Konservasi Alam, Benarkah?

Browse By

Penanaman seribu pohon. Nama suatu kegiatan yang tak jarang lagi menyambangi telinga. Kegiatan tersebut biasa didukung dengan tujuan utamanya: konservasi alam dan sebagai wujud nyata peduli terhadap alam. Entah benar seribu pohon yang mereka tanam atau itu hanya sebuah nama yang mereka gunakan untuk kegiatan ini, atau hanya untuk menarik simpati sekitar agar peduli terhadap alam. Tak paham. Dari ketidakpahaman itu, maka saya tak banyak membahas kegiatan penanaman seribu pohon. Namun, pada wujud nyata konservasinya.

Menilik kambali reformasi 1998 yang disetai lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, kerusakan alam besar-besaran akibat ulah manusia dan bencana alam pun melanda Indonesia. Konflik politik di pemerintahan yang tak kunjung membaik ini (sepertinya) membuat jengah masyarakat. Menyulut emosi. Pelampiasan dengan penjarahan hutan secara liar pun terjadi.

Penjarahan belum selesai, pembukaan lahan dengan membakar kawasan hutan pun tak terkendali. Dampak terbesar adalah rusaknya ekosistem flora-fauna yang ada di kawasan hutan khususnya. Kerusakan alam tersebut tak berhenti hanya pada rusaknya alam. Kerusakan berakibat pula pada bencana lain. Banjir, longsong, kekeringan, misalnya. Itupun terus berimbas hingga jatuhnya tingkat perekonomian masyarakat. Krisis ekonomi. Secara singkat bisa dibilang bahwa penyebab utama kerusakan alam dikarenakan konflik politik.

Menyikapi kerusakan alam—hutan khususnya—beberapa tahun lalu di wilayah Kabupaten Blora, misalnya. Reboisasi digencarkan para pengelola hutan, Perhutani. Imbas dari kerusakan itu menuntut oknum pegawai Perhutani meretorasi hutan. Meski mereka juga terkait dalam rusaknya hutan—dengan kongkalikong yang terjadi antara petugas dengan para penebang kayu—dan kini, saya melihat pohon-pohon hasil reboisasi sepuluhan tahun yang lalu itu baru sebesar paha kaki, rata-rata.

Konservasi vila
Suatu contoh dari pemberitaan di media, di kawasan konservasi Taman Nasional Halimun Salak di Bogor, Jawa Barat. Di sana malah terdapat bangunan-bangunan vila liar. Anehnya pemilik tanah yang berlokasi di kawasan konservasi tersebut tidak memiliki dokumen-dokumen resmi, tetapi sukses dalam “mengonservasi” vila di kawasan konservasi alam tersebut.

Sebagai imbas, konservasi alam pun terhambat karena area luas telah mereka kapling dengan bangunan vilanya dan jelas ini akan menjadi blok yang tak mungkin ditanami pepohonan. Ini belum di wilayah-wilayah lain yang belum terekspos oleh media.

Lucunya, apa tak ada penjaga di sana sehingga baru diketahui keberadaannya? Kini pemerintah besibuk ria membereskan itu.

Apresiasi konservasi
Salah satu contoh upaya konservasi masyarakat yang patut kita teladani adalah yang ada di Dusun Grintingan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Akhir-akhir ini, mereka melakukan konservasi melalui acara Merti Desa atau Sedekah Bumi (Scientiarum, 4 Februari 2010). Tanpa banyak basa-basi, setiap warga diwajibkan membawa lima pohon untuk ditanam di kawasan gunung Merbabu. Warga pun dengan senang hati menanamnya. Tak berhenti di situ, wujud kecintaan terhadap alam pun dituangkan dalam pelbagai karya seni. Suatu apresiasi seni dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat akan pentingnya alam dan konservasi.

Kawasan Dusun Grintingan ini masuk dalam kawasan Merapi-Merbabu Complexes (MMC). Bayangkan jika dusun-dusun yang terletak dalam kawasan MMC melakukan seperti yang dilakukan warga Dusun Grintingan. Tentu kawasan kedua gunung yang kini gersang akibat penjarahan dan kebakaran hutan tahun 2000-an lalu, bisa hijau kembali. Ini secuil contoh kecil di suatu daerah. Mungkin bisa dibayangkan jika di beberapa, bahkan semua daerah di wilayah Indonesia melakukan konservasi alam. Luar biasa, bukan?

Pemahaman akan pentingnya alam sudah ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Terlepas dari mereka benar-benar paham atau tidak, itu telah masuk dalam kurikulum. Ini tergantung tindak lanjut jenjang pendidikan berikutnya dan kondisi lingkungan, tentunya. Jika kedua aspek tersebut menerapkan budaya acuh terhadap lingkungan, niscaya tingkat kepedulian terhadap lingkungan pun nol, bukan?

Saya 100 persen mendukung konservasi alam. Namun, konservasi yang saya harapkan adalah di mana masyarakat (si Pengonservasi) benar-benar sadar akan pentingnya alam. Bukan atas dasar mencari eksistensi. Lebih parah lagi jika menyelipkan untuk kepentingan lain di luar tujuan konservasi, urusan politik misalnya. Satu lagi, penanaman seribu pohon semoga bukan hanya simbolis yang wujud nyatanya tak ada seribu pohon. Kalau bisa beribu-ribu pohon di tanah yang makin gersang ini. Apa tidak malu Indonesia yang konon dikenal dengan ”Zamrud Khatulistiwa” tampak gersang?

Meminjam lirik lagu The Scorpion “Under the Same Sun”, hidup di bumi yang sama, menghirup udara yang sama, dan menikmati siraman sinar mentari yang sama. Semoga kita sepakat menjadikan hal ini semboyan dan menjadi dasar untuk menjaga kelestarian alam ini. Bagaimana?

Subiharto, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *