Pernyataan Pers GMKI Salatiga: “Polri Harus Minta Maaf”

Browse By

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Salatiga mengadakan konferensi pers berkaitan dengan tindakan aparat kepolisian saat menangani aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM, Jumat (30/03) lalu di Salemba, Jakarta.

Dalam konferensi pers yang digelar di Yayasan Bina Darma Salatiga hari ini (02/04), GMKI Salatiga menyampaikan peristiwa penyerbuan aparat kepolisian di Gedung Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia di Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat. Penyerbuan tersebut menyebabkan kerusakan kantor sekretariat GMKI dan kantor Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia serta tindakan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap aktivis GMKI.

Ketua GMKI cabang Salatiga, Fredy Umbu Bewa Guty, menyatakan, “Ini (konferensi pers-red) diadakan sebagai bentuk dukungan kepada pengurus pusat dan sekaligus menyampaikan tuntutan kami secara nasional terhadap kepolisian Republik Indonesia terhadap tindakan represif yang telah mereka lakukan di sekretariat GMKI pada jumat malam kemarin”.

Menurut Fredy, tidak ada perlawanan yang dilakukan oleh aktivis GMKI terhadap tindakan represif aparat keamanan dalam bentuk apapun, GMKI juga tidak pernah merencanakan, membuat, menyimpan, atau pun menggunakan bom molotov dan benda berbahaya lainnya dalam aksi unjuk rasa, GMKI juga tidak pernah merencanakan tindakan anarkis ataupun bentrok fisik dengan aparat.

Dikutip melalui Pernyataan Pers dari Badan Pengurus Cabang GMKI – Salatiga, sekitar 150 aparat kepolisian mengepung dan menembakan gas air mata ke arah Gedung Sekretariat Pengurus Pusat GMKI, kemudian polisi melakukan penggeledahan dokumen, perusakan fasilitas GMKI, perusakan kantor sekretariat GMKI dan kantor Persekutuan Gereja-gereja Indonesia. Selain itu polisi juga menendang dan memukul para aktivis GMKI dengan menggunakan benda tumpul hingga menyebabkan seorang senior GMKI, Edy Simamora, mengalami robek dan pendarahan di bagian kepala.

Dalam kesempatan ini badan pengurus cabang Salatiga menyampaikan dukungan terhadap Pengurus Pusat GMKI untuk melakukan upaya hukum terkait peristiwa tersebut. GMKI Salatiga secara tegas juga menyampaikan enam pernyataan. Penyataan pertama, tindakan represif aparat keamanan merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia dan telah melecehkan nilai-nilai kemanusiaan.

Kemudian pernyataan kedua, GMKI mendesak kepolisian Republik Indonesia untuk menindak tegas aparatnya yang melakukan kekerasan terhadap aktivis GMKI. Pernyataan ketiga, GMKI mendesak Kapolri agar mencopot jabatan Kapolres Metro Jakarta Pusat yang dianggap tidak profesional dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum dan membiarkan anggotanya bertindak tidak sesuai dengan prosedur.

Selanjutnya yang keempat, bersama cabang-cabang GMKI se-Indonesia, GMKI Salatiga mendukung upaya pengurus pusat yang akan melaporkan ke Komnas HAM dan menginformasikan peristiwa ini keseluruh jaringan baik nasional maupun internasional. GMKI Salatiga juga berharap kepada pengurus pusat GMKI agar peristiwa ini disampaikan kepada World Student Christian Federation (WSCF), dimana WSCF memiliki hak suara Economic and Social Council (ECOSOC) di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Di pernyataan kelima, GMKI Salatiga menuntut Polri untuk meminta maaf secara resmi kepada seluruh kader GMKI seluruh Indonesia. Polri juga harus mengganti rugi kerusakan serta mengurus perawatan kesehatan para aktivis GMKI yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut.

Pernyataan terakhir, berhubungan dengan kebijakan pemerintah yang akan menaikan harga bahan bakar minyak yang lalu, GMKI secara tegas tetap menolak setiap keputusan pemerintah dan DPR RI yang berusaha menaikan harga bahan bakar minyak karena kebijakan tersebut dianggap koruptif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *