PR III Intervensi Pembekalan LK Raya

Browse By

Pembekalan Lembaga Kemahasiswaan Raya (PLKR), telah selesai dilaksanakan minggu lalu, tepatnya sehari sebelum Belanda kalah dari Spanyol di final Piala Dunia, dengan skor 1-0. PLKR adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas (BPMU) untuk meningkatkan kapasitas fungsionaris LK. Kegiatan ini diorganisasi oleh Badan Pekerja Pembekalan Lembaga Kemahasiswaan Raya yang dibentuk BPMU.

Walaupun kegiatan ini telah selesai, ada masalah yang belum terselesaikan, yaitu mengenai pembatalan pembicara dan dana yang belum cair.

Umbu Rauta, pembicara yang dihubungi oleh Badan Pekerja PLKR—namun sesinya dibatalkan sepihak oleh badan pekerja—tetap datang ke tempat pelaksanaan PLKR di Balairung Universitas karena menurutnya badan pekerja belum memberikan pembatalan resmi. Selain itu, pembatalan tersebut juga bukan keinginan badan pekerja melainkan intervensi pihak luar, yaitu Pembantu Rektor III Yafet YW Rissy, kata Umbu.

Umbu berpendapat bahwa ini adalah tragedi besar bagi UKSW, karena hak sivitas untuk berpendapat, membagi informasi dan kapasitas sebagai senior LK dipasung oleh PR III UKSW.

Umbu memberi pernyataan, “Sebaiknya untuk siapapun pimpinan mahasiswa ke depan harus lebih banyak belajar mekanisme organisasi, terutama lingkungan Lembaga Kemahasiswaan, sehingga tidak menerapkan pola hirarkis dengan pengurus Lembaga Kemahasiswaan, tetapi horisontal atau sebagai teman sekerja.”

Parman Pasanje, Ketua Umum BPMU sekaligus penanggungjawab kegiatan ini, mengatakan bahwa kegiatan ini tidak sejalan dengan arahan PR III, maka dana belum cair. Menurut Parman, PR III melarang kehadiran Umbu Rauta sebagai pembicara dengan alasan tidak seideologi.

Ketua steering committee (SC) Badan Pekerja PLKR, Reima Afluria Widhiyanti, mengakui bahwa mereka memang membatalkan Umbu Rauta sebagai pembicara karena intervensi PR III.

“Pak Yafet mengancam membekukan dana 12 juta untuk PLKR jika kami tetap menggunakan Pak Umbu. Jadi, mau nggak mau kami membatalkan Pak Umbu sebagai pembicara dan menggantinya dengan Om Theofransus sesuai dengan keinginan beliau demi keberlangsungan kegiatan tersebut,” tulis Reima dalam SMS.

“Tidak ada masalah pribadi, saya tidak tahu ideologi apa yang salah,” tutur Umbu. “Ideologi yang saya kembangkan itu visi-misi UKSW. Lima belas tahun di UKSW tidak pernah mendapat teguran, demikian juga saat dipercaya menjadi pimpinan UKSW pada periode lalu.”

Yafet Yosafat Wilben Rissy, adalah Pembantu Rektor III pada periode 2009-2013. Ia adalah lulusan Program Magister Studi Pembangunan UKSW. Jenjang strata satu ditempuhnya di Universitas Nusa Cendana, Kupang, dan strata dua yang kedua diselesaikan di University of Canberra, Australia. Saat diminta tanggapannya terhadap pelaksanann PLKR, ia mengatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik dan tidak ada masalah. Ia menolak memberikan wawancara lebih lanjut dengan alasan sibuk. Namun ia mengatakan bahwa suatu saat bila ada waktu ia akan menghubungi.

36 thoughts on “PR III Intervensi Pembekalan LK Raya”

  1. Yudo Widiyanto says:

    To… SA yang baik…
    Sedikit masukan , bukan dari substansi tapi dari penulisan beritanya..
    Berita ini semestinya lebih dahulu turun karena peristiwa terjadi satu minggu yang lalu (dijelaskan sebelum final piala dunia) . Artinya muncul sebelum aksi demo sabtu tanggal 17 lalu…kalau SA telat, bisa jadi cerita latar belakang munculnya demo tersebut…Jadi jangan mengulang. Ini penting untuk menjaga nilai “kebaruan” berita dan tidak membuat bingung karena peristiwanya melompat-lompat .

    Oh iya..hati-hati apakah ada relevansi isi berita dengan Belanda kalah dari Spanyol 1-0 ? semestinya tidak usah ditulis..
    Penting juga cover both side dan melakukan wawancara bagi semua nara sumber yang berkepentingan, dan berkonflik, kalau berhasil menemui sumber dan dia tidak mau diwawancara kasih kutipan penolakannya, apapun itu..pembacakan juga perlu tahu.

    Sukses maju terus SA, dan jadi media yang kredibel…salam

  2. STR says:

    Mas Yudo yang baik,

    Terimakasih buat sarannya. Tetap ingatkan kami. Salam.

  3. Gabby says:

    hmmmmm…..
    capek komentar soal ini….

    mu ditanya kaya apa juga bapak kita yang maha kuasa itu pasti punya alasan, punya jawaban….

    3 kalimat terakir di alinea terakir…
    kayanya dia sibuk terus ya???
    tapi…
    sibuk kok bisa jagain PLKR 3 hari 2 malam….
    ck…ck…ck….
    sibuk banget emang….

  4. Mr. says:

    Emank “Yang Maha Kuasa” itu “SELALU” sibuk dengan kesibukan’a sendiri….
    sampe2 dana 12 jt untuk PLKR aja di tahan gara2 “KESIBUKAN-nya”…

    Salut buat “Yang Maha Kuasa”

  5. Stanley says:

    Saya prihatin dengan kejadian ini. Dulu UKSW pernah memproklamirkan diri sebagai centre of exellent, pusat dari creative minority. Apa yang terjadi di almamater saya ini tak kondusif bagi adik-aik yang masih di UKSW untuk mengarungi dunia yang lebih luas, lebih luas dari kepentingan di UKSW, lebih luas dari kepentingn individu dosen atau pimpinan kampus.

    Saa berharap ada langkah healing process yang dilakukan oleh pimpinan kampus almamaer saya ini.

    Stanley
    Komnas HAM

  6. Tinta says:

    merinding bacanya, sangaaarrr!!!!
    SEMANGAT kawan2.. 🙂

  7. someone says:

    jadi cuma gara2 uang sungguh disayangkan,,
    tp perlu diingat juga.. itu juga uang mahasiswa..

  8. HCM says:

    Turunkan saja PR III itu, bodoh kali jadi PR III, Sp sih yang jaikan dia PR III? jadi ikutan bodoh juga orang yang kasi kedudukan sama yg bukan alumni UKSW.

  9. Hans Mesa says:

    hahahahahahaha……………..kl yang demo saja di bilang sampah, berarti PR III tempat sampahnya dong..dan yafef rissi adalah bosnya SAMPAH……

    ya namanya juga PEMBANTU jadi Yafet cari aman saja apa yang bilang MAJIKAN..jangan2 tidak seidiologi yang dibilang yafet adalah kata-kata MAJIKANnya lagi……

    Parah kali otak lu yafet……

  10. anot says:

    DUA kali saya mendengar pak PR itu pidato
    DUA kali pula saya sumbat telinga saya pake ipod made in china… hoho
    pertama di kopeng EVALUASI LK
    kedua ya kmaren pas PLKR itu dan isinya pidatonya sama semua KAMBING cup BABI cup ATO apa itu laennya (kan abis itu telinga saya full musik)

    maaf kepada Ketua steering committee (SC) Badan Pekerja PLKR, Reima Afluria Widhiyanti terus terang saya meninggalkan PLKR karena saya rasa gak ada gunanya juga kan PLKR, gak ada gunanya juga satgas yang SOK” memarahi saya karena datang terlambat, gak ada gunanya juga 3 hari mendengarkan pidato pidato ngalor ngidul (kalo yang model simulasi gitu malah efektif seperti hari kedua itu)

    klo ABIS ini ternyata KITA diinjak injak , dianggap sampah!!!
    klo tetap saja ada intervensi pihak luar, yaitu Pembantu Rektor III Yafet YW Rissy

    UJIan besar buat LK UKSW periode2 berikutnya
    MAJU TRUS Perjuangkan hak hak kami

    HIDUP MAHASISWA!!!

  11. Mahasiswa UKSW says:

    PRIII Paling bodoh yang pernah saya temukan…kasian UKSW bayar mahal2 cuman segitu kemampuannya….Turun aja Lu dari PR III…..sok keminteran Bung ga bagus harus realisitislah…..

  12. Pria says:

    Sepertinya beberapa berita yang menyangkut PR III baru2 ini memang memicu emosi mahasiswa. Tapi sebaiknya kita jangan lempar batu sembunyi tangan, kita belum tau tanggapan dari PR III tentang intervensi yang dikabarkan. Kita mahasiswa yang berpendidikan kawan, sebaiknya kita menggunakan kata-kata yang tidak memicu emosi orang lain yang mungkin notabene-nya tidak mengetahui jelas kasus ini tapi jadi terpancing ‘memojokan’ PR III.
    Klo memang kita sudah mengetahui tanggapan PR III dan itu terbukti jelas menyimpang, itu baru kita bertindak baik secara langsung maupun tanggapan2 sperti di atas.

    Salam.

  13. djoko says:

    Setuju teman2…tetap dingin dan jangan emosi.
    Kita tunggu saja tanggapan resmi dari PR III di depan LK.
    Masak nggak berani beri tanggapan langsung?…ya pasti berani to!
    Piss…..

  14. !@#$%^&* says:

    beda ideologi kok gak boleh orang yang aneh, lha wong manusia” yang akan di beri pengarahan saja bisa menyatukan tujuan lha ini…………… sungguh tidak dewasa menurut saya………… jabatan boleh ok tapunya nyali bersaingnya tempe

  15. partisipan says:

    apakah ini yang namanya otoritas di tangan penguasa?

  16. Andri says:

    @ Pria: semoga bukan waria
    Lho ga tahu, ga baca dan ga dengar Intervensi yg dilakukan Yafet di atas ya?
    Jangan Sok menggurui Gitulah: Ajarin dulu itu Kronimu Yafet supya sopan2 klo ngomong, (Pake kacamata baca itu kata2 Yafet). kata2 yg dikeluarin teman2 di atas msh normal2 aja..Jangan dibolak balik PRIA.

  17. Pria says:

    @ Andri : Maaf mas kalau anda tersinggung kata2 saya, mgkn anda menyadari dan itu baik..

    1. Saya tidak menggurui. Saya jg mahasiswa dan saya juga tau betul kasus ini, knp berita ini ada, bahkan lebih tau dari anda!
    2. Saya bukan kroni YR atau kroni siapa pun.
    3. Coba liat berita2 lain ttng PR3, itu namanya komentar biasa?

    Saya cuma kasih saran spy LK ga kebakaran jenggot karna kasus2 ini, liat positifnya donk mas, cari jalan kluarnya jng cuma ngritik doank, smua orang juga emosi, tapi ya emosi pake otak. Skrng brani bilang a,b,c, nanti klo disuruh wawancara YS langsung malah lari, melempem, klasik banget.
    Maksud saya supaya kita jng mudah terprovokasi, hanya itu!

    Salam

  18. anot says:

    @pria:mas pria aja deh kasih usul konkret ke LK….(udah belum)…kan mas pria yang lebih tau ttg masalah ini????

    Hidup mas pria…eh,mahasiswa!!!

  19. Filipus Septian says:

    Sudah-sudah jng berkelamin hahaha. Mungkin sebaiknya kita tunggu saja beliau yang bersangkutan berbicara (baik) atas omongannya ttng sampah itu.
    Soal LK, nanti kan ada Presiden yang baru, nah sampaikan kritik dan saran ke Presiden baru, smoga bisa jadi bahan intropeksi buat LK juga.

    Btw yang saya dengar dari kampanye KETUM SMU kemaren, katanya mahasiswa itu sudah hidup mas dari dulu sampe kapan juga. Sekarang harusnya bangkit, jadi BANGKIT MAHASISWA!!! Hehehe..

  20. Stn says:

    mpe sekarang uangnya blum turun y?????wah dbawa lari kemana tuuu???????????blum jga OMB yg isunya dkorupsi besar2an…..

  21. some one says:

    HIDUP LK,,,,
    SEMANGAT

  22. indra says:

    kejadian intervensi bukan cuma terjadi di aras Universitas, tapi juga terjadi di fakultas..contohnya adalah FTi. pejabat bidang kemahasiswaan mengintervensi hampir 75 % acara makrab 2010 yang akan diselenggarakan oleh FTi di pusat pendidikan latihan akademi militer TNI-AD Bantir – Bandungan. mulai dari menentukan tempat/lokasi makrab, draft acara, bahkan penentuan panitia dan masih banyak lainnya. anehnya si pejabat bukannya ikut membantu pengembangan mahasiswa, malah membatasi kreatifitas mahasiswa makrab.
    =eks panitia makrab 2010=

  23. A.K.A.M says:

    hmmmm….. kok kampus uksw makin beringas ya!???

  24. BEJO says:

    Hidup KAMBING CUP!!
    PR III “YR” Mati Aja!!

  25. si Kecthil says:

    Punya hak apa pejabat itu melakukan banyak perubahan dan pembatasan kreatifitas mahasiswa…..?????

  26. Askar says:

    Sudah saatnya kita menjadi tuan dirumah kita sendiri ….

  27. neil says:

    Rame juga ya…?

    @Askar, apa artinya menjadi tuan di rumah sendiri. Bagi LK secara keseluruhan, apakah berlaku itu? Masa bicara KUKM/SPPM saja mesti manggil bung Umbu, lalu jadinya “berantem” seperti ini? Kalau mau jadi tuan di rumah sendiri, pembicara KUKM/SPPM ya dari LK sendiri dong… Beberapa kali saya (setelah menjadi dosen) menolak ketika diminta berbicara tentang KUKM/SPPM. Saya pernah bersedia, kalau tidak salah di FTI beberapa tahun lalu, hanya untuk menyampaikan link antara visi-misi UKSW dengan SPPM serta asumsi-asumsi di belakang SPPM, yang menurut saya sudah tidak cukup relevan lagi dengan konteks saat ini. Kembali, apakah benar LK sudah mau jadi tuan di rumahnya sendiri?

    Bicara intervensi di LK, wajah politik dalam kehidupan berorganisasi seperti ini bukan barang baru. Namun, kadang LK sendiri merasa welcome atau takut ngomong ketika “diintervensi”. Satu contoh saja, dalam kasus trimester yang lalu pun saya kira ada tuh bau intervensinya. Mahasiswa yang saat itu melakukan demo menolak trimester pun setahu saya membawa gagasan tertulis yang saya tahu sering dilontarkan oleh beberapa kawan dosen. Tapi, saat itu, LK bersikap “welcome” atau tidak memrotes. Masih ada contoh-contoh lain, jika LK sendiri mau kritis menilik pengalaman sejarahnya. LK inkonsistensi? Well, banyak inkonsistensi dalam diri kita di UKSW, jadi mau bilang apa..

    Jika dari kasus terakhir ini benar LK mau lakukan koreksi diri secara menyeluruh dan tampil sebagai mitra strategis dan kritis bagi pimpinan UKSW/Fakultas/Progdi, lakukanlah itu dengan sungguh-sungguh, benar dan baik. Koreksi menyeluruh, jangan sekedar tiba-tiba kebakaran jenggot pada satu dua isu, lalu berteriak lantang seolah-olah telah kehilangan kesempatan untuk berbicara secara kritis dan elegan, memberi masukan dan menyampaikan pendapat kepada siapapun, termasuk khususnya kepada para pemimpin di UKSW. LK punya “hak” untuk menjadi partner yang kritis bagi mereka, privilege mana sudah dijamin oleh konsep seperti “Imago Dei” dan “Universitas magistrorum et scholarium”. Betapa bangganya fungsionaris2 LK UKSW selama ini karena bisa punya jalur komunikasi strategik dengan pimpinan UKSW/Fakultas, bisa punya hak suara dalam rapat Senat Universitas, di saat di universitas lain hak seperti itu tidak/belum ada. Ngobrol dengan rektor di pinggir jalan saja seringkali bukan barang mahal di UKSW. Lalu kok terkesan kini sangat mahal hal seperti itu?

    OK, ini hanya concern saja, terhadap lembaga mana yang pernah membesarkan saya, belajar banyak hal. Jadikanlah lembaga ini tetap sebagai lembaga yang punya roh dan semangat sebagaimana UKSW telah tempatkan posisinya yang strategis itu.

  28. Ferdi says:

    @ Kak Neil : Aku penasaran kak, apa pendapat kakak ketika PR III menanggapi demo kemarin dengan mengatakan “Untuk urusan yang sampah-sampah begitu PR III nggak ada urusan” ??

    Kenapa itu kutanyakan, karena itu terkait dengan statement kakak : “LK tampil sebagai mitra strategis dan kritis bagi pimpinan UKSW/Fakultas/Progdi”.

    Jika ingin menjalin kemitraan yang baik, sudah seyogyanya sikap skeptis dan ego tinggi kita tanggalkan. Apa bisa jalinan kemitra dibangun diatas dasar sikap yang sedari awal sudah seperti itu ?? Terkesan jelas bahwa pak Yafet terkesan takut (parno) terhadap demo kemarin. Jika saja ia mau dengan legowo menemui mahasiswa dan mengajak mereka untuk berdiskusi (di waktu dan tempat yg ditentukan), kupikir masalahnya tidak akan sekelumit ini kak.

    Terkadang sosok pemimpinlah yang harus aktif membuka saluran komunikasi bila terjadi penyumbatan. Toh pak Yafet yang sudah diberi weweng untuk menjabatan sebagai pimpinan mahasiswa (PR III) harusnya mampu untuk mengakomodir suara mahasiswa, jangan malah sebaliknya dengan mengata-ngatai seperti itu. Yang terjadi malah saluran itu semakin tersumbat..

    * Ini hanyalah sedikit krikil dalam diri melihat perkembangan dan situasi UKSW akhir-akhir ini. Jujur aku kurang suka dengan sosok pimpinan yang kurang menjiwai ‘sikap kepemimpinan’ yang baik. Mohon maaf bila ada salah-salah kata dalam penyampaianku ini.

  29. mahasiswa sampah says:

    @neil :
    1) saya rasa pernyataan “tuan di rumah sendiri itu tidak jelas” mengapa demikian : pernyataan ini tidak melihat situasi saat ini di LK. mengapa harus mengundang senior, bahkan pak djumadi yang menjadi pembicara? apabila saudara neil mencari tau terlebih dahulu “mengapa acara PLKR tersebut diadakan” maka saya sendiri akan membuat pernyataan bahwa “pernyataan anda tersebut tidak mendasar dan terlalu sembrono”, karena pernyataan tersebut dengan jelas tidak memperhatikan situasi dan keadaan yang berkembang di dalam Internal LK.
    2)darimana anda tau bahwa LK welcome ketika diintervensi?apakah anda tahu dengan jelas bagaimana hubungan antara LK dan PR 3 selama ini, hingga permasalah ini bisa menyebar ke seluruh kampus? saya rasa sebelum membuat pernyataan bahwa “LK welcome ketika diintervensi” perlu juga melihat keadaan dan situasi yang terjadi, secara menyeluruh, dari semua pihak-pihak yang terlibat. dengan demikian pernyataan yang sembrono tidak akan keluar
    3)masalah yang trisemster, pertanyaannya, maksudnya apakah LK tidak memprotes? atau LK tidak bertindak (dalam hal ini menyampaikan aspirasi mahasiswa)? apabila bertindak, saya rasa LK sudah bertindak, denga membuat suatu kajian tentang pendapat mahasiswa mengenai trisemster, dan di bawa ke rapat senat universitas dan diperjuangkan (walaupun kembali terbatasi dengan amsalah periodesasi), kemudian…bau intervensi seperti apa yang dimaksud?
    4)masalah tentang 2 paragraf terakhir dari saudara neil :
    saya kira koreksi diri penting.tetapi kembali saya sarankan sebelum membuat statement, saya kira saudara perlu melihat sendiri, dan jangan cuma mengandalkan “omongan orang lain” yang bahkan mungkin saja di sebenarnya dia mendapatkan informasi sudah melewati “banyak mulut”. saya kira bukan masalah kita bisa berbicara dengan rektor di pinggir jalan, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana sebenarnya orang yang diluar LK termasuk senior seperti anda bisa melihat masalah dengan lebih baik, lebih jernih, tidak sembrono, seperti yang pernah Lembaga Kemahasiswaan ini pernah ajarkan kepada saudara.
    5)saya cuma ingin bertanya (bukan cuma dalam konteks LK), apakah yang anda rasakan ketika mahasiswa dikatakan “SAMPAH”???????

    yang dapat saya simpulkan buat comment saudara neil :
    1)ada baiknya jangan pernah membuat suatu pernyataan yang tidak mendasar, apalagi pernyataan yang tidak jelas, walaupun bertujuan baik. hal tersebut hanya akan memperkeruh keadaan, dan siapapun yang melakukannya harus ikut bertanggung jawab akan keadaan tersebut.
    2)ada baiknya pula dalam memandang atau menyikapi suatu permasalah, harus mendapatkan atau mencari informasi yang bisa dipercaya, tidak hanya asal dengan hingga, masalah pada point pertama kesimpulan saya, tidak terjadi (dapat diminimalkan)

  30. HCM says:

    @ Bung Neil: menurut Bung Neil, kalo ada orng yang dicekal benar tidak, apalagi alasan tidak seideologi? kalo intervensi sampai menahan dana mahasiswa dan bahkan kegiatan kambing cup Fe dipertanyakan, sementara disetujui di raker dan rakor bagaimana?

  31. junior says:

    g ada hidup LK !!!!
    yg ada hidup MAHASISWA !!!!

  32. neil says:

    Waduh, saya bukan polisi atau lembaga advokasi yang menjadi tempat penampungan “keluhan2..” hehehe… Datangilah kantor Bagian Kemahasiswaan dan tanyakanlah mengapa proposal kegiatan “X” masih kandas, saya kira itu hal yang tidak susah. Kalau tidak ada “keanehan” tentu tidak ada yang berani “tahan” atau kandaskan kegiatan itu. Tidak percaya, coba saja datangi dan minta diselesaikan langsung, pasti beres…

    @ Ferdi, duh kamu bikin susah saya. Saya kira ada 2 asumsi perlu kita pegang terlebih dahulu. Pertama, rasanya seperti penilaian rekan kita, si “Mahasiswa Sampah” (kadang saya gunakan Rekan atau Kawan “Sampah”), saya tidak persis tahu seluruh seluk-beluk peristiwa apa yang benar-benar terjadi dalam kaitan dengan PRLK 2010 yang berujung demonstrasi dan reaksi PR3 itu. Karena itu, permintaan Ferdi untuk saya menilai satu penggalan aksi, dhi. reaksi PR3 saat didemonstrasi, dalam kesatuan peristiwa-peristiwa terkait, bisa mengantar kita tersesat. Yang bertanya (Ferdi) menyampaikan pertanyaan nakal, yang menjawab (kalau sok tahu) jadi ngawur dan akhirnya menyesatkan. Yang mendengar yang tersesat, seperti kata Rekan “Sampah” (menjadi mulut kesekian) akan terus menyesatkan yang lain. Lingkaran tersesat – menyesatkan rasanya sudah terjadi sejak berita ini dimuat, karena berita ini tidak pernah lengkap, yang tahu pun selalu berasumsi orang lain tahu atau menilai orang lain tidak tahu apa-apa (karena posisinya yang lebih tahu itu). Kita semua bereaksi, dengan tidak sedikit yang naik pitam tidak karuan, di atas informasi yang sangat minim untuk memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Jadi, mengikuti bung/non “Sampah” (rekan mahasiswa yang menyembunyikan diri di balik nama samaran, “Mahasiswa Sampah”), saya tidak berpretensi saya tahu benar apa yang terjadi di seputar peristiwa itu. Yang saya tanggapi rasanya bersifat umum, yang saya jadikan dasar adalah apa yang terjadi dalam pengalaman-pengalaman lampau LK, bukan sok tahu peristiwa yang jadi berita, sebuah penilaian yang akhirnya terkesan sembrono dari rekan “Sampah” yang menuding saya demikian (akan saya jelaskan kesembronoan penilaiannya kemudian). Jadi, sudah belajar metodologi kan, berhati-hatilah dengan menganalisis sebuah penggalan peristiwa secara terisolasi dari kaitan2 peristiwa lainnya. Itu sikap atau asumsi yang saya mau tawarkan kita pegang dulu. Jadi, kalau akhirnya saya pun ikutan menilai, tolong pegang relativitas penilaian saya, OK?

    Kedua, jika saya mengangkat “tema” LK adalah partner strategis dan kritis bagi pimpinan lembaga di UKSW, termasuk pimpinan universitas, termasuk PR3, dan kemudian mengajukan sejumlah catatan saya terhadap kondisi yang sudah/sedang terjadi di UKSW, terkait peristiwa dalam berita ini, maka saya mengindikasikan keprihatinan saya atas kondisi buruknya komunikasi dan relasi LK dan PR3. Masa sih yang namanya mitra strategis dan kritis seperti itu? Keprihatinan itu harus saya katakan termasuk berkaitan dengan reaksi sesaat PR3 ketika diperhadapkan dengan peristiwa protes massa mahasiswa/LK terhadap dirinya. Saya menduga kondisi di-protes secara frontal oleh massa seperti itu, membuat orang seperti PR3 pun bisa mengalami kejutan psikologis (apa yang Ferdi istilahkan “Parno”, walau mungkin bukan berarti takut) dan reaksi atas fenomena terkejut secara psikologis ya keluar dalam bentuk pernyataan atau perilaku yang seringkali sulit dimengeri akal sehat. Ambil contoh setara, misalnya orang tiba-tiba diperhadapkan pada fenomena sedih atau senang tiba-tiba, coba tengok apa perilakunya, ia mungkin tampak seperti anak kecil, misalnya menangis meraung-raung tidak terkendali. Fenomena emosi tiba-tiba yang menyerang bisa membuat nalar atau akal sehat kita terbendung dan keluar reaksi yang sulit diterima. Saya harap fenomena itu pula yang terjadi pada PR3, reaksi tidak/kurang terkendali, dan belakangan beliau bisa menyadari bahwa pernyataannya telah menyinggung perasaan sejumlah mahasiswa dan mudah2an beliau menyesal pernah mengucapkan itu.

    Namun, terkait keseluruhan peristiwa yang tidak saya mengerti, saya tidak bisa mengevaluasi atau memberi tanggapan (dan barangkali ya memang tidak perlu, karena yang perlu melakukan itu ya barangkali PR3 bersama LK) atas penggalan reaksi PR3 itu, seperti Ferdi tanyakan. Saya kira hanya sejumlah rekan LK dan PR3 lah yang tahu secara purna apa yang benar-benar terjadi dan karenanya harusnya hanya merekalah yang tahu bagaimana harusnya menyelesaikan masalah itu, dan bukan cuma main “kucing” versus “anjing”. Kita yang lain, termasuk saya, jika buru-buru menilai, bisa terjebak jurang kekeliruan. Namun, banyak rekan yang sudah terlanjur menilai, ya itu hak mereka, toh ini forum bebas kan?

    @Rekan Sampah, tanggapan saya muncul atas pernyataan rekan Askar, “Menjadi tuan di rumahnya sendiri” dan saya bertanya, apakah benar LK mau jadi tuan di rumahnya? Lalu, saya memberi catatan2 saya. Namun, gagah beraninya, rekan “Sampah” menuding saya sembrono, karena alasan saya tidak tahu apa-apa kok menilai. Mungkin Anda benar, karena itu yang pertama yang saya minta adalah, baiklah rekan “Sampah” memberi informasi lengkapnya seperti apa, supaya saya mengerti.

    Btw, saya sendiri sempat mendengar “serpihan informasi” peristiwa “pencekalan pembicara” dari rekan saya bung Umbu Rauta dan kemudian oleh bung Theo Litaay, beberapa waktu sebelum terjadi demonstrasi LK. Kedua kawan ini adalah pihak-pihak yang setahu saya ada di seputar peristiwa itu (bung Umbu adalah pembicara yang dibatalkan PR3, bung Theo adalah pembicara penggantinya. Dari mereka pula saya juga tahu bahwa bung Yesaya adalah pembicara awalnya diminta. CMIIW). Nah, untuk penggalan2 informasi yang saya tahu itu, boleh boleh dikatakan saya terima dari “first hand” informants, orang yang terlibat langsung di acara itu. Namun, rekan “Sampah” yang gagah berani menilai saya mendengar dari pihak “ke sekian (“lewat banyak mulut”) yang sudah mendistorsi dan terdistorsi informasinya. Memang, saya tidak/belum menerima informasi dari first hand informants lain seperti LK, kecuali lewat berita demonstrasi dan wawancara yang diangkat oleh Scientiarum (yang jadi makanan “kemarahan” banyak Anda). Sekalipun terbatas informasi saya, saya toh terima dari pihak-pihak pertama, hal pertama yang keliru dinilai rekan “Sampah”, tanda kesembronoannya menilai. Namun, saya masih bisa maklum, apalagi kalau orang sedang dilanda emosi.

    Di luar itu, saya pun bisa mengakses bertanya ke PR3 langsung, untuk mengetahui “dimensi lain” dari peristiwa itu. PR3 juga adalah “first hand” informant, bukan? Jadi, rekan Sampah masih saja keliru dalam hal ini, terlepas dari versi LK dan versi PR3 bisa jadi bahan kontestasi, siapa yang benar. Namun, saya pun tidak mau gunakan versi X versus versi Y, karena tanggapan saya tidak pernah ditujukan pada masalah itu sendiri, tetapi pada solusi yang diajukan, yakni tepatnya “menjadi tuan di rumah sendiri”.

    Namun OK lah, supaya informasi saya terima juga berimbang dan juga rekan “Sampah” puas, ya silahkan deh rekan “Sampah” mungkin bisa berkenan memberi detail informasinya, lewat Japri juga boleh (rekan-rekan Scientiarum tahu alamat email saya kalau mau via Japri).

    Rekan “Sampah” lalu, karena alasan ketidaktahuan saya, menilai saya sembrono, hehehe… Beberapa kali kata itu dipakai, terima kasih kawan. Pertama atribut sembrono dikaitkannya dengan pernyataan saya seputar menjadi tuan di rumah sendiri, yakni kenapa harus undang bung Umbu (setara juga dengan mengundang bung Theo, bung Yesaya, atau senior lainnya) untuk menjadi pembicara materi KUKM/SPPM. Hehehe… jangan emos, kawan. Pertanyaan saya, apakah benar dari dalam tubuh LK, seperti seorang Ketua BPMU/SMU, tidak cukup mumpuni untuk menyampaikan materi itu? Bagi orang seperti saya, pejabat seperti mereka adalah orang-orang yang harusnya cukup mumpuni menyampaikan materi seperti itu. Ada alasan tentu saja saya membuat penilaian seperti itu, misalnya terkait independensi pemikiran LK, bukan sebuah pemikiran sembrono. Anda bisa cek dalam pengalaman LK yang pernah kami alami untuk membuat kurikulum pendidikan kader LK, terlepas dari kami mengundang “pakar2 dan senior2” untuk menerima bahan-bahan pertimbangan, konsep berpikir dan rumusan akhir yang dibuat adalah pemikiran anak LK sendiri. LK sanggup kog, apalagi cuma menyampaikan materi KUKM/SPPM. Merubah KUKM/SPPM harusnya LK sanggup, kenapa tidak? Adakah yang salah ketika saya membuat pernyataan seperti itu? Itu termasuk tantangan saya kepada LK, berani dong!!!! Saya khawatir pikiran orang seperti rekan Sampah sudah penuh ketergantungan kepada para senior, sehingga, apa-apa senior, apa-apa senior. Di situlah catatan saya, apa benar mau jadi “tuan di rumahnya sendiri”? Namun, mungkin LK atau tepatnya panitia PRLK 2010 atau BPMU, atau rekan Sampah punya dalih, punya penilaian lain. Itu hak LK dan saya toh siap menghargai penilaian mereka, walau mungkin akan tetap bingung bilamana LK sendiri merasa kurang OK, kurang PD untuk bicara “dunianya sendiri”. Supaya adil, silahkan rekan “Sampah” menuturkan apa pertimbangan LK, karena begitu semangatnya menuduh saya sembrono, supaya saya lebih paham alam pemikiran tokoh-tokoh LK yang menilai mereka masih belum mumpuni untuk independen dan akhinya paham kenapa asumsi saya bahwa seorang Ketum BPMU/SMU bisa menjadi pembicara materi KUKM/SPPM bisa dibuktikan keliru. Bagaimana, boleh kah kawan?

    Kedua, soal sikap-sikap LK terhadap bentuk-bentuk intervensi yang saya nilai inkonsisten. Di sini cukup kentara kesembronoan rekan “Sampah” karena tidak membaca pernyataan saya dengan kritis. Tidak dilihatnya sama sekali dimensi waktu atau sejarah melekat dalam pernyataan saya. Karena “ketidaktahuan” saya atas masalah/peristiwa yang jadi polemik, maka saya tidak pernah mengaitkan penilaian saya dengan peristiwa “bermasalah” itu secara spesifik. Perhatikan baik-baik kata-kata yang saya gunakan, misalnya ”bukan barang baru”, “kadang”, bahkan memberi contoh kasus Trimester, sesuatu yang terjadi di waktu lampau. Jadi, boleh sedemikian sembrono-kah Anda, rekan Sampah, memenggal-menggal kalimat-kalimat saya, tanpa kesadaran kritis tentang muatan dalam kalimat-kalimat itu, lalu menilai sudah sembrono? Adakah saya telah menilai LK welcomed terhadap intervensi dalam kasus PRLK 2010? Saya khawatir kawan “Sampah” lah yang (kalau membuat judgment itu) telah tampak sangat sembrono dalam menilai, tanpa membaca secara kritis.

    Perhatikan baik-baik, yang saya nilai adalah, kalau berdasarkan kasus yang sedang jadi bahan “keributan” ini LK mau “jadi tuan atas rumah sendiri” (saya istilahkan sebagai tindakan atau melakukan koreksi diri), maka tengoklah terhadap cukup banyak fenomena keberterimaan LK terhadap banyak bentuk intervensi di dalam sejarahnya, agar supaya koreksi diri itu dilakukan secara tuntas, dan LK memang benar-benar siap untuk menjadi mitra strategis dan kritis terhadap para pemimpin di UKSW, siapapun dia yang menjadi pemimpinnya.

    Namun, untunglah rekan Sampah adalah mahasiswa, jadi sekalipun dia sembrono, masih bisa dimaklumi.

    Saran saya untuk Anda pribadi, rekan Sampah, tolong bertanya-tanya-lah yang banyak, belajar dari banyak rekan yang lain, supaya jangan saya ke Selatan, Anda ke Utara, nggak ketemu nanti. Misalnya memahami dengan tepat konteks contoh yang saya berikan, soal Trimester itu. Tentang trimester, dari dalam tubuh LK sendiri di zaman itu (ketika Trimester menjadi polemik cukup hebat) ada terlontar penilaian bahwa ada semacam intervensi pihak lain ke dalam LK, ketika misalnya ketika menetapkan siapa wakil LK dalam tim 5 bentukan Senat Universitas. Saya sih tidak begitu ambil pusing, itu toh pergumulan LK (yang tidak boleh saya “intervensi”), walau telinga yang mendengar kalau-kalau ada tudingan2 “ada intervensi”. Saya pun yakin, ada pihak yang merasa itu bukan atau tidak ada intervensi. Jadi, kalau ada pihak yang menyebut ada, sedangkan ada yang lain yang menyebut tidak ada, bolehkah saya kemudian melabelkan fenomena ini sebagai ada pihak di dalam LK yang ternyata welcomed terhadap intervensi? Mungkin tidak tepat benar, tetapi masih cukup tepat dari kacamata mereka yang mengatakan ada intervensi.

    Juga contoh saya soal demonstrasi sejumlah mahasiswa menolak trimester (ini terjadi sebelum peristiwa contoh di atas), yang membawa secarik kertas berisi “petisi” mereka yang idenya “sejajar” dengan ide sejumlah rekan dosen yang telah saya dengar sebelum demo itu dilakukan. Mungkin itu sebuah koinsiden ya.. toh gagasan itu bisa mengalir dari satu orang ke orang lain, mungkin dua atau lebih orang bisa berpikir dan menggunakan bahasa yang sama, jadi penilaian “intervensi” dalam kasus sangat interpretif.

    Atau, cobalah juga buka berita-berita UKSW di Scientiarum ini, misalnya kasus pemilihan Ketua BPMU dan kasus pemilihan Rektor lalu yang ada ketidakpuasan pihak-pihak tertentu, termasuk dari kalangan mahasiswa sendiri, dan mengindikasikan ada “intervensi”. Contoh lain adalah sebuah pengalaman langsung, di dalam sebuah rapat yang pernah saya hadiri dan membahas sesuatu hal menyangkut domain keputusan mahasiswa/LK, seorang mahasiswa menyampaikan pendapatnya mendukung suatu ide tertentu dan tiba-tiba saya mendapat pesan singkat dari orang yang lain yang mengatakan pada saya, bahwa pendapat itu adalah gambaran (berikut ini adalah bahasa teman peng-sms itu) terkooptasinya rekan penyampai pendapat tadi. Saya sih cuma tersenyum saja. Pikir saya sendiri, “Ini orang gimana sih, hak-nya sendiri untuk memutuskan kok malah dilepas ke pihak lain. Haknya dibela kok malah tidak mau,” hehehe.. Jadi, saya pun maklum, mungkin ada orang-orang yang merasa OK-OK saja terhadap (jika benar ada) pengaruh dari luar, welcomed terhadap intervensi.

    Nah, itu semua hanya segelintir contoh dalam sejarah LK tentang sikap LK yang bervariasi ketika berhadapan dengan “makhluk” yang namanya intervensi. Terhadap hal itu dan terhadap sikap koreksi diri yang sedang menjadi tema terkait “keributan” kita ini, saya hanya hendak menganjurkan supaya LK menjadi lebih konsisten dalam sikap-sikapnya dengan memintanya agar menilik atau mengevaluasi secara kritis dan menyeluruh atau pengalaman sikapnya terhadap ragam bentuk “intervensi”, supaya LK tahu apa artinya menjadi mitra yang kritis.

    Telah sembronokah saya menyampaikan permohonan seperti itu? Ataukan rekan Sampah yang kemudian menjadi sedemikian sembrono dalam menilai? Saya jadi bingung, entah yang akhirnya sembrono siapa… Walahualam. Namun, maafkanlah, kalau saya yang sudah sembrono menilai. Saya pun sudah memaafkan kesembronoan seorang mahasiswa seperti Anda dalam menilai.

    Untuk catatan lain supaya tidak juga sembrono. Ini soal kekritisan menanggapi, yang termasuk Anda, rekan“Sampah” sudah buat… Berikut saya kutip pernyataan PR3 dari berita liputan yang lain yang terkait, begini…
    “Untuk urusan yang sampah-sampah begitu PR III nggak ada urusan.”

    Sekarang saya kutip pernyataanmu, begini, “apakah yang anda rasakan ketika mahasiswa dikatakan “SAMPAH”???????”

    Coba tengok baik-baik, apakah kedua pernyataan itu serupa, yakni yang keluar dari mulut PR3 adalah pernyataan mahasiswa adalah sampah? Secara harafiah, yang disebut sampah adalah urusan-urusan. Jadi, kalau saya hilangkan konteks pernyataan itu dan gantikan dengan konteks lain, bahwa yang melakukan demonstrasi adalah para dosen atau para pegawai, apakah pernyataan tersebut, “Urusan yang sampah-sampah” tetap berarti mahasiswa = sampah? Anda keliru total kan, jika kita lakukan analisis teks?

    Secara interpretatif, silahkan saja Anda membuat kesimpulan seperti itu, bahwa benar yang dimaksud PR3 sebagai sampah adalah mahasiswa, karena Anda lekatkan dengan sangat kuat bahwa karena yang protes adalah mahasiswa, maka urusan2 (entah apa makna yang dituju si PR3) mahasiswa = sampah, maka mahasiswanya sampah.

    Namun, untuk analisis beginian, secara interpretatif pula, orang lain yang jika orang yang mau kritis mengutak-atik makna yang dilekatkan kepada sebuah bunyi teks, sebuah ucapan, bisa menyimpulkan begini, “Anda sebagai interpreter telah memelintir pernyataan orang.” Si analis ini (yang memberi makna seperti tu) bahkan bisa lebih jauh menafsir, bahwa pemelintiran makna telah dilakukan dengan sengaja oleh Anda untuk menguntungkan kepentingan Anda, misalnya untuk memobilisasi emosi massa agar terjadi aksi massa. Secara interpretatif, analisis seperti ini sahih.

    Karena itu, kalau Anda saja tidak akurat menilai sebuah pernyataan dan memainkan kekuatan interpretasi Anda, orang lain yang juga sama memainkan kekuatan interpretasinya ya jangan disalahkan dong. Itu nggak adil kan? Tapi, toh Anda sudah menilai saya sembrono di atas kesembronoan Anda, sekalipun saya masih mau berbaik hati memaafkan kesembronoan Anda, hehehe….

    Di atas saya sudah katakan keprihatinan saya dan karena itu berandai PR3 tidak pernah mengeluarkan itu atau karena telah mengucapkan itu ya kemudian menyesal atasnya. Di atas pula saya “berteori” kenapa orang membuat tindakan/pernyataan bodoh. Pikir saya, seandainya, satu orang bisa memahami kekurangan atau kekhilafan orang lain, masalah-masalah seberapapun sulitnya kemungkinan besar bisa dipecahkan. Namun, kalau segala macam distorsi sudah dilekatkan dan hanya emosi yang dikedepankan, walahualam deh. Kalau saya menilai, ntar dibilang sembrono lagi. Jadi, saya tunggu saja deh seluruh klarifikasi dan informasi dari rekan “Sampah”.

  33. mahasiswa sampah says:

    Kepada saudara neil, apabila anda meminta kejelasan dan informasi dari saya , sesuaid dengan perkataan anda di awal, silahkan datang sendiri ke kantor LK dan mencari tahu sendiri.
    Nah, dengan adanya pernyataan bahwa anda menggunakan tanggapan yang umum dan kemudian anda coba gabungkan dengan pengalaman tentang LK pada masa2 sebelum, saya pikir itu tidak tepat, karena tiap periode itu berbeda-beda.bahkan periode kemarin berbeda sekali situasi dan masalahnya dengan peridode sebelumnya (walaupun ada masalah yang sama seringkali terjadi tiap tahunnya). Oleh karena itu saya menganggap bahwa pernyataan anda sembrono. Saya rasa anda sudah mengeyam bahwa pendidikan sampai pada tingkat Doktor, mestinya tau bahwa di dalam kehidupan, masyarakat, apalagi LK memiliki dinamika yang selalu berubah-ubah, dan hal tersebut harusnya tidak boleh dilupakan dan membuat suatu pandangan yang didominasi (kejayaan) masa lalu.
    Lanjut kepada masalah “welcome terhadap intervensi” sudah sangat jelas tidak perlu saya perjelas, apalagi melihat pernyataan-pernyataan saya di paragraf sebelumnya. Hal tersebut akan berujung pada hal yang sama.
    Dalam hal “menjadi tuan di rumah sendiri” ketika itu disampaikan sebagai sebuah solusi,namun coba anda liat sendiri bahasa anda. Saya rasa bahasa seperti itu bukan bahasa yang tepat untuk menyampaikan solusi, terutama yang datangnya dari senior LK sendiri. Bahasa itu sudah jelas (mengarah) kepada menghakimi salah satu pihak, dalam hal ini LK.
    Lebih lanjut, yang dimaksud dengan dengan kasus pemilihan ketua umum bpmu itu, kasus apa?pemilihan ketua bpmu pada periode kapan?apa yang menjadi masalah di dalamnya?
    untuk masalah sampah mungkin saya terlalu cepat memberikan tanggapan.karena saya masih dalam jenjang s1, buka telah selesai s3.
    berbicara tentang metodologi, apakah penggunaan metodologi, apakah bisa suatu analisa dikatakan analisa yang baik ketika masalah yang dianalisa sendiri tidak diketahui dengan pasti???

  34. neil says:

    Terima kasih kawan… Rasanya pikiran kita hampir bakalan tidak ketemu. Ambil contoh, saya yang cuma “manut” (belum membenarkan) kesimpulanmu/ siapapun yang mengaku mewakili LK bahwa “ada terjadi intervensi PR3 dalam PLKR” (karena itu usul saya dalam tanggapan mula-mula: kalau mau ngomong intervensi, omonglah juga intervensi-intervensi yang lain dalam pengalaman LK) pun masih dibilang menganalisis sesuatu yang tidak diketahui. Bung, saya manut kesimpulan situ, belum ada analisis dari saya tentang kasus “intervensi PR3”. Jadi, kalau sikap manut saya itupun dianggap keliru (bahasamu: analisis yang kurang baik), apakah itu tidak berarti bahwa kesimpulanmu yang diikuti itu sendirilah yang keliru?

    Lagipula, kenapa sih “pakai amplifier” atau “volume”nya diperbesar? Diberi catatan untuk koreksi diri dengan lebih utuh kok klaimnya “dihakimi”. Mestinya kalau (sikap) Anda benar, kan Anda tidak perlu terbeban pikiran seolah-olah Anda telah dihakimi, tul kan…? Ringan aja lah… Namun, sikap ini (pake amplifier) sudah terjadi dalam penafsiran pernyataan PR3, kini kok Anda ulangi lagi. Apakah itu ciri Anda? Apakah sikap melebih-lebihkan seperti itu bakal membangun LK lebih baik? Juga, apakah kritik orang lain untuk perbaikan diri di tubuh LK harus selalu berposisi salah? Silahkan Anda jawab sendiri saja deh.. toh Anda lebih suka mendapati diri Anda benar kan.. Kalau Anda salah, ada dalihnya, “kan saya belum S3 seperti Anda..” (saya bahasakan sendiri dari pernyataan Anda)..

    Omong-omong soal intervensi, saya pun rasanya pernah berkali-kali mengintervensi ke LK. Satu contoh yang barangkali mirip dengan kasus PLKR adalah misalnya ketika saya pernah meminta panitia Faculty Day FE (kira-kira tahun 2006) membatalkan seluruh rancangan kegiatannya bagi mahasiswa baru FE itu yang mengandung unsur kekerasan (fisik maupun psikis). Logika saya tidak ketemu dengan klaim-klaim idealis bahwa mahasiswa itu anti-kekerasan versus mahasiswa yang justru kini (baca: waktu itu) mau jadi pelaku kekerasan dalam wujud perploncoan mahasiswa baru. Jadi, apa boleh buat, saya harus panjangkan tangan, mengintervensi keputusan, kalau sekedar saran tidak dipedulikan. Toh, perjanjian untuk tidak ada lagi muatan kekerasan dalam acara seperti itu sudah dibuat sejak awal (koordinasi pun rutin dilakukan, tetapi ada laporan yang tidak sampai), tetapi masih ada saja yang suka “main api”. Ini sekedar contoh, lagi-lagi ini contoh sikap terhadap intervensi. Untung LK FE di zaman itu tidak mendemo dan menuntut saya mundur dari jabatan saya hehehe…. Namun, kalau itu pun terjadi, saya pun rasanya lebih suka mengorbankan jabatan saya daripada membiarkan unsur kekerasan tetap hidup dalam kegiatan itu.

    Semoga unsur “main api” seperti itu tidak ada dalam kasus “intervensi PR3” kalian itu ya..? Ini harapan lho, bukan tuduhan ya… saya khawatir Anda naikkan lagi “volume” Anda..

    Anyway, saya hargai saja pandangan Anda. Setiap kita boleh berbeda pendapat kan… Terima kasih juga atas undangan Anda dan mohon maaf tidak bisa memenuhinya. Mudah-mudahan undangan itu bukan suatu kesengajaan untuk menutup dialog, karena menolak dibagikan di “forum terbuka” ini, bahkan jalur pribadi ke saya sekalipun.

  35. Mahasiswa yag Prihatin says:

    All: Hanya orang yg “berlagak Buta” membaca tulisan SA ini sehingga masih terus membelah YS. udah nyata2 ya entahlah…

    @Neil: Anda Tidak berani mengatakn klo YS bersalah dlm hal ini krn Anda juga adalah Kroninya YS. Tidak usah berpura2 sok berdiplomasi..
    Ideal hanya pada tataran pengetahun=0, aplgi klo udah kepentingan..MUAAAAK…Semuanya Demi mahasiswa “Kyk anggota Dewan aja”..Sistem perkuliahan ga jelas, Udah mau 60 tahun UKSW..ampun dach….
    Maaf sebelumnnya.

  36. neil says:

    Makasih kawan prihatin… saya sudah tutup bukunya.. salam..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *