Refleksi Kemerdekaan

Browse By

Merdeka atau mati! Sekali merdeka tetap merdeka! Demikian pekik lantang kata-kata tersebut pernah menjadi mantra sakti pembangkit semangat juang selama masa menyongsong dan mempertahankan kemerdekaan. Kemerdekaan yang diraih dengan susah payah dari tangan penjajah. Kata-kata itu masih kita kumandangkan sesekali, khususnya pada saat kita memperingati hari dimana Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Cita-cita Kemerdekaan
Dalam studi-studi mengenai penjajahan, paling tidak terdapat empat ciri hubungan antara yang dijajah dan yang terjajah, yaitu; pembedaan kelas sosial (segregasi sosial), ketergantungan politik dari rakyat terhadap penguasa/penjajah (political subordination), ketergantungan ekonomi terhadap penjajah dan pelayanan sosial yang minim terhadap rakyat (ekspolitasi), serta adanya jurang pemisah (ketidakadilan) antara penjajah dengan yang dijajah. Niscaya, kondisi-kondisi inilah yang pada mulanya hendak diubah ketika Indonesia mau merdeka dan melepaskan diri dari cengkraman penjajahnya.

Segala daya upaya lantas dikerahkan untuk memerdekakan diri dari hubungan subordinatif dengan bangsa yang merasa superior dan eksploitatif. Kata merdeka kemudian menjadi demikian menggelora karena ia dilandasi oleh suatu semangat perubahan kearah yang lebih baik, suatu cita-cita luhur. Cita-cita kemerdekaan itu digantungkan setinggi langit agar bangsa yang berikrar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, bisa lepas dari cengkraman dominasi bangsa lain dan lantas mulai menentukan nasibnya sendiri. Harapannya kelak, agar bangsa Indonesia dapat menjadi bangsa yang egaliter, cerdas, bersatu dan beradab, serta mampu mengusahakan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Bung Karno pernah mengucapkannya dengan lantang dalam salah satu pidatonya; kemerdekaan adalah jembatan emas yang akan membawa bangsa Indonesia kepada kemakmuran dan kesejahteraan.

Cita-cita kemerdekaan itu sejatinya dirumuskan secara gamblang dalam pembukaan konstitusi (Undang-Undang Dasar), dimana didalamnya termaktub pula lima sila yang menjadi landasan (dasar) hidup bersama bangsa Indonesia. Oleh karena itu, refleksi kemerdekaan mestinya membawa segenap elemen bangsa kepada ingatan dan imajinasi kolektif mengenai cita-cita awal kemerdekaan dan konsensus dasar bangsa ini. Terlebih pada saat ini, dimana kita sementara dikepung oleh semacam energi negatif yang berupaya menggerogoti seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa.

Peran Pemimpin
Pada titik ini perlu disadari bersama bahwa peran pemerintah dalam mengisi dan menyongsong cita-cita kemerdekaan memiliki signifikansi yang besar. Perlu disadari sepenuhnya bahwa pemerintah bertugas untuk memimpin sekaligus menjadi abdi dalam upaya untuk merealisasikan cita-cita kemerdekaan tersebut. Pada mereka-mereka inilah kita titipkan sebagian besar urusan bangsa dan pengelolaan negara. Sehingga tuntutan untuk menghayati kembali apa yang menjadi cita-cita berdirinya bangsa ini, utamanya ada dipundak siapapun yang memerintah dan menjadi pemimpin di negara ini. Menjadi pemimpin demikian mestilah siap untuk dihakimi, dalam arti dimintakan pertanggung jawabannya. Olehnya karenanya para pemimpin dan pemerintah di negara ini mesti merelakan dirinya untuk dikritik dan mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya, ketimbang terus bersolek dan bersembunyi di balik topeng sopan-santun dan kekuasaan.

Dilain sisi, pemerintahan yang ada didasari pada kedaulatan rakyat. Ini berarti sebagai warga negara, kita pun turut diminta pertanggung jawabannya dalam mengupayakan cita-cita kemerdekaan. “Keinsyafan akan tanggung jawab, mendidik dalam dada manusia perasaan kewajiban. Manakala rakyat seluruhnya merasa kewajibannya untuk mencapai keselamatan bersama, maka tertanamlah sendi negara yang kokoh”, demikian ucap Bunga Hatta dalam pidatonya setahun sesudah Proklamasi di hadapan pemusyawaratan Pamong Praja Solo.

Dulu, Kini dan Esok
Apa yang diidam-idamkan dan kenyataannya kerap tak bersanding, cita-citapun mensyaratkan kerja keras. Waktu kini telah berlalu 66 tahun sejak peristiwa proklamasi yang bersejarah itu. Usia yang mungkin masih belia untuk ukuran sebuah negara modern. Namun, pertanyaan yang terus mengelayut di langit penuh warna bangsa ini adalah; Apakah bangsa ini sudah sungguh-sungguh merdeka dan sudah sepenuhnya membalikkan keadaan (terjajah) yang awalnya membelenggu kita? Atau justru belenggu itu hanya berpindah tangan dan beralih bentuk? Adakah cita-cita kemerdekaan itu sudah terimplementasi didalam kehidupan berbangsa dan sudah merasuk sedemikian rupa didalam seluruh sendi kehidupan bernegara? Dengan kata lain, sudahkah kita tiba ujung jembatan emas itu, atau kita masih menitinya?

Kini pertanyaan-pertanyaan inilah yang mesti dijawab dan diupayakan realisasinya oleh pemerintah dan segenap komponen bangsa melalui momentum peringatan hari kemerdekaan. Memperingati hari kemerdekaan tidak bisa menjadi sekedar ritual-ritual kenegaraan dan seremoni belaka. Memperingatinya mesti membangkitkan harapan kita manakala Sang Saka Merah Putih dikibarkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Selama kita masih mau terus berharap, bangkit dari setiap keterpurukan, dan mengisi kemerdekaan dengan kerja keras, niscaya masih ada harapan bagi Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dirgahayu Republik Indonesia.

Yesaya Sandang Alumni Fakultas Hukum UKSW

One thought on “Refleksi Kemerdekaan”

  1. febri says:

    di UKSW pers mahasiswanya terjajah..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *