Ruang Kelas Sebagai Laboratorium

Browse By

Menarik bagi saya menyimak tulisan bernas Neil Rupidara terkait tema filsafat pendidikan pada edisi Scientiarum terdahulu (Rekonstruksi Filsafat dan Praksis Pedagogi di UKSW). Menurut hemat saya, Neil berhasil mengungkapkan secara jernih pentingnya rekonstruksi basis filsafat pendidikan, secara khusus di lingkup pendidikan tinggi. Inti gagasannya adalah; pergeseran paradigma pendidikan dari “menyuap dan memuntahkan”, menjadi “aktif membentuk dan mengaplikasikan”. Lebih lanjut Neil juga mengusulkan semacam pendekatan sistemik kelembagaan untuk mewujudkan hal tersebut. Secara garis besar saya bersepakatan dengan gagasannya tersebut. Dalam posisi itulah tulisan ini ingin memberikan peneguhan sekaligus menambahkan beberapa elemen yang menurut saya penting untuk diulas. Pada saat yang bersamaan, tulisan ini juga bisa dibaca sebagai timpalan terhadap tulisan Satria Anandita sebelumnya (Fakultas Kebebasan)

Mempromosikan pembelajaran
Sampai pada ukuran tertentu, pendidikan (khususnya pendidikan tinggi) memang bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan juga soal membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Hal ini seiring sejalan dengan salah satu tujuan pendidikan (tinggi) itu sendiri, yakni untuk menghasilkan manusia-manusia yang mampu merespon tantangan jamannya serta turut berperan serta secara aktif dalam dinamika masyarakat yang terus berubah. Pendidikan di sini merupakan suatu tindakan aktif demi kelangsungan suatu peradaban (civilization). Selaras dengan hal tersebut kita kerapkali mendengar ungkapan-ungkapan semacam “pendidikan yang membudaya bukan membuaya” (Driyarkara), dan “pendidikan yang memanusiakan manusia” (O. Notohamidjojo).

Berangkat dari sini kita dapat menemukan relevansi dari apa yang dituliskan oleh Neil Rupidara; bahwa hakikat dari suatu sistem pendidikan adalah untuk mempromosikan pembelajaran (learning), bukan hanya pengajaran (teaching), dan pengajaran yang dimaksud pun memiliki makna sebagai tindakan yang membebaskan dan secara langsung memfasilitasi pembelajaran.

Dengan demikian, hal ini memerlukan pemahaman bahwa peserta didik bukanlah objek pasif yang hanya terjebak dalam siklus datang, duduk, dengar, lalu pulang (dan lupa). Dan pula insan-insan pendidik juga bukan hanya sekedar tandon pengetahuan yang siap untuk memuntahkan isinya–walau tetap tidak dapat dipungkiri bahwa tuntutan untuk terus mengakumulasi dan berolah ilmu pengetahuan merupakan salah satu kewajiban dari seorang pendidik sepanjang hayatnya. Karena hanya dengan demikianlah kedua-duanya mampu menjawab tujuan dari pendidikan itu sendiri.

Sampai di sini, ideal semacam ini memiliki daya tarik tersendiri. Namun persoalannya kemudian, bagaimana hal tersebut dapat diterjemahkan ke dalam ruang-ruang perkuliahan? Karena dalam pandangan saya lingkup paling “mendesak” untuk mengimplementasikan transformasi praksis pedagogis pertama-tama ada di ruang perkuliahan.

Persalinan pengetahuan
Di sini saya hendak menjawab pertanyaan tersebut dengan mengajukan sebuah gagasan yang mungkin sudah lazim kita dengar atau bahkan lakoni, yakni ruang kuliah sebagai laboratorium. Ibarat sebuah laboratorium, ruang-ruang perkuliahan harus dihidupi dalam semangat menemukan dan menghasilkan pengetahuan. Dengan kata lain, inti dari gagasan ini adalah; ruang kuliah dilakoni sebagai suatu wadah bersama untuk memproduksi pengetahuan. Di sini kemudian peran dosen tentunya adalah sebagai mitra belajar sekaligus fasilitator laboratorium tersebut, dimana mahasiswa diarahkan untuk menempuh serangkaian proses menuju kepada penemuan dan menghasilkan pengetahuan dari sudut pandangnya langsung.

Dalam pemahaman semacam ini, setiap partisipan dalam ruang kuliah turut andil dalam proses menemukan. Di satu sisi dosen justru dituntut lebih aktif dalam memfasilitasi proses menemukan dan juga mengarahkan, ketimbang menjadi sang mahatahu dan berorasi di dalam laboratorium tersebut–yang sering-sering menjadi praktik dominan dengan berbagai macam justifikasi.

Di sini, hemat saya, kita dapat belajar dari metode berfilsafat Socrates, yakni seni kebidanan. Maksudnya, sama seperti seorang bidan dalam proses persalinan yang hanya membantu seorang ibu melahirkan bayinya, demikian pula Socrates ingin membantu orang lain untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan dengan mencari dan mendapatkannya sendiri.

Pergesaran paradigma yang diusungkan oleh Neil dengan demikian, dalam sudut pandang saya, perlu diterjemahkan ke dalam pemahaman ruang kuliah semacam ini. Namun apakah ini cukup memadai sampai di sini? Ada dimensi yang menurut saya juga krusial untuk diperhatikan kalau kita mau mengupayakan pergeseran ini, yakni soal kebebasan.

Sugesti kebebasan
Mengapa kebebasan? Karena cita-cita lain dari pendidikan adalah membebaskan dan mencerahkan manusia. Dalam pandangan saya kebebasan adalah prasyarat atau praandaian menuju transformasi pedagogik, dan gagasan ruang kuliah sebagai laboratorium membutuhkan setidak-tidaknya sugesti kebebasan.

Saya menyebutnya sebagai sugesti karena kebebasan yang saya maksud tidak hendak terjebak pada dua kutub ekstrim mengenai kebebasan, yakni kebebasan absolut dan determinisme absolut–dimana yang pertama mengamini bahwa kebebasan mutlak dalam diri manusia dan menolak segala bentuk kausalitas turunan dan universal, sedangkan yang terakhir justru menolak adanya kebebasan dalam diri manusia karena bagaimanpun ia akan selalu terbelenggu.

Dengan demikian sugesti kebebasan yang saya maksud di sini berarti bahwa ia (kebebasan) seyogyanya berada pada wilayah antara, antara ada dan tiada, sehingga ia ada sejauh kita mau mengadakannya dan ia menjadi tiada sejauh kita meniadakannya. Kebebasan di sini tidak lantas hendak mengekslusi pentingnya disiplin dan juga aspek keterarahan. Dengan kata lain, dalam kebebasan sebenarnya sudah tercakup dimensi tanggungjawab dan tingkat kedewasaan tertentu–ingat, kita sedang bicara pendidikan tinggi di sini.

Dalam gagasan ruang kuliah sebagai laboratorium, mahasiswa memerlukan sugesti kebebasan, karena pada akhirnya hal ini akan mendorong tindakannya untuk aktif dalam proses menemukan dan menghasilkan pengetahuan. Di sisi sebaliknya, dosen juga perlu menyadari bahwa mahasiswa memerlukan sugesti semacam itu, sehingga ia akan memfasilitasi mahasiswa untuk memproduksi pengetahuan dari sudut pandangnya. Hanya dalam keadaan bebaslah (dan juga setara) setiap partisipan dalam ruang perkuliahan dapat betul-betul menjalani proses tersebut secara otentik dan penuh gairah.

Sugesti kebebasan dalam diri setiap partisipan ruang kuliah akan memampukan mereka untuk menemukan motivasi diri yang memadai, dan kemudian setiap bagian dalam proses tersebut dapat dijalani dengan sadar diri. Hal ini juga dapat memberi pemahaman yang lebih baik bagi mahasiswa, karena ia akan melihat setiap bagian dalam proses belajar di ruang kelas sebagai proses yang tersubjektivikasi.

Sugesti kebebasan juga dibutuhkan untuk menyuburkan rasa ingin tahu, karena melaluinya akan tercipta situasi yang dialogis, yang dua arah, alih-alih satu arah. Ketiadaan sugesti kebebasan hanya akan membangkitkan rejim otoriter pengetahuan. Tak heran kemudian kita mendapati minimnya minat penelitian mahasiswa. Karena penelitian yang otentik dimulai dari keingintahuan. Jika keingintahuannya tidak ada, jangan harap ada penelitian yang hadir secara otentik.

Paulo Freire dalam Pedagogi Hati pernah menulis begini, adalah peran dari pendidik progresif untuk membantu dan menantang setiap elemen keingintahuan agar kedua-duanya (peserta didik dan pendidik) sama-sama bersikap kritis. Ini berarti bahwa peran dosen diharapkan dapat membantu para peserta didik, agar mereka dapat menemui jalannya masing-masing untuk menuju keingintahuan epistemologis yang lebih ketat pikir, dan sekaligus menantang mereka dan dirinya sendiri agar dapat tetap kritis. Dengan demikian, sugesti kebebasan yang saya maksud di atas juga mesti dimiliki oleh para dosen. Artinya, dosen pun mesti sadar bahwa ada derajat kebebasan yang sebenarnya ia miliki untuk berkreasi dalam berinteraksi belajar bersama mahasiswa. Dosen di sini tidak lagi hanya berkanjang pada pola-pola lama yang terus menerus diulang-ulang tanpa diperiksa kembali. Sebagaimana ditandaskan oleh Neil Rupidara–dalam satu kesempatan korespondesi kami–“dekonstruksi ini (baca: pola-pola lama) penting, karena budaya kita masih menempatkan sang dosen sebagai yang utama. Jadi kalau dosen tidak membebaskan diri dari budaya kolot itu, si mahasiswa bakal tidak punya ruang bebas.”

Jika kelas dijalani dengan paradigma dan disertai sugesti semacam ini, maka diskusi-diskusi dalam kelas dapat menjadi lebih segar dan hidup. Tugas-tugas bukan lagi menjadi suatu beban melainkan sebagai bagian dari proses yang dihayati dengan gairah.

Pergeseran paradigma
Kita kadangkala menuduh bahwa mahasiswa yang kurang motivasi belajar, atau memang mahasiswa yang sudah dari sananya begitu. Mahasiswa pun mengeluhkan bahwa dosennya killer dan tidak asyik. Namun, untuk barang sejenak, pernahkah kita memeriksa ulang metode perkuliahan yang kita lakoni? Apakah kita pernah mencoba mengupayakan pergeseran paradigma?

Di sini saya memiliki pandangan yang agak berbeda dari Satria Anandita dalam tulisannya, Fakultas Kebebasan. Satria, menurut hemat saya, hendak membakukan energi kebebasan ke dalam satu pendekatan desain sistemik tertentu. Harapannya, sistem tersebut mampu menampung energi semacam ini, dan dari sana kemudian mampu memfasilitasi insan-insan didik dalam memperoleh pengetahuan. Desain sistemik semacam ini memang menarik dan perlu kita pikirkan lebih lanjut. Namun dalam pandangan saya–dengan tidak menafikan perubahan pada elemen sistemiknya–kita perlu terlebih dahulu memulainya dari ruang kuliah, bagaimanapun sistem yang sedang berjalan. Pendekatan sistemik tanpa pergeseran paradigma yang substantif sifatnya hanya akan berujung pada persoalan yang sama.

Sebagai penutup, saya hendak mengulang kata-kata JJ Rousseau dalam Du Contract Sociale, “Manusia pada dasarnya bebas, tapi ia terbelenggu di mana-mana.” Pertanyaan sekarang, apakah justru dunia pendidikan tinggi malah menjadi salah satu belengu itu? Atau sudahkan dunia pendidikan yang kita lakoni sungguh-sungguh hadir untuk membebaskan dan mencerahkan? Adakah pertanyaan-pertanyaan ini masih tebersit dalam benak kita selaku sivitas akademika Satya Wacana? Jika kita tidak lagi sungguh-sungguh mempertanyakan hal ini, jangan heran jika lantunan lagu milik Pink Floyd (Another Brick in the Wall) masih terus bergema hingga hari ini di kalangan generasi muda.

Yesaya Sandang, pegiat Kelompok Diskusi In(ter)disipliner

3 thoughts on “Ruang Kelas Sebagai Laboratorium”

  1. Yesaya Sandang says:

    Terkait dengan soal derajat kebebasan dalam dunia pendidikan, ada sebuah essai dari Bertrand Russell yang menarik. Dapat dilihat di http://www.zona-pellucida.com/essay-russel.html . Saya ucapkan terima kasih kepada saudara Neil Rupidara atas catatan dan masukan pada versi awal tulisan ini.

  2. neil says:

    Terima kasih, Yes, untuk artikel ini, satu lagi tulisan yang mendorong para akademisi UKSW untuk menengok ulang konstruksi pikir dan praktik pedagogiknya.

    Kita tahu bahwa rekan-rekan FSM sudah beberapa tahun ini melaksanakan seminar pembelajaran/pengajaran sains yang menarik. Tahun ini pula ada sejumlah dosen UKSW yang mengikuti pelatihan pembelajaran aktif atau apa namanya itu. Saya kira baik juga kita cermati perkembangan2 ini untuk menjadi bagian dari proses refleksi menyeluruh kita tentang olah pedagogik di UKSW.

    Saya pribadi lebih suka “menyerang” wilayah “lunak” tentang kesadaran kita, dimensi filosofisnya daripada main di wilayah “keras” seperti di level metode deliverynya belaka. Memegang kunci di ruang filosofis membuat kita lentur dengan metode, ibarat apa saja kena karena kita tahu apa yang kita mau. Sekedar reproduksi metode bisa membuat kita terjebat sarana, bukan tujuan, di samping seolah-olah hanya ada satu jalan ke Roma, berdimensi menyeragamkan. Namun, daripada tidak ada inovasi, ya main-main di ruang metode seperti yang sedang terjadi belakangan ini barangkali bisa mengumpan kita masuk ke ruang filosofisnya, ke ruang nilai-nilai utamanya dari suatu pendekatan pedagogik, apa yang para ahli organisasi pembelajar sebut sebagai “double loop learning”.

    Karena itu, baik juga kawan2 Scientiarum untuk lakukan liputan terhadap perkembangan empiris seperti saya sebut di atas. Sebetulnya baik juga jika para dosen itu sendiri melakukan kajian ilmiah atas praktik-praktik pengajarannya dan terus memerbaiki praktik-praktik itu(scholarly teaching), bahkan menulis dan memublikasikan kajian itu sehingga bukan saja kita menginovasi metode-metode pengajaran kita, tetapi kita melakukan dialog konseptual teoritis atas pengalaman2 empiris itu (scholarship of teaching and learning).

    Akan sangat menarik jika dosen-dosen yang melakukan “akrobat” dalam olah pedagogiknya, bermain-main dengan model pengajaran yang tidak lazim sambil menguji efektivitas proses belajar mahasiswa sebagai dampak dari pengembangan model-model baru itu, tentu itu dilakukan dengan berpegang pada tujuan-tujuan pembelajaran yang diyakininya baik (dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan). Akan sangat baik lagi jika ada forum-forum sharing inovasi olah pedagogi, supaya ada cross-learning dari satu kepada yang lain untuk membangun komunitas yang lebih care pada pembelajaran mahasiswa.

    Dalam konteks inovasi pedagogis itu, saya pribadi memandang bahwa konsep kelas yang saya kini mau mengerti bermakna interaksi keilmuan. Di manapun ada interaksi keilmuan, di situlah terbentuk kelas. Kelas bukan lagi dibatasi ruang kuliah, tetapi saat mahasiswa membaca secara kritis literatur di perpustakaan, atau mengumpul data di lapangan dan mengolahnya di rumahnya atau di ruang komputer kampus, atau barangkali ketika ia mendiskusikan baik teori, rancangan pengumpulan data maupun hasil analisis data bersama teman sekelompoknya. Jelas bahwa interaksi semacam itu pun bisa terjadi di ruang kuliah fisik di dalam kampus, antara dosen dan mahasiswa. Interaksi keilmuan yang demikianlah yang mungkin dapat memenuhi harapan Yesaya, bahwa akan terjadi proses konstruksi/produksi pengetahuan yang kontinu, terutama pada diri mahasiswa, namun tentu saja juga pada si dosen. Dengan konsep yang begini, kita tidak terjebak pada pengertian kelas sebagai keberadaan dalam ruang fisik tetapi bisa saja mati jiwa olah pedagogiknya. Jika saja kita berani menabrak definisi kelas, ini termasuk mereinterpretasi makna perkuliahan dalam satu semester adalah minimal 14 minggu tatap muka , maka saya kira di situlah kita makin berani berpegang pada apa yang sesungguhnya esensial dalam konsep belajar, dan bukan memenjarakannya sekedar pada atribut-atribut formal administratif yang sekali lagi bisa berarti si mahasiswa “TIDAK BELAJAR SAMA SEKALI”, sekalipun si dosen merasa sudah rajin dan baik dalam mengajar.

    Salam

  3. info says:

    Roll Out Pelatihan ALFHE Dosen UKSW
    Kamis, 12 Agustus 2010 – 3:11:12 PM

    Pembantu Rektor I Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Prof. Ir. Danny Manongga, M.Sc., Ph.D dan Vincent Costa, Koordinator Decentralized Basic Education-2 (DBE2) Propinsi Jawa Tengah turut hadir dalam acara pembukaan Roll Out UKSW: Pembelajaran Aktif untuk Perguruan Tinggi (ALPHE) Fokus pada Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi, di gedung F kampus hijau UKSW, Selasa (9/8).

    Danny Manongga dalam sambutannya mengharapkan dosen peserta pelatihan nantinya dapat menerapkan pembelajaran aktif dalam kegiatan perkuliahannya. “Nantinya dikelas tidak hanya terjadi pembelajaran satu arah saja, tetapi pembelajaran 2 arah sehingga mahasiswa lebih aktif seperti dalam bentuk diskusi yang aktif,” kata Danny.

    Dalam kesempatan tersebut, Vincent Costa mengungkapkan bahwa manfaat dari pelatihan ALFHE tidak hanya akan dirasakan oleh dosen. Mahasiswa yang merasakan model pembelajaran aktif yang nantinya akan menjadi guru, dapat menjadi guru yang mampu menciptakan pembelajaran aktif di kelas.

    UKSW merupakan salah satu perguruan tinggi yang mengembangkan program ALFHE bersama 42 perguruan lainnya di Indonesia. “UKSW sebagai salah satu perguruan tinggi yang mengembangkan ALFHE diharapkan dapat menjadi garda paling depan pendidikan di Indonesia sehingga ke depan pendidikan akan menjadi lebih baik lagi dengan pembelajaran aktif,” ungkap Vincent.

    Kegiatan yang berlangsung selama 4 hari tersebut (10-13/8) merupakan lanjutan Pelatihan Pembelajaran Aktif untuk Perguruan Tinggi (ALFHE) untuk Dosen yang difasilitasi Pusat Penjaminan Mutu Akademik (PPMA) bulan Juli lalu. Sebanyak 33 dosen UKSW dari berbagai fakultas mengikuti pelatihan tersebut. (upk_bphl/ft:upk).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *