Natal dan Tahun Baru di Melbourne: Belanja, Jalan-Jalan dan Kembang Api

Browse By

Halo, para pembaca Scientiarum yang asyik-asyik,

Salam saya dari kota Melbourne, Australia, di mana saya tinggal untuk beberapa waktu demi menyelesaikan studi saya di The University of Melbourne. Tapi saya tidak akan bercerita tentang studi saya karena pasti akan membosankan Anda semuanya. Mumpung masih hangat, selain mengucapkan selamat natal dan tahun baru, saya akan menceritakan apa saja yang biasa dilakukan para Melburnian (sebutan untuk penduduk kota Melbourne) selama  holiday seasons yang berlangsung sejaksebelum hari natal hingga tahun baru.

Cerita sedikit dulu tentang Melbourne ya? Melbourne adalah kota kedua terbesar di Australia setelah Sydney. Jumlah penduduk Melbourne dan sekitarnya adalah sekitar 4 juta orang yang terdiri dari berbagai kewarganegaraan.Dari yang kulitnya paling putih, sampai yang kulitnya paling hitam ada di sini.Sebagai kota metropolitan, kota ini dinobatkan oleh harian The Economist pada tahun 2011 lalu sebagai kota ternyaman sedunia untuk ditinggali karena fasilitas kotanya yang lengkap dan tingkat kejahatan yang cukup rendah. Namun tentu saja yang namanya kota metropolitan, biaya hidup di sini juga cukup mencekik leher untuk kantong mahasiswa macam saya. Tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan biaya hidup di Salatiga yang terhitung cukup murah (ah, saya jadi kangen Salatiga!).

Anda tentu bertanya-tanya, kalau biaya hidup di Melbourne terhitung mahal, berarti mahal juga dong acara bersenang-senang selama holiday seasons.Ternyata,untuk menikmati musim liburan kali ini, tidak begitu mahal lho. Bahkan bisa dibilang saya hampir tidak mengeluarkan banyak ongkos untuk mencari kesenangan selama holiday seasons, karena ada banyak acara yang bisa dilakukan dengan gratisan. Yak, betul sekali, Saudara-Saudara, gratis!

Hari Natal

Liburan natal di kampus saya dimulai dari tanggal 23 Desember.Tetapi yang namanya tempat perbelanjaan sudah memulai Christmas sale alias obral besar-besaran sejak dua minggu sebelumnya. Tapi buat mahasiswa bokek macam saya, kegiatan belanja seperti itu tentu tidak sanggup. Paling-paling kalau ingin membeli sesuatu yang bekas tapi masih bagus, saya akan pergi ke Savers atau ke The Salvation Army.

Savers dan The Salvation Army adalah toko barang-barang bekas yang menerima sumbangan segala rupa barang dari semua orang yang kemudian dijual lagi dengan harga yang amat sangat miring.Dari mulai baju-baju cantik sampai barang pecah belah dan elektronik bisa dibeli di sini dengan harga yang bisa terpangkas sampai 90%.Sehelai blus cantik pernah saya beli dari Savers dengan harga $7 saja (kira-kira Rp 67.000).Tentu saja dalam kondisi bekas.Tapi blus itu aslinya seharga $20-30 di toko.

Bagusnya lagi, Savers dan The Salvation Army punya program-program bantuan untuk kaum tidak mampu di Melbourne yang pendanaannya diambil dari keuntungan penjualan barang.Misalnya, The Salvation Army punya program dapur umum di musim dingin, di mana para tuna wisma bisa mendapatkan makan gratis setiap hari,dan tempat menginapsementara kalau kepepet. Sesuatu yang sangat penting untuk bertahan hidup di musim yang suhunya berkisar 3-10 derajat celsius.

Jadi, kalau ingin menghadiahkan sesuatu di hari natal, mendekorasi tempat tinggal atau berpakaian agak rapi di hari natal, tidak ada salahnya pergi ke Savers dan The Salvation Army untuk berburu barang-barang bekas tapi sangat layak pakai.

foto berasal dari website http://www.weekendnotes.com/display-image/2/17099/img493912.JPG

Ingin jalan-jalan menikmati hari natal tapi tidak ada uang?Ada beberapa tempat di kota Melbourne yang menyenangkan untuk menghabiskan malam menjelang natal dengan sedikit biaya. Misalnya di State Library of Victoria, yaitu perpustakaan negara bagian Victoria. Setiap natal hingga tahun baru, ada yang namanya acara ProjectionsProjections adalah suatu program di mana lampu-lampu akan disorot ke tampak muka sebuah gedung sehingga menampilkan gambar-gambar atau tulisan-tulisan. Untuk tahun ini, sejak tanggal 2-25 Desember, State Library menampilkan gambar-gambar dari cerita baletthe Nutcracker. Sementara itu, program Projections untuk St. Paul’s Cathedral, gereja tertua di Melbourne, menampilkan gambar-gambar yang mewakili kehidupan di Melbourne. Nah, berhubung pada bulan Desember Melbourne sedang mengalami musim panas, matahari baru terbenam pukul 20.30.Sehingga program Projections baru bisa dinikmati pukul 21.00.Tapi jangan khawatir, transportasi di kota Melbourne tersedia hingga pukul 00.00. Kalau Anda bepergian di hari Sabtu dan Minggu, ada pula jasa NightRider yang tersedia dari jam 1.30-5.30.

Selain pergi ke gereja dan berkumpul bersama keluarga, salah satu tradisi yang dilakukan di Australia adalah merayakan Boxing Day. Boxing Day jatuh sehari setelah natal (26 Desember) dan namanya mungkin terdengar agak aneh di telinga Anda.Boxing Day bukanlah hari untuk bertinju atau sejenisnya (boxing dalam bahasa Inggris bisa berarti bertinju), tapi ini diambil dari tradisi Inggris di abad 17 ketika para bangsawan dan tuan tanah memberi kesempatan kepada para pelayan mereka untuk berlibur sehari setelah natal untuk mengunjungi sanak saudara mereka. Di samping itu, mereka juga memberikan hadiah natal yang tentu saja dibungkus di dalam kotak (yang bahasa Inggrisnya adalah box).

Boxing Day selalu identik dengan hadiah, sehingga jangan heran bahwa acara di hari ini masih juga berhubungan dengan membeli hadiah.Supermarket besar macam Myers misalnya, sudah terkenal dengan acara diskon besar-besaran sampai 90% untuk berbagai barang.Mungkin semacam cuci gudang di akhir tahun.Tapi jangan khawatir untuk mahasiswa yang minim uang seperti saya,Boxing Day tidak selalu identik dengan berlaku konsumtif membeli segala hal.

Boxing Day juga berarti tradisi gratisan piknik di pantai di sekitar Melbourne, terutama yang terletak di luar kota semacam di daerah Geelong, karena selama Boxing Day,  Metlink atau Melbourne Transportation Link menyediakan transportasi gratis untuk jasa transportasi V/Line. V/Line adalah sistem transportasi dari kota Melbourne ke dan dari kota-kota kecil di sekitar Melbourne.Sayangnya, pada saat Boxing Day, cuaca tidak mendukung karena hujan dan mendung, sehingga saya memutuskan untuk tidak pergi.Tapi banyak teman yang pergi ke Geelong bersama-sama keluarga.Persatuan mahasiswa Indonesia di Monash University bahkan membuat acara piknik bersama di tepi pantai di Geelong.

foto diambil dari http://www.sports-force.net.au/cricket/india-driving-seat/

Untuk Anda yang suka olahraga,Boxing Day juga berarti acara Boxing Day Test yaitu pertandingan persahabatan olahraga cricket yang selalu diadakan di Melbourne Cricket Ground. Untuk pertandingan cricket tahun ini,mempertunjukkan tim Australia melawan tim India yang berlangsung beberapa hari, dari tanggal 26-30 Desember. Di hadapan189,347 penonton, pertandingan intensif selama 4 hari ini dimenangkan oleh tim Australia.

 

 

 

Tahun Baru

Transportasi gratis ini juga diterapkan selama perayaan tahun baru. Tahun baru tentu saja adalah acara yang special, dan pihak kota Melbourne menyiapkan dengan serius perayaan tahun baru ini. Kembang api adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh penduduk kota Melbourne. Tidak tanggung-tanggung, untuk perayaan pergantian tahun ini ada empat tempat di mana para penduduk Melbourne bisa menikmati peluncuran kembang api: Alexandra Gardens, Birrarung Marr, Docklands, dan Federation Square. Alexandra Gardens and Birrarung Marr adalah taman besar di mana kita bisa menonton kembang api sambil berpiknik. Di Docklands yang terletak di tepi sungai Yarra, sangat spesial rasanya menonton kembang api yang diluncurkan ke langit di atas sungai. Sementara itu Federation Square adalah lapangan besar di tengah kota Melbourne di mana kembang api akan diluncurkan dari atap gedung-gedung pencakar langit di seputar lapangan.

Khusus untuk acara yang berlangsung di Docklands, peluncuran kembang api diadakan dua kali: pukul 21.30 dan 00.00. Peluncuran kembang api yang lebih awal adalah untuk keluarga dengan anak-anak kecil sehingga mereka tetap bisa menikmati kembang api meskipun pulang lebih awal demi mengikuti jam tidur anak-anak.

Di setiap tempat, panitia juga menyiapkan hiburan berbagai rupa, dari mulai band, capoeira, DJ, dance, pantomim, marching band, untuk menanti detik-detik pergantian tahun. Saya memilih pergi ke Federation Square yang relatif lebih mudah terjangkau dari daerah tempat tinggal saya.Walaupun acara resmi dimulai pukul 21.00, tapi penduduk sudah mulai memadati lapangan Federation Square sejak pukul 19.00.Cuaca sangat cerah dan cenderung panas, karena Melbourne sedang berada di puncak musim panas.Ketika saya dan teman saya Neda tiba di Federation Square pukul 20.15, kami masih menikmati tenggelamnya matahari di ufuk barat.

Foto berasal dari koleksi pribadi Neda Cepincic

Penonton terdiri dari berbagai usia dan kewarganegaraan. Di sebelah kanan saya, sekelompok pemuda Asia (mungkin dari Thailand) bergoyang ketika band memainkan lagu Play That Funky Music. Sementara, di sebelah kiri saya seorang gadis Afrika berjilbab bersama teman-temannya ikut berdendang keras ketika DJ memainkan versi remix dari lagu Love You Like a Love Song milik Selena Gomez. Di belakang saya, sekelompok remaja yang bermuka macam penduduk Pasifiktertawa lepas setiap kali melihat ekspresi lucu para penonton yang tertangkap kamera dan dipancarkan langsung ke televisi ukuran raksasa di atas panggung. Sedangkan, di tengah-tengah mereka, ada saya, yang orang Indonesia berkulit sawo matang dan teman saya, Neda, yang berasal dari Makedonia, dan berparas 100% bule. Sungguh berwarna-warni!

Para penonton terutama terpusat di dua titik: di depan panggung dan di sebelah timur Federation Squaredi tepi Jalan Swanston,di mana para penonton bisa melihat kembang api yang diluncurkan di Docklands. Walaupun ada ribuan orang yang memadati Federation Square dan hampir semua orang berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik yang dimainkan oleh band maupun DJ, sama sekali tidak ada keributan di antara penonton. Ini mungkin karena ada kebijakan keras yang tidak memperbolehkan adanya botol minuman selama perayaan tahun baru di tempat acara, sehingga yang namanya pemabuk hampir tidak ada. Selain itu, ada jalur keluar masuk ke area depan panggung yang dibatasi oleh pagar besi non permanen dan terbentang hingga ke pinggir jalan Swanston di mana pemberhentian tram berada. Jalur keluar masuk ini juga dijaga oleh polisi, sehingga para penonton sulit untuk begitu saja menerobos pagar walaupun sambungan antar pagar bisa dengan mudah dilepas.Setiap beberapa puluh menit, layar televisi besar di atas panggung mengingatkan para penonton tentang kebijakan botol minuman dan jalur-jalur evakuasi yang sudah disiapkan apabila terjadi sesuatu.

foto oleh Patrik Nemes

Tepat pukul 23.59 lebih 50 detik,band berhenti memainkan musik dan MC menuntun kami menghitung mundur detik-detik pergantian tahun yang dipampangkan di layar TV raksasa. Bayangkan sekitar 600.000 ribu orang ikut meneriakkan setiap nomor. Kemudian, ketika jam digital menunjukkan tepat pukul 00.00, kembang api diluncurkan dari atap-atap gedung pencakar langit di seputar Federation Square selama 15 menit. Saya cukup bingung untuk memusatkan perhatian ke kembang api yang mana karena ada 4-5 titik peluncuran kembang api. Akhirnya saya memutuskan untuk menikmati kembang api yang mana saja yang meluncur.

 

Di sela-sela kembang api, saya teringat orang-orang tercinta saya di Salatiga, 4.839 kilometer jauhnya dari Melbourne. Masih empat jam lagi di Salatiga, barulah tahun 2012 tiba. Saya meraih telepon genggam dari dalam tas, lalu mengirimkan pesan pendek ucapan selamat tahun baru, 4 jam lebih awal. Semeriah-meriahnya perayaan tahun baru di negeri orang, saya tetap merasa kangen dengan perayaan tahun baru di Salatiga yang biasanya cuma berkisar dari beramai-ramai pergi dengan keluarga saya ke bundaran Walikota atau lapangan Pancasila, seringkali tanpa hiburan band dan segala DJ. Menonton kembang api, lalu pulang berjalan kaki dan tidur sesampainya di rumah. Bagaimana pun juga, hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Ah, saya memang sentimental.

foto dari koleksi pribadi Neda Cepincic

Bagaimana anda merayakan tahun baru yang lalu?

Salam,

Neny Isharyanti

Dosen Fakultas Bahasa dan Sastra, saat ini sedang menempuh studi doktoral di University of Melbourne, Melbourne, Australia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *