Momentum Fenomenal Sumpah Pemuda

Tanggal 28 Agustus 2010 mengingatkan kita kembali pada 86 tahun yang lalu, dimana perwakilan-perwakilan pemuda Nusantara berkumpul di Jakarta untuk mempersatukan semangat menuju Indonesia yang bersatu. Sekilas memikirkan memang tidak ada yang unik dari momentum tersebut, selain kisah heroik anak bangsa yang bergelut pada masa-masa revolusi.

Pernyataan sikap tentang satu tanah air, bangsa, dan bahasa mengaktualisasikan semangat kebangsaan yang beraneka ragam identitas. Rumusan perbedaan itu melebur dalam semangat kesatuan dan persatuan atau yang sering disebut dengan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu jua) menjadi dasar semangat pengakuan terhadap identitas Indonesia yang sangat beragam dan multikultur. Keanekaragaman kultur Indonesia ini menjelaskan bahwa perbedaan ini adalah salah satu pemersatu yang menjelaskan keindahan kultur Indonesia.

Semangat Sumpah Pemuda yang dipelopori Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menjadi pengantar sejarah semangat perjuangan pemuda Nusantara waktu itu. Kongres Pemuda II menghasilkan sumpah setia terhadap eksistensi kebangsaan. Sumpah itu kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda yang mengisyaratkan bahwa persatuan dan kesatuan hanya bisa diraih dengan pemahaman tentang sejarah bangsa, bahasa, pendidikan, dan kemauan untuk bangkit dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Sumpah Pemuda inilah yang mengubah paradigma bangsa dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang bertekad meraih kemerdekaan dengan dukungan peran pemuda yang terdidik dan terpelajar.

Momentum fenomenal
Sumpah Pemuda menjadi momentum fenomenal yang menginspirasi semangat kebangsaan dan kesatuan sampai saat ini. Momentum ini menguburkan perbedaan-perbedaan yang ada dan melebur dalam satu semangat satu tanah air, bangsa, dan bahasa.

Cerminan persatuan dan kesatuan ini merefleksikan keadaan pemuda saat ini. Terlepas dari sejarah perjuangan waktu itu, pemuda yang dikenal dengan agen perubahan memiliki beban moral yang besar dalam perjalanan bangsa ini. Jatuh bangunnya bangsa ini tidak terlepas dari tanggungjawab generasi-generasi muda Indonesia, karena masa depan negara ini terletak pada pundak para pemuda bangsa ini.

Momentum fenomenal ini merupakan goresan tinta sejarah bangsa Indonesia dan tidak pernah kering untuk menuliskan peran kaum muda dalam momentum perjuangan bangsa. Pemikiran dan gagasan kaum muda selalu menjadi inspirasi kebangkitan bangsa ke arah perubahan. Perjuangan kaum muda pada saat itu telah mengantar bangsa ini sampai pada gerbang kemerdekaan yang kita rasakan sampai saat ini. Pertanyaannya adalah: kemerdekaan yang seperti apakah?

Pertanyaan di atas akan menjadi pertanyaan reflektif bagi pemuda-pemuda saat ini, khususnya mahasiswa. Perlu disadari bahwa tanggungjawab mahasiswa sangatlah besar, untuk itu refleksi diperlukan untuk mengenang 86 tahun yang lalu dan memikirkan apa yang harus dilakukan saat ini sebagai pemuda harapan bangsa.

Dengan demikian ada beberapa hal yang perlu menjadi pemikiran pemuda. Pertama, inspirasi masa lalu harus menjadi dasar filosofis yang menginspirasi kebangkitan bangsa dari keterpurukan. Kedua, semangat masa lalu bias menjadi dasar menjajal era modern dan globalisasi dalam membebaskan manusia Indonesia, bukan sebaliknya. Daya kritis dan energi positif tidak boleh dijadikan penghambat, melainkan akselerator dan dinamisator masa depan.

Tantangan jaman
Perubahan zaman telah mengubah paradigma bangsa ini, yang dulu adalah murni perjuangan fisik melawan penjajahan, sekarang menjadi perjuangan kesadaran dalam penguasaan iptek. Perkembangan iptek telah banyak memproduksi kemudahan manusia. Salah satu hasil iptek adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Kesadaran untuk maju di alam modern ditentukan oleh seberapa besar kehendak dan respon pemuda terhadap dinamika zaman. Era globalisasi yang ditandai dengan akselerasi kemajuan teknologi seakan-akan mengarahkan paradigma manusia, bahwa penguasaan dan perubahan itu sendiri akan terjadi hanya ketika pemanfaatan, penguasaaan, dan eksplorasi teknologi yang sebesar-besarnya terjadi.

Negara-negara di belahan dunia lain sebagai sumber globalisasi sangat memahami pentingnya penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Tidak heran jika penguasaan terhadapnya telah menjadi sumber utama kemajuan kehidupan mereka. Tidak heran jika penguasaan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadikan mereka sebagai penguasa ekonomi di dunia. Dengan momentum Sumpah Pemuda ini, pemuda harus becermin untuk selalu meningkatkan kualitas diri, sehingga dapat mengusai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Tidaklah cukup selalu berharap pada kejayaan masa lalu. Artinya, jangan hanya bereuforia dengan semangat masa lalu. Potensi pemuda begitu besar dalam proses pembangunan bangsa ini, maka dari itu akhir tulisan ini: percumalah hidup ini kalau masa muda hanya untuk bersenang-senang, karena kegagalan akan selalu mengiringimu.

Martinus Majangga, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Komunikasi

8 komentar pada Momentum Fenomenal Sumpah Pemuda

  1. joko 30 Oktober 2010 pukul 12:47

    banyak oknum mahasiswa sekarang suka tawuran antar sesama dan demo anarkis.

  2. Parman Pasanje 9 November 2010 pukul 15:21

    bagaimana menanamkan nilai-nilai luhur dari para pendahulu jugalah yang menjadi pekerjaan rumah para pemuda. berdasarkan referensi sejarah, pada saat menjelang Kongres Pemuda II yang menghasilkan “Sumpah Pemuda” itu, ada juga perbedaan-perbedaan pandangan di antara mereka. Tetapi yang menjadi pelajaran berharga adalah perbedaan pandangan hingga perbedaan latar belakang sosial budaya mampu disatukan dalam semangat “Sumpah Pemuda”.

    Bahan refleksi yang menarik..
    Salam,,

  3. Nabi PaLSU 12 November 2010 pukul 23:16

    @ Joko: betulll sekali…. sekarang ini… menurut hemat saya…
    gampang sekali mahasiswa yang katanya kaum intelektual, ada juga yang bilang kaum cendekiawan…. tapi anarkis….. tapi saya yakin di UKSW gak ada……. hehehe…
    stop kekerasan… stop[ tawuran… stop demo dengan kekerasan,,,, stop anarki……. semoga!!!

  4. Andre 15 November 2010 pukul 2:30

    mari kita menunggu “moderasi”.

  5. ehn 15 November 2010 pukul 12:00

    menunggu moderasi.. atw memang gak ada yang boleh comment yah… uhuy commentq 2 kali gak ada.. hehehe
    kayak jaman Orde Baru

  6. Wiyadi Hutomo Reksosoebroto 19 November 2010 pukul 7:37

    Bilamana di saat ini saya melihat, bahwa mahasiswa hanya dijadikan penonton aktif untuk segala hal.
    Mahasiswa hanyalah objek yang tiada pernah mau terjun guna menjadi subjek.
    Guna mendapatkan perkembangan dan intelejensi guna intelektualisasi harus keluar dana lagi.
    Ikut kegiatan harus bayar, mau bercengkrama dengan teman-teman dan mencari solusi untuk membahas permasalahan sudah tidak ada tempat. Tempat yang ada sudah tidak mewadai dan bila menggunakan ruang kelas pun harus membayar.
    Tolong donk wakil mahasiswa, serius di dalam sini. Kasihan sudah bayar mahal tetapi tidak mendapatkan perkembangan intelektual dan intelejenitas bagi dirinya.
    Jangan lupakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, karena hal tersebut merupakan acuan berdirinya Universitas.

  7. Nabi Palsu KW Super (Made in China) 21 November 2010 pukul 9:46

    Sepakat dg mas Joko dan mas Nabi Palsu (bukan KW Super) bhw mmg akhir2 ini melalui tontonan media sering saya melihat byk kejadian dmn mahasiswa tdk bersikap layaknya mahasiswa ketika menyampaikan aspirasi.. Penuh anarkisme.. Semoga mahasiswa UKSW pd khususnya dapat belajar dari hal ini, sllu menyampaikan aspirasinya dg santun dan cerdas tanpa mengurangi kekritisannya.. Bgt lah hemat saya.. Saya jg yakin saat ini UKSW jauh dr aksi anarkisme seperti tayangan2 TV itu.. Veritax lux mea..

  8. lia 19 Januari 2011 pukul 9:35

    bener sekali sumpah pemuda adalah peristiwa yg luar biasa, yg didorong oleh keinginan,kesadaran pentingny kemerdekaan, kondisi pemuda saat ini bs dibilang memprihatinkan, hanya sebagian kecil saja yg sadar akan pentingny mempertahankan kemerdekaan dg benar, bener juga kata temen2 bnyk mahasiswa yg terkesan anarkis dlm menyampaikan aspirasi, pdhl itu merugikan mereka sndr, yg perlu kita jdkan PR skr bgmn jika kita jd pimpinan apakh kt bs menjadi pimpinan yg adil dan bijaksana? PR ini perlu kt kerjakan brsm, agar bs maju dan berkembng dan tdk terperosok pd lubang yg sm. Bicara itu mudah, tp praktekny sangatlah sulit.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Masukkan alamat surel anda untuk berlangganan situs web ini. Cek kotak masuk atau spam surel anda untuk mengonfirmasi langganan.

Bergabung dengan 3 pelanggan lain

Pendaftaran Wartawan Baru


Scientiarum membuka pendaftaran wartawan tulis dan foto. Formulir dapat diambil di kantor SA pada jam berapa saja, atau unduh pada tautan berikut:
Formulir SA