Si “Kucing” Menyihir UKSW

Browse By

Jumat 29 April, Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Komunikasi (FISKOM) menggelar acara hiburan berupa monolog “kucing” di Balairung Universitas (BU). Acara yang dibuka untuk umum ini, dimulai pukul 20.00 WIB.

Buruknya cuaca sempat menganggu acara yang mengundang Butet Kertaradjasa ini, akan tetapi hal ini tidak membuat antusiasme para penonton yang datang surut. Sebaliknya, malah semakin meninggi. Penuhnya kursi penonton menjadi bukti paling sahih dalam menggambarkan antusiasme ini.

Acara ini sendiri terselenggara sebagai rangkaian dari Roadshow Monolog “Kucing” karya Putu Wijaya. “untuk edisi di Salatiga, pihak Butet dan Djarum bekerjasama dengan Fiskom untuk mengelarnya” terang Girindra Prawredhi Abhiyoga, Ketua Panitia acara ini. Lanjutnya, “acara seperti ini khas konsumsi anak kampus. Ditengah hiburan yang hingar-bingar, kita masih punya seni-seni monolog yang mendidik”

Monolog “kucing” sendiri berkisah tentang seseorang, yang suatu ketika, sedang sangat kesal. Kekesalan itu ia dapati setelah kucing tetangganya sedang mencuri makanannya. Tak pelak, ia langsung memukul kucing itu hingga cacat. Seketika itu juga, kejadian itu langsung mengubah hidupnya, baik dengan istri dan anaknya.

Persoalan semakin memanjang, melalui Pak RT, ia dikomplain pemilik kucing dan meminta ongkos perawatan kucing yang cacat akibat pukulannya. Lambat laun, ia merasa uangnya terus-menerus diperas oleh Pak RT.

Monolog ini berjalan santai dan penuh guyon, akan tetapi Butet tetap menyelipkan satu atau dua kritikan pedas “Kucing pun lebih mulia dari koruptor. Kucing tidak akan memakan jatah makanan yang bukan menjadi haknya!”

Di usai acara, tanggapan positif muncul dari salah seorang penonton. “bagus,” ujar Ferdiles Gabriel Maukar. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis tahun ketiga ini menjelaskan maksud kedatangannya ke acara ini, disebabkan karena ia memang menyukai seni monolog. “ada sindirannya, jadi lebih asyik. Ha-ha-ha”.

Kucing: Kisah Tentang Manusia, Bukan Politik
Saat ditemui usai pementasan, Butet yang masih terlihat lelah. Namun, aktor tambun ini masih terlihat setia melayani para penggemarnya, walau itu sekedar untuk foto bersama atau membagi tanda tangannya.

Memasuki wawancara, Ia pun mulai berkisah “awalnya (kucing) adalah sebuah cerpen (cerita pendek) dan dimuat di koran Tempo” lanjutnya, “lalu ketika dimuat, ia (Putu Wijaya) ngabarin saya dan bilang “itu cerpen bagus”. Saya respon “ya lebih bagus, jika saya mainkan sebagai monolog”. Itu sebabnya, naskah ini konstruksinya dirubah oleh Agus Noor sebagai naskah monolog. Dengan cerpennya sangat berbeda. Kalau cerpen cuma dibacakan, kalau ini dimainkan”

“selama ini (saya) terposisikan atau sering disalahpahami bahwa kalau memainkan naskah monolog (selalu) berisi statement politik” ujar Butet. Lewat “kucing”lah, ia ingin memberikan suasana yang berbeda dari biasanya “naskah ini bukan statement politik, tapi kisah tentang manusia, manusia dengan persoalan-persoalannya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *