Gara-gara Notes FB, Staf YPTKSW Didemo

Browse By

Rabu 1 September 2010 sekitar pukul sembilan pagi, puluhan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi (FTI) mendatangi kantor Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana. Tujuan kedatangan mereka ialah bertemu staf YPTKSW Saam Fredy Marpaung untuk meminta klarifikasi atas tulisan yang ia buat tentang kegiatan FTI Days 2010 beberapa hari yang lalu.

Sayangnya saat itu Saam Fredy tidak berada di tempat karena sedang melayat orangtua salah satu pegawai YPTKSW yang meninggal, sehingga akhirnya para mahasiswa berdialog dengan pengurus YPTKSW. Mahasiswa yang berada di ruang rapat tersebut meliputi panitia FTI Days, perwakilan LK fakultas, serta mahasiswa baru 2010 FTI yang baru saja mengikuti kegiatan FTI Days beberapa hari yang lalu.

Dialog ini diawali dengan dibacakannya tulisan Saam Fredy Marpaung oleh salah satu perwakilan mahasiwa FTI, Rivort Pormes, kepada pangurus YPTKSW:

Para “Ospeker” dibalut kaos oblong warna biru tua, celana panjang, sepatu dengan kaos kaki panjang 2 warna, satu kuning, satu lagi biru. Para “Ospekerwan” bergaya rambut cepak mirip tentara , sedangkan “Ospekerwati” berkuncir. Untuk perhelatan akbar ini, setiap “Ospeker” dikutip uang sebesar Rp. 150.000, diluar pengadaan peralatan “Ospek” yang harus mereka bawa sendiri dari rumah.

Well, semoga “Ospek” kali ini dapat berjalan dengan baik, tanpa perlu ada kekerasan (baik fisik maupun nonfisik), walaupun aku dengar kabar bahwa ada panitia yang membentak-bentak “Ospeker”, saat “gladiresik” kemarin sore (25/08) di Balairung Universitas. Semoga juga para panitia tetap menghormati para “Ospeker” yang menjalankan Ibadah Puasa.

Inilah kutipan tulisan Saam Fredy yang dianggap memicu kontroversi oleh mahasiswa FTI. Tulisan ini berupa notes di Facebook yang berjudul Ospek Ala “Fakultas Biru”. Saam Fredy menulis notes ini pada tanggal 26 Agustus dan mengundang (tag) beberapa temannya yang meliputi dosen dan mahasiswa UKSW, alumni UKSW, serta non-UKSW, yang kemudian mendapat banyak komentar. Notes tersebut berisi tentang apa yang terjadi tanggal 26 pagi, saat para mahasiswa FTI berlari-lari mengitari kampus UKSW, dan harapan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan FTI Days yang akan berlangsung di Bantir, dari tanggal 26 sampai 28 Agustus. Sampai sekarang notes tersebut mendapat lebih dari 200 komentar.

Mahasiswa yang datang menyampaikan keberatan mereka atas notes yang ditulis oleh Saam Fredy. Mereka menganggap notes tersebut telah memancing pandangan-pandangan negatif dan memojokkan FTI. Yang mereka kecewakan ialah setelah notes tersebut dibuat dan ramai mendapat komentar, Saam Fredy menghilang begitu saja seperti “cuci tangan” dengan apa yang ia tulis.

“Setelah menulis notes ia biarkan begitu saja, seharusnya ia tanggapi lebih lanjut karena notesnya sudah menjadi seperti forum diskusi. Kalau seperti ini ia terkesan cuci tangan. Tanggapi komentar-komentar yang masuk termasuk komentar-komentar mahasiswa FTI yang mencoba mengklarifikasi kegiatan yang lebih kami ketahui. Komentar dari luar FTI ditanggapi kenapa komentar dari kami tidak? Lalu apa tujuan dari Saam Fredy menulis notes tersebut?” kata Rivort.

Mereka juga beranggapan bahwa Facebook bukan tempat yang tepat untuk melakukan pemberitaan seperti ini. Seharusnya jika memang ingin mengetahui tentang kegiatan FTI Days, datangi FTI secara langsung untuk mendapatkan informasi yang pasti, bukan membuka forum diskusi dengan tulisan di Facebook untuk mendapatkan tanggapan-tanggapan akan kegiatan ini. Facebook juga dianggap media yang kurang tepat, karena di UKSW sendiri ada lembaga pers mahasiswa seperti Scientiarum atau lembaga pers fakultas lain yang lebih pas untuk melakukan reportase akan sebuah kegiatan di UKSW.

Yang mereka inginkan ialah bentuk tanggungjawab Saam Fredy setelah membuat notes tersebut berupa klarifikasi. Karena tulisan ini mereka anggap memicu pandangan negatif akan FTI Days dan memicu emosi mahasiswa FTI. Mereka menginginkan paling tidak dalam minggu ini Saam Fredy membuat klarifikasi langsung ke pihak FTI tidak sekedar di Facebook, sehingga nantinya melalui LK fakultas klarifikasi tersebut akan disampaikan ke mahasiswa-mahasiwa FTI.

Ketua YPTKSW Judowibowo Poerwowidagdo meminta maaf atas nama Saam Fredy Marpaung. Ia mengatakan bahwa mungkin yang stafnya tersebut lakukan tidak sengaja hingga menimbulkan ketidaknyamanan seperti ini. Dari pihak YPTKSW akan meminta Saam Fredy untuk segera klarifikasi serta akan menyarankan agar tidak lagi menulis tulisan-tulisan yang menimbulkan kontroversi di UKSW. Kemudian meminta LK FTI untuk membuat surat keberatan secara resmi kepada Saam Fredy dan sembari itu apa yang menjadi aspirasi mahasiwa FTI yang telah disampaikan akan pengurus sampaikan ke Saam Fredy.

“Sebenarnya kami tidak bermaksud memasukkan YPTKSW ke masalah ini karena kami tahu ini masalah pribadi Saam Fredy dengan FTI tidak menyangkut YPTKSW, akan tetapi karena kami hanya tahu Saam Fredy bekerja di sini maka YPTKSW-lah yang kami datangi dan diharap bisa membantu kami. Jika kami mengetahui rumahnya pasti kami memilih datangi rumahnya,” ucap Rivort.

Ditemui di Gedung Administrasi Pusat sekitar pukul satu siang, Saam Fredy mengaku belum mengetahui perkara kedatangan mahasiswa-mahasiwa FTI ke YPTKSW untuk menuntut klarifikasi tulisannya. Akan tetapi ia beranggapan tidak ada kesalahan dalam tulisan yang ia buat jadi tidak ada yang perlu ia klarifikasi. “Dalam tulisan saya tidak ada maksud atau tujuan apapun. Tulisan saya ini hanya menginformasikan sebuah kegiatan yang saya lihat pagi itu,” ujar Saam memberikan alasan.

“Menulis adalah hobi saya dan sudah banyak notes yang telah saya tulis di Facebook. Saya menyadari akan memunculkan komentar-komentar atas tulisan-tulisan saya, itu hal biasa dan saya hargai apapun komentarnya,” ucapnya lebih lanjut.

Saam Fredy ingin agar tulisannya dapat dikaji terlebih dahulu secara keilmuan atau akademik. “Cari tiga orang independen yang ahli dalam hal tulis-menulis yang menyatakan tulisan saya ada yang salah. Saya merekomendasikan tiga orang tersebut berasal dari Scientiarum, Fiskom, dan FBS. Jika mereka bersepakat bahwa ada kesalahan dalam tulisan saya, saya akan minta maaf,” demikian kata Saam.

50 thoughts on “Gara-gara Notes FB, Staf YPTKSW Didemo”

  1. Petrus Wijayanto says:

    gimana kalau misalnya Note-nya Saam Fredy dimuat saja di SCIENTIARUM?
    apakah akan di demo juga?

  2. penggembira says:

    memojokan FTI —>> ahh,,perasaaan anda-anda saja..
    klo merasa terpojokan ya pasti ada somethingnya…[klo terpojok ya tinggal pindah tempat ajah..repot..!!]

    nulis di FB..suka2 yg punya akun donks….gag suka ya usah dibaca ato gag usah di LIKE…

  3. ebeSS says:

    pembantu rektor urusan kemahasiswaan ngapain ajaaaaaa.. 😉

  4. ucok says:

    seharusna positif negatif tulisan apapun jd koreksi untuk menjadikan lebih bae ………dengan menganggap salah seseorang dlm menulis tindakan mematikan creatifitas seseorang !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. yoga says:

    “Saam Fredy ingin agar tulisannya dapat dikaji terlebih dahulu secara keilmuan/akademik. “Cari 3 orang independen yang ahli dalam hal tulis-menulis yang menyatakan tulisan saya ada yang salah. Saya merekomendasikan 3 orang tersebut berasal dari Scientiarum, Fiskom, dan FBS. Jika mereka bersepakat bahwa ada kesalahan dalam tulisan saya, saya akan minta maaf,” demikian kata Saam” Sebaiknya klo memang ini permintaan dari penulis note dan hal tersebut dianggap dapat mengklarifikasi masalah dan juga disepakati oleh kedua belah pihak lebih baik pilihan tersebut dilakukan saja.

    klo masalah ospek, menurut saya ospek yang dilakukan oleh masing-masing fakultas di UKSW tidak begitu mengerikan ketimbang mungkin dibandingkan dengan di universitas lain, dari beberapa tahun di UKSW saya belum pernah menjumpai ospek yang melibatkan kekerasan fisik di UKSW (sepengamatan saya lho). Klo masalah bentak membentak saya anggap itu hal wajar asal tidak berkelanjutan pada hal kekerasan. Dan klo maslah disuruh berpenampilan rambut pendek atau pakai kuncir itu juga bagi saya tidak bermasalah asalkan tujuannya jelas.

    bravo UKSW.

  6. Yudo Widiyanto says:

    Pertamax and Pejwan ..diamankan dulu gan..!! hehehe

    Konflik karena facebook atau surat elektronik, millis dll, bukan hal baru sebenarnya. Ada sebagian orang yang tersinggung dengan argumentasi orang lain melalui surat yang ia publikasikan ke anggota yang lain. Ada protes, ada demo, bahkan masuk keranah hukum. Nah menarik nih, kasus riil baru saja terjadi di UKSW.

    Tulisan ini harus di kaji lebih dalam dari semua sisi. Saya tambah dua lagi yakni ahli Hukum (dari Kampus Luar) dan Ahli IT (dari Kampus Luar ). Soal ahli hukum sudah pasti dari pendekatan unsur etika mana yang dilanggar, kedua Facebook dekat dengan surat elektronik yang berhubungan IT.

    Pertama masalah beres tidak ada yang dirugikan, kedua mahasiswa dan dosen dapat ilmu dan menjiwai tentang kasus-kasus yang juga pernah dialami masyarakat. Coba kita tilik lagi deh kasus-kasus besar yang pernah mencuat di media…

    Salam Hangat.

  7. Dhinar says:

    Mas Saam : Keep writing!

  8. bulak girl says:

    mnrut saya, tdk apa2 sdr SFM menulis demikian..

    kan SFM hnya menulis yg dia tau,bukan mngatakan yg tidak2 ttg FTI Days..

    malah mnurut saya, kog tanggapan di fb itu (yg kbyakan dr FTI ) kyak org kebakaran jenggot, krna takut ktahuan apa yg sdh ditulis oleh SFM..
    kalo emang ga da apa2 yah sante aja kalee..

    cb dicerna apa yg ditulis oleh SFM, br brkomentar..

  9. mahasiswa Fiskom '05 says:

    Ditujukan kepada Saam:

    siapa yang kamu rekomendasikan untuk menelusuri note itu?

  10. mahasiswa Fiskom '05 says:

    pendapat saya, kalau teman-teman FTI di note itu sudah memberikan klarifikasi, saya rasa cukup berhenti sampai di situ. apa lagi yang harus diperpanjang? kalau teman-teman FTI menuntut kalau makrab FTI tidak dimasukkan ke fb, tapi ke SA, bedanya apa? SA juga mengijinkan kita untuk memberikan komentar. lalu, apa yang komentar di fb itu salah dan tidak boleh komentar? buktinya juga teman2 FTI banyak yang komentar. isi tulisannya juga cukup keras dan tegas. jadi, tak masalah kalau lewat fb. itu media. dan Saam juga berhak memakai media itu. begitu juga teman2 FTI punya hak untuk memberi komentar menanggapi Saam.

    untuk urusan Saam yang tidak memberi komentar, harusnya klarifikasi langsung ke orangnya. bukan ke YPTKSW. itu pun kalau berani.

    kalau perlu, bikin aja mimbar bebas atau open forum. konfrontasi aja sekalian. berani???

  11. Oscar Umbu Siwa says:

    Mengapa sikap kritis di UKSW sudah tidak mendapakan tempat lagi? Harusnya sikap seorang pegawai menjadi contoh bagi dosen dan mahasiswa untuk mencari rasionalisasi dari setiap kebijakan yang akan di eksekusi.. Saya juga berharap semoga saja keinginan untuk meminta klarafikasi dari Saam Fredy betul2 lahir dari sikap mahasiswa yang merasa dirugikan. (gak usa lagi ada absen2an).

  12. charles Sebayang says:

    saya rasa tidak ada kalimat dari tulisan Saam Fredy Marpaung yang mencoba menjelek-jelek kan atau memojokkan FTI UKSW. saya maenganggap tulisan dari Saam Fredy Marpaung biasa-biasa saja. tidak ada unsur-unsur yang memojok kan FTI UKSW baik sengaja maupun tidak sengaja. jadi saya harapkan tidak ada orang-orang yang berniat memperkeruh suasana untuk menciptakan situasi yang kurang kondusif dan tidak bersahabat. lagi pula di era Reformasi sekarang ini setiap warganegara di jamin Hak nya oleh Undang-undang untuk bebas mengeluarkan pendapat asalkan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan dan peraturan lainnya.

    Bahwa didalam negara yang menganut sistem pemerintahan Demokrasi terdapat adanya pengakuan dari negara bahwa setiap warga negara dapat secara bebas mengeluarkan pendapatnya dimuka umum. Kebebasan mengeluarkan pendapat dimuka umum di dalam konstitusi Indonesia Undang-Undang Dasar 1945 pasca Amandemen kedua telah diatur dalam pasal 28E ayat (3) yang menyatakan: “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.”
    Yang dimaksutkan setiap orang berhak atas kebebasan mengeluarkan pendapat dapat berbentuk ungkapan atau pernyataan dimuka umum atau dalam bentuk tulisan ataupun juga dapat berbentuk sebuah aksi unjuk rasa atau demonstrasi.

    Dalam Undang-Undang Nomer 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum ketentuan Pasal 1 yang dimaksudkan dengan Kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Di muka umum adalah dihadapan orang banyak, atau orang lain termasuk juga di tempat yang dapat didatangi dan atau dilihat setiap orang. Unjuk rasa atau demonstrasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh seorang atau lebih untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara demonstratif di muka umum.
    Adapun tujuan pengaturan mengenai kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum ini seperti yang dinyatakan dalam Pasal 4 UU No.9 Tahun 1998 adalah sebagai berikut: Mewujudkan kebebasan yang bertanggung jawab sebagai salah satu pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, mewujudkan perlindungan hukum yang konsisten dan berkesinambungan dalam menjamin kemerdekaan menyampaikan pendapat, mewujudkan iklim yang kondusif bagi perkembanganya partisipasi dan kreativitas setiap warga negara sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab dalam kehidupan berdemokrasi, dan menempatkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tanpa mengabaikan kepentingan perorangan atau kelompok
    Maksud dari tujuan tersebut adalah bagaimana negara memberikan perlindungan dan menjamin kebebasan kepada setiap warganegara untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagai salah satu pelaksanaan hak asasi manusia namun juga diringi dengan tanggung jawab dari individu tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat tercipta suasana yang kondusif bagi perkembangan partisipasi dan kreatifitas warganegara dalam keikutsertaannya untuk mewujudkan suasana yang demokratis.
    Seperti yang telah disinggung diatas, setiap warganegara yang akan menyelenggarakan unjuk rasa mempunyai hak dan kewajiban yang mestinya harus dipatuhi. Hak dan kewajiban ini diatur dalam Pasal 5 dan 6 UU No.9 Tahun 1998. Hak-hak yang dimiliki warganegara dalam menyampaikan pendapat dimuka umum yakni mengeluarkan pikiran secara bebas dan, memperoleh perlindungan hukum, sedangkan kewajiban-kewajiban yang harus ditanggung oleh warganegara dalam menyampaikan pendapat di muka umum antara lain menghormati hak-hak dan kebebasan orang lain, menghormati aturan-aturan moral yang diakui umum, menaati hukum dan ketentuan peratuan perundangan yang berlaku, menjaga dan menghormati keamanan dan ketertiban umum; dan menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa
    Sedangkan untuk aparat pemerintah mempunyai kewajiban untuk melindungi hak asasi manusia; menghargai asas legalitas; menghargai prinsip praduga tak bersalah; dan menyelenggarakan pengamanan. (Pasal 7 UU No. 9 Tahun 1998). Selain itu Kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat adalah prinsip universal dalam negara demokratis. Negara atau pemerintah menciptakan kondisi yang baik dalam memgeluarang dijamin oleh Kovenan Internasional tentang Hak Sosial, Ekonomi dan Budaya.

    Dengan demikian mari kita menghargai hak dari warga negara untuk beba berpendapat, seperti kebebasan membuat tulisan asalkan sesuai dengan Peraturan yang berlaku dan kepada orang yang membuat nya harus dapat mempertanggung jawabkan baik secara hukum maupun tanggung jawab moral di hadapan masyarakat.

    Hidup Demokrasi, hidup kebebasan Berpendapat….
    semoga Tuhan melindungi Kita

  13. emanuel kristian says:

    Saya tidak tahu sebenarnya dalam FTI ada masalah apa. Namun berdasarkan pengalaman selama bekuliah bahwa setiap komentar atau pernyataan ditanggapi atas dasar idealisme terlalu sensitif dan berlebihan justru membutakan.
    Kalau membaca perihal diatas, saya beranggapan bahwa tidak ada permasalahan krusial dengan tulisan diatas. Mahasiswa terlalu hipersensitif.
    Pendapat saya adalah : Jika kita berbuat baik, maka kita akan menuai kebaikan. Jika kita berbuat salah, maka kita akan menerima hukuman. Saya tidak tahu, apakah Mas Saam melakukan kesalahan, sehingga menerima protes atau mahasiswa melakukan kebaikan sehingga protes karena kebaikannya dicemooh ?
    Pada dasarnya idealisme yang membutakan, sehingga menjadikan suatu hal yang TIDAK PENTING menjadi PENTING, pasti ada sesuatu yang menarik untuk ditelusuri. Karena sikap hipersensitif (defensif) tidak mungkin karena tidak ada sebab. Apalagi sampai ada pernyataan mau mencari sampai ke rumah. Ini tindakan yang sama dengan premanisme. Wah, belum jadi mahasiswa sudah seperti ini ? Justru saya mempertanyakan, kalau orang seperti ini yang jadi Panitia Ospek, gimana profil lulusan FTI ?
    Mengenai Media, siapapun punya kebebasan berpendapat, ada dalam UUD 45 dan UU TI. FB atau media apapun adalah wadah bagi setiap orang untuk menuangkan pikirannya dalam tulisan.
    Semoga berkenan, terima kasih.

  14. dian ade permana says:

    kkwkwkwk..do mudeng civil journalism ra to jane…me nulis opo wae yo ra popo to..wong FB itu adalah ‘media pribadi’….

  15. junior says:

    setuju mas Saam…. cari aja noh 3orang independen. toh kalo nda ada apa2, kok FTI heboh banged yah,,, banyak ngomong tentang mental, tapi baru keluar note seperti ini saja sudah seperti kebakaran jenggot. ayok mahasiswa FTI, positive thinking….

  16. andre says:

    Facebook merupakan tempat privasi bagi tiap orang, anehnya kenapa ketua yayasan meminta maaf atas tindakan saam fredy???itu kan haknya saam fredy, ya kalo emang itu tidak benar, silahkan pihak2 yang bisa memberikan informasi berpendapat disitu, sebagai ajang berdiskusi dan pengklarifikasian. bukankah diskusi merupakan cara untuk mencerahkan masalah yang ada??? dan “seandainya” ada hal2 yang sudah menjadi rahasia umum, ya mari dibuka bersama untuk perbaikan, tapi dengan data yang ada…..monggo….

  17. Benny says:

    tidak ada yang salah dari statement saudara Saam Fredy, andai saja kasus ini digolongkan dalam pencemaran nama baik, itu sungguh tidak tepat karena saudara Saam Fredy hanya mengungkapkan apa yang dia lihat dan dengar. mengapa saya mendukung anda? karena saya melihat FTI days tahun kemarin juga tidak jauh berbeda seperti dalam statement anda.
    Terlebih pelaksanaan kegiatan tersebut bersamaan dengan jatuhnya bulan puasa,
    mestinya menghormati saudara kita yang beragama muslim

    salam hangat,

  18. Christ says:

    Mahasiswa yg demo itu arogan. Sudah klarifikasi di FB ybs, kok msh menuntut via surat karena merasa tdk direspon. Nanti pasti menuntut permintaan maaf segala. Mahasiswa kok mental tempe

  19. titus says:

    @Dian Ade Permana: maklum, ga ada mata kuliah jurnalisme, kayaknya.

  20. orang aneh says:

    kok demo sie???
    kmrn pas ada demo ke pr3 malah di tentang habis2an…
    skrg malah ada demo lagi karena masalah notes…
    kykx demo udah jadi ciri khas mahasiswa satya yah??
    xixixixixixixixi

  21. yoga says:

    Pertama: Apakah pilihan klarifikasi yang diajukan oleh penulis note sudah dilakukan ? Dan bagaimana hasilnya ?

    Kedua: meskipun Sodara SFM adalah staff UKSW yang bekerja di YPTKSW, akan tetapi saat menulis note di FB yang menyangkut FTI itu adalah opini pribadi SFM dan tidak melibatkan pekerjaannya (tidak mengatasnamakan lembaga dimana tempat ia bekerja) jadi klo pihak YPTKSW meminta maaf kepada para demonstran, bagi saya itu bukan sebuah kerendahan hati, akan tetapi memang sebuah kebodohan pihak YPTKSW. Kan yang buat kesalahan pegawainya dan tidak mengatasnamakan lembaga ngapain minta maaf ? (Klo memang notenya dinilai merugikan pihak FTI). Seperti apa kata mas Dian Ade, Civil Jurnalism (meh nulis opo wae boleh kok. Bebas mas bro… hheehhe

  22. nggambleh says:

    wah..sdh lama g baca SA tyt ada pemberitaan seperti ini..
    kalau menurut saya tulisan itu bukan memojokkan tp sebagai pengingat karena bentak membentak bisa dikategorikan sebagai kekerasan mental..tp kalo hal itu memang tidak ada y sdh buat apa diperpanjang kecuali kalau ada maru yang protes tentang FTI Days..
    trus kalo YPTKSW meminta maaf saya rasa itu bukan sebuah kebodohan, tp lebih kepada upaya menjaga citra serta suasana tetap kondusif karena, tolong diingat kasus demo menentang PR 3, saat ini suasana sedang tidak menentu berkaitan dengan isu2 yang ada di UKSW.
    y sekarang bagaimana kita menyikapinya saja..toh masih banyak yang harus kita pikirkan dan perhatikan..

  23. Tian says:

    ngakak bacana masa gitu aja ampe didemo. dah kaya kasus lunamarah aja.
    apa perlu diadakan survei tentang kejadian ini? hmm jd punya ide kenapa LK nggk buat lembaga survei universitas y? itung-itung belajar statistik, metpen dan melatih otak untuk berbicara berdasarkan fakta yg terukur dan bisa dipertanggungjawabkan bahkan oleh dosen penguji sekalipu (kidding )

  24. deddy says:

    tulisan dibalas dengan tulisan… itu aturannya… tinggal bagaimana sang pengkomen mengklarifikasi dengan kata2 yg bijak… mas saam keep writing !

  25. penggembira_juga says:

    “walaupun aku dengar kabar bahwa ada panitia yang membentak-bentak “Ospeker”, saat “gladiresik” kemarin sore ”

    apakah itu sebuah kata kata yang menjelek jelekkan…?
    Saya rasa tidak…Itu bukan menjelekkan tapi mengingetkan…karena OSPEK itu dibulan puasa. Jadi jangan sampe membuat emosi orang yang sedang puasa.

    Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian.Emosi dapat ditunjukkan kerika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.(http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi)

  26. bomber says:

    demo payah,ky gituan di demo bos2
    notesnya biasa2 aja

  27. titus says:

    tuh kan, begitu masuk SA, yang pada komen di notenya Saam pada ilang semua. menunjukkan kalau fb memang lebih menarik dari pada situs pers mahasiswa. pantasan juga, karena mereka penggila fb, bukan SA. harusnya mereka membalas dengan tulisan juga, tidak hanya (asal) komentar. atau jangan2 mereka ga bisa nulis dengan bobot yang bagus?

  28. Tete says:

    “Well, semoga “Ospek” kali ini dapat berjalan dengan baik, tanpa perlu ada kekerasan (baik fisik maupun nonfisik), walaupun aku dengar kabar bahwa ada panitia yang membentak-bentak “Ospeker”, saat “gladiresik” kemarin sore (25/08) di Balairung Universitas. Semoga juga para panitia tetap menghormati para “Ospeker” yang menjalankan Ibadah Puasa.”

    Weleh…weleh..Gitu aja kok ribut…to..ya…
    Kita ini bersodara dan beragama…Mas SFM kan cuma mengingatkan kalo kegiatan itu tepat hari puasa jadi Mas SFM mengajak Temen temen FTI untuk menghormati temen temen yang laen yang sedang berpuasa…

  29. obed nugroho says:

    “permasalahan di laut jangan bawa ke darat”…

    fakultas bru melakukan tindakan waguuu.

  30. Dimas S. Aditya says:

    Wahhhh, Saam kalo nulis emang selalu menimbulkan kehebohan, wakakakakakak…
    Bikin yang baca komen tulisan Saam di FB, jadi ketawa ngakak sendiri.
    Lha wong gitu aja kok jadi pada panas.
    Tapi ya itulah Saam Fredy Marpaung. Selalu penuh dengan kejutan.
    Dari jaman kuliah ampe sekarang, selalu penuh kejutan, xixixixixi……….
    Mantap, Saam.
    Teruslah menulis, jangan padamkan semangat menulismu itu, hanya karena didemo oleh beberapa anak ingusan saja. Anak ingusan yang masih mudah dikomporin…!!!
    Malah ajarkan kepada mereka, apa itu arti demokrasi, dan arti dari membalas sebuah tulisan dengan tulisan, bukan dengan otot.

  31. emerald says:

    apanya yang salah dari saam fredy…ngk ada yang salah…..ANEH

  32. emerald says:

    saam maju untuk karya karyamu……..

    SAYA PENDUKUNGmu..DARI TIMUR INDONESIA..(PAPUA)

    jangan dengarkan tuh si pendemo sembraut(sembarang)

  33. Tete says:

    Maklum baru…jadi juga baru belajar ber-DEMO….Brrrr….

  34. dib058 says:

    keep writing Sam..:)

    gak ada yang salah dari note FB mu, yang salah adalah sikap over reaktif dan over acting mahasiswa yang demo itu…

    tulisan dibalas tulisan dong, katanya mahasiswa yang intelek..:D

  35. FTI'ers says:

    FB emg bebas basssss…..
    tp terang2an pake nama FTI –> dijadiin fakultas biru…
    adek2 kami –> ospeker
    sungguh pintar mengarang 😀
    bebas bukan berarti seenak udelnya sendiri…
    kalian punya HATI NURANI?
    tanya dulu sblm menulis… teori itu 0 kalo ga ada prakteknya.

    perlu digaris bawahi–> kita 1 yayasan, bukan musuh! jd seharusnya tdk slg menjatuhkan… aplg yg memicu orang dr yayasan sndiri….

    Gbu

  36. dib058 says:

    @FTI’ers

    ospeker = peserta ospek, sama aja maksudnya dg nick FTI’ers

    fakultas biru = warna selempang waktu wisuda

    satu lagi, apakah ada kata/kalimat dalam note itu yang bernada menjatuhkan?

  37. Kopi Luwak says:

    Beginilah kalo staff yayasan nggak kerja malah mainan FB 😀

    (alumni uksw)

  38. Nabi Palsu says:

    ga ada berita yang lebih penting kah???? misalnya masalah BU yang baru yang ternyata terlihat lebih RENTA dari yang lama…….>>>>hehehehe…….

  39. Nabi Paling Palsu says:

    Gara2 note Scientiarum salah satu staff di Scientiarum bakal didemo..>>>>>> Hehehehehe..

  40. shine says:

    untuk apa mengurusi orang lain, bila hobby adalah menulis “menulislah” namun apakah harus di Facebook………???
    ciri orang dewasa adalah orang yang mampu melihat kepositivan meskipun mungkin yang terlihat adalah negative….
    satu hal yang ku percaya, segala sesuatu pasti ada hikmahnya…
    namun orang yg seperti “SAAM” adalah ciri2 orang yang kurang dewasa…..
    orang yang seperti ini adalah orang yang ingin eksis namun terlalu narsiz cap allay….
    mengapa saya berkata demikian….?
    alasanya adalah sesuatu yang dilihat tidak perlu harus dituliskan, dan bila dituliskan harus memikirkan apa resikonya dan apa manfaatnya, bila hanya menulis dengan tanpa tujuan tertentu sebaiknya jangan dituliskan….
    please, jangan kampung dech……

  41. andreas putra sunda says:

    setap orang punya “kebebasan eksistensi”…..termasuk saudara SFM, dia mengekspresikan kebebasan eksistensinya ketika menulis Nota di FB milikinya sendiri…

    tapi JANGAN LUPA…teman-teman FTI pun punya “Kebebasan Eksistensi” sama seperti yang saudara SFM miliki!!!! Teman-teman FTI berhak menanggapi nota FB yang ditulis oleh saudara SFM sesuai dengan “Kebebasan Eksistensi” yang teman-teman FTI miliki!!!..entah dia mau tanya langsung ke rumah saudara SFM, atau tanya ditempat dia bekerja berkaitan dengan masalah tersebut……..atau ketika saudara SFM lagi makan siang di kafe….siapa yang tahu…..????

    HATI-HATI…semua orang punya “Kebebasan Eksistensi”……

    kalau salah satu pihak tidak bisa mengontrol “Kebebasan Eksistensi” yang dia miliki….saya tidak tau apa yang akan terjadi….!!!

    termasuk saya ….menulis di SA ini karena saya punya “Kebebasan Eksistensi”…. tolong kontrol….karena kita semua masih satu ATAP …di UKSW……

  42. andreas putra sunda says:

    JANGAN LUPAAAAA…….FTI TEDAK PERNAH BERDEMO BERKAITAN DENGAN NOTA SFM……..SA PLISSS…JANGAN LEBAYYYYYY…SEMBARANG PAKE ISTILAH DEMO…..

  43. Zti says:

    @Andreas putra sunda: Demo adalah istilah yang di pakai untuk demonstrasi.. dalam konteks gerakan, demonstrasi atau unjuk rasa, bisa dilakukan oleh kelompok orang namun bisa juga sendiri.. tujuan demo ya macam2.. bisa protes, meminta klarifikasi, kritik, menggalang dukungan, dll.

  44. dib058 says:

    @andreas : jadi puluhan mahasiswa FTI itu ke kantor YPTKSW untuk bakar BBQ dan ngopi bersama? katanya bukan demo…

    anda mahasiswa bukan? pelajari dong istilah demo itu artinya apa.

    kebebasan berekspresi memang dijamin oleh UU, tapi tolong please, tunjukin point-poit yang salah dari note tersebut. itu baru cara yang elegan seorang mahasiswa. bukan “grudukan” asal rame-rame saja tapi kosong isinya…

  45. Andreas Putra sunda.. says:

    @zti: tahanks informasinya…GBU

    @dib058:saya sudah belajar tentang demo dari Zti…hehe….yang dilakukan oleh teman2 FTI hanya sebatas KONFIRMASI atau KLARIFIKASI.., kenapa?? karena setelah banyak comment yang ada berkaitan dengan nota tersebut saudara SFM sama sekali tidak meberikan penjelasan lebih lanjut….jadi banyak orang bertanya tentang hal itu…termasuk teman2 FTI…. kalo saya umpamanya bertemu dengan ANDA berkaitan dengan COmment ANDA di SA yang ditujukan kepada saya apakah itu berarti saya demo??????? salah satu tujuan demo memang meminta KLARIFIKASI…tapi bukan berarti ketika semua kegiatan meminta KLARIFIKASI dibilang demo…. lalu kenapa anda tidak memberikan penjelasan point-point yang membenarkan penulisan note tersebut….? menulis Note/ berita di FB (walaupun Note Pribadi) tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu terhadap fakultas yang bersangkutan apakah itu sudah ELEGAN?? pake data dunk kalo ngomong!!! BUKTINYA TEMAN2 FTI TIDAK MEMPERMASALAHKAN ORIENTASI YANG SUDAH MEREKA JALANI.!!!!

    masih banyak hal lain yang lebih bisa dibilang demo….contoh: demo masak……..hahahahahaha….

  46. Nabi KW Super (Made in China) says:

    Wah wah wah.. Menarik jg nih byk komentar dr rekan2 pembaca euy di mari.. Klo buat aye sih nih masalah ga susah kok lha ntu kan uda diterangin ma redaksi SA bhw kedatangan Mahasiswa FTI niatnye cm mau minta klarifikasi ma bang Sam Fred.. Ya uda to kenapa hrs disebut demo??? Demo tuh menurut aye ya kyk wkt Wisudaan ntu loh.. Yg minta Pak Yafet mundur dr jabatan PR3 gr2 katanye dituding intrefensi LK.. Lha klo ini kan menurut aye cm silaturohim doank antara mahasiswe FTI ma pak Sam cm kebetulan aje tempatnye di kantor YPTKSW.. Hehehehe..

    Ya klo masih pade binggung ni ntu demo apa bukan ane rasa cukup aje tuh tanya ma mahasiswa FTI yg ikt silaturohim, ni kmaren ntu pada demo apa bkn ya??.. Klo msh ga yakin lg ntu demo apa bukan ye tanya de ma yang diajak silaturohim, ngerasa di demo nggak bang??.. Hehehehe.. Gt aja kok binggung.. Klo msh binggung lg tanye aja ma redaksi SA yg nulis note ini dg judul “Gara-gara Notes FB, Staf YPTKSW Didemo”.. Ntu tau klo di demo dr sapa/apa??

    Piss yee.. Nyak.. Ncing semua..

  47. saya mahasiswi FTI says:

    > yg masih jelek2in FTI —> IRI
    kasian bgt…

    kita ga demo! mlz bgt demo, percuma gt loh…

    tolong ngaca dulu sblm komentar ttg kami…

    GBU

  48. nabi plsu alias APS says:

    Tuh kan ada mahasiswi FTI yang bilang kalo mereka gak DEMO!!!! …..
    betul mba, kasian banget yang iri ama FTI…hahahaha…..

  49. Hayah says:

    Gitu aja kok repot 😛

  50. Pingback: CH (204): Refleksi Setahun “Demo” Mahasiswa FTI « saam fredy marpaung
  51. Trackback: CH (204): Refleksi Setahun “Demo” Mahasiswa FTI « saam fredy marpaung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *