Polemik Tugu Tamansari

Browse By

Walikota Salatiga John Manoppo berencana membangun tugu baru di Bundaran Kaloka untuk menggantikan Tugu Jam. Tugu baru yang akan dinamai Tugu Tamansari itu seharusnya telah mulai dibangun sejak Oktober 2010 lalu. Kendati anggarannya telah dimasukkan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) 2011, hingga kini nasib pembangunannya masih belum jelas karena muncul banyak penolakan dari masyarakat.

Penolakan tersebut muncul antara lain dari Angkatan Muda Umat Islam Salatiga, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Salatiga, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Salatiga, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Salatiga, Himpunan Masyarakat Salatiga, Forum Wali Salatiga, Badan Koordinasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Salatiga, hingga sejumlah besar fraksi DPRD Salatiga. Pada 16 Agustus 2010, koran sore Wawasan memberitakan bahwa Gubernur Bibit Waluyo pun meminta agar pembangunan Tugu Tamansari dibatalkan. Alasan penolakan beragam mulai dari persoalan dana, nama, hingga nilai guna tugu tersebut.

MUI Salatiga, misalnya, menolak pembangunan tugu tersebut karena semula akan dinamakan Trigostya. Menurut situs web resmi Pemerintah Kota Salatiga, nama tersebut diambil dari latarbelakang sejarah Salatiga yang tertulis pada Prasasti Plumpungan. Namun menurut MUI, nama Trigostya yang beringsut menjadi Trigosti atau Trigusti itu bisa menimbulkan arti “tiga tuhan” yang mengacu pada agama tertentu. Atas dasar ini maka rencana nama tugu tersebut diubah menjadi Tugu Tamansari.

Pada 27 September 2010, koran sore Wawasan memuat pernyataan Iskandar dari MUI Salatiga yang mengancam akan membongkar paksa Tugu Tamansari jika Walikota John Manoppo bersikeras melaksanakan pembangunan. Alasannya, rencana pembangunan Tugu Tamansari bukan langkah tepat “mengingat masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan walikota sebelum lengser tahun depan”.

Alasan penolakan lain adalah dana yang digunakan untuk membangun tugu tersebut terlalu besar jika dibandingkan nilai guna monumen tersebut. Rencananya, tugu itu akan dilengkapi dengan dua patung Panglima Besar Jendral Sudirman dan Pangeran Diponegoro yang terbuat dari perunggu. Pada diskusi di kantor Scientiarum tanggal 20 Oktober 2010, Fahmi Asyhari dari Komisi I DPRD Salatiga mengatakan bahwa anggaran pembangunan tugu naik terus dari Rp 2,2 miliar menjadi Rp 2,6 miliar kemudian Rp 3,2 miliar dan terakhir Rp 3,6 miliar. “Pak John pernah mengatakan bahwa sebelum masa akhir jabatannya dia pernah mengatakan, berilah kenang-kenangan buat saya,” ujar Fahmi.

Petrus Yustinus Parito, koordinator humas Asosiasi Jasa Konstruksi (AJK) Salatiga yang juga bekas staf perencanaan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Salatiga, dalam penuturannya kepada harian Solopos, 16 September 2010, mengatakan bahwa anggaran sejumlah itu terlalu besar untuk pembangunan tugu identitas kota sekecil Salatiga. Ia menyebutkan bahwa anggaran Rp 800 juta sudah cukup untuk membuat tugu yang sangat bagus untuk identitas Salatiga. Anggaran yang terlalu besar itu malah memicu kecurigaan Petrus bahwa proyek pembangunan tugu ini hanyalah sarana mengumpulkan dana untuk pemilihan kepala daerah Salatiga pada Mei 2011 nanti.

Tugu di Bundaran Kaloka terakhir kali diresmikan oleh Walikota Salatiga Djoko Santoso pada 21 April 1983. Karena masih termasuk baru, tugu tersebut belum dapat digolongkan ke dalam benda cagar budaya Salatiga. Dalam Dokumen Perencanaan Anggaran (DPA) Dinas Tata Kota Salatiga, nama tugu tersebut adalah Tugu Jam karena terdapat jam pada keempat sisinya. Tugu ini adalah tugu ketiga yang bertempat di Bundaran Kaloka. Sampai sekarang Tugu Jam masih berdiri tegak di tengah Bundaran Kaloka.

“Rencana pembangunan tugu baru yang sudah disampaikan oleh Dinas Tata Kota, ketinggian tugu baru yang akan dibangun tersebut mencapai 30 meter. Menurut saya kalau tugu yang tingginya mencapai 30 meter itu dibangun dan ditambah penangkal petir yang tingginya mencapai 2 meter, dengan letak geografis Salatiga yang terletak di dataran tinggi dan diukur dengan kecepatan angin yang begitu kencang, maka tugu tersebut akan roboh dan akan menimpa rumah dinasnya Pak John,” kata Fahmi Asyhari sambil bergurau.

Fahmi Asyhari barangkali adalah anggota dewan yang paling giat mengampanyekan penolakan pembangunan tugu baru tersebut. Satu hari sebelum pengesahan anggaran dalam KUA dan PPAS 2011, ia datang ke Gedung Lembaga Kemahasiswaan UKSW untuk mengajak para mahasiswa berdiskusi mengaji pembangunan tugu baru tersebut. Ia juga mendatangi sejumlah elemen masyarakat untuk kepentingan yang sama. Hasilnya, desakan-desakan masyarakat mulai naik. DPRD yang mayoritas anggotanya semula mendukung rencana John Manoppo itu kini mulai berbalik menolak pembangunan tugu.

Kini setelah beberapa minggu menerima desakan-desakan mahasiswa, LSM, dan masyarakat, konon rencana pembangunan Tugu Tamansari dihentikan dengan dalih bahwa anggarannya akan dialihkan entah kemana. Petrus Yustinus Parito menyarankan agar Pemerintah Kota Salatiga mengalihkan anggaran pembangunan Tugu Tamansari untuk membangun terminal bongkar muat depan Pasar Andong, sedangkan Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistio mengusulkan Masjid Raya Salatiga, Pasar Rejosari, dan Pasar Jetis yang belum selesai dibangun. “Timbul pertanyaan bagi saya, anggaran tersebut akan lari kemana? Dan ini akan menjadi tugas saya, teman-teman dewan, dan mahasiswa untuk mengontrol dengan baik,” ujar Fahmi sebelum meninggalkan diskusi.

7 thoughts on “Polemik Tugu Tamansari”

  1. alberth ronald rumboirusi says:

    saya setuju jika tugu tersebut tidak jadi di bangun. sekarang coba buat terminal yang layak untuk anggutan umum yang menuju beringin dsb dengan dana tersebut. supaya angkutan itu tidak mangkal lagi di depan damarjati dan sekitarnya yang mana berpotensi sebagai sumber kemacetan. kenang-kenangan aja kok nyampe 3,6 miliar ??????????

  2. Coemi says:

    Tugu masih apik-apik aja kok mau diutak-atik.
    “… berilah kenang-kenangan untuk saya,” -> yang dimaksud tugu? he he itu milik rakyat, Pak..
    *Alangkah lucunya (pemerintah ini)..

  3. fiqih says:

    saya menolak jika tugu itu dibangun karena membuat salatiga menjadi kacau dan ditambah dibuatnya jalan searah yang membuat kacaunya lalulintas pada jalan searah tersebut,serta tidak ratanya jalan dipusat kota

  4. putrie says:

    bgm kota ini jd baek, klo para pemimpinya ga bisa berpikir positif, daripada buat tugu yang cuma diam saja pak, mbok mending uangnya buat benerin tu jalan satu arah yang pating “gronjal” ga karuan, dan rentan kecelakaan, serta semakin ruwetnya jendsud gara-gara kebijakan yang tidak berdasar, salatiga makin ruwet dan semrawut

  5. nike nih says:

    ga usah sok mendekorasi kota kalau tata kotanya saja masih (dari dulu) semrawut…

  6. Zie says:

    Tugu jam, tugu kenangan di Salatiga…

    tugu = kenang-kenangan = 3 miliar???
    gimana kalau pakai usulnya alberth?
    kenang-kenangan kan nggak harus berupa tugu…coba terminal untuk angkot..
    Daripada angkot2 berjubel di belakang Ramayana (masih di situ nggak sih?)

    Atau tugunya diperbaiki aja..biar jamnya bisa tepat…semakin berguna…
    Kalau itu mah nggak nyampe 8 juta…

  7. Jolissa says:

    sebenarnya apapun Tugu yang sekarang berada di bundaran taman Sari, dapat terlihat jika dipelihara baik2. kemarin2 selama saya kuliah dan tinggal di salatiga, jarang sekali saya melihat jam bundaran itu memiliki fungsi yang tepat. (selalu saja mati). tidak usah dibangun dan dibuat tugu yang baru yang menghabiskan berjuta2 uang masyarakat, cukup hanya memugar n memperindah tugu itu lagi supaya bisa punya nilai tersendiri untuk masyaraat sala3, baik penduduk asli maupun penduduk sementara.

    terus sukses untuk SALATIGA “Kota Hatti Beriman”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *