Di Bawah Tarian Bintang Api

Browse By

Denting jam tua di tengah kota itu terdengar keras dan semakin keras. Suaranya menyeruak di seluruh sudut kota. Kota tua yang kecil. Tempat dimana aku dilahirkan dan mengisi masa-masa kecilku dengan keindahan nan asri, sejuk, dan ramah.

Semua orang di sekelilingku berseru, bergembira, menengok langit yang gelap. Langit telah penuh dengan kembang api. Suara menggelegar muncul saat kembang api satu per satu mulai dinyalakan. Membentuk tarian bintang nan indah di langit. Aku tetap diam. Melihat sekeliling membuatku teringat akan sendiriku. Sejenak, kurenungkan segala yang aku alami di tahun lalu, yang baru 3 menit telah terlewat dari hidupku.

Merenungkan permulaan serta akhir yang pernah aku alami. Dia yang tiba-tiba hadir dalam hidupku. Dia yang selalu mengisi hari-hariku. Dia yang datang dengan baik-baik, namun tak ku mengerti sekarang pergi begitu saja dan entah kemana. Aku hanya diam dan tetap terdiam. Riuh suara lautan manusia di sekelilingku terasa semu bagiku. Terdengar selentingan suara perempuan memanggil namaku.

“Dara,, Dara,, hei Dara! itu handphone kamu bergetar,,” ucap Lia membangunkan lamunanku.

Aku sendiri bahkan tak menyadari telepon genggamku yang sedari tadi telah bergetar. Entah sudah berapa kali dia bergetar.

“Maaf, maaf Lia,, kenapa?” jawabku.

“Itu Ra,, handphone kamu bergetar dari tadi.. Kamu melamun ya?” sahut Lia.

“ Oh iya Yak,, makasih..” jawabku tersenyum.

Bagaikan kilat, kusambar telepon genggam yang terletakkan di atas sepeda motor. Terlihat nama yang tidak asing pada telepon genggamku yang berkedip-kedip dengan layar hijaunya sedari tadi.

“Halo,, ” suaraku lirih hampir tak berbunyi.

Tak ada suara yang nampak dari balik telepon itu. Ya Tuhan,  kenapa dia tiba-tiba menelepon aku? Apakah dia merasa kalau aku sedang memikirkannya sepanjang pergantian tahun ini? Dan ku coba mengulangi perkataanku lagi.

“Halo,, halo,, Lef??” dengan nada tertekan aku berusaha tetap menyapanya.

Iya, dia Lefran. Orang yang telah membuat tidurku tak nyenyak sebulan belakangan ini. Orang yang membuat pikranku terganggu siang dan malam. Sesungguhnya aku sendiri belum tahu bagaimana hubunganku dengannya saat ini. Dulu kami mengaku saling mencinta, namun sampai saat ini tak ada ikatan diantara kami. Aku sendiri bingung menyikapi masalah kami.

***

Semua berawal ketika Lefran memutuskan untuk meneruskan studi Strata 2 di Bandung setahun yang lalu. Sempat sedih, namun aku mencoba melegakan hatiku sendiri. Bagaimanapun juga jarak Salatiga-Bandung tidak terlalu jauh. Sepanjang perjalanan mengantarkannya ke Bandung, Lefran menggenggam erat tanganku. Aku masih ingat ia berkata padaku,

“Yang kuharap hari ini hanya tenangmu. Yang kuinginkan saat ini hanya damaimu. Yang kupinta detik ini hanya bahagiamu, Dara. Kamu jangan pernah sedih ya selama aku di Bandung. Kalau ada waktu aku pasti pulang Salatiga,”

Yang bisa kulakukan hanya mengangguk. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain mengangguk. Karena memang aku bukan kekasihnya. Aku tak punya hak untuk menuntutnya berbuat sesuatu yang lebih melegakan hatiku.

Selama di Bandung, Lefran membuktikan janjinya untuk terus menghubungi aku. Namun, sebulan belakangan dia tiba-tiba menghilang. Setiap pesan singkat yang aku kirimkan pun tak dibalasnya. Segala pikiran buruk pun melayang-layang dalam benakku. Apakah dia ingin pergi dariku? Apakah dia sudah mulai bosan denganku? Aku tak kuasa lagi membendung air mata. Teringat setiap kata-katanya ketika aku membutuhkan dukungannya. Ketika aku merindukannya. Ketika aku menginginkannya. Semua sirna begitu sajakah? Tuhan, aku ingin mengatakan bahwa aku benar-benar ingin bersamanya…

***

Kulihat lagi telepon genggam yang dari tadi tak bersuara. Mungkin saja sudah ditutup. Tidak, dia tidak menutup teleponnya. Sebenarnya apa yang dia inginkan, Tuhan??

“Lef?!” nadaku mulai tinggi.

“Selamat tahun baru, Dudul….” Nadanya menciut.

Suaranya masih sama. Sekarang giliranku yang membisu. Dia masih memanggilku dengan sebutan Dudul? Itu panggilan sayang kami. Apakah dia juga masih tetap pada komitmennya setahun yang lalu, Tuhan? Aku mohon jangan membuat aku bingung dan bertanya-tanya seperti ini.

“Maaf Dul,, aku menghilang sebulan ini. Asal kamu tahu, aku tidak bermaksud meninggalkanmu. Ada banyak hal yang membuatku berpikir. Namun, yang terpenting sekarang aku disini. Meskipun hanya di balik telepon ini.”

Aku hanya diam.

“Dul,,,”

Aku tetap terpaku dan membisu.

“Dul, maafkan aku… seandainya kamu tau aku tak ingin kamu pergi meninggalkan aku.”

“Kenapa kamu menghilang tanpa kabar?” mulutku yang kaku mulai bersuara.

“Aku tak tahu harus mulai dari mana, Dul. Aku takut kamu sedih. Ini tentang mantanku…”

“Maksud kamu??” jawabku bingung.

“Iya,, dia menyusulku ke Bandung. Tapi jangan khawatir aku tidak berbuat apa-apa dengannya. Nanti kalau aku pulang aku ceritakan semuanya agar lebih jelas. Yakinlah, hatiku tetap milikmu.” Jelasnya.

“Kenapa aku harus percaya kamu??”

“Tanyakan pada hatimu, Dul. Kembang api yang kamu lihat saat ini adalah saksinya…”

Aku hanya tersenyum.

“Sekali lagi, selamat tahun baru Dudul…”

“Selamat tahun baru juga, Dul..”

Akhirnya kusuarakan panggilan itu kepadanya setelah satu bulan sudah tidak lagi aku ucapkan. Terdengar suara ketawa kecil dari bibirnya. Dan percakapan sekitar sepuluh menit itu pun berakhir. Aku cukup lega. Aku percaya padanya. Dari dulu aku percaya padanya hingga saat ini pun seperti itu. Meski singkat, pembicaraan tadi membuatku berpikir dan menguji hatiku padanya. Dan di bawah bintang kembang api yang bergemuruh ini kami kembali. Terima kasih Tuhan telah Kau kembalikan dia padaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *