Jadi, kalau si anak maunya jadi fotografer, mestinya orangtua nggak boleh memaksa untuk kuliah insinyur — apalagi teologi, meski dengan alasan bahwa si anak adalah anak nazar dari Tuhan!

Satria Anandita, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi

5 thoughts on “Pengganti Kerja Keras”

  1. kiky amelia says:

    one only word sat, bagus!
    selalu menginspirasi 🙂

  2. STR says:

    @ kiky: Makasih banyak, non. Jadi semangat nulis terus nih! :]

  3. jonq says:

    hahahahah..satria masih aktif nulis.. bagus sat

  4. jonq says:

    lanjutkan menulis

  5. Ricko says:

    like this lah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *