Kesadaran Palsu

Browse By

Karl Marx sendiri sebenarnya tidak pernah menggunakan istilah kesadaran palsu dalam menjelaskan fenomena kesadaran kelas proletariat. Terma ini pertama kalinya muncul dalam tulisan Friedrich Engels, yakni dalam suratnya kepada Franz Mehring (14 Juli 1898), dimana ia menulis:

“Ideologi adalah sebuah proses yang dicapai dengan sadar oleh seorang pemikir, atau lebih tepatnya sebuah kesadaran palsu. Motif nyata yang mendorongnya sesungguhnya adalah sesuatu yang asing baginya; jika tidak demikian maka itu bukanlah sebuah proses ideologis. Makanya ia hanya membayangkan sesuatu yang palsu atau yang tampak permukaan saja. Karena ideologi ini adalah sebuah proses pemikiran, maka bentuknya berasal dari murni hasil pemikiran, apakah itu pemikirannya sendiri atau orang lain sebelum dirinya. Ia bekerja melulu dengan materi pikirannya, yang ia terima tanpa mengujinya sebagai sebuah produk pemikiran dan tidak menginvestigasi lebih lanjut demi kepentingan pemikiran independen yang lebih rinci; tentu saja ini adalah masalahnya sendiri, karena seluruh tindakan yang dimediasi oleh pikiran, pada akhirnya muncul padanya atas dasar pikirannya.”

Dari surat Engels ini, Christoper Pines dalam buku Marx and His Historical Progenitors mengatakan, yang dimaksud dengan kesadaran palsu adalah: (1) agen manusia yang tidak peduli atau atau cuek terhadap motivasi kekuasaan yang mendorong pikiran dan tindakannya atau dengan kata lain, kesadaran palsu mencakup lemahnya pengetahuan nyata atau sebuah wujud ketidakpedulian atas sebab-sebab yang memengaruhinya; (2) apa yang orang “bayangkan” sebagai penyebab (apa yang agen manusia rasakan sebagai pendorong nyata) sesungguhnya bukanlah penyebab senyatanya; yakni ideologi yang mencakup setumpuk keyakinan palsu atau ilusif, bahkan penipuan diri; dan (3) agen manusia memiliki kesadaran palsu karena mereka menafsirkan motivasinya sendiri dan sumber gagasan mereka dengan cara idealistik (karena seluruh tindakan yang dimediasi oleh pikiran pada akhirnya muncul padanya atas dasar pikirannya).

Intinya, apa yang disebut sebagai kesadaran palsu adalah ketika kelas pekerja gagal merealisasikan kesadaran sejatinya sebagai sebuah kelas. Ilmuwan politik Ralph Miliband menulis, apa yang disebut kesadaran palsu adalah kegagalan kelas proletarian dalam merealisasikan tugas-tugas universalnya: class for itself.

Untuk lebih jelas lagi mengenai kesadaran palsu ini, mari kita lihat sebuah deskripsi yang agak rinci dari filsuf Bertell Ollman tentang pengertian kesadaran kelas dan darinya kita coba lihat pada momen seperti apa muncul kesadaran palsu itu. Dalam buku Social and Sexual Revolution, Ollman memerinci sembilan ciri pokok yang menandai adanya kesadaran kelas: (1) kelas pekerja harus mengerti bahwa mereka memiliki kepentingan; (2) mereka harus mampu melihat kepentingannya sebagai individu adalah bagian dari kepentingannya sebagai anggota kelas; (3) mereka harus mampu membedakan apa yang Marx maksud sebagai kepentingan utamanya sebagai kelas pekerja dan kepentingan ekonomi yang kurang penting; (4) mereka harus percaya bahwa kepentingannya sebagai anggota kelas adalah lebih utama ketimbang kepentingannya sebagai anggota dari bangsa, ras, atau etnis; (5) mereka harus benar-benar membenci para kapitalis yang mengeksploitasinya; (6) mereka harus punya gagasan, betapapun gagasan itu tidak terdefinisikan dengan jelas, bahwa situasi mereka secara kualitatif bisa meningkat; (7) mereka harus percaya bahwa mereka sendiri, melalui satu dan lain cara, bisa mewujudkan peningkatan kualitatif itu; (8) mereka harus percaya bahwa strategi Marx, atau strategi yang diusung para pemimpin Marxis merupakan metode terbaik dalam menggolkan tujuan-tujuan mereka; (9) ketika saat-saat yang menentukan itu tiba, mereka harus berani bertindak untuk menggolkan kepentingan kelasnya.

Kita ambil beberapa dari sembilan poin ini untuk menunjukkan apa yang dimaksud dengan kesadaran palsu: (1) ketika kelas pekerja tidak mengerti bahwa mereka memiliki kepentingan sendiri; (2) mereka lebih mendahulukan kepentingan individualnya di atas kepentingan kelasnya. Ambil contoh, sebagai bagian dari kelas pekerja, kesadaran Anda boleh jadi berbeda dengan rekan sekerja Anda: Anda mungkin berpikir jika Anda bekerja lebih rajin, lebih giat, dan bisa menabung sebagian dari pendapatan, kelak suatu ketika Anda bisa menjadi seorang bos pemilik alat-alat produksi sosial. Atau mungkin saja Anda malah berpikir apa yang Anda lakukan sekarang ini (sebagai buruh), seberapapun susahnya adalah demi masa depan anak-anak Anda, sehingga nantinya mereka tidak menjadi buruh lagi seperti Anda.

Dengan kesadaran seperti itu, Anda menganggap adalah berbahaya atau tidak bermanfaat ikut organisasi serikat buruh atau bergabung dalam sebuah partai buruh, turut aktif mengorganisir buruh dan kemudian memimpin aksi-aksi kaum buruh melawan penindasan kapital. Bahkan sebaliknya, Anda menganggap buruh lainnya sebagai kompetitor Anda, baik ketika masih berada di depan pintu pabrik (bersaing untuk mendapatkan pekerjaan), atau ketika telah berada di tempat kerja (bersaing untuk memperoleh gaji dan jabatan yang lebih baik), maupun setelah pulang dari tempat kerja (bersaing untuk membeli barang kebutuhan pokok yang paling murah).

Contoh lain dari kesadaran palsu adalah (4) ketika kelas pekerja lebih mendahulukan kepentingannya sebagai anggota dari bangsa, ras atau etnis. Misalnya, ketika kelas pekerja di Indonesia turut memusuhi kelas pekerja di Malaysia, karena merasa terhina sebab batik diklaim sebagai milik Malaysia. Padahal baik kelas pekerja di Malaysia maupun di Indonesia sama-sama ditindas oleh kapital di kedua bangsa tersebut. Atau ketika kelas pekerja di pulau Jawa tidak peduli dengan penindasan yang dilakukan oleh kapital yang didukung oleh polisi dan militer terhadap kelas pekerja di Papua, karena merasa secara etnis dan ras berbeda; (5) karena ada kapitalis perorangan yang suka bagi-bagi angpao di tahun baru atau ramai-ramai potong kambing di hari raya kurban, lalu kelas pekerja menganggap bahwa kapitalis perorangan itu adalah manusia yang baik, yang berbeda dengan kapitalis perorangan lainnya yang tahunya bagaimana menumpuk kekayaan semata-mata. Atau karena kapitalis asing begitu merajalela dan sadis dalam memperlakukan buruhnya, lalu kelas pekerja menganggap bahwa kapitalis lokal lebih baik dibandingkan dengan kapitalis asing.

Kini kita melaju pada pertanyaan, apa penyebab dari kesadaran palsu ini? Sebagian besar merujuk sumber dari kesadaran palsu ini ada pada ideologi, yakni ketika kelas pekerja menerima dan mengadopsi ideologinya kelas borjuasi. Penerimaan dan adopsi itu terjadi, misalnya, melalui media massa, pendidikan, lembaga-lembaga keagamaan, keluarga, dan aktivitas kultural lainnya yang memang dikuasai dan dikontrol oleh borjuasi.

Tetapi, Richard Schmitt dalam buku Introduction to Marx and Engels: A Critical Reconstruction mengatakan, sumber dari kesadaran palsu itu terletak pada kondisi hidupnya yang teralienasi di bawah sistem produksi sosial kapitalis.

Untuk lebih mengerti pernyataan Schmitt ini, saya kutipkan satu riset yang dilakukan oleh Albert Szymanski dalam buku The Capitalist State and the Politics of Class dimana ia menemukan ada dua penyebab umum terjadinya kesadaran kelas atau sebaliknya kesadaran palsu: pertama, apa yang disebutnya komunikasi antarkelas; dan kedua, mobilitas. Pada yang pertama, semakin kelas pekerja saling berkomunikasi maka semakin besarlah peluang terwujudnya kesadaran kelas, dan begitu sebaliknya. Szymanski memberi contoh, sebelum pembuatan rokok kretek termekanisasi (masih mengandalkan kerja tangan), buruh duduk di sekeliling meja penggulung rokok kretek. Proses ini berlangsung dengan tenang dan masing-masing buruh memiliki kedekatan personal satu sama lain setiap harinya, sehingga memungkinkan mereka berkomunikasi secara intensif tentang berbagai persoalan yang dihadapinya, dari urusan keluarga hingga urusan tempat kerja; dari kesulitan membeli barang kebutuhan hidup yang harganya terus menanjak, hingga kondisi kerja yang semakin eksploitatif. Konsekuensinya, di banyak negara buruh pabrik rokok kretek adalah salah satu yang pertama-tama membentuk serikat buruh dan mendukung partai Marxis ataupun anarkis.

Tetapi, kondisi berbeda terjadi pada buruh di pertokoan kecil, dimana hubungan personalnya dengan sang bos lebih sering terjadi (komunikasinya lebih sering dengan bosnya ketimbang sesama buruh) maka kesadaran kelasnya sulit berkembang. Ia malah bercita-cita, suatu hari kelak ia akan menjadi seperti bosnya itu, walaupun cuma bos kecil-kecilan.

Dalam kasus mobilitas, Szymanski mengatakan bahwa kesadaran kelas sangat tergantung pada derajat mobilitas individu, apakah meningkat atau malah mundur. Individu yang orangtuanya adalah borjuis kecil atau ia yang sebelumnya hidup dalam lingkungan borjuis kecil, tetapi kemudian dipaksa untuk menjadi kelas pekerja manual, secara umum berharap (dan mengharapkan) untuk bisa kembali menjadi seorang borjuis kecil atau lebih dari itu menjadi borjuis. Dengan demikian, mereka ini kurang tertarik untuk bergabung dengan serikat buruh atau mendukung partai politik kelas pekerja, dan juga secara umum lebih konservatif dibandingkan rekan buruh lainnya. Sebaliknya, buruh yang orang tuanya adalah juga buruh memiliki kesadaran kelas, karena mereka mendapat pembelajaran sejak kanak-kanak tentang perilaku kelas pekerja dan politik kiri. Pengalaman hidup mereka dari hari ke hari membuat nilai-nilai yang diserapnya sejak kecil makin mengental menjadi kesadaran kelas.

Mobilitas pekerja pedesaan yang berpindah ke perkotaan, juga turut menentukan maju mundurnya kesadaran kelas. Demikian juga penindasan kejam oleh negara melalui aparatus represifnya (militer, polisi, pengadilan, dan penjara) terhadap kelas pekerja, ikut menyumbang menguatnya kesadaran palsu. Pembantaian besar-besaran setelah kasus G30S 1965, adalah contoh bagaimana negara mengancurkan kesadaran kelas yang tumbuh mekar saat itu, dan selanjutnya memberi ruang bagi menguatnya kesadaran palsu.

Saya sendiri setuju dengan pendapat Schmitt, bahwa penyebab kesadaran palsu itu adalah pada kondisi kelas pekerja yang teralienasi, yakni pada hubungan produksi kapitalis yang antagonistik ketimbang pada ideologi. Dengan demikian (melihatnya sebagai akibat dari alienasi) maka perjuangan mengenyahkan kesadaran palsu itu berpusat pada perjuangan menghapuskan hubungan produksi yang antagonistik itu, yang dimulai pada kondisi-kondisi riil kelas pekerja itu sendiri, yakni memeriksa struktur ekonominya, hukum-hukum kerja yang berlaku, konteks sosial-budaya dimana kelas pekerja itu eksis, hingga sistem politik yang berlaku saat itu.

Sebaliknya, jika kita melihat ideologi merupakan sumber utama kesadaran palsu, maka konsekuensinya perjuangan kelas pekerja melawan kesadaran palsunya ada di tingkat kultural, bukan pada penghapusan hubungan produksi yang antagonistik. Kesadaran kelas yang muncul dari kelas pekerja pada akhirnya bersifat subyektif, terpisah dari standar obyektifnya. Seakan-akan, jika kelas pekerja telah diberikan pendidikan politik kiri secara berkelanjutan, maka kesadaran palsunya lenyap.

Dalam hubungannya dengan partai kelas pekerja, tugas partai kemudian adalah terus-menerus memompakan kesadaran kelas pada kelas pekerja, sehingga partai akhirnya hanya menjadi sekolah bagi kelas pekerja. Yang terjadi kemudian, peran agen perantara menjadi sangat dominan dan kelas pekerja ikut dari belakang.

Coen Husain Pontoh, mahasiswa City University of New York

3 thoughts on “Kesadaran Palsu”

  1. eddy j soetopo says:

    Hmm asyik juga tulisan Coen Husain Pontoh. Ternyata masih setia menjadi penjaga serambi pintu kesadaran proletariat Marx. Coen emang seperti ini, dari dulu tidak berubah seperti para aktivis PRD. Berbeda dengan aktivis PRD lain yang sekarang pakai jas dan melenggang ke Senayan dan jadi kaki tangan para begundal yang dulu pernah menciduknya dalam penjara. Selamat bro! Menulislah terus. Berumah di atas angin lebih nikmat dibanding bersejuk-sejuk memakai pendingin udara dan menggarong uang negara!

  2. Iwan surya saputra says:

    Ada beberapa tulisan yang perlu di edit,,,atau mungkin ada maksud lain dengan menulis..(Balam bukunya “Social and Sexual Revolution”, Ollman memerinci sembilan ciri pokok yang menandai adanya kesadaran kelas:)
    yang mau saya tanyakan Balam atau dalam yah?

  3. Fred says:

    Salam.
    Membaca untaian ide-ide yang dipaparkan di atas ttng kesadaran palsu memberi pemaknaan bahwa kesaradaran itu terjadi tatkala ada kelas yang tidak menjadi dirinya sendiri_! kelas-kelas ini hanya mmengikuti arus mode yang didisain oleh kelas atas (pemilik modal)….

    kesadaran palsu menciptakan konsumerisme melabarkan sayapnya. kelas-kelas yang termakan induktrinasi menggila mengikuti trand pasar…..kasihan_! entitas murni yang dibawa sejak dulu menjadi hilang tergantikan dengan yang ditawarkan oleh dunia modern……….

    menarik tulisan Anda. sangat memberi manfaat dalam menambah pemahaman menganai konsep-konsep dalam ilmu sosial……

    Fred_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *