Prospek Bisnis Masa Depan, Bioentrepreneurship

Browse By

Selasa, 10 April 2012, Fakultas Biologi Universitas Kristen Satya Wacana mengadakan seminar dan pelatihan sebagai salah satu dari rangkaian acara menyambut Dies Natalis Emas, 50 tahun berdirinya Fakultas Biologi. Menurut Metta Padmalia, selaku Ketua Panitia, dengan seminar yang bertema “Exploring Biology for a Better Life” ini, Fakultas Biologi ingin membuka mata masyarakat bahwa banyak sekali entrepreneurship yang bisa dikembangkan dari basis biologi (Bioentrepreneurship).

Acara yang berlangsung selama satu hari tersebut dimulai dengan Seminar “Bioentrepreneurship : Prospek Bisnis Masa Depan” di ruang Probowinoto Gedung G UKSW. Seminar yang dibuka pukul 08.00 hingga pukul 13.00 WIB ini menghadirkan para pembicara yang merupakan alumni dari Fakultas Biologi UKSW yang telah berkecimpung di bidang bioentreprenuership, seperti Adi Wijaya, S.Si., M.Sc. (pemilik Budi Mixed Farming, Purwodadi), Drs. Herman Then Kek Khian, MBA (pemilik Biozatix, Jakarta), Drs. Robby Octavianus (Konsultan Agribisnis dan Lingkungan), Daniel Susabda, S.Si (pemilik Teratai Mas).

Kemudian acara dilanjutkan dengan pelatihan “Teknik Kultivasi Belatung untuk Pakan Ikan” di Laboratorium Ekologi Fakultas Biologi UKSW. “Pelatihan ini ingin menunjukan bahwa dari sampah yang kita anggap sudah tidak berguna, misalnya kotoran kambing, bisa dikembangkan menjadi media untuk kultivasi itu. Dari kotoran itu pun bisa menghasilkan uang,” terang Metta Padmalia selaku Ketua Panitia. Pembicara dalam pelatihan yang dihadiri oleh 48 peserta dari berbagai Fakultas dan umum tersebut adalah Drs. Eddy Santoso, lulusan tahun 1992 Fakultas Biologu UKSW jurusan Ekologi Akuatik.

Salah satu peserta pelatihan, Yuana dari Fakultas Biologi mengatakan bahwa acara ini sangat menarik. “Aplikasi entrepreneur ini juga bisa dilakukan di rumah,” tambah Yuana.

Serly, mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis juga berpendapat bahwa acara ini sangat menarik dan bagus sekali. “Saya tertarik ikut karena saya melihat seminar kewirausahaan tapi biologi yang mengadakan, bukan ekonomi. Jadi penasaran ingin ikut kegiatan seminar dan penasaran dengan pelatihan belatung untuk pakan ikan. Saya ingin belajar sesuatu yang lain dari yang saya pelajari selama ini,” tambah Serly.

Secara khusus, kepada redaksi Eddy Santoso menjelaskan secara singkat mengenai teknik kultivasi belatung untuk pakan ikan. Pertama, kita mempersiapkan dahulu media budidaya (misal, memakai kotoran kambing) dengan proses dekomposisi menggunakan produk bioteknologi atau dekomposer. Setelah itu, kita menyiapkan media pemancing lalat (misal, sesuatu yang berbau amis). Setelah lalat hinggap, media pemancing kita masukkan ke media budidaya yang sudah jadi kompos. Karena pada saat lalat hinggap, kemungkinan lalat akan meninggalkan telurnya disana. Kemudian keesokan harinya telur-telur lalat akan menetas dan menjadi maggot (belatung). Inilah yang nantinya akan kita panen.

Maggot-nya sudah bisa menjadi makanan ikan yang higienis. Sudah setara higienitasnya dengan proto, larva semut merah. Karena medianya sudah melalui proses dekomposisi yang menimbulkan panas. Panasnya itu yang membuat higienis. Jadi beda dengan maggot yang dihasilkan dari sampah atau bangkai. Itu tidak higienis,” terang Eddy.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *