Kerusakan Web OPAC

Browse By

Web OPAC yang merupakan bagian penting dalam sistem aplikasi di Perpustakaan Universitas (PU) Kristen Satya Wacana mengalami kerusakan. Kerusakan terjadi sejak tanggal 1 November 2011 hingga sekarang. Kerusakan web OPAC membuat transaksi mahasiswa UKSW di PU sedikit terganggu.

Web OPAC adalah salah satu fasilitas di PU yang digunakan untuk mempermudah mahasiswa UKSW dalam melakukan pencarian, peminjaman, dan pengembalian buku.

“Jika bicara tentang sistem aplikasi, lebih baik tidak lihat web OPAC nya saja. Karena sistem aplikasi yang digunakan di perpustakaan sejak diimplementasikan pada bulan Agustus 2008 hingga sekarang terdiri dari beberapa modul dan web OPAC hanya salah satu fasilitas yang ada di dalam satu kesatuan utuh dari sistem aplikasi ini,” jelas Evalien Suryati selaku kepala PU.

Awal kerusakan terjadi saat layar monitornya menjadi biru. Dikira ada masalah dengan memorinya, namun setelah restart , ternyata tetap error. Sehingga diperkirakan lagi ada dua kemungkinan, yaitu adanya masalah dengan processor atau motherboardnya.

“Dan setelah kita coba-coba ternyata yang bermasalah ada pada motherboardnya, tetapi mungkin karena cara matinya tidak wajar, databasenya juga ikut rusak. Dan  kita juga tidak tahu itu sebabkan oleh apa cuma kita punya empat server yang hitungannya masih baru yang kebetulan pas terkena  juga berisi seluruh informasi perpustakaan ini,” jelas Oktowinarso WN, Ketua Bagian Teknologi dan Sistem Informasi PU.

Hal ini mengakibatkan PU tutup dan tidak menerima layanan sementara waktu. “Pada saat kerusakan terjadi yaitu Selasa, layanan langsung kami tutup. Peminjaman dan pengembalian dihentikan sementara hingga Rabu untuk menerima layanan,” jelas Nelfirtis Christopher, programmer PU.

Setelah kerusakan terjadi , mahasiswa sering menghampiri PU untuk kompalin adanya masalah yang berkaitan dengan peminjaman dan pengembalian buku serta denda buku. “ Setahu saya ini bukan komplain, hanya saja seperti menanyakan mengapa di siasat masih tercantum belum melakukan pengembalian buku padahal sudah mengembalikan dan saat itu juga masalah ini diselesaikan,” papar Oktowinasrso.

“Mahasiswa tidak komplain, melainkan lebih respect saja dengan mendatangi PU,” tambah Nelfritis.

Ketika ditanyakan pada salah satu mahasiswa dari Fakultas Psikologi, Erwin Santoso, ia menuturkan bahwa masalah ini memang sempat mengganggunya karena harus mengecek data buku yang dulunya pernah dipinjam lewat website perpustakaan, lalu dikonfirmasikan ke pihak perpustakaan.

“Ya, masalah ini sempat menggangu transaksi (peminjaman buku -Red) dimana buku yang dulu pernah saya pinjam, tiba-tiba ada lagi di dalam list website. Waktu itu saya takut sekali apabila terkena denda. Tetapi beruntung, saat saya konfirmasi lagi ke pihak perputakaan, mereka mengakui kalau ada kesalahan pada database. Ya sudah, buku-buku yang ada di list peminjaman saya tersebut langsung hilang setelah divalidasi pihak perputakaan,” jelasnya.

Erwin berharap juga agar website itu segera diperbaiki, sehingga tidak mengganggu mahasiswa yang menggunakan fasilitas dari perpustakaan.

Sebelum kerusakan web OPAC terjadi, pada tanggal 26 Oktober 2011, Evalien menceritakan bahwa PU telah berhasil melakukan back-up data terakhir yang bersamaan dengan pengaturan partisi memori, dimana dua minggu sebelumnya juga mendapat laporan adanya gangguan-gangguan pada sistem aplikasi. Lalu tiba-tiba saat pengerjaan laporan dilakukan, sistemnya langsung error. Hal ini diperkirakan bahwa adanya masalah pada jaringannya karena di tingkat universitas juga mengalami hal demikian.

Namun gangguan yang terjadi dua minggu sebelum tanggal 26 Oktober 2011 dan hingga akhir Oktober itu tidak ada hubungannya dengan kerusakan yang terjadi pada web OPAC. “Masalah sebelum kerusakan web OPAC tidak saling berkaitan karena penyebabnya berbeda hanya kebetulan pada saat memperbaiki partisinya saat itu ada back up data,’’ tegas Oktowinarso.

“Sistem sendiri sebenarnya tidak mengalami kerusakan cuma ada beberapa data yang rusak. Tanggal 3-9 November 2011, kita  mencoba terima layanan walaupun sebenarnya data di sistem rusak pada pengembalian buku dengan cara manual. Dan back up data full yang dilakukan berhasil di-recovery pada tanggal 10 November 2011, dan mencoba jalankan lagi sistemnya. Namun konsekuensinya, data pengembalian antara tanggal 26 Oktober hingga 9 November tidak tercantum di sistem tetapi data sudah diamankan,” papar Nelfritis.

Solusi saat ini yang lagi diusahakan salah satunya adalah mengganti motherboard yang rusak. “Karena motherboard adalah hardware makanya mau tidak mau harus ajukan untuk diganti, sedangkan sistemnya tidak rusak. Dan sekarang yang bisa dilakukan adalah mengadakan sikronisasi data dan tetap mengutamakan mahasiswa agar bisa tetap melakukan peminjaman,” jelas Nelfritis.

“Jika ada mahasiswa yang ingin melakukan validasi buku, dipersilakan datang langsung ke PU ke bagian kita meskipun untuk sementara saat ini dilakukan dengan manual,” pesan Oktowinarso dan Nelfritis.

Oleh Yoan Caroline, Reporter Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *