Kelahiran Rumah Baru FEB Setelah Penantian Panjang

Browse By

Kompleks kampus utama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di jalan Diponegoro 52-60 Salatiga  semakin semarak dengan sedang dibangunnya sebuah gedung baru persis di sisi kiri akses keluar dari kampus ini.  Siapapun yang berkunjung ke kampus, pasti dengan mudahnya menemukan bangunan berlantai empat yang sedang dalam proses perampungan. Tidak perlu berkunjung, katakan saja numpang lewat di Jalan Diponegoro ke arah kota, setiap orang yang lewat, pasti bisa melihat gedung yang posisinya memang tepat di pinggiran jalan.

Gedung ini dirancang menghadap barat dengan tulisan “FEB” megah terpampang di sana. Lalu pada sisi selatan gedung, terdapat papan nama yang cukup besar bertuliskan “Fakultas Ekonomika Dan Bisnis”, lengkap dengan warna yang menjadi ciri khas fakultas dimaksud, merah. Jelas sudah keperuntukan gedung baru ini ditujukan kepada fakultas yang berdiri sejak tahun 1959 yang dulunya bernama “Fakultas Ekonomi”.

Sejak awal pembangunan gedung pada awal tahun 2010, sudah terdengar desas-desus tentang fungsi gedung, yang paling sering diperbincangkan tentu saja bahwa gedung tersebut akan diperuntukkan bagi FEB. Seperti kita ketahui, sampai saat ini FEB menempati gedung yang sebenarnya merupakan gedung Perpustakaan UKSW Notohamidjojo yang lebih dikenal di kalangan mahasiswa sebagai perpustakaan pusat.

“Sebenarnya gedung ini (perpustakaan pusat lantai 5 -Red) sementara, kami dulu pindah dari gedung F lantai lima ke sini, tapi sementaranya kebablasan sampai sekarang,” ujar Harijono, wakil dekan FEB. Seperti kita ketahui, saat ini gedung F yang berada di selatan lapangan sepak bola UKSW kini ditempati oleh Fakultas Bahasa dan Sastra serta Fakultas Hukum.

Cukup beralasan dikatakan kebablasan, tilik saja tulisan “Fakultas Ekonomi” yang bertengger di gedung ini yang ukurannya sangat besar, jauh melebihi “Perpustakaan UKSW Notohamidjojo” yang merupakan papan penanda nama asli gedung itu. Bahkan karena sudah terlalu lamanya menempati gedung sementara ini, Harijono saat ditanya kapan tepatnya mulai pindah dari gedung F, tidak mampu mengingatnya secara jelas.

Jika sejenak melihat ke belakang, FEB telah melalui serangkaian panjang perjalanan dalam berkantor. FEB pada tahun tujuh puluhan pernah menempati ruang kecil yang sekarang telah beralih fungsi menjadi minimarket waralaba di depan cafetaria UKSW. Sekitar satu dasawarsa kemudian sempat pula mendiami gedung E. Bak suku nomaden, tahun sembilan puluhan menghuni gedung F lantai lima dan akhirnya pindah tempat yang ditempati saat ini, Gedung Perpustakaan Notohamidjojo.

Setelah cukup lama berkantor sementara, muncul gagasan dari fakultas untuk memiliki gedung mandiri, apalagi seiring berkembangnya fakultas dengan bertambahnya jumlah program studi dan tentunya mahasiswa. Bayangkan saja, delapan program studi dengan lebih dari dua ribu mahasiswa yang bernaung di bawah FEB, tentulah satu lantai di gedung perpustakaan tidak cukup mengakomodir kebutuhan mereka.

“Sekarang ini kantor kami terpisah, kantor FEB di sini sedangkan Pasca Sarjana ada di gedung G, lalu di pojok, di gedung GX, teman-teman D3 juga masih berkantor di sana, akhirnya kasihan kalau rapat, mereka harus jauh-jauh ke sini,” ungkap Harijono sambil menuturkan harapan, bahwa ke depannya gedung baru FEB akan mampu menjadikan keluarga besar FEB satu atap.

Tentunya mewujudkan impian memiliki gedung mandiri tidaklah semudah membalik telapak tangan. Pada tahun 2003 silam, Pembantu Dekan II kala itu mengirimkan surat permohonan gedung baru kepada petinggi kampus dalam hal ini pihak rektorat dan yayasan, namun demikian realisasi pembangunannya baru dapat terlihat pada tahun 2005 dengan proses pembebasan tanah, itupun tidak serta merta pembangunan dapat segera dilakukan.

Dikarenakan pembahasan yang cukup panjang, proses pembangunan fisik gedung ini sendiri baru dimulai awal 2010 itupun baru pembangunan tahap pertama. Tahap satu ini hanya berupa pembanguan pondasi gedung sampai lantai dua. Kemudian pada awal 2011, dengan tim pembangunan tahap dua yang diketuai langsung oleh Dekan FEB, Hari Sunarto, dilangsungkan tahap ke-dua yang meliputi pembangunan lantai tiga dan empat.

Ketika Hari Sunarto, Dekan FEB, ditemui di sela kesibukannya menuturkan bahwa sekiranya proses pembangunan akan selesai pada awal tahun depan, meskipun demikian, pada 9 Desember 2011 kemarin sudah diadakan acara peresmian gedung. Hari juga menambahkan, hal ini dilakukan bertepatan dengan momen Dies Natalis ke 52 FEB .

Di masa mendatang, gedung ini sudah dirancang untuk memenuhi kebutuhan baik dosen, karyawan maupun mahasiswanya. Fasilitas yang disediakan sangat memadai, di samping tentunya ketersediaan WiFi untuk koneksi internet nirkabel, fasilitas penunjang lain seperti lift juga disediakan. Mungkin sepele jika menyorot soal lift tapi mengingat cukup besarnya gedung yang akan ditempati ditambah bangunan yang setinggi empat lantai, wajar jika fakultas ingin memberikan fasilitas lebih kepada penghuninya.

Pembagian penggunaan lantai pun tampaknya sudah diperhitungkan. Nantinya lantai empat akan digunakan sebagai kantor dosen dengan tepat dibawahnya adalah lantai bagi ruang perkuliahan. Ruang perkuliahan ini didesain semi-permanen dengan sekat antar kelas yang dapat dibuka yang tediri dari 12 ruang berkapasitas masing-masing 30 mahasiswa. Pada lantai dua sendiri akan digunakan oleh pejabat struktural dan tata usaha serta sebagian dosen. Lalu untuk lebih memanjakan mahasiswa, lantai satu akan berfungsi sebagai laboratorium mahasiswa dan ruang knator Lembaga Kemahasiswaan Fakultas, sebuah posisi strategis bagi mahasiswa-mahasiswa yang kemungkinan bekerja sampai malam hari, sehingga mereka tak perlu bersusah-susah naik turun gedung.

Hari mengungkapkan kebanggaannya sebab ia merasa pembangunan gedung baru ini seakan menjadi kado ulang tahun istimewa lima puluh tahun FEB yang jatuh pada 2009 silam.

“Tentunya ini bukan kado yang cuma-cuma, kami memperolah setelah menunjukkan prestasi kami,” ujar Hari. Sulit untuk melihat catatan beberapa tahun silam, tapi yang baru-baru ini tercatat diantaranya prestasi dalam bidang olahraga dengan menyabet juara III bulutangkis beregu putri pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional 2011 di Kepulauan Riau yang diwakili Agnes S. Gunawan. Di bidang penalaran, FEB juga mencatatkan beberapa tim mahasiswanya dalam Program Mahasiswa Wirausaha yang pada 2010 lalu 2 tim mampu lolos tingkat kopertis.

Seperti disinggung di atas, Hari Sunarto adalah Dekan FEB sekaligus ketua tim pembangunan gedung baru FEB, saat disinggung soal anggaran ia hanya memberi keterangan singkat, “Secara legal, semua aset kampus ini atas nama yayasan, kita tidak bisa memisahkan mana yang milik universitas, mana yang milik fakultas, apakah dibangun dengan uang FEB atau uang universitas. Keuangan kita satu karena menganut sistem sentralisasi keuangan,”. Selebihnya, Hari enggan berkomentar lebih lanjut. Ia justru menyarankan untuk bertanya  kepada PR II dengan dalih Pembantu Rektor (PR) II lebih berwenang.

Setali tiga uang dengan Hari Sunarto, Harijono pun mengatakan hal yang senada, “Saya tidak berani mengungkapkan mengenai peranggaran, walaupun memang saya salah satu tim pembangunan dan pasti tahu nilainya, tapi itu bukan kewenangan saya,”  sanggah Harijono.

Selain itu Harijono meragukan bahwa pihak-pihak yang berwenang akan mau membeberkan perincian keuangan yang dialokasikan. Hal ini, menurutnya, bukan kepentingan mahasiswa untuk mengetahui sumber pendanaan dan pengeluaran pembangunan.

Seolah sepemikiran, Entri Sulistari Gundo selaku PR II melalui sekretarisnya menolak memberikan keterangan, kali ini dengan alasan ia baru menjabat tiga bulan setelah sebelumnya jabatan PR II diampu oleh Marwata. PR II justru balik menyarankan untuk bertemu Harijono dengan alasan, Harijono justru menjabat PR II ketika proses pembangunan mulai bergulir.

Merasa menemui jalan buntu, kami mencoba datang langsung kepada Penanggung Jawab Pembangunan yang merupakan Rektor UKSW, John A. Titaley. Sayangnya masih bernada sama, John menolak memberikan keterangan maupun data yang dimaksud. John beranggapan, siapapun yang ingin tahu tentang detail kontrak pembangunan disarankan untuk menemui pihak FEB.

Ketika dikonfirmasi mengenai hal ini, Harijono mengatakan bahwa pada dasarnya semua pembiayaan diambil dari dana yang sudah ada yang kemudian dialokasikan untuk pembangunan gedung dan dipastikan mahasiswa tidak akan dipungut biaya tambahan dalam pembangunan ini. Hal ini menurutnya telah disampaikan dalam open forum yang digelar fakultas kepada mahasiswa FEB dalam menanggapi pertanyaan serupa yang pernah muncul dari Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) FEB. Bambang Ari Nugroho, ketua BPMF-FEB periode 2010-2011 membenarkan pernyataan Harijono. Bambang membenarkan keterangan itu, karena pada periodenyalah open forum dilaksanakan. Ia menyatakan bahwa mahasiswa telah diberi penjelasan tentang tidak akan dibebankannya biaya apapun terkait pembangunan gedung ini.

Beruntung pada saat peresmian gedung, Timotius Santoso, developer pembangunan dari Nugraha Karya, sempat membeberkan jumlah kasar biaya yang dialokasikan guna pembangunan gedung yakni sekitar 20,2 milyar. Lebih lanjut Timotius mengatakan, dari 20,2 milyar, 4,9 milyar digunakan untuk membeli tanah, 7,6 milyar untuk pembangunan tahap satu yang terdiri dari basement, lantai satu dan lantai dua, sedangkan sisanya, 7,7 milyar digunakan untuk menyelesaikan tahap dua sehingga gedung ini lengkap berdiri lima lantai dari basement sampai lantai empat.

“Sebenarnya masing-masing lantai memiliki luas 900 meter persegi sehingga mestinya gedung ini memiliki luas bangunan total 4500 meter persegi, namun karena adanya peraturan dalam teknik rancang bangun yang mengatur mengenai luas basement maka luas optimal gedung menyusut menjadi 4145 meter persegi,” ungkap Timotius pada sambutannya di tengah peresmian gedung.

Masih dalam sambutannya, Timotius menyatakan apresiasinya kepada FEB karena masih mau menggunakan pendingin ruangan bekas yang pernah digunakan di gedung mereka yang lama (Perpustakaan Notohamidjojo lantai 5 –red) untuk digunakan di runah baru mereka. Hal ini mereka lakukan, imbuh Timotius, untuk menghemat pembiayaan guna menutupi pembelian lift pabrikan Hyundai yang kabarnya berbanderol 430 juta.

Masih soal pendanaan, Timotius, pria yang juga pernah menangani pembangunan Plasa UKSW, dalam wawancaranya enggan menjelaskan bagaimana proses pembayaran yang dilakukan oleh pihak panitia pembangunan, yang jelas menurutnya proses ini sedang berjalan.

Oksianes Rein Hard Bawembang, mahasiswa program studi akuntansi angkatan 2009 menyambut baik hadirnya gedung penunjang perkuliahan ini sambil mengisahkan bahwa dengan adanya bangunan baru ini, kendala perkuliahan seperti kekurangan kelas akan semakin berkurang. Baginya ini bagai sebuah jawaban atas penantiannya yang panjang akan hadirnya rumah baru bagi sivitas FEB meskipun dirinya juga mengaku belum tahu pasti kapan bisa menggunakan rumah baru ini.

Dilihat dari segi mana pun, pembangunan gedung baru FEB tidak merugikan, justru menguntungkan terutama bagi keluarga besar FEB. Bagi kalangan lain juga tidak kalah menguntungkan, dengan hijrahnya FEB ke gedung baru, penggunaan ruang Perpustakaan Notohamidjojo pun tentunya akan lebih optimal, belum lagi ketersediaan ruang kelas yang semakin bertambah jumlahnya. Jadi selamat buat FEB yang akan menempuh hidup baru di gedung yang juga baru.

One thought on “Kelahiran Rumah Baru FEB Setelah Penantian Panjang”

  1. ArFeBi says:

    Yah kiranya dengan adanya gedung baru ada juga semangat baru untuk melayani… Ingat lo MELAYANI… Oh iya mungkin juga ada baiknya persoalan penggunaan gedung oleh beberapa dosen yang harus mengajar di Pascasarjana juga diperhatikan. Kalau memang sudah dapat ruang di Ged. FEB ga usah minta ruang lagi di Ged. G, sehingga bisa dipakai oleh teman2 dosen yang lain… Sekedar masukan saja…

    Dengah hadirnya gedung FEB yang kiranya bisa membantu menaikkan kinerja Perpustakaan untuk mampu meraih kembali sematan sebagai Perpustakaan Terbaik Se-Asia Tenggara…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *