“Jam Karet”, Integritas Satgas LMKM Dipertanyakan

Browse By

Senat Mahasiswa Universitas (SMU) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga mengadakan Latihan Menengah Kepemimpinan Mahasiswa (LMKM), Kamis (8/04). Kegiatan yang berlangsung empat hari ini diselenggarakan di Bumi Perkemahan Java, Muncul Ambarawa. Kegiatan ini diikuti oleh tiga puluh tujuh perserta dari berbagai fakultas di UKSW.

LMKM merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan Senat Mahasiswa Universitas dalam rangka mempersiapkan calon pemimpin bangsa pada umumnya dan lembaga kemahasiswaan UKSW pada khususnya.

Tema yang diambil pada LMKM periode ini adalah “UKSW Di Dadaku”. Koordinator satgas pelaksana yang berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Abit Mawan Dayoko, menjelaskan maksud dari tema ini ialah bahwa dada merupakan daerah vital dari tubuh manusia, letak organ-organ seperti paru-paru, jantung dan sebagainya. Sehingga diharapkan UKSW dapat melekat erat di diri masing-masing persertanya.

Dimintai pendapat mengenai berlangsungnya kegiatan ini, Arifzal Isaac Kehi, salah seorang perserta delegasi SMU, menyambut baik adanya kegiatan semacam ini. Rizal yang merupakan mahasiswa Psikologi melihat adanya krisis kepemimpinan dalam lembaga kemasiswaan di UKSW karena kurangnya kaderisasi. Di lain pihak, sebagai Ketua Angkatan LMKM 2012, Rizal memberikan catatan kepada satgas kegiatan mengenai kinerja mereka mulai dari persiapan sampai hari terakhir kegiatan.

“Beberapa pembicara membahas tentang integritas, yakni apa yang kita pikirkan, kita bicarakan, harus diwujudnyatakan dalam perilaku. Namun pada kenyataannya kesepakatan-kesepakatan yang telah disepakati antara satgas dan peserta pada technical meeting berubah pada hari-H tanpa sepengetahuan peserta, terutama soal jadwal acara yang banyak molor,” papar Rizal yang pernah menjabat ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF) Fakultas Psikologi periode lalu.

Rizal mencontohkan kemoloran acara game yang terjadi Sabtu malam. Pada susunan acara yang telah disepakati, game tentang pembuatan tahta singgasana ini mestinya sudah selesai pada pukul sebelas malam. Namun lewat dari waktu yang ditentukan, game belum berakhir. Rizal menambahkan bahwa dalam kesepakatan bersama saat technical meeting, jika didapati acara yang tidak sesuai dengan susunan acara, peserta berhak memutuskan untuk mengikutinya atau tidak.

Dikonfirmasi mengenai kemoloran acara, Abit, membenarkan adanya hal tersebut. Abit menjelaskan molornya acara bukan karena kesengajaan melainkan faktor eksternal yang tidak dapat dihindari oleh satgas.

“Ya kita kan tahu bahwa di Indonesia ini ‘jam karet’. Kita sudah upayakan menjemput pembicara tapi sampai di sini (Bumi Perkemahan Java-Red) juga masih terlambat. Bagaimanapun dari Salatiga sampai sini perlu waktu, ada juga pembicara yang pecah ban. Sekarang tinggal peserta mau dibentuk atau tidak, kalau mau, pasti mereka mau mengikuti dan menyelesaikan,” timpal Abit.

Mengomentari kemoloran acara Sabtu malam, Abit  berdalih bahwa satgas telah merancang alokasi waktu dengan seksama pada masing-masing acara termasuk acara game.

Abit menjelaskan bahwa sebenarnya game tahta singgasana yang peserta rancang dan buat adalah cerminan visi-misi peserta. Namun untuk membuat itu, peserta harus menukarkan sejumlah poin dengan bahan dan alat untuk membuat tahta singgasana. Di sisi lain, poin yang peserta miliki adalah syarat kelulusan LMKM. Disaat menukarkan poin inilah peserta menurut Abit akan terlihat karakternya.

Abit menilai peserta terlalu mementingkan poin masing-masing hingga enggan untuk menukar poin yang mereka miliki. Pada akhirnya peserta memilih jalan lain untuk membeli bahan-bahan pembuat singgasana, salah satuya dengan melakukan talent show yang memakan waktu lebih banyak sehingga mengakibatkan mundurnya alokasi waktu.

“Kami ingin melihat apakah mereka (peserta-Red) mengikuti kegiatan ini untuk mendapatkan poin atau benar-benar karena ingin mendapatkan materinya. Tapi kenyataannya mereka lebih mementingkan waktu untuk tidur karena memang menurut rundown, acara sudah berakhir jam sebelas,” imbuh Abit.

Menurut catatan Abit, dari tiga puluh tujuh peserta, hanya tiga belas peserta yang melanjutkan acara Sabtu malam tersebut, dan Abit sangat mengapresiasi ketigabelas peserta ini tanpa menyebut perseorangan.

Di luar persoalan acara, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan, Yafet Y.W. Rissy, ketika ditemui terpisah menyatakan sangat mengapresiasi pelaksanaan LMKM ini. Hal ini menurut Yafet karena LMKM selaras dengan salah satu visi-misi UKSW untuk membentuk angkatan pemimpin. Ditanya mengenai peminat LMKM yang cukup sedikit, Yafet menjawab bahwa ada sejumlah kendala yang membuat paserta mengundurkan diri setelah mendaftar. Diantaranya karena LMKM kebetulan bertepatan dengan tes tengah semester dan peserta tidak mendapat ijin dosen. Untuk itu Yafet telah memberi rekomendasi kepada Ketua Umum BPMU dan Ketua Umum SMU untuk membuat LMKM gelombang dua guna menampung peserta-peserta yang berhalangan pada periode satu.

“Kantor PR III siap mendukung dan memfasilitasi dari segi dananya,” imbuh Yafet.

20 thoughts on ““Jam Karet”, Integritas Satgas LMKM Dipertanyakan”

  1. Ch says:

    semakin kedepan semakin sedikit aja peserta LMKM, bukan semakin banyak. sebenarnya apa yg terjadi dengan kader” yg ada di kampus tercinta ini. atau karena ada sesuatu hal yg terjadi di dalam
    Saya sebagai alumni LMKM dan LLKM sangat prihatin dengan jumlah peserta yg ada dan “jam karet”
    mudah”an di periode depan LK/ SMU bisa membuat keg ini menjadi lebih baik dan mencapai “goal” yg luar biasa
    HIDUP MAHASISWA

  2. ANGEL says:

    ya, masing” peserta ikut berproses dengan caranya sendiri..
    LMKM bukan hanya GAME mlm itu , tapi masih bnyk sesi” lain yg perlu diliat

  3. Joko Setiawan says:

    OMG.. Guru k*ncing berdiri murid k*encing berlari.

  4. putera_vank says:

    berapa bulan untuk mempersiapkan acara LMKM?

  5. K.E. says:

    pendidikan tidak mengenal umur dan waktu,
    pengetahuan tidak bisa dilihat seberapa lama melainkan sampai mana seorang mengerti dan memahami prosesnya sendiri..
    kebebasan menentukan jalan sendiri pun milik bersama.

  6. Tian says:

    Untuk mencapai suatu tujuan kita tidak hanya bertindak tapi kita berpikir dahulu, berpikir itu dalam segala sisi bukan hanya dari 1 sisi.
    Mungkin bukan pada saat itu hasil yang akan diberikan tapi ada tempat tersendiri buat mereka untuk memperlihatkan hasil.
    tidak pada LMKM 2012 tapi ditempat yang mereka inginkan masing.

  7. bayu says:

    satgasnya aj ga terkoordinir dgn baek,,ngeles aj…

  8. rizal says:

    CERMATILAH KALIMAT INI, APA BENAR APA YG DIBILANG..
    WAH..WAH… ENAK AAJE
    “Abit menilai peserta terlalu mementingkan poin masing-masing hingga enggan untuk menukar poin yang mereka miliki. Pada akhirnya peserta memilih jalan lain untuk membeli bahan-bahan pembuat singgasana, salah satuya dengan melakukan talent show yang memakan waktu lebih banyak sehingga mengakibatkan mundurnya alokasi waktu.”

    “Kami ingin melihat apakah mereka (peserta-Red) mengikuti kegiatan ini untuk mendapatkan poin atau benar-benar karena ingin mendapatkan materinya. Tapi kenyataannya mereka lebih mementingkan waktu untuk tidur karena memang menurut rundown, acara sudah berakhir jam sebelas,” imbuh Abit.

  9. TL says:

    Wah walau Indonsia “jam karet” seharusnya kita jgn ikut budaya ituu dunk..
    Kita smua juga terbentuk bkn hnya game ajj tapi juga hal yg lain

  10. Cantik says:

    kok judul sama isi berita beda yah….

    wah miris membaca peserta lebih mementingkan tidur saat kegiatan berlangsung…

    salut buat satgas LMKM…tetap lanjut wlpn peserta tidur toh yang butuh peserta bkn satgas..

    thx

  11. Joko Setiawan says:

    @cantik kalau anda koment karena baca artikel diatas, its okay anda bilang begitu,
    tapi kalau anda melihat situasi dilapangan, i don’t think so.. thx

  12. eka says:

    jamnya diganti jam besi aja,,,,,,,,,,,,

  13. eka says:

    @cantik:seorang pemimpin tidak bleh egois,,apa lagi anggotanya yang sakit apakah akan dipaksakan untuk bekerja,,,,,,,,

  14. K.E. says:

    masing” manusia diberikan hak dan kebebasan yang sama, biarkan setiap individu yang menentukan pilihannya. silahkan komentar peserta tidur, peserta lanjut, tapi hidup peserta tidak berdasarkan komentar orang lain melainkan kebebasan dan hak yang dimilikinya.

    silahkan berkomentar tapi jangan pernah gentar!!
    pilihan saya bukan pilihan anda!!

  15. cantik says:

    joko : emank anda ikut LMKM 2012 yaw?? tolong donk di ceritain disini?? hehehe
    eka : eka emank anda ikut lmkm juga yaw?? cerita donk disini??? jadi penasaran nih.

    🙂 🙂 🙂

  16. Joko Setiawan says:

    @cantik -.-” penasaran?
    gak tau atau pura2 gak tau?

  17. Cantik says:

    joko : hahaha sepertinya anda merasa yaw… saran saya adalah jangan jadikan kekurangan dari satgas tersebut membuat anda merasa kurang bisa jadi pemimpin. justru buktikan lah dr kegiatan tersebut bahwa anda adalah pemimpin yang profesional yang tidak hanya mencela saja tapi bagaimana anda melihat dan mempelajarinya supaya kedepannya jika anda menjadi satgas apapun itu anda jadi tau bagaimana anda bekerja…:)… semangat buat kader2 pemimpin…

  18. Riki says:

    eka : pemimpin yang profesional tidak ada kata sakit, tidak ada kata mengeluh…klo misalnya sakit ya sdh tidak perlu ikut pelatihan… :. istirahat saja dirumah.

    cantik : saya setuju dengan anda sebagai pemimpin tidak hanya mencela karena mencela hanya akan menunjukan kekurangan dari dirinya..

    SUKSES TERUS.

  19. yosiE says:

    saya hanya menyampaikan unek2 saya berdasarkan tulisan diatas dan komentar teman-teman. walaupun saya tidak mengikuti LMKM, saya hanya berpesan jadilah minoritas berdaya cipta yang sesungguhnya. menjadi pemimpin mahasiswa yang tidak hanya membawa masadepannya sendiri tetapi membawa masa depan yang diwakilinya, termasuk satgas yang menjadi wakil dari pesan-pesan mahasiswa dan pemimpin UKSW sebelumnya untuk membentuk pemimpin saya(mahasiswa)yang berdaya cipta dan bertanggungjawab, serta memberi kasih yang sesungguhnya. Salam Creative Minority. 🙂

  20. caca says:

    trimakasih buat masing – masing pendapatnya . . sy salah satu satgas yang membaca artikel ini juga miris . bukannya mau membela diri toh sy tdk bs mengikuti kegiatan tersebut sampai habis, karena harus opname . ttp yang mau saya katakan “belajarlah untuk melihat dari 2 sisi, belajar untuk melihat semua keadaan..” sebelum memberi penilaian terhadap orang lain . nilailah diri masing2 . . 🙂 trimakasih . .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *