LDKM Sebagai Media Kepemimpinan Dasar

Browse By

Kepemimpinan merupakan kekuatan utama dibalik suksesnya organisasi, dan bahwa untuk menciptakan organisasi yang vital dan langgeng diperlukan kepemimpinan untuk menolong organisasi menemukan visi baru tentang apa yang akan terjadi serta memobilisasikan organisasi kearah visi baru tersebut  (Warren Benis & Burt Nanus; 1989).

Menurut Notohamidjojo, pendiri sekaligus rektor pertama UKSW, kepemimpinan adalah perhubungan antara pemimpin dan golongan penganut berdasarkan pilihan bebas (bukan berdasarkan paksaan atau dorongan naluri buta) dan kebutuhan pribadi yang diterangi akal. Pemimpin tidak lahir dengan sendirinya, namun ada wadah untuk pembinaan pemimpin yang membinanya (“Kepimpinan dan Pembinaan Pemimpin”(Kumpulan Karya Mengenang Dr. O. Notohamidjojo.) Penyunting R.Gultom, dkk., Yayasan Binadharma dan UKSW-1993.).

UKSW digambarkan sebagai lembaga yang membekali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan dan kepribadian serta ketrampilan kepemimpinan yang mengabdi kepada masyarakat. Hal tersebut merupakan penjelasan dari visi UKSW yang dirumuskan dalam Pasal 7 No. 3 Statuta 2000 yaitu menjadi pembina kepemimpinan untuk berbagai jabatan dalam masyarakat (termasuk gereja) yang sedang membangun. Untuk mencapai visi tersebut UKSW mengusahakan terbentuknya angkatan-angkatan pemimpin masyarakat yang selain dilengkapi dengan bekal ilmu pengetahuan dan kepakaran di bidang tertentu, juga memiliki kesadaran pengabdian tinggi kepada masyarakat (Pasal 8 No. 6 Statuta 2000).

Salah satu cara mewujudkan visi misi UKSW tersebut, pihak universitas memberikan latihan dasar kepemimpinan mahasiswa (LDKM). Mahasiswa diwajibkan mengikuti LDKM yang dilaksanakan setelah kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (OMB), yaitu kegiatan pengenalan mahasiswa baru.

Dalam suatu organisasi, tercapainya suatu tujuan bersama adalah salah satu indikator dari keberhasilan pemimpinnya. Pemimpin memegang peranan penting dalam suatu organisasi. Mental pemimpin dan karakternya dapat dilatih dalam berbagai pelatihan, misalnya seperti yang diterapkan oleh UKSW yakni mulai dari LDKM. Adanya pemimpin yang memiliki integritas dapat membawa organisasi kearah yang lebih baik. Spirit dari suatu organisasi

Ketika kita termotivasi untuk menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan bisa berkomitmen, kita dapat melihat apa arti seorang pemimpin tersebut. Menjadi seorang pemimpin tidak cukup dengan motivasi saja tetapi harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk merangkul sesama terlebih dalam satu oraganisasi menjadi satu keluarga.

Seorang pemimpin juga bukan hanya mengikuti kata hatinya tetapi berbagi mimpi bersama dan mengaplikasikan mimpi-mimpi tersebut guna kesejahteraan hidup bersama. Jadi, arti seorang pemimpin tidak sebatas sebagai pimpinan saja tetapi bagaimana dia mampu berkoordinasi dengan orang lain entah itu bawahannya sebagai suatu mitra kerja yang baik.

Menjadi pemimpin tidak harus dalam kepemerintahan saja tetapi dalam bermahasiswa kita sudah harus dituntut minimal untuk memimpin diri sendiri sehingga bisa mempin orang lain seperti dalam Lembaga Kemahasiswaan.

Mendasari kepada pemimpin yang berkomitmen dan tahan terhadap proses tentunya mengaplikasikan hidup yang Satya Wacana. Satya Wacana sendiri mengandung arti kesetiaan terhadap ucapan. Kesetiaan terhadap ucapan mengadung arti adanya konsistensi didalamnya. Memang benar bahwa konsistensi harus terdapat pada jiwa seorang pemimpin. Dalam memimpin suatu organisasi banyak aturan dan konsep baik secara lisan maupun tertulis untuk dipegang sebagai hal yang fundamental.

Berdasarkan uraian diatas maka kami (Divisi Litbang) mengadakan survey mengenai pandangan mahasiswa di UKSW terhadap LDKM yang ada di kampus ini. Dengan koresponden sebanyak 150 orang yang mewakili 14 fakultas yang ada, kami mendapatkan hasil sebagai berikut:

Kebijakan Universitas yang memberlakukan LDKM sebagai kegiatan wajib dan sebagai prasyarat kelulusan, membuat mahasiswa mau tidak mau wajib mengikuti LDKM. Sehingga keikutsertaan mahasiswa dalam LDKM tidak hanya termotivasi diri sendiri tapi dengan adanya poin keaktifan yang didapatkan setelah mengikuti LDKM. Poin keatifan mahasiswa sering menjadi motivasi awal mengikuti LDKM, tapi bisa saja setelah mengikuti serangkaian kegiatan LDKM mahasiswa merasa mendapatkan pengalaman atau bekal untuk menjadi seorang pemimpin.

Dari survey yang dilakukan 77% responden menjawab LDKM itu penting. Sebagian besar memberikan alasan, LDKM akan memberikan pelajaran bagaimana menjadi pemimpin dan dapat berkontribusi saat memasuki dunia kerja. Sebanyak 12% menjawab tidak penting dengan alasan, karena latihan kepemimpinan bisa didapat dengan diskusi dan praktek langsung. Sedangkan yang menjawab ragu-ragu sebanyak 11% dengan alasan, materi yang diberikan bagus namun menjadi tidak penting ketika pelaksanaanya tidak substansial.

Sebanyak 74% responden menjawab ya, dengan alasan diwajibkannya LDKM semua mahasiswa akan berlatih dalam menjadi pemimpin dan memberikan pengalaman bagi mahasiswa. Kemudian 19% menjawab tidak setuju dengan alasan, karena LDKM dianggap tidak penting. Sedangkan yang menjawab ragu-ragu sebanyak 7% dengan alasan, karena mahasiswa tidak mengetahui tujuan LDKM. Ketidak efektifan tujuan LDKM ternyata juga bergantung pada metode yang dilaksanakan, semakin banyak mahasiswa yang bisa memimpin entah itu diri sendiri atau organisasi, menjadi indicator keefektifan dari metode yang diterapkan pada saat LDKM.

Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan, LDKM sebagai media kepemimpinan dasar menjadi sangat penting sehingga Universitas berkewajiban untuk menjadikan LDKM sebagai kegiatan wajib. Tentu saja dengan melihat metode dan kurikulum yang diterapkan, sehingga mahasiswa tidak hanya melihat poin keaktifan dari LDKM tapi benar-benar termotivasi mengikuti LDKM untuk melatih kepemimpinan.

 

Catatan editor: Riset ini dilakukan tanggal 28 September 2011 oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang)

One thought on “LDKM Sebagai Media Kepemimpinan Dasar”

  1. Siapa saja boleh berkata says:

    LDKM menjadi ciri khas bagi UKSW, sehingga lulusannya pum memiliki ciri khas yang tentunya berbeda dengan Perguruan Tinggi lainnya. Di dalam LDKM juga diberikan pengetahuan mengenai landasan2 UKSW, serta profil-profil lulusannya (Hal ini ada di dalam SPPM), serta ada pula mengenai materi Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) dimana adanya penjelasan mengenai hak dan kewajiban mahasiswa.

    Di dalam SPPM terdapat alur-alur mengenai birokrasi seperti birokrasi kegiatan mahasiswa hingga alur penyampaian aspirasi mahasiswa. Di dalam KUKM mahasiswa juga diperkenalkan pada organisasi mahasiswa yakni Lembaga Kemahasiswaan.

    Mengenai penting atau tidaknya LDKM tsb tergantung kepada penyaji serta konseptor LDKM, karena dimasing-masing Fakultas diberikan wewenang penuh di dalam mengkonsepkan serta memilih penyajinya, namun dari pihak Universitas memberikan buku pegangan yang berisikan Silabi/Silabus. Bukan penyajiannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *