Menovelkan Kehidupan, Kematian, dan Eksistensi Manusia

Browse By

Judul: Mati, Bertahun yang Lalu

Pengarang: Soe Tjen Marching

Penerbit: Gramedia

Halaman : 172 Halaman

 

Kenapa (sebagian) manusia begitu menginginkan kehidupan, bukan kematian?

Apa bagusnya kehidupan dibandingkan kematian? Bukankah akhir dari semua kehidupan ini adalah kematian?

Kehidupan itu apa? Kematian itu apa? Dan siapakah itu manusia?

“Kebahagiaan adalah arti dan tujuan hidup, ia adalah seluruh cita-cita dan akhir hidup,” kata mbah Aristotél?s.

Kok bisa? Kebahagiaan itu apa?

Arti dan tujuan hidupmu apa? Arti dan tujuan hidupku, aku tidak tahu.

Lalu, kamu tahu cita-citamu? Jadi apa?

Kalau akhir hidupku ya mati, apa yang bisa aku harapkan selain itu?

“Hiduplah sebagaimana kamu selalu berhasrat untuk dapat hidup kembali –itulah tugasmu! Karena mungkin di suatu masa, kamu sungguh-sungguh akan hidup kembali!” nasehat dari opung Nietzsche.

Memangnya aku sudah mati, sampai-sampai aku harus berhasrat untuk hidup kembali?

Kapan aku mati? Kapan aku hidup kembali?

Kalau aku–benar—sudah mati, untuk apa aku berhasrat untuk hidup kembali? Apakah dengan kebangkitanku, maka semua dosa manusia bisa ditebus?

Untuk apa aku hidup?

Apakah hanya untuk mengulang pertanyaan-pertanyaan tidak penting ini? Berapa kali sehari aku bertanya, “kenapa”? Adakah yang terjawab?

Tidak, lalu?

Aku berulang-ulang, terus-terusan, dan itu semua aku lakukan tanpa adanya kesadaran, kesadaran akan kesia-siaan ini. Yah, bukankah pengulangan dalam penggunaan bahasa itu sendiri sudah merupakan suatu pematian kesadaran manusia? Membuatku terus bertanya dan bertanya, tanpa sadar bahwa semua yang aku tanyakan itu sia-sia, omong kosong, tidak berguna, tidak akan aku bawa sampai ke kematian.

Kalau semua yang ada di dunia ini fana dan semu, lalu untuk apa manusia mempertahankan mati-matian kepunyaannya di dunia ini?

Kenapa ada manusia yang mati-matian menjadi aktivis hanya untuk menonjolkan eksistensinya? Dan kenapa juga ada manusia yang mati-matian –sampai mematikan dan rela dimatikan—demi membela agamanya, bahkan Tuhannya –Tuhannya lemah kali ya?

Semua itu sungguh menggelikan.

Namun, kegelian ini belum berakhir. Bukankah rasanya kurang geli kalau ulang tahun tidak pernah dirayakan?

Kenapa yang telah lahir yang harus diselamati? Kenapa bukan sang ibu yang telah bersusah payah dan mempertaruhkan nyawanya?

Lagipula, manusia semakin tua, semakin dekat dengan liang lahat, kok tega mengucapkan selamat padanya?

“Berbahagialah yang tidak pernah dilahirkan,” kata filsuf Yunani yang ditulis oleh Hok-gie dalam catatannya.

Aku pernah ingin mati, bukan sekali, tapi berkali-kali. Aku juga pernah takut mati, bukan juga sekali, tapi berkali-kali. Itulah yang membuat aku tidak mati-mati sampai sekarang. Dan mungkin karena aku takut mati, maka sebenarnya aku juga takut hidup? Mungkin aku sekarang hidup di tengah-tengah ketakutan.

Untungnya bukan hanya aku saja yang hidup di tengah-tengah ketakutan. Sebagian (besar) manusia selalu dibayang-bayangi oleh ketakutan. Karena itu, orang-orang macam Mario Teguh bisa kaya. Untuk bisa mengatasi ketakutannya, manusia butuh motivator, penyemangat, penghibur, bahkan pendamping. Takut gagal dalam mulai bisnis, datanglah ke motivator. Takut hidup sendirian, carilah pendamping hidup. Kalau takut sama setan?

“Tuhan saja tidak takut, apalagi setan,” kata kakakku.

Kenapa (sebagian) manusia begitu menginginkan kehidupan, bukan kematian?

Bukankah menurut psikoanalisisnya Sigmund Freud, selain memiliki insting seks, manusia juga memiliki insting mati? Tidak peduli manusia itu memiliki orientasi seks hetero, homo, atau bisek –tidak ada salahnya ‘kan, manusia memiliki dua orientasi seks terakhir itu?—pasti juga memiliki insting mati, entah buat mati diri sendiri atau malah buat mati orang lain.

Dan kalau nanti sudah mematikan diri atau dimatikan orang lain, ya sudah. Apa bagusnya kehidupan dibandingkan kematian? Bukankah akhir dari semua kehidupan ini adalah kematian, atau masih adakah kehidupan lainnya setelah kematian?

Kenapa manusia yang mati disebut tiada atau tidak ada? Apakah benar-benar tidak ada? Maka, bila tiada itu benar-benar tidak ada, buat apa ada kata yang menggambarkannya? Tiada itu ada, ada untuk tiada. Dan tiada bukanlah suatu kekosongan, maupun kehampaan yang tidak perlu diucapkan ‘kan?

Manusia yang mati disebut mayat, kalau manusia yang hidup disebut apa? Mayat hidup?

‘”Tolong…aku mayat yang tersasar. Di dunia kehidupan.” @SoeTjenMarching,’ tweet yang aku copas dari buku ini pada penulis.

@EvanAdiananta “Tolong . . . aku sedang tersasar di dunia mayat.”,’ balasnya.

Aku mayat yang tersasar di dunianya, atau aku tersasar di duniaku sendiri? Mungkin kami berdua tersasar di dua dunia yang berbeda. Aku tersasar mencari arti kehidupan dan kematian, serta eksistensi manusia –atau mungkin mayat—itu sendiri.

Evan Adiananta, Mahasiswa Fakultas Psikologi UKSW

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *