Mengenang Freire

Browse By

Sebulan yang lalu, tepatnya 2 Mei 2010, genap 13 tahun meninggalnya Paulo Freire, seorang tokoh pendidikan kritis terkemuka asal Brasil. Sebagai seorang humanis-revolusioner, Freire mendudukkan hakikat manusia sesuai martabatnya. Ia dikenal sebagai pendidik yang mendudukkan masalah pendidikan sebagai bagian dari proses pembaharuan kebudayaan. Menurut Freire, definisi dari pendidikan klasik perlu ditinjau kembali dalam konteks sosial budaya Dunia Ketiga. Pendidikan seharusnya dilihat sebagai pembebasan.

Melalui pendidikan, manusia sadar hakikat dan martabatnya dalam interaksi dengan lingkungan dan sesamanya. Itu berarti pendidikan mengarahkan manusia untuk peduli lingkungan, budaya, dan martabatnya. Bukan sebaliknya, pendidikan tidak memanusiakan manusia dan justru tercerabut dari lingkungan dan martabatnya.

Setidaknya ada tiga masalah dalam dunia pendidikan kita. Pertama, pendidikan seringkali dipraktikkan sebagai deretan instruksi dari guru kepada murid. Kedua, meminjam istilah Freire, pendidikan diidentikkan dengan bank. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, dan pengetahuan guru ditransfer ke otak murid. Pendidikan bergaya bank pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang dihibahkan oleh mereka yang menganggap dirinya berpengetahuan kepada mereka yang dianggap tidak mempunyai pengetahuan apa-apa. Ketiga, hasil dari model pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya bersikap kritis terhadap zaman.

Pertanyaan kritisnya, mampukah kita menjadikan lembaga pendidikan sebagai sarana interaksi kultural untuk membentuk manusia peduli lingkungan, budaya, dan martabatnya? Makna pendidikan menurut Freire penting untuk direnungkan.

Metode pendidikan yang dikembangkan oleh Freire memang unik. Salah satu yang utama adalah teori konsientisasi (penyadaran), yang diuraikannya dalam buku klasik The Pedagogy of the Oppressed, yang sudah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa termasuk bahasa Indonesia.

Menurut teori konsientisasi itu, seorang pendidik harus menggunakan dialog dan kata-kata kunci yang memiliki makna yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, tugas utama pendidikan sebenarnya mengantar peserta didik menjadi subyek.

Untuk mencapai tujuan ini, meminjam terminologi Agus Nuryatno, proses yang ditempuh harus mengandaikan dua gerakan ganda: meningkatkan kesadaran kritis peserta didik sekaligus berupaya mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung.

Sekolah, sebagai bagian dari sistem pendidikan, adalah tempat persaudaraan dapat dialami, dimana orang dapat berinteraksi tanpa merasa takut satu sama lain dan belajar didasarkan pada pertukaran pengalaman dan gagasan kreatif. Oleh karena itu, bagi mereka yang selesai sekolah, akan mempunyai keinginan yang semakin besar untuk membawa apa yang mereka alami di sekolah ke dunia yang lebih luas. Sekolah bukanlah arena latihan untuk mempersiapkan orang masuk ke dalam kekerasan (gaya bank), tetapi merupakan tempat dimana proses memanusiakan manusia terbangun.

Paulo Freire memandang pendidikan semestinya membentuk manusia yang peka dan sadar sosial. Tindakan “menamai dunia” itu sendiri merupakan wujud dari kesadaran yang akhirnya akan diikuti oleh tindakan untuk memperbaharui dunia agar lebih baik lagi bagi hidup manusia. Dalam pandangan Freire, guru tidak hanya menjadi tenaga pengajar yang memberi instruksi kepada peserta didik, tetapi mereka harus memerankan dirinya sebagai pekerja kultural. Mereka harus sadar, pendidikan mempunyai dua kekuatan sekaligus. Sebagai aksi kultural untuk pembebasan atau sebagai aksi kultural untuk dominasi kekuasaan.

Jika pendidikan dipahami sebagai aksi kultural untuk pembebasan, maka pendidikan tidak bisa dibatasi fungsinya hanya sebatas area pembelajaran di sekolah. Ia harus diperluas perannya dalam menciptakan kehidupan publik yang lebih demokratis. Dengan demikian, harus ada semacam kontekstualisasi pembelajaran di kelas. Teks yang diajarkan di kelas harus dikaitkan kehidupan nyata. Dengan kata lain, harus ada dialektika antara teks dan konteks, teks dan realitas.

Pertanyaannya, apa respon kita? Pertama, kita merasa bahwa hal tersebut terlalu ideal, tidak realistis, terlalu mengada-ada, sehingga sangat sulit dan berat untuk dilaksanakan. Kemungkinan kedua, kita mengakui kebenaran dari apa yang baru saja kita baca dan renungkan, lalu hal itu menggugah kita dan memberikan semangat untuk mulai bertindak, walaupun sadar itu sulit. Nah, kita termasuk dalam kemungkinan yang mana?

Jessica Natalia Landum, mahasiswa Fakultas Bahasa dan Sastra

3 thoughts on “Mengenang Freire”

  1. Neil says:

    Mbak Jessica, tujuan pendidikan nasional memang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kata cerdas ini tampaknya sudah sering dikonotasikan secara sempit, sekedar kompetensi teknis, menguasai teknik keilmuan, atau punya ciri-ciri intelektual tertentu. Anak itu cerdas, itu menyiratkan pengertian tertentu. Saya duga tulisan ini tidak diarahkan ke sana. Terlalu sempit mungkin misi pendidikan yang diusung Freire bilang digiring ke pengertian itu. Bisa beri penjelasan atas hal ini?

  2. gusti says:

    saya kira sdri jessica sudah tepat menangkap gagasan2 Freire dan menuangkannya secara bagus dlm tulisan di atas, bhw tujuan pendidikan adalah utk membantu individu menjadi manusia yg bermartabat, yg mampu membawa diri secara baik dalam realitas sosial maupun kulturalnya, dan mesti aktif dlm upaya2 transformasi/emansipasi sosial-kultural. ide2 humanis, eksistensialis dan marxis/sosialis/emansipatoris yg melatarbelakangi pemikiran Freire cukup terungkap di atas. tp barangkali k neil betul juga bhw istilah “cerdas” itu di indonesia tll sempit makna. maka ada baiknya sdri jessica menjelaskannya lebih dulu…
    lepas dari itu, saya turut senang melihat api ‘episteme’ itu menyala melalui “tenunan” (teks) semacam ini di UKSW, andaikata ia menjadi ‘PRAXIS’ pendidikan juga, maka mungkin akan lebih indah…semoga!

  3. gusti says:

    dari intensi dasar Freire mengenai pedagogy, dan sbgmn sudah dipaparkan oleh sdri jessica, saya kira lebih tepat diberi judul “pendidikan yg memanusiakan/menghumanisasikan” (utk menghindari istilah sempit ‘cerdas’ itu), suatu gagasan yg searah dg visi misi UKSW juga, kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *