Kreativitas Bertanggungjawab

Browse By

Jadi ingat kemarin lusa nonton Metro TV. Ada tayangan dokumenter soal satwa liar di Alpen. Di akhir dokumenter itu ada pemandangan dari atas pegunungan sebagai ending. Bagus sekali. Tahu sendirilah Alpen. Langitnya cerah. Pegunungannya megah. Saljunya sejuk dipandang. Cuma rasanya, ada yang hilang dari pemandangan itu.

Manusia dan peradabannya.

Tidak ada manusia hidup dan tinggal di puncak-puncak pegunungan Alpen. Mungkin itu sebabnya pegunungan itu masih indah sampai sekarang. Saya tidak bisa bayangkan kalau sampai ada kota di atas sana. Saya yakin polusi bakal menciderai keindahan alamnya.

Manusia dan peradabannya. Adakah yang salah dengan mereka?

Tiga tahun yang lalu, saya dan James datang ke satu pantai di Jogja. Pantai itu sepi dan bersih. Tiga tahun berselang, pantai itu makin ramai dan kotor. Sempat muncul guyonan serius di kalangan kami. Makin banyak yang tahu lokasi pantai itu, makin terancam pula kecantikannya.

Jangan tinggalkan apapun selain jejak. Itu peringatan yang saya baca setiap kali naik gunung. Di salah satu sudut kota Denpasar, ada tulisan besar-besar di tembok: “Dilarang buang sampah di sini, kecuali anjing!”

Peringatan-peringatan itu dibikin khusus buat manusia. Tapi entah kenapa, justru binatang macam anjing malah lebih mudeng ketimbang orangnya. Orang-orang masih buang sampah di tempat tembok itu, sedangkan anjing-anjing tidak. Di gunung juga begitu. Yang tidak meninggalkan apapun selain jejak, ya, cuma binatang. Sedangkan manusianya, tetap saja buang sampah di mana-mana.

Kenapa begitu? Jawabnya, ya, karena manusia itu beradab. Karena manusia beradab, makanya ada peradaban. Dan peradaban modern kita hari ini isinya macam-macam. Salah satunya industri. Industri adalah tempat dimana limbah dan sampah berasal. Coba lihat pabrik mi instan. Selain menghasilkan limbah cairan kimia, pabrik ini juga menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar. Enggak ada orang makan mi sekalian sama bungkusnya, kan? Kalau peradaban modern tidak ada, tidak akan ada juga yang namanya bungkus plastik berserakan di gunung, atau pantai.

Terus kenapa peradaban modern bisa sampai ada? Jawabnya jelas, karena ada manusia yang mengadakan. Manusia mengadakan peradaban modern karena sudah tidak puas sama yang pramodern. Kalau dulu orang sudah cukup makan babi guling saja, sekarang orang pinginnya makan babi guling sama mi instan. Dari segi citarasa, mi instan memang kalah telak dari babi guling. Tapi dari segi yang lain, kepraktisan sama keawetan misalnya, tentu mi instan jauh mengungguli babi guling kita. Itu sebabnya pendaki gunung lebih pilih bekal mi instan ketimbang babi guling, kan?

Jadi, semuanya bermula dari keinginan manusia. Ketidakpuasan manusia. Dan manusia memang tidak pernah puas. Selalu ingin lebih. Kalau kebablasan, bisa jadi tamak alias serakah. Nanti kalau mi instan saja sudah tidak cukup buat bekal naik gunung, orang akan mulai cari barang pelengkap atau pengganti yang kira-kira lebih atau sama enaknya. Seperti bubur. Sekarang ada banyak pendaki gunung bawa mi instan sama bubur instan sekaligus. Jadi, di atas gunung sana, ada banyak bungkus plastik bekas mi sama bubur instan berserakan. Dan tidak menutup kemungkinan, setelah baca tulisan ini, orang akan mulai berpikir gimana caranya bikin babi guling instan yang bisa disantap di puncak gunung. Siapa tahu?

Manusia, kan, bisa (nyaris) segalanya. Hal-hal yang dulunya dibilang tidak mungkin sekarang bisa jadi mungkin. Jaman dulu orang pengen bisa terbang. Setelah berpikir dan kerja keras, akhirnya jadilah pesawat terbang. Sekarang ada ungkapan bahwa kalau kita bisa memikirkan sesuatu, suatu saat kita juga pasti bisa mewujudkannya. Einstein bilang, imajinasi kita adalah satu-satunya yang membatasi kemampuan kita, sementara imajinasi itu sendiri belum ditemukan batasnya. Nothing is impossible.

Itu semua bisa terjadi karena manusia punya kreativitas. Tidak akan ada peradaban kalau tidak ada kreativitas. Manusia mencipta pesawat terbang dan babi guling dengan kreativitas. Mi sama bubur instan juga. Sampah-sampah di gunung dan pantai itu semuanya adalah hasil kreativitas manusia.

Nah, saya jadi ingat matakuliah Ilmu Kealaman Dasar semester lalu. Dosen pengampunya seorang doktor kimia lulusan Austria. Dia mendikte saya untuk berpikir bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan paling mulia karena diberi akal budi. Kreativitas. Itulah yang membedakan manusia dari hewan, meski secara taksonomis sama-sama digolongkan ke dalam Animalia.

Supaya tidak berdebat, saya diam saja. Tapi saya pikir enggak juga. Apanya yang mulia, kalau kreativitas manusia saja bikin kerusakan alam di mana-mana? Peradabannya yang bagus dan modern menghasilkan limbah dan sampah. Itu sebabnya McCandless menyebut peradaban itu beracun, sementara para ahli bilang racun itu cuma ekses pembangunan peradaban. Terus kenapa kalau ekses? Dibiarkan saja? Diterima sebagai harga yang harus dibayar untuk sebuah kemajuan? Dan kita tetap meneruskan pembangunan peradaban beracun ini?

Coba baca Kompas edisi Minggu kemarin. Halaman 14. Ada artikel judulnya “Kebohongan Itu Amat Nyata”. Di saat dunia sedang berhadapan dengan bahaya pemanasan global, beberapa negara maju malah kepingin main curang dalam upaya mengatasinya. Mereka mau bayar sejumlah uang untuk pelestarian hutan di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia), agar mereka boleh terus melepas emisi industrinya ke udara. Padahal setelah dihitung-hitung, pengaruh emisi terhadap pemanasan global itu justru lima kali lebih besar ketimbang efek kerusakan hutan.

“Ketimbang mengurangi emisi minimal 30-40 persen pada 2020, negara maju malah menaikkan emisi 8 persen. Hal ini dilakukan dengan melakukan trik kalkulasi pengurangan emisi,” tulis Kompas.

Emisi naik artinya kinerja industri meningkat. Roda perekonomian berputar makin cepat, dan uang mengalir lebih deras. Itulah yang diinginkan negara-negara maju. Tapi siapa tahu waktu keinginan itu tercapai ternyata dunia sudah hancur, karena pemanasan global sudah sedemikian hebat? Kalau dunia sudah hancur, apa artinya uang sedunia?

Inikah kreativitas manusia yang (katanya) ciptaan Tuhan paling mulia? Sangat tidak bertanggungjawab. Apa pentingnya dunia pendidikan jika dikaitkan dengan ini semua? Cukup penting sebenarnya. Itulah kenapa sudah sejak lama tokoh pendidikan macam Notohamidjojo banyak ngomong soal kreativitas yang bertanggungjawab. Pendidikan yang baik harus menghasilkan insan kreatif yang bertanggungjawab. Soalnya kalau tidak bertanggungjawab, itu bukan kreatif lagi namanya, tapi destruktif.

Kalau manusia destruktif terhadap alam, itu artinya manusia sudah destruktif terhadap dirinya sendiri. Soalnya si manusia jadi kehilangan tempat tinggal, kan? Terus mau hidup dimana?

Sebetulnya kalau dipikir-pikir, tanggungjawab manusia kreatif itu tidak ke mana-mana, kok. Tidak kepada Tuhan, dan tidak kepada orang lain. Tanggungjawab paling besar adalah kepada dirinya sendiri. Dan pendidikan kita, di negara-negara maju sekalipun, tidak pernah mengajarkan hal ini.

Satria Anandita, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *