Perlawanan Warga Terus Dilancarkan

Browse By

Foto : Filipus Septian

Foto : Filipus Septian


Warga kembali melancarkan aksi protes menolak kehadiran Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) yang dibangun PT Capital Realm Indonesia (CRI) di Dusun Pamot, Kelurahan Noborejo, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Kamis, 5 Agustus 2010.

Dalam aksi yang digelar di halaman kantor Wali Kota Salatiga dan di depan SPBE PT CRI, warga menuntut pembangunan SPBE tersebut dihentikan dan ditutup.

Alasan-alasan penolakan, seperti tertera pada rilis pers Forum Kerukunan Masyarakat Pamot (Fokermapa), yakni warga belum pernah memberikan izin atau persetujuan atas berdirinya SPBE PT CRI.

“Warga yakin suatu saat nanti bencana dari SPBE akan datang, baik faktor alam atau kesalahan manusia,” tulis Fokermapa dalam rilis persnya.

SPBE PT CRI dibangun di tengah pemukiman dan dekat bangunan sekolah. Menurut situs resmi PT Pertamina (Persero), lokasi penempatan SPBE bisa dibangun di daerah mana saja yang bukan merupakan daerah pemukiman dan berada di sekitar Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET).

Warga juga meminta Pemerintah Kota Salatiga mengganti Camat Argomulyo Yayat Nurhayat karena dianggap bersikap melecehkan ketika warga meminta pendapat terkait SPBE PT CRI saat aksi protes pertama pada 19 Juli 2010.

Dalam aksi protes kedua ini, seratusan warga menggelar doa bersama, membawa keranda dan menabur bunga di depan Kantor Wali Kota sekitar pukul 13.30. Wali Kota Salatiga John Manuel Manoppo tidak menemui warga.

Seperti dikutip Solopos.com, John mengaku tidak menghiraukan aksi tersebut dan menganggap pihak yang menolak SPBE bukanlahlah warga yang tinggal di sekitar SPBE.

“Silahkan saja (mereka demo), tapi substansi yang mereka demo itu apa? Saya kira semuanya sudah sesuai dengan prosedur yang ada dengan memikirkan risiko yang terberat,” kata John, dikutip dari harian Suara Merdeka.

Sekitar satu jam kemudian, warga kembali ke Dusun Pamot dan berorasi serta menggelar spanduk di depan SPBE PT CRI. Sebagian ruas jalan masuk menuju SPBE PT CRI dibongkar oleh warga dan dipasangi patok-patok besi.

”Apabila patok-patok diturunkan maka warga akan mengamuk,” kata salah seorang warga yang berorasi di atas mobil bak terbuka.

Rencananya, warga akan menggelar aksi berikutnya berupa Istighosah di depan SPBE PT CRI pada Sabtu malam, 7 Agustus 2010.

4 thoughts on “Perlawanan Warga Terus Dilancarkan”

  1. Yudo Widiyanto says:

    Pertamax gan..
    Banyak penolakan juga seperti di Tulungagung dan Banjasari Solo. Sepertinya bisa menjadi isu nasional.. Pantau terus SA..:D

  2. Bodoh says:

    Wah, pabrik bom 3kg nih 😀

  3. yoga says:

    ayo demo terus … tolak … tolak…!! Itu SPBE bakal jadi mala petaka bagi warga Salatiga. Oleh sebab itu sebelum terjadi mari kita tolak.

    Kalau masyarakat Salatiga belum memberikan ijin atas pembangunan SPBE kenapa itu SPBE mau dibangun ? ada kemungkinan Pemkot ada main-main nih..!!
    buat warga salatiga mari usut terus jangan sampai warga salatiga menjadi korban yang dirugikan.

  4. si sampah says:

    John mengaku tidak menghiraukan aksi tersebut dan menganggap pihak yang menolak SPBE bukanlahlah warga yang tinggal di sekitar SPBE.Seperti dikutip Solopos.com

    “Silahkan saja (mereka demo), tapi substansi yang mereka demo itu apa? Saya kira semuanya sudah sesuai dengan prosedur yang ada dengan memikirkan risiko yang terberat,” kata John, dikutip dari harian Suara Merdeka.

    Apakah ini yang di bilang sebagai seorang pemimpin dan wakil masyarakat yang tidak memikirkan keselamatan warganya..??? saya rasa hal ini wajar buat warga sekita monolk adanya pembanguna tersebut yang membahayakan nyawa mereka..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *