Sidang Pemilihan Ketua SEMA FH Berlangsung Tertutup

Browse By

Pemilihan Ketua Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Hukum (FH) periode 2012/2013 diadakan pada Kamis, 24 Mei pukul 11.30. Awalnya ada dua kandidat yaitu Renita Kumalasari dan Rico Dea Saputra Mahardhika. Namun sebelum pemilihan berlangsung, Renita Kumalasari harus gugur karena tidak memenuhi syarat administratif yang di tentukan oleh Satuan Tugas (Satgas).

Renita Kumalasari tidak lolos persyaratan sebagaimana yang tertulis dalam Ketentuan Umum Keluarga Mahasiswa (KUKM) Universitas Kristen Satya Wacana, pasal 24 ayat 2 huruf i tentang Fungsionaris SEMA FH yaitu khusus pimpinan SEMA FH harus beragama Kristen Protestan. Sehingga hasil sidang memutuskan Rico terpilih sebagai ketua SEMA FH Periode 2012/2013 secara aklamasi.

Rico Dea Saputra Mahardhika saat terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UKSW Periode 2012/2013. Pemilihan berlangsung tertutup di Ruang Lembaga Kemahasiswaan Fakultas Hukum UKSW, Kamis (24/05). {Foto oleh: Kumas Setyohadi}

Sidang pemilihan ketua SEMA FH ini berlangsung tertutup di kantor lembaga kemahasiswaan FH. “Dalam pemilihan ketua senat berjalan dengan baik walapun ada sedikit kendala pada saat rapat. Saya terlalu berkonsentrasi dengan rapat sehinga saya lupa untuk mengundang pers guna meliput visi dan misi para calon ketua senat,” jelas Susan Tewernussa, Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum (BPM FH) periode 2012/2013.

Jacques C. Lumenta Ketua SEMA FH periode lalu berpesan kepada Ketua SEMA FH yang terpilih, supaya dapat menjalankan visi misi yang telah disampaikan, serta menjaga komunikasi yang baik antar fungsionaris. Sementara itu, Rico menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada seluruh fungsionaris Lembaga Kemahasiwaan Fakultas Hukum Periode 2011/2012. “Semoga dalam periode berikutnya, SEMA FH dan BPMF Hukum dapat bekerjasama dengan baik,” tambah Rico.

2 thoughts on “Sidang Pemilihan Ketua SEMA FH Berlangsung Tertutup”

  1. Anonim says:

    Atas nama hukum dan iustitia (keadilan) di negara ini seseorang diganjal untuk memimpin karena keyakinan/agama nya? Ternyata politikus belajar politik SARA sejak dini, sejak belajar di kampus.

  2. Putri says:

    Kalau menurut saya, wajar saja Universitas Kristen di dalamnya dipimpin seseorang yang beragama Kristen. Karena diharapkan dalam memimpin digunakan nilai2 kristiani. Sama seperti misalnya, Universitas Islam, sebisa mungkin jajaran pemimpinnya juga Islam. Dan saya kira itu adil.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *