Makrab Manado Mahasiswa UKSW

Browse By

Perkumpulan mahasiswa Manado UKSW menggelar acara Makrab Manado pada 1-2 Oktober yang lalu di Wisma Garuda, Kopeng. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan tiap tahun. Kali ini mereka mengangkat tema “Baku-Baku Sayang, Baku-Baku Bae, Baku-Baku Bantu”.

“Tema ini dipilih supaya kita memperjelas lagi, bahwa di sini kita itu bukan hanya sekedar ngumpul-ngumpul, tapi supaya kita di sini harus baku-baku sayang, baku-baku bae, baku-baku bantu. Arti dari tema tersebut kita harus saling menyayangi, saling berteman berterus dan saling membantu,” jelas Christian Yordan Mirah, ketua panitia makrab yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi UKSW.

Dalam acara makrab ini tidak ada pembedaan unsur angkatan, sehingga semuanya sama derajatnya karena kegiatan ini bertujuan untuk mempersatukan seluruh etnis dari Manado satu sama lain. Pada pelaksanaannya, mereka melibatkan seluruh etnis Manado yang terdiri dari mahasiswa UKSW, beberapa dosen UKSW, serta pihak dari luar etnis Manado.

Kegiatan makrab berisikan beberapa acara seperti; permainan yang dapat memupuk rasa kebersamaan, kebaktian, malam keakraban, materi makrab serta adanya pemilihan ketua Pinaesaan Salatiga yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Beberapa materi yang diberikan tersebut dibuat oleh pembicara yang telah disesuaikan dengan kegiatan ini.

Kegiatan ini dipersiapkan dari Agustus kemarin, dengan melakukan pembentukan kepanitiaan hingga pencarian usaha dana guna menunjang kelancaran kegiatan. ”Harapan ke depan selepas kegiatan ini, kami mau membuat acara seperti kegiatan olah raga, karena yang terlibat Pinaesaan sudah mulai banyak,” ujar Christian.

”Ikut kegiatan ini supaya bisa lebih mengenal dengan teman-teman dan ini pun dilaksanakan satu tahun sekali setiap ada mahasiswa baru,” ujar Ocha salah satu peserta makrab. Ada sesi pemilihan perwakilan dari angkatan baru ini. Perwakilan tersebut berfungsi untuk mengkoordinasi dan membantu angkatan ini. ”Seperti pemilihan Nyong dan Nona,” imbuh Yanti yang juga merupakan peserta makrab.

 

Pinaesaan Salatiga

Pinaesaan merupakan bahasa asli dari Minahasa yang dapat diartikan “meskipun berbeda, tetapi tetap satu”. Kata Pinaesaan sendiri digunakan untuk mempersatukan lima kelompok suku dari Manado, seperti suku Tombulu, Tolour, Tonsea, Bantik, serta Tontemboan.

Pinaesaan Salatiga sendiri telah lama berdiri di UKSW, ”Tapi pastinya berdirinya kapan itu, kebanyakan sudah lupa karena sudah berdiri lebih dari sepuluh tahun. Tanggal berdirinya sudah lupa karena sudah lama, ” ujar Ferdinando Paat, Ketua Pinaesaan Salatiga periode 2009-2011. Ferdinando merupakan salah satu mahasiswa dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW angkatan 2008.

Pinaesaan dibentuk dengan tujuan untuk membantu mahasiswa dari Manado yang berkuliah di UKSW, seperti membantu mahasiswa baru dalam mencari tempat kos. Kegiatan rutin yang biasa dilakukan Pinaesaan Salatiga diantaranya melakukan ibadah di tempat kos atau di kontrakan dari mahasiswa Manado itu sendiri, serta mempersiapkan diri guna mengikuti kegiatan rutin yang UKSW adakan, seperti Pesta Seni Budaya Indonesia.

Keanggotaan Pinaesaan Salatiga ini khusus untuk etnis dari Manado yang belum berkeluarga. Pinaesaan memiliki hampir seratus orang mahasiswa UKSW, namun yang aktif hanya sekitar enam puluh orang. Bagi etnis manado yang telah berkeluarga memiliki wadah tersendiri dengan nama Kasinematuari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *