Euthanasia FIK: Hidup Ini Milik Siapa?

Browse By

Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga menggelar acara Diskusi dan Seminar Nasional yang bertema “Euthanasia: Hidup Ini Milik Siapa?”, Sabtu (5/5) di Balairung Universitas mulai pukul 08.30 hingga 13.00 waktu setempat. Diskusi dan Seminar nasional ini diikuti oleh 63 mahasiswa FIK dan 20 peserta dari STIKES Elizabeth Semarang. Acara ini menghadirkan Ns. Alfred., Sp. CV. CPRN, Kepala Intensive Care Unit Rumah Sakit Harapan Kita, serta Dewi Irawati., M.A., PhD, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pusat.

Menurut Ketua Panitia, Julia Ch. Labetubun, tema “Euthanasia-Hidup Ini Milik Siapa?” diambil berdasarkan kontroversi dan perdebatan yang tidak terselesaikan sejak dulu. “Euthanasia ini merupakan salah satu topik kontroversial dan sesuatu yang diperdebatkan sejak dulu. Jadi semoga dari diskusi ini kita mendapatkan pengertian apakah di Indonesia ini euthanasia lebih baik dilakukan atau tidak,” kata Julia.

“Sebagai ahli medis harus mengetahui sejauh mana kondisi-kondisi yang berhubungan dengan euthanasia karena hal ini didasarkan pada hukum dan moral,” kata Ns. Alfred., Sp. CV. CPRN sebelum membawakan materinya. Kemudian Nurse Alfred menjelaskan bahwa euthanasia berasal dari kata eu yang berarti baik, dan thanatos yang berarti mati. “Jadi euthanasia dapat diartikan sebagai mati dengan baik atau mercy killing,” jelasnya.

Nurse dan juga Alfred menjelaskan bahwa di Belanda dan Belgia tindakan euthanasia telah memiliki dasar hukum yang jelas dan seorang dokter diperbolehkan untuk melakukan euthanasia terhadap pasiennya dengan beberapa syarat dan prosedur. “Misalnya di Belgia, euthanasia hanya diperbolehkan bagi pasien dewasa dan bila pasien itu sendiri yang meminta,” jelasnya. Bagaimana dengan Indonesia? “Di Indonesia, euthanasia masih merupakan pelanggaran hukum,” terang Nurse Alfred dengan dasar KUHP pasal 338, 340, 344, 345 dan 359. Alferd menyimpulkan bahwa, “euthanasia tidak akan pernah selesai untuk diperbincangkan dari segi moral etis dan teologis”.

Setelah mengikuti Diskusi dan Seminar Nasional, Alfionita Kapsian, peserta yang juga mahasiswi FIK 2009, menyimpulkan bahwa di Indonesia euthanasia masih menjadi pro dan kontra, “mungkin karena orang-orang Indonesia lebih pakai hati nurani,” kata Alfionita. Alfionita berpendapat, euthanasia bisa saja dilakukan asal ada dasar hukum yang jelas. “Tergantung kasus dan dasar hukumnya. Kalau legal ya boleh, tapi kalau tidak boleh atau tidak legal lebih baik cari jalan lain atau jalan amannya saja,” jelasnya

Julia sebagai ketua acara ini berharap agar perawat-perawat dan mahasiswa mengetahui peran perawat dalam menghadapi kasus euthanasia. “Khusus untuk mahasiswa dan perawat-perawat, semoga jadi tahu bahwa peran dari seorang perawat itu adalah memberi support untuk pasien dan memberikan kebebasan pada pasien untuk memilih, bukan malah mempengaruhi. Dan semoga untuk acara FIK semester baru bisa lebih baik dari yang direncanakan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *