Internasionalisasi UKSW, Siapa Takut?

Browse By

Di era global ini, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, perguruan tinggi harus bergerak menuju suatu standar yang memungkinkan sivitasnya untuk berkancah serta bersaing di dunia internasional. Bagi UKSW, perjalanan ini sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu melalui berbagai program kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di luar negeri. Di antaranya terdapat program studi lanjut bagi dosen, penelitian dan publikasi bersama, pertukaran dosen dan mahasiswa, mengadakan atau berpresentasi di seminar internasional, mendatangkan mahasiswa luar negeri untuk belajar di UKSW seperti misalnya program PIBBI, serta berbagai partisipasi dosen dan mahasiswa dalam program-program internasional lainnya.

Dengan demikian, internasionalisasi UKSW bukanlah hal baru. Strategi yang UKSW lakukan saat ini adalah menambah intensitas dari berbagai program internasionalisasi yang sudah berjalan serta menambah beberapa program baru agar dampaknya bisa lebih dirasakan segenap sivitas akademika.

Secara garis besar, internasionalisasi mencakup tiga aspek utama, yakni internasionalisasi sumberdaya dosen, internasionalisasi mahasiswa, dan internasionalisasi kurikulum.

Bagi dosen, internasionalisasi secara spesifik berarti mengembangkan profesionalismenya agar bisa berkontribusi dalam pencapaian standar mutu internasional dalam bidang pengajaran dan penelitian serta publikasi. Secara umum, internasionalisasi juga berarti mengembangkan kemampuan pemahaman yang lebih baik akan adanya perbedaan-perbedaan antarbangsa, antarbudaya dan antarperspektif budaya yang di antaranya akan berguna untuk ikut mencipta perdamaian dunia. Dengan pengalaman berinteraksi secara internasional, dosen akan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memahami dan merespon berbagai perubahan, tantangan dan isu dalam kancah global maupun regional.

Untuk menfasilitasi pencapaian itu, dosen perlu mendapat kesempatan untuk terlibat dalam mengajar, meneliti, publikasi, atau kegiatan lain yang dilakukan dalam kolaborasi dengan rekanan dari universitas atau organisasi mitra di luar negeri. Untuk ini ada beberapa usaha yang dilakukan. Berbagai MoU telah diadakan dengan universitas mitra di luar negeri. Misalnya saat ini diadakan penelitian dan publikasi bersama dengan Charles Darwin University serta National University of Singapore. Beberapa dosen juga berhasil mendapat beasiswa Dikti untuk mengadakan penelitian di universitas luar negeri maupun menjalani Program Academic Recharging (PAR) di universitas terkemuka di luar negeri. UKSW juga sangat beruntung karena mendapat dukungan berbagai lembaga seperti United Board of Christian Higher Education in Asia (UBCHEA), Mennonite Church Committee (MCC), American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF), Fulbright Program, dan Presbyterian Church USA, yang banyak membantu dalam memberikan bantuan tenaga dosen asing untuk mengajar di UKSW.

Dosen perlu pula terlibat dalam jejaring dan asosiasi internasional, aneka konferensi dan forum untuk pengajar, pendidik, peneliti dan praktisi mancanegara. Di tingkat universitas, UKSW tergabung dalam konsorsium Perguruan Tinggi Indonesia-Pittsburgh dan DBE2 yaitu konsorsium beberapa universitas di Indonesia dan Pittsburgh University, Massachusetts University, dan Florida State University. Berbagai kegiatan bersama dalam berbagai bidang telah dan sedang dilakukan. Forum ini memungkinkan dosen UKSW berinteraksi dan saling belajar dari berbagai universitas di Indonesia lainnya dan luar negeri. UKSW juga tergabung dalam ACUCA atau Association of Christian University in Asia yang merupakan gabungan sekitar 50 universitas Kristen di Asia. Melalui forum ini ada banyak program internasional serta networking yang dapat dilakukan. Di tingkat perorangan, banyak dosen sudah tergabung dalam asosiasi profesi berskala internasional seperti menjadi anggota Asia-TEFL, APAIE, ATSEA dan sebagainya. Di samping menyelenggarakan seminar internasional dengan mendatangkan pembicara kelas dunia di UKSW, dosen UKSW juga sering mendapat kesempatan menjadi pembicara seminar internasional di luar negeri. Kegiatan ini terus didorong dengan bantuan dana dari fakultas maupun universitas. Tidak jarang dosen UKSW juga mendapat bantuan dana dari Dikti untuk kegiatan seperti ini.

Dosen juga perlu memiliki mobilitas dalam kesempatan mendapatkan pengalaman kerja maupun melanjutkan studi di kancah global. Dalam aspek ini UKSW memberikan kesempatan yang sangat luas bagi dosennya untuk bisa mendapatkan pengalaman kerja maupun studi di tempat lain demi pengembangan karier dan profesionalismenya. Misalnya dengan syarat tertentu seorang dosen dimungkinkan untuk cuti di luar tanggungan untuk mendapatkan pengalaman kerja di lingkungan yang berbeda. Seorang dosen yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di luar negeri, selama yang bersangkutan tidak mempunyai tanggungan hutang kerja, juga tidak perlu “urut kacang” untuk dapat melanjutkan studinya. Kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri juga memberi peluang untuk mengadakan tukar-menukar dosen (scholar exchange) untuk jangka waktu tertentu.

Di aras mahasiswa, internasionalisasi berarti mengembangkan mahasiswa agar mampu berperan dan bersaing di pasar tenaga kerja antarnegara serta ekonomi global. Untuk tidak mengulang kalimat, internasionalisasi mahasiswa juga mencakup arti internasionalisasi umum yang telah disebutkan untuk dosen.

Definisi internasionalisasi bagi mahasiswa tadi mungkin dirasa terlalu ambisius. Namun paling tidak, manfaat nyata dari internasionalisasi harus bisa dirasakan mahasiswa, di antaranya melalui kesempatan di dalam kampus untuk berinteraksi dengan mahasiswa luar negeri.

Mahasiswa UKSW dapat berinteraksi dengan mahasiswa dari luar negeri melalui berbagai program. Program Intensif Bahasa dan Budaya Indonesia (PIBBI) yang diikuti peserta dari Australia, Amerika, Jepang, Singapura dan bangsa lainnya memberi kesempatan pada mahasiswa UKSW untuk mendaftar sebagai “tutor” maupun sebagai teman mahasiswa asing tersebut untuk bertanya maupun belajar. East Asia Student Encounter (EASE) yang diadakan tiap tahun bersama Kwansei Gakuin University juga merupakan program internasional mahasiswa yang telah terjadi rutin sejak puluhan tahun yang lalu. Agar mahasiswa kita mendapat lebih banyak kesempatan berinteraksi secara internasional, saat ini sedang dipersiapkan berbagai program untuk menambah intake mahasiswa internasional datang belajar di UKSW. Di antaranya adalah melalui program transfer kredit bagi mahasiswa universitas mitra di luar negeri untuk belajar di UKSW, serta program pendek dua mingguan yang lebih menekankan pada pengalaman lapangan. Adapun program transfer kredit yang sudah berjalan adalah dengan Australian National University untuk matakuliah bahasa dan budaya Indonesia dan dengan mahasiswa KGU untuk beberapa matakuliah lainnya. Dalam waktu dekat diharapkan program transfer kredit dan program dua mingguan dapat berjalan untuk mahasiswa dari universitas mitra lain.

Kesempatan belajar di universitas mitra juga ada di UKSW. Program dual degree Magister Biologi bekerjasama dengan KGU Jepang dan Universitas Glasgow memungkinkan mahasiswa mendapatkan dua gelar magister dari UKSW dan dari universitas mitra. Program ini didukung oleh Dikti melalui beasiswa Persemaian Insan Indonesia Cerdas. Di samping itu, tahun ini ada beberapa mahasiswa yang mendapat kesempatan mengikuti studi lapangan di Taiwan, student mobility di Korea serta short course di Amerika Serikat. Jumlahnya memang terlalu kecil dibandingkan dengan mahasiswa UKSW yang 11.500 jumlahnya. Hal ini dikarenakan kesempatan untuk dapat mengikuti kegiatan internasional maupun untuk belajar di universitas mitra di luar negeri membutuhkan biaya yang mahal. Kerjasama UKSW dengan sejumlah universitas di Asia untuk transfer kredit dan dual degree yang dirintis dalam setahun belakangan ini diharapkan dapat menambah mobilitas mahasiswa karena selain mahasiswa mendapat fasilitas pembebasan uang kuliah di universitas mitra (hanya membayar di universitas asal) biaya hidup di sebagian besar negara Asia tidaklah semahal di negara belahan utara ataupun selatan (Australia). MoU juga mengatur agar mahasiswa mendapat fasilitas tinggal di asrama mahasiswa yang relatif lebih murah dibandingkan tempat tinggal di luar kampus. Kantor Kerjasama Internasional UKSW siap menfasilitasi mahasiswa yang berniat untuk mengikuti program ini dengan berbagai bantuan, di antaranya adalah pengurusan dokumen yang diperlukan serta info-info beasiswa.

Mahasiswa juga punya kesempatan diajar dan dibimbing oleh dosen berstandar internasional. Seperti telah disebutkan tadi, UKSW mendapatkan bantuan dosen dari berbagai lembaga mitra di luar negeri sehingga mahasiswa cukup mendapat kesempatan untuk diajar oleh dosen yang berkualitas baik. Melalui jaringan internasional yang luas UKSW juga sering mendapat bantuan tenaga dosen yang berpengalaman secara internasional yang ingin melakukan cuti sabbatical di UKSW. Dengan standar mutu dosen UKSW yang bertambah baik diharapkan kesempatan melakukan pertukaran dosen dengan universitas mitra di luar negeri juga akan semakin terbuka luas.

Kesempatan melakukan penelitian atau latihan penelitian dalam kolaborasi dengan mahasiswa dari universitas mitra di luar negeri juga terbuka lebar. Program dual degree, student exchange, transfer kredit, short program, dan program student mobility lainnya memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berkolaborasi dengan mahasiswa dari universitas lain untuk melakukan (latihan) penelitian. Short program dan transfer kredit yang sedang dipersiapkan di UKSW, misalnya, dirancang untuk dilakukan secara kelompok ataupun berpasangan antarmahasiswa UKSW dan mahasiswa universitas mitra agar bisa saling berkolaborasi. Melalui kerjasama yang dilakukan dengan Charles Darwin University serta Universitas Nusa Cendana dan UGM, beberapa mahasiswa UKSW juga diberi kesempatan untuk melakukan penelitian bersama dengan dibimbing dosen dari universitas kerjasama ini.

Internasionalisasi kurikulum adalah pengembangan kurikulum yang memungkinkan mahasiswa untuk mengidentifikasi dan memahami saling keterikatan antartempat, bangsa, masyarakat, budaya dan sistem yang beranekaragam di dunia ini serta mampu menempatkan dirinya secara pas di konteks internasional tersebut. Beberapa usaha ke arah tersebut yang dapat dilakukan adalah dengan menyajikan online courses, menyajikan joint electives dengan universitas mitra, menyajikan matakuliah international team teaching yang diajarkan oleh sejumlah dosen dari berbagai latarbelakang bangsa dan budaya, menyajikan kuliah tamu dari berbagai latarbelakang, mengadakan kuliah teleconference dengan mahasiswa universitas mitra, mengadakan joint/dual degrees dengan universitas mitra, dan menyajikan matakuliah berbasis internet.

Diakui belum semua usaha ini dapat dilakukan di UKSW. Fasilitas serta tenaga terampil pendukung untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan internasionalisasi tadi belum semuanya dapat dipenuhi. Seperti kita ketahui bersama, pengadaan fasilitas pendukung berbanding lurus dengan ketersediaan dana. Bagi universitas not for profit seperti UKSW, harap dimaklumi jika fasilitas berstandar internasional belum dapat seluruhnya dipenuhi. Keterpanggilan UKSW untuk melayani berbagai lapisan masyarakat tidak memungkinkan universitas ini untuk memasang tarif internasional sekalipun tantangan global menuntut kualitas internasional dari lulusannya.

Namun ternyata pintu itu tidak tertutup seluruhnya. Anggaran Pemerintah di bidang pendidikan yang naik secara signifikan memberi beberapa peluang untuk mengembangkan internasionalisasi pendidikan. Sebagaimana telah disebut tadi, beberapa dosen UKSW berhasil mendapatkan bantuan dari Dikti untuk pergi ke universitas terkemuka di luar negeri baik untuk studi, mengadakan penelitian, menjadi pembicara seminar internasional atau melakukan academic recharging. Beberapa mahasiswa kita yang mengikuti short program di Taiwan Juli 2010 yang lalu adalah berkat dukungan dana dari Dikti. Program dual degree Magister Biologi juga terselenggara atas bantuan Dikti. Program Muhibah Kesenian Fakultas Seni Pertunjukan Agustus 2010 yang lalu ke Thailand dan Singapura juga merupakan program yang didanai Dikti. Dan, baru saja saya lihat di situs web Dikti kalau program hibah Bantuan Penguatan Kelembagaan Kantor Urusan Internasional yang saya ajukan ke Dikti ternyata disetujui. Di sini tampak bahwa dukungan dari Pemerintah untuk internasionalisasi cukup besar.

Dengan berbekal dukungan berbagai pihak, UKSW meski serba terbatas juga, siap untuk tetap melangkahkan kaki ke arah internasionalisasi pendidikan. Jika keberhasilan diukur dari jumlah komunitas internasional di UKSW dalam setahun, angka yang didapatkan masih setara dengan komunitas internasional di sejumlah universitas negeri di Indonesia. Ukuran-ukuran keberhasilan lain misalnya dari jumlah penelitian dan publikasi internasional yang dihasilkan, atau dari jumlah mahasiswa dan lulusan yang dapat berkancah di dunia internasional sedang dan masih diupayakan terus agar meningkat di masa-masa mendatang.

Akhir kata, jika sementara orang mempertanyakan sanggupkah UKSW go international, kiranya tulisan ini dapat menjawab keraguan tersebut.

Martha Nandari, pembantu rektor IV

2 thoughts on “Internasionalisasi UKSW, Siapa Takut?”

  1. Pingback: Lokalisasi UKSW, Siapa Takut? | Scientiarum | Universitas Kristen Satya Wacana | Salatiga
  2. Trackback: Lokalisasi UKSW, Siapa Takut? | Scientiarum | Universitas Kristen Satya Wacana | Salatiga
  3. venancio says:

    selamat pagi, saya hanya ingin tanya bagaimana dengan mahasiswa trasfe ? soalnya saya mau tansfer ke uksw tapi saya belum tahu apa saja kriteinya ? mohon di balas ya !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *