Lokalisasi UKSW, Siapa Takut?

Browse By

Kalau Pembantu Rektor IV Martha Nandari dalam opininya bertanya “Internasionalisasi UKSW, Siapa Takut?” maka bisa dijawab: yang takut adalah yang takut. Dan selamanya begitu. Dan kalau kita boleh ganti bertanya, kita bisa menyodorkan pertanyaan yang pada dasarnya sama tapi tak serupa:

“Lokalisasi UKSW, Siapa Takut?”

Tampaknya, bukan cuma internasionalisasi pendidikan yang bisa membuat orang gentar. Apa sebenarnya yang ditakuti orang terhadap internasionalisasi? Bahasa Inggris? Bahasa Inggris mudah dipelajari dan jumlah penerjemah tidak kurang-kurang. Kerjasama luar negeri? Kontak luar negeri sudah mudah didapat karena kecanggihan teknologi. Dan standar internasional? Apa pula itu standar internasional? Siapakah yang berhak menentukan bahwa sesuatu berstandar internasional atau tidak? Dan seberapa berhak? Darimanakah hak itu berasal? Tidak pernah jelas.

Tapi justru karena ketidakjelasannya itulah standar internasional dipakai. Kekaburannya dapat dimanfaatkan si pemakai untuk menutupi hal-hal yang memang patut ditutup-tutupi. Banyak sekolah tampak mendadak bonafide hanya karena memakai cap “Sekolah Berstandar Internasional”. Toh banyak juga yang bermasalah. Banyak sekali malah. Orang mengira bahwa apa-apa yang sudah berstandar internasional itu pasti lebih baik dan, karenanya, boleh lebih mahal. Padahal tidak juga.

Namun itu tetap tidak menghalangi kesilauan orang terhadap yang internasional. Yang internasional—biasanya diimpor dari Barat—dihormati karena rasanya modernitas memang mengajarkan orang untuk begitu. Dan modernitas mengajarkan begitu, karena sesungguhnya modernitas sendiri adalah produk dari Barat. Dahulu kita berjuang mati-matian memisahkan diri dari Barat, namun sekarang kita senang alang kepalang menggandeng yang kebarat-baratan. Apa yang tidak kita impor dari Barat? Teknologi kita impor. Gaya berpakaian kita impor. Metodologi penelitian kita impor. Langgam berbahasa kita (Engdonesian) impor. Bahkan isi perut dan Tuhan pun kita impor. Sebentar lagi, kalau PLTN Muria jadi, tingkat ketergantungan kita pada yang impor-impor bertambah. Hari ini penjajahan internasional kian hilang namun kian menggenggam, sambil tetap membuat orang yang digenggam merasa senang.

Dalam opininya Martha Nandari menulis, “Di era global ini, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, perguruan tinggi harus bergerak menuju suatu standar yang memungkinkan sivitasnya untuk berkancah serta bersaing di dunia internasional.”

Itu artinya internasionalisasi kita adalah sesuatu yang dipaksakan, karena mau tidak mau, suka tidak suka, kita diharuskan bergerak ke situ. Jadi apa bedanya pemaksaan dengan penjajahan? Kita memang dan sebaiknya tidak harus alergi dengan internasionalisasi, tapi keharusan yang dijejalkan dari luar selalu menjengkelkan.

Keharusan juga memuat keanehan-keanehan. Demi satu atau beberapa keharusan, mahasiswa ekonomi diajari ekonomi internasional, padahal ekonomi Pasar Jetis pun ia tak paham. Mahasiswa filsafat berdebat mati-matian soal Marx dan Kant, sementara Suryamentaram tidak dikenal. Pendidikan kita, dengan keharusan-keharusannya, membuat orang lebih mencintai hal-hal yang jauh sekaligus tak tersentuh. Padahal Gie pernah menyatakan pendapat: agar dapat mencintai sesuatu dengan sehat, orang harus mengenal objeknya dari dekat. Pengetahuan dimulai dari menyentuh hal-hal terdekat, bukan terjauh. Lantas apa guna mengenal orang di seberang lautan padahal sesama tetangga saling acuh tak acuh? Kendati demikian, itulah yang terus-menerus dikerjakan orang.

UKSW boleh punya sepak terjang internasional seperti yang PR IV katakan, dan menghilang saat orang-orang Salatiga membutuhkan. Dimana UKSW saat warga Noborejo dipermainkan Pemerintah Kota soal pembangunan SPBE? Apa yang UKSW katakan saat berhektar-hektar lahan Blotongan digunduli sebelum perhitungan AMDAL? Bisa jadi—baru barangkali—UKSW diam karena walikotanya alumni sendiri, dan lahan gundul itu disiapkan pemiliknya untuk kampus baru UKSW nanti. Namun barangkali pula, UKSW diam karena tak tahu dan enggan peduli. Orang UKSW rasanya lebih tahu dan lebih peduli isu-isu pembangunan di Indonesia Timur ketimbang kotanya sendiri.

Apakah yang demikian dapat disembuhkan dengan internasionalisasi? Apakah mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen yang sudah dikirim ke luar negeri itu otomatis menjadi lebih peduli? Apakah publikasi-publikasi ilmiah itu membuat hidup orang lebih baik, atau sekedar memuaskan ego keilmuan kita sendiri? Baiklah kita simpan pertanyaan-pertanyaan ini di dalam hati karena, bagaimanapun, yang berbahagia adalah mereka yang mendengar dan melaksanakannya dalam kehidupan hari lepas hari.

Satria Anandita, mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi

3 thoughts on “Lokalisasi UKSW, Siapa Takut?”

  1. Didik Nugroho says:

    Jadi ingat sapi-sapi saya yang impor dari Australi dan yang impor dari Boyolali tidak berbeda jauh hasilnya kalau makanan dan perawatannya baik. Hanya yang dari Australi lebih mahal, lebih keren, lebih dll tapi dua-duanya tetap sapi 😀

  2. WH says:

    Takut akan Tuhan…..
    Takut akan Hukum (Hukum Kasih, Hukum taurat, Hukum Dunia, Hukum Negara serta Hukum HAM)
    Untuk apa kita takut akan hal lain bila kita tak melanggar Hukum!!!

  3. BPMU says:

    UKSW boleh punya sepak terjang internasional seperti yang PR IV katakan, dan menghilang saat orang-orang Salatiga membutuhkan. Dimana UKSW saat warga Noborejo dipermainkan Pemerintah Kota soal pembangunan SPBE? Apa yang UKSW katakan saat berhektar-hektar lahan Blotongan digunduli sebelum perhitungan AMDAL? Bisa jadi—baru barangkali—UKSW diam karena walikotanya alumni sendiri, dan lahan gundul itu disiapkan pemiliknya untuk kampus baru UKSW nanti. Namun barangkali pula, UKSW diam karena tak tahu dan enggan peduli. Orang UKSW rasanya lebih tahu dan lebih peduli isu-isu pembangunan di Indonesia Timur ketimbang kotanya sendiri.

    UKSW rasanya lebih tahu dan lebih peduli isu-isu pembangunan di Indonesia Timur ketimbang kotanya sendiri. Kami menanggapi hal ini, sudah ada perjanjian antara UKI yang berdiri pada tahun 1955 dengan UKSW yang berdiri satu tahun setelahnya yakni tahun 1956. Perjanjian tersebut terarah dalam hal pelayanan Universitas, dimana UKI akan melayani wilayah Indonesia di bagian barat, sedangkan UKSW lebih menyikapi pelayanan untuk wilayah Indonesia bagian timur.
    Namun jika pembaca melihat pelayanan UKSW sampai ke wilayah Indonesia bagian barat. Puji Tuhan…berarti sivitas UKSW atau pun alumni UKSW telah mampu melayani masyarakat di bagian barat tersebut serta di dalam artian membantu pelayanan dari UKI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *