Seminar Internasional FBS

Browse By

Fakultas Bahasa dan Sastra mengadakan Seminar Internasional yang kelima di Balairung UKSW. Seminar ini diadakan dua hari, tanggal 21 dan 22 November 2011 dengan mengambil tema “Teacher Education in the Era of World Englishes”. Seminar Internasional ini adalah acara tahunan yang dilakukan oleh FBS. Adapun Prof. Suresh A. Canagarajah dari Pennsylvania State University (US), Dr. George Braine dari Chinnese University of Hong Kong, dan Mario Saraceni, Ph.D dari University of Portsmouth (UK) yang hadir sebagai pembicara.

Marion Saraceni adalah salah satu pembicara di seminar Internasional FBS hari ke dua, Selasa, 22 November 2011 di Balairung UKSW. {Foto oleh : Lidya Annisa Widyastuti}

Seminar tahun ini, diikuti 353 peserta yang terdiri dari guru, peneliti, serta mahasiswa. Para peserta tidak hanya berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, namun juga dari beberapa negara lainnya, seperti Filipina, Singapura, Malaysia, Hongkong dan Kanada. Kemudian, para peserta dibagi menjadi dua macam, yaitu peserta plenary session dan peserta full session. Peserta plenary adalah peserta yang hanya mengikuti seminar yang diadakan di Balairung UKSW. Peserta plenary mengikuti tiga bagian seminar dengan pembicara yang diundang, sedangkan peserta full session adalah peserta yang dapat mengikuti semua seminar baik yang dilaksanakan di Balairung UKSW, maupun yang di kelas-kelas.

Hadir sebagai pembicara di hari pertama, Suresh Canagarajah dan George Braine. Suresh Canagarajah membawakan “From The Periphery to The Center: An Autoethography of Teacher Development”. Yang intinya adalah Suresh menyampaikan pengalaman mengajarnya ketika dia mengajar di Srilangka. Dan dari pengalamannya itu dia menyampaikan bagaimana dia berkembang.

Sebagai pembicara kedua, George menyampaikan “The Non-native Speaker (NNS) Movement and It’s Implications for ELT in Asia”, yang intinya adalah awal mula, perkembangan, pencapaian dan tantang dari NNS. Non-native speaker adalah orang yang berbicara bahasa inggris tapi bukan orang asli.

Pada hari kedua, 22 November 2011, Mario Saraceni hadir sebagai pembicara di seminar ini. Mario membawakan seminar dengan judul “Re-thinking and de-anglicizing English”. Dalam seminarnya, Mario menyatakan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa asli orang Amerika dan Britis (orang Inggris-red), maka seharusnya orang yang non-native lebih percaya diri dengan bahasa Inggrisnya, misalnya Indonesia-Inggris, Malaysia-Inggris, Singapura-Inggris, dan sebagainya.

Nugrahenny T. Zacharias, selaku dekan FBS berharap dengan terlaksananya seminar para mahasiswa FBS bisa lebih percaya diri saat berbicara bahasa Inggris. “Aku pengin mereka lebih percaya diri, dalam hal ngomong bahasa Inggris dan membuat materi segala macam. Selama ini ‘kan mereka tidak percaya diri dengan pronunciation mereka, tapi ‘kan orang yang bukan native (pembicara) bisa besar di US,” kata Nugrahenny.

“tolak ukur keberhasilan dari seminar ini adalah “dua dari tiga pembicara” yang diundang ke seminar ini adalah “celebrity” TESOL (Teachers of English to Speakers of Other Languages). Yang notabene mereka menolak ketika diundang untuk jadi pembicara di US, tapi mereka mau dan berkenan untuk jadi pembicara di sini. Menurut saya itu suatu pencapaian,” tambahnya.

Christianti, salah seorang peserta seminar full session berpendapat, “Overall, seminar ini bagus, tapi menurut saya lebih bagus seminar tahun kemarin, lebih serius dan tidak rame. Seminar tahun ini terlalu banyak orang (peserta-red), dan pesertanya “berisik”, jadi kurang serius dan kurang bisa konsentrasi. Contoh lainnya, kita harus antre panjang untuk mengambil makan. Terus beberapa acara agak molor.”

Oleh : Lidya Annisa Widyastuti, Reporter Scientiarum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *