Degradasi Kesadaran Nasionalisme

Browse By

Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, menggelar seminar nasional dalam rangka memperingati Dies Natalis Yayasan Bina Darma ke-33 dan Dies Natalis UKSW ke-53. Seminar Nasional, yang mengangkat tema “Revitalisasi Solidaritas Kebangsaan dan Gerakan Ekumene” ini mengundang 11 pembicara yang berlangsung di Balairung Utama (BU), pada (29-30/10).

Menurut Theofransus L.A Litaay, penanggung jawab seminar nasional, alasan tema tersebut diambil, atas dasar keprihatinan akan terjadinya degradasi kesadaran nasionalisme. “Judul seminar ini diambil berdasarkan keprihatinan bahwa telah terjadi degradasi kesadaran nasionalisme di masyarakat,” kata Theofransus.

Pengambilan tema tersebut, juga didukung dengan hasil penelitian Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan oleh Dr. Sri Adiningsih, salah satu pembicara seminar nasional, “Hasil penelitian LSI menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia semakin tidak toleran, semakin rendahnya pendidikan maka toleransi juga semakin rendah, semakin rendah kondisi ekonominya maka semakin rendah pula toleransinya.”

Theofransus L.A Litaay menyebutkan tujuan dari seminar nasional tersebut untuk meningkatkan kerjasama antar umat beragama di masyarakat. “Seminar ini ingin mengajak gereja-gereja dan lembaga-lembaga gerejawi untuk meningkatkan kerjasama sebagai gerakan ekumene dan meningkatkan kerjasama dengan masyarakat yang beragama lain sebagai wujud nasionalisme,” kata Theofransus.

Theofransus juga menerangkan, bahwa gerakan ekumene merupakan gerakan yang bermula di Skotlandia pada 1910, untuk meningkatkan persatuan di antara gereja-gereja yang terpisah akibat dari perbedaan tradisi dan sejarah. Saat ini, pada tingkat internasional, gerakan ekumene telah berkembang dengan membangun kerjasama lintas agama.

Disampaikan di hari pertama Dr. Andreas A. Yewangoe, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), tentang berbagai persoalan bangsa Indonesia saat ini, yang menyangkut hak asasi manusia, korupsi dan lingkungan hidup.

“Persoalan berikut menyangkut hak-hak asasi manusia, termasuk di dalamnya hak untuk beribadah. Kecenderungan intoleransi yang makin menaik, kendati secara umum dapat dikatakan bahwa kerukunan di banyak tempat masih terjamin. Persoalan korupsi tetap menjadi persoalan akut bangsa kita. Ini sudah seperti kanker yang menggerogoti tubuh bangsa kita. Selanjutnya persoalan lingkungan. Hutan-hutan kita habis dibabat, kendati pemerintah terus-menerus menyangkal hal itu,” ujar Andreas.

Persoalan lingkungan tersebut, didukung pula oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH-RI) yang diwakili oleh Joni P. Kusuma. “Kalau kita ke pulau-pulau besar di Indonesia, misalnya Kalimantan dengan menggunakan helikopter, dari atas kita dapat melihat bahwa hutan-hutan kita sudah banyak yang pitak karena sudah banyak hutan yang dibabat habis.”

Sedangkan untuk kondisi ekonomi disampaikan oleh Dr. Sri Adiningsih. Dalam seminar tersebut ia menyampaikan bahwa kondisi perekonomian di Indonesia bertumbuh dan berkembang namun, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia semakin jauh dari harapan.

Ia juga menyampaikan tentang kondisi perekonomian secara global yang terintegrasi, volatilitas semakin tinggi, adanya persaingan tinggi dan krisis ekonomi yang semakin sering terjadi serta negara yang memiliki daya saing tinggi menguasai ekonomi global.

Dalam pembicaraanya, ia juga menyarankan untuk memproteksi ekonomi domestik, membangun manusia berkualitas, meningkatkan daya saing internasional, menghindari fiscal trap serta ketergantungan dalam pangan, energi, modal dan hasil industri dari luar negeri.

Theofransus berharap. “Proses ini belum selesai dengan seminar tersebut, karena seminar tersebut hanyalah pembuka dari seri kajian yang akan dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan lebih banyak lagi pihak terkait termasuk lembaga keagamaan lainnya.”

  • Data diambil oleh Devi Mega Rosalina

One thought on “Degradasi Kesadaran Nasionalisme”

  1. yz137 says:

    mungkin kami diperbatasan jika diminta hak bicara tak akan selesai untuk di dengarkan. nasionalisme saat ini untuk pulau Jawa saja. lepas dari pulau itu, kehidupan dipulau lain seakan tak lagi Indonesia. hal sederhana yang bisa masyarakat diluar pulau jawa mungkin ya belajar dengan sungguh dipulau ini. kelak tiba saatnya kembali ke tempat masing-masing akan timbul kebencian akan pulau jawa. percikan itu di timbulkan oleh bangsa kita sendiri, oleh pemerintah kita sendiri. sengaja dibiarkan ataukah sudah direncanakan. bisa jadi negara yang katanya NKRI ini menjadi pecah dan sekarang Irian Jaya sudah memberikan sinyal nyata. Kalimantan tak lama akan menyusul juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *