LFRC, Robot Berlomba di Balairung UKSW

Browse By

Selasa (10/04), Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer (FTEK) mengadakan LFRC, Line Follower Robo Competition, di Balairung UKSW. Dua puluh dua tim siswa-siswi SMA dan sederajat dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta berlomba dalam acara ini.

Lomba robot yang berbasis analog (tidak memakai micro controller, tidak diprogram-Red) ini merupakan yang pertama di Salatiga dan juga baru pertama kali di FTEK. “Jadi kita (panitia LFRC-Red) ini, sebenarnya selain ingin mengenalkan, juga ingin mengembangkan robot di tingkat SMA. Karena sekarang itu robot sedang populer, kita ingin gak cuma dari kita aja dari mahasiswa, tetapi dari anak-anak sekolah juga mereka senang dan punya rasa cinta sama robot,” kata Wikan Dyah Palupi selaku Ketua Panitia. Wikan menambahkan bahwa acara ini juga sebagai ajang promosi karena di Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer ada dasar yang mempelajari tentang robot.

Dalam kompetisi tersebut, robot hasil rakitan peserta berlomba di atas sebuah arena dengan garis hitam dan tugas robot itu adalah mengikuti garis tersebut hingga mencapai garis akhir. Peserta dengan robot yang tercepat sampai ke garis akhir akan menjadi juaranya.

Kelompok Jarjit 28 dari SMK Negeri 3 Yogyakarta keluar sebagai juara pertama LFRC. Juara kedua adalah kelompok AVRC Jaya dari SMK Negeri 3 Yogyakarta. Kemudian, Kelompok The Blach Cat dari SMK Negeri Sewon tampil sebagai juara ketiga. Selain ketiga juara tersebut, ada pula juara Best Design yang berhasil diraih oleh kelompok AVRC Jaya dari SMK Negeri 3 Yogyakarta. Para juara memperoleh uang pembinaan serta piala.

Salah satu peserta dari SMK Negeri 3 Yogyakarta, Hedy Dermawan, mengatakan bahwa acara ini baik untuk diselenggarakan. “Kita bisa terampil gitu dalam hal robotik,” tambah Hedy. Gigih, salah satu peserta dari SMA Negeri 1 Salatiga juga mengatakan bahwa acara ini seru. “Lintasannya juga menarik, ekstrim gitu,” tambah Gigih.

One thought on “LFRC, Robot Berlomba di Balairung UKSW”

  1. Senyo says:

    Selamat untuk Kronis, maju terus pantang muundr. Catatan: Kronis berdiri akibat kegundahan teman-teman yang ada di Teater Rakit FISIPOL UKSW yang kehilangan arah (FISIPOL terkesan acuh atas berdirinya Rakit). Setelah mementaskan INSULINDE dalam dies FISIPOL tahun 2005 dan adanya keinginan untuk berdiri di SMU, teman-teman akhirnya bersepakat untuk masuk ke SMU. Teater Rakit sendiri berdiri atas kegundahan beberapa teman mahasiswa (Andi Afandi-FISIPOL dan Saam Fredy-Fakultas Hukum) serta didukung oleh Mas Didot (seniman), atas semangat berkesenian yang pada saat itu mati, karena pimpinan waktu itu lebih fokus kepada profesional skill ketimbang humanistik skill. Salam,Saam Fredy(salah satu inisiator pendiri Rakit dan mantan anggota Kronis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *